Beranda » Latest » Artikel » Hadits » Rasulullah Melaknat Pemberi Suap dan Penerima Suap
euro_seem_money_finance_piggy_bank_save_cent_coins-868415

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو، قَالَ: لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الرَّاشِي وَالْمُرْتَشِي

Dari Abdullah bin Amr bin Al-‘Ash, ia berkata: “Rasulullah ﷺ melaknat penyuap (ar-rāsyī) dan penerima suap (al-murtašyī).”(Diriwayatkan oleh Abu Dawud, dan At-Tirmidzi serta dishahihkan olehnya, dishahihkan pula oleh Syaikh al-Albaniy).

Penjelasan Makna Hadits

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah berkata dalam Fath Dzil Jalāl wal Ikrām bi Syarh Bulūghil Marām:

Kata “melaknatnya” berarti Nabi ﷺ berkata, “Laknat Allah atasnya.” Ini adalah kalimat berita yang bermakna doa; yaitu, beliau berdoa agar orang tersebut dilaknat. Laknat adalah pengusiran dan penjauhan dari rahmat Allah. Allah Ta’ala berfirman kepada Iblis (yang artinya): “Dan sesungguhnya laknat itu akan menimpamu” [Q.S Al-Hijr: 35]. Dan dalam ayat lain (yang artinya): “Dan sesungguhnya laknat-Ku atasmu” [Q.S Shad: 78]. Artinya, laknat telah wajib menimpanya, yaitu pengusiran dan penjauhan dari rahmat Allah selama-lamanya. Sebab, firman-Nya “sampai hari Kiamat” tidak berarti bahwa laknat itu akan hilang setelah hari Kiamat, tetapi siapa pun yang dilaknat sampai hari Kiamat, maka ia dilaknat selama-lamanya. Kita memohon perlindungan kepada Allah.

“Melaknat” berarti mendoakan laknat atasnya; yaitu, pengusiran dan penjauhan dari rahmat Allah. “Penyuap (ar-rāsyī)” adalah orang yang memberikan suap (risywah). “Penerima Suap (al-murtašyī)” adalah orang yang menerima suap.

Kata Risywah (suap) dapat dibaca dengan tiga cara pada huruf Ra’ nya: Rasywah (fathah/a), Risywah (kasrah/i), dan Rusywah (dhammah/u), atau disebut mutsallatsah ar-rā’ (huruf Ra-nya memiliki tiga harakat).

Apa itu risywah (suap/pemberian uang pelicin)?

Risywah pada asalnya adalah pemberian yang dimaksudkan untuk mencapai tujuan tertentu. Ia diambil dari kata irsyā’ (tali timba) yang digunakan untuk menurunkan timba ke dalam sumur untuk mengambil air; karena ar-risyā’ (tali) digunakan seseorang untuk mencapai tujuannya, yaitu air. Namun, makna risywah di sini, yang pelakunya dilaknat, adalah pemberian yang dimaksudkan untuk mencapai kebatilan, atau untuk menggugurkan suatu kebenaran (hak).

Paling sering terjadi dalam kasus peradilan, di mana pihak yang bersengketa memberikan sesuatu kepada hakim agar hakim memutuskan perkara sesuai kehendaknya yang batil. Inilah yang disebut risywah. Demikian pula di luar pengadilan, seseorang memberikan sesuatu kepada kepala atau direktur suatu kantor agar dia diangkat ke suatu jabatan, padahal dia tidak layak untuk jabatan tersebut.

Oleh karena itu, kaidahnya adalah: Risywah (suap) yang diharamkan adalah pemberian harta untuk mencapai kebatilan atau menggugurkan suatu hak. Ini adalah yang diharamkan.

Adapun pemberian yang dimaksudkan untuk mencapai suatu kebenaran (hak), maka pemberian ini haram bagi si penerima, tetapi halal bagi si pemberi. Contohnya, seseorang dikuasai oleh penguasa yang zalim, lalu ia memberinya suap agar kezaliman itu dihindarkan darinya; hal ini tidak mengapa baginya. Contoh lain, seseorang memiliki hak tetapi tidak mampu mendapatkannya, lalu ia memberikan harta untuk mencapai haknya, maka ini tidak haram baginya, dan dosanya ditanggung oleh si penerima.

Namun, tidak seharusnya kita terjerumus dalam hal itu kecuali dalam keadaan yang sangat darutat. Sebab, jika kita mudah memberikan suap, maka orang yang mengurus urusan masyarakat akan menjadi rusak, dan mereka tidak akan mau bekerja kecuali dengan suap. Ini terjadi di beberapa negara, di mana kebutuhan masyarakat yang wajib dipenuhi oleh pegawai tidak akan terlaksana kecuali dengan suap. Mereka mengambil kaidah asal yang mapan di kalangan awam, yaitu: “Lumasi jalannya (beri pelicin), niscaya akan berjalan (lancar),” artinya tidak mungkin urusannya berjalan dan mudah kecuali jika jalannya dilumasi (diberi suap). Jika kamu melumasinya dengan banyak, ia akan berjalan cepat, dan jika kamu melumasinya sedikit, ia akan terhenti.

Bagaimanapun, saya katakan: Seseorang yang memberikan sesuatu untuk mencapai haknya atau menolak kezaliman darinya tidak berdosa, melainkan dosa ditanggung oleh si penerima. Ini telah ditegaskan oleh para ulama penjelas hadits yang menjelaskan dari segi fikih, maupun para penjelas dari segi bahasa, seperti penulis kitab An-Nihāyah, misalnya.

Jadi, risywah yang pelakunya dan orang yang diuntungkan karenanya dilaknat adalah yang digunakan untuk mencapai kebatilan atau menggugurkan hak. Dalam kasus ini, penyuap (rāsyī) dan penerima suap (murtašyī) dilaknat.

Rasulullah ﷺ melaknat keduanya karena perbuatan mereka mengandung kerusakan (mafsadah) yang besar, melumpuhkan hak-hak manusia, dan mempermainkan mereka. Anda tahu, jika kita tidak memenuhi hajat orang lain sebagaimana mestinya, maka akan terjadi fitnah besar dan kebencian terhadap para pemimpin yang mengurus urusan ini lalu mengambil suap. Wajib bagi seseorang untuk bertakwa kepada Allah Azza wa Jalla dalam urusan yang diamanahkan Allah kepadanya, dan berjalan bersama mereka dengan adil dan kejujuran, memberikan hak kepada setiap pemilik hak, dan tidak menggunakan kekuasaannya untuk memakan harta manusia secara batil.

Pelajaran yang bisa diambil dari hadits ini (di antaranya adalah) dibolehkannya melaknat penyuap dan penerima suap, tetapi secara umum, bukan secara spesifik. Anda boleh berkata: “Laknat Allah atas penyuap dan penerima suap.” Alasannya: Nabi ﷺ melaknat keduanya. Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu pernah berkata: “Mengapa aku tidak melaknat orang yang dilaknat oleh Rasulullah ﷺ?”.

Namun, tidak boleh melaknat seseorang secara spesifik (menunjuk orangnya) meskipun ia memberi suap, karena mungkin saja Allah Azza wa Jalla memberinya hidayah, dan ia selamat dari pengusiran dan penjauhan dari rahmat Allah. Jika melaknat orang kafir—yang dosanya lebih berat daripada penerima suap—secara spesifik tidak diperbolehkan, maka melaknat penerima suap secara spesifik lebih tidak diperbolehkan. Oleh karena itu, ketika Nabi ﷺ berdoa melawan kaum Arab tertentu (“Ya Allah, laknatlah fulan dan fulan”), Allah melarangnya dan berfirman (yang artinya): Bukanlah menjadi urusanmu sedikit pun (apakah Allah menerima tobat mereka, atau mengazab mereka, atau Allah menerima taubat mereka, atau mengazab mereka, karena sesungguhnya mereka itu orang-orang yang zalim [Q.S Āli ‘Imrān ayat 128].

Demikian pula orang-orang fasik yang dilaknat melalui lisan Nabi Muhammad ﷺ, tidak boleh kita melaknat orangnya secara spesifik, tetapi secara umum. Dengan ini kita mengetahui pemahaman fikih dalam masalah ini, yaitu perbedaan antara penunjukan jenis dan penunjukan individu. Penunjukan jenis lebih luas, yaitu ketika saya berkata: “Ya Allah, laknatlah para penyuap dan penerima suap secara umum.” Tetapi penunjukan individu (“Ya Allah, laknatlah Fulan karena dia menerima suap”) tidak diperbolehkan. Demikian juga (“Ya Allah, laknatlah Fulan karena dia kafir”) tidak diperbolehkan. Namun, jika Anda berkata: “Laknat Allah atas orang-orang kafir,” itu diperbolehkan karena bersifat umum.

Ini sama halnya dalam masalah hukuman dan juga pahala. Anda tidak boleh bersaksi bahwa individu tertentu berada di Surga meskipun ia seorang mukmin, dan Anda tidak boleh bersaksi bahwa seseorang yang terbunuh dalam jihad adalah syahid meskipun ia terbunuh di dalamnya. Namun, kita berkata seperti yang dianjurkan oleh Umar radhiyallahu ‘anhu: “Siapa saja yang terbunuh di jalan Allah atau mati, maka ia syahid,” ini secara umum. Karena jika kita membolehkan persaksian secara individu, maka kita akan bersaksi bahwa setiap orang per orang (yang kita ketahui sebagai orang beriman) pasti di Surga, dan ini tidak mungkin. (Karena kita hanya tahu secara lahirilah, dan tidak mengetahui batinnya, pen).

Termasuk juga pelajaran yang bisa diambil dari hadits ini adalah kewajiban menegakkan keadilan di antara manusia; karena risywah pada umumnya mengandung kezaliman, sebab ia mendahulukan penyuap di atas yang lain, dan mungkin saja ia memutuskan perkara yang batil padahal kebenaran ada pada pihak lain.

Jika ada yang bertanya: “Apa hubungan memasukkan hadits ini ke dalam Bab Riba?” (dalam kitab Bulughul Maram, pen)

Kami katakan: Hubungannya adalah kesamaan antara suap dan riba. Keduanya (suap dan riba) merupakan pengambilan harta secara tidak sah dan memakan harta orang lain secara batil, sehingga suap disamakan dengan riba.


Sumber: Fathu Dzil Jalaali wal Ikraam bi Syarhi Bulughil Maram karya Syaikh Ibn Utsaimin 4/41-43

Naskah dalam Bahasa Arab

وَعَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ بْنِ الْعَاصِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: “لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الرَّاشِيَ وَالْمُرْتَشِيَ”. رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ، وَالتِّرْمِذِيُّ وَصَحَّحَهُ

قَالَ الشَّيْخُ مُحَمَّدُ بْنُ صَالِحٍ الْعُثَيْمِينُ رَحِمَهُ اللَّهُ تَعَالَى فِي فَتْحِ ذِي الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ بِشَرْحِ بُلُوغِ الْمَرَامِ

لَعَنَهُ أَيْ قَالَ: لَعْنَةُ اللَّهِ عَلَيْهِ وَهُوَ خَبَرٌ بِمَعْنَى: الدُّعَاءِ؛ أَيْ: دَعَا عَلَيْهِ بِاللَّعْنَةِ، وَالْعَنَّةُ هِيَ الطَّرْدُ وَالْإِبْعَادُ عَنْ رَحْمَةِ اللَّهِ، قَالَ تَعَالَى لِإِبْلِيسَ: {وَإِنَّ عَلَيْكَ اللَّعْنَةَ} [الحِجْرِ: 35]. وَفِي آيَةٍ أُخْرَى: {وَإِنَّ عَلَيْكَ لَعْنَتِي} [ص: 78]. أَيْ: حَقَّتْ عَلَيْهِ اللَّعْنَةُ، وَهِيَ الطَّرْدُ وَالْإِبْعَادُ عَنْ رَحْمَةِ اللَّهِ أَبَدَ الْآبِدِينَ؛ لِأَنَّ قَوْلَهُ: {إِلَى يَوْمِ الدِّينِ} لَا يَقْتَضِي أَنَّهُ بَعْدَ يَوْمِ الدِّينِ تَرْتَفِعُ اللَّعْنَةُ عَنْهُ، لَكِنْ مَنْ لُعِنَ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ فَهُوَ مَلْعُونٌ أَبَدَ الْآبِدِينَ، نَسْأَلُ اللَّهَ الْعَافِيَةَ.

“لَعَنَ” أَيْ: دَعَا عَلَيْهِ بِاللَّعْنَةِ؛ أَيْ: بِالطَّرْدِ وَالْإِبْعَادِ عَنْ رَحْمَةِ اللَّهِ، “الرَّاشِي”: هُوَ بَاذِلُ الرِّشْوَةِ، “وَالْمُرْتَشِي”: آخِذُ الرِّشْوَةِ، وَالرِّشْوَةُ بِفَتْحِ الرَّاءِ وَكَسْرِهَا وَضَمِّهَا مُثَلَّثَةُ الرَّاءِ، يَعْنِي تَقُولُ: رَشْوَةٌ فَيَكُونُ صَحِيحًا، رِشْوَةٌ صَحِيحٌ، رُشْوَةٌ صَحِيحٌ، يُقَالُ: مُثَلَّثُ الرَّاءِ، وَيُقَالُ: بِالْمُثَلَّثَةِ وَبَيْنَهُمَا فَرْقٌ، إِذَا قِيلَ: مُثَلَّثُ الرَّاءِ بِاعْتِبَارِ الْحَرَكَاتِ، وَإِذَا قِيلَ بِالْمُثَلَّثَةِ بِاعْتِبَارِ النُّقَطِ، فَالثَّاءُ نَقُولُ فِيهَا: مُثَلَّثَةٌ وَرُشْوَةٌ نَقُولُ بِتَثْلِيثِ الرَّاءِ. مَا هِيَ الرِّشْوَةُ؟ الرِّشْوَةُ فِي الْأَصْلِ: الْعَطَاءُ الَّذِي يُرَادُ بِهِ التَّوَصُّلُ إِلَى مَقْصُودٍ، مَأْخُوذَةٌ مِنَ الْإِرْشَاءِ الَّذِي هُوَ حَبْلُ الدَّلْوِ الَّذِي يَنْزِلُ فِي الْبِئْرِ لِلسُّقْيَا؛ لِأَنَّ الرِّشَاءَ يُتَوَصَّلُ بِهِ الْإِنْسَانُ إِلَى مَقْصُودِهِ إِلَى الْمَاءِ، وَلَكِنَّ المُرَادَ بِالرِّشْوَةِ هُنَا الَّتِي لُعِنَ فَاعِلُهَا هِيَ الْبَذْلُ لِلتَّوَصُّلِ إِلَى بَاطِلٍ، أَوْ إِسْقَاطِ حَقٍّ، وَأَكْثَرُ مَا تَكُونُ فِي الْمُحَاكَمَاتِ يَبْذُلُ الخَصْمُ لِلْقَاضِي- لِلْحَاكِمِ- شَيْئًا لِيَحْكُمَ لَهُ بِمَا يُرِيدُ مِنْ بَاطِلٍ، فَهَذِهِ الرِّشْوَةُ وَكَذَلِكَ فِي غَيْرِ الْقَضَاءِ، يَبْذُلُ الْإِنْسَانُ شَيْئًا إِلَى رَئِيسِ دَائِرَةٍ مَا أَوْ مُدِيرِهَا لِيَنْصِبَهُ فِي وَظِيفَةٍ وَهُوَ لَيْسَ لَهَا بِأَهْلٍ

فَالْقَاعِدَةُ إِذَنْ: أَنَّ الرِّشْوَةَ الْمُحَرَّمَةَ هِيَ بَذْلُ مَالٍ لِلتَّوَصُّلِ إِلَى بَاطِلٍ أَوْ إِسْقَاطِ حَقٍّ، هَذِهِ الْمُحَرَّمَةُ، وَأَمَّا مَا يُبْذَلُ لِلتَّوَصُّلِ إِلَى حَقٍّ فَهِيَ حَرَامٌ بِالنِّسْبَةِ لِلْآخِذِ حَلَالٌ بِالنِّسْبَةِ لِلْبَاذِلِ، كَرَجُلٍ تَسَلَّطَ عَلَيْهِ ظَالِمٌ فَأَعْطَاهُ رِشْوَةً لِأَجْلِ مَنْعِ الظُّلْمِ عَنْهُ فَهَذَا لَا بَأْسَ بِهِ، إِنْسَانٌ آخَرُ لَهُ حَقٌّ وَلَا يَسْتَطِيعُ التَّوَصُّلَ إِلَيْهِ يَبْذُلُ الْمَالَ لِيَصِلَ إِلَى حَقِّهِ فَهَذَا لَيْسَ حَرَامًا عَلَيْهِ وَالْإِثْمُ عَلَى الْآخِذِ، وَلَكِنْ لَا يَنْبَغِي أَنْ نَلْجَأَ إِلَى ذَلِكَ إِلَّا عِنْدَ الضَّرُورَةِ الْقُصْوَى؛ لِأَنَّنَا لَوْ بَذَلْنَا هَذَا بِسُهُولَةٍ لَفَسَدَ مَنْ يَتَوَلَّى أُمُورَ النَّاسِ وَصَارَ لَا يُمْكِنُ أَنْ يَعْمَلَ إِلَّا بِرِشْوَةٍ، كَمَا يُوجَدُ فِي بَعْضِ الْبِلَادِ لَا يُمْكِنُ أَنْ تُقْضَى حَاجَتُهُ الَّتِي يَجِبُ قَضَاؤُهَا عَلَى الموظَّفِ إِلَّا بِرِشْوَةٍ، يَأْخُذُونَ بِالْقَاعِدَةِ الْأَصْلِيَّةِ الثَّابِتَةِ الرَّاسِخَةِ عِنْدَ الْعَامَّةِ وَهِيَ: “ادْهَنِ السَّيْرَ يَسِيرْ يَعْنِي: مَا يُمْكِنُ إِنَّهُ يَسِيرُ أَمْرُهُ وَيَسْهُلُ إِلَّا إِذَا دُهِنَ السَّيْرُ وَإِذَا دَهَنْتَهُ كَثِيرًا يَمْشِي وَيُسْرِعُ وَإِنْ دَهَنْتَهُ قَلِيلًا يَقْطَعُ

عَلَى كُلِّ حَالٍ أَقُولُ: إِنَّ الْإِنْسَانَ الَّذِي يَبْذُلُ الشَّيْءَ لِيَتَوَصَّلَ إِلَى حَقِّهِ أَوْ دَفْعِ الظُّلْمِ عَنْهُ لَيْسَ عَلَيْهِ إِثْمٌ، بَلِ الْإِثْمُ عَلَى الْآخِذِ، وَقَدْ نَصَّ عَلَى ذَلِكَ أَهْلُ الْعِلْمِ الشُّرَّاحُ الَّذِينَ يَشْرَحُونَ الْحَدِيثَ بِاعْتِبَارِهِ شَرْحًا فِقْهِيًّا، وَالشُّرَّاحُ الَّذِينَ يَشْرَحُونَ بِاعْتِبَارِهِ شَرْحًا لُغَوِيًّا كَصَاحِبِ النِّهَايَةِ مَثَلًا، إِذَنِ الرِّشْوَةُ الَّتِي لُعِنَ فَاعِلُهَا وَمَنْ فُعِلَتْ لَهُ هِيَ الَّتِي يُتَوَصَّلُ بِهَا إِلَى بَاطِلٍ أَوْ إِسْقَاطِ حَقٍّ، هَذِهِ يُلْعَنُ فِيهَا الرَّاشِي وَالْمُرْتَشِي، وَإِنَّمَا لَعَنَهُمَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِمَا يَتَضَمَّنُ فِعْلُهُمَا مِنَ المَفَاسِدِ الْعَظِيمَةِ وَتَعْطِيلِ حُقُوقِ النَّاسِ وَالتَّلَاعُبِ بِهِمْ، وَالنَّاسُ- كَمَا تَعْلَمُونَ- إِذَا لَمْ نَقْضِ حَوَائِجَهُمْ عَلَى الْوَجْهِ المَطْلُوبِ حَصَلَ بِذَلِكَ فِتَنٌ عَظِيمَةٌ وَكَرَاهَةٌ لِوُلَاةِ الْأُمُورِ الَّذِينَ يَتَوَلَّوْنَ هَذِهِ الْأَشْيَاءَ، وَيَأْخُذُونَ عَلَيْهَا رِشْوَةً وَالْوَاجِبُ عَلَى الْإِنْسَانِ أَنْ يَتَّقِيَ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ فِيمَنْ وَلَّاهُ اللَّهُ عَلَيْهِ وَأَنْ يَسِيرَ بِهِمْ بِالْعَدْلِ وَالْقِسْطِ، وَيُعْطِيَ كُلَّ ذِي حَقٍّ حَقَّهُ، وَأَلَّا يَسْتَعْمِلَ سُلْطَتَهُ لِيَتَوَصَّلَ بِهَا إِلَى أَكْلِ أَمْوَالِ النَّاسِ بِالْبَاطِلِ

مِنْ فَوَائِدِ الْحَدِيثِ: جَوَازُ لَعْنِ الرَّاشِي وَالْمُرْتَشِي، لَكِنْ عَلَى سَبِيلِ الْعُمُومِ لَا التَّخْصِيصِ، فَتَقُولُ: لَعْنَةُ اللَّهِ عَلَى الرَّاشِي وَالْمُرْتَشِي، وَجْهُ ذَلِكَ: أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَعَنَهُمَا، وَقَدْ قَالَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: “مَا لَا أَلْعَنُ مَنْ لَعَنَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ”، وَلَكِنْ عَلَى سَبِيلِ التَّعْيِينِ لَا يَجُوزُ وَإِنْ رَشَا؛ لِأَنَّهُ مِنَ الْمُمْكِنِ أَنْ يَهْدِيَهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ وَيَسْلَمَ مِنَ الطَّرْدِ وَالْإِبْعَادِ عَنْ رَحْمَةِ اللَّهِ، وَإِذَا كَانَ الْكَافِرُ- وَهُوَ أَشَدُّ مِنَ الْمُرْتَشِي- لَا يَجُوزُ لَعْنُهُ بِعَيْنِهِ فَمَا بَالُكَ بِالْمُرْتَشِي، لَا يَجُوزُ مِنْ بَابِ أَوْلَى، وَلِهَذَا لَمَّا صَارَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَدْعُو عَلَى قَوْمٍ مِنَ الْعَرَبِ «اللَّهُمَّ الْعَنْ فُلَانًا وَفُلَانًا» نَهَاهُ اللَّهُ، وَقَالَ لَهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى: {لَيْسَ لَكَ مِنَ الْأَمْرِ شَيْءٌ أَوْ يَتُوبَ عَلَيْهِمْ أَوْ يُعَذِّبَهُمْ فَإِنَّهُمْ ظَالِمُونَ} [آلِ عِمْرَانَ: 128].

فَكَذَلِكَ هَؤُلَاءِ الْفَسَقَةُ الَّذِينَ لُعِنُوا عَلَى لِسَانِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَجُوزُ أَنْ نَلْعَنَ الْإِنْسَانَ مِنْهُمْ بِعَيْنِهِ لَكِنْ عَلَى سَبِيلِ الْعُمُومِ، وَبِهَذَا نَعْرِفُ الْفِقْهَ فِي هَذِهِ الْمَسْأَلَةِ وَهِيَ الْفَرْقُ بَيْنَ التَّعْيِينِ بِالْجِنْسِ وَالتَّعْيِينِ بِالشَّخْصِ، التَّعْيِينُ بِالْجِنْسِ أَوْسَعُ وَهُوَ أَنْ أَقُولَ: اللَّهُمَّ الْعَنِ الرُّشَاةَ وَالْمُرْتَشِينَ عُمُومًا، لَكِنَّ التَّعْيِينَ بِالشَّخْصِ، اللَّهُمَّ الْعَن فُلَانًا لِأَنَّهُ يَرْتَشِي لَا يَجُوزُ، اللَّهُمَّ الْعَن فُلَانًا لِأَنَّهُ كَافِرٌ لَا يَجُوزُ، لَكِنْ لَوْ قُلْتَ: لَعْنَةُ اللَّهِ عَلَى الْكَافِرِينَ جَائِزٌ لِلْعُمُومِ، وَهَذَا كَمَا أَنَّهُ فِي الْعُقُوبَاتِ فَهُوَ كَذَلِكَ فِي الثَّوَابِ، فَلَا تَشْهَدُ لِشَخْصٍ مُعَيَّنٍ بِأَنَّهُ فِي الْجَنَّةِ وَإِنْ كَانَ مُؤْمِنًا، وَلَا تَشْهَدُ لِمَنْ قُتِلَ فِي الْجِهَادِ بِأَنَّهُ شَهِيدٌ وَإِنْ قُتِلَ فِيهِ، وَلَكِنْ نَقُولُ كَمَا أَرْشَدَ إِلَيْهِ عُمَرُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: “مَنْ قُتِلَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَوْ مَاتَ فَهُوَ شَهِيدٌ” عَلَى سَبِيلِ الْعُمُومِ؛ لِأَنَّنَا لَوْ قُلْنَا بِجَوَازِ الشَّهَادَةِ بِالتَّعْيِينِ لَكُنَّا نَشْهَدُ لِكُلِّ وَاحِدٍ بِأَنَّهُ فِي الْجَنَّةِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ وَهَذَا لَا يَكُونُ.

وَمِنْ فَوَائِدِ الْحَدِيثِ: وُجُوبُ الْقِيَامِ بِالْعَدْلِ بَيْنَ النَّاسِ؛ لِأَنَّ الرِّشْوَةَ فِي الْغَالِبِ يَكُونُ فِيهَا جَوْرٌ؛ حَيْثُ إِنَّهُ يُقَدِّمُ الرَّاشِيَ عَلَى غَيْرِهِ، وَرُبَّمَا يَحْكُمُ لَهُ بِالْبَاطِلِ مَعَ أَنَّ الْحَقَّ مَعَ غَيْرِهِ.

فَإِنْ قَالَ قَائِلٌ: مَا وَجْهُ إِدْخَالِ هَذَا الْحَدِيثِ فِي بَابِ الرِّبَا؟

نَقُولُ: وَجْهُ ذَلِكَ: هُوَ أَنَّ الْجَامِعَ بَيْنَهُ وَبَيْنَ الرِّبَا أَنَّ هَذَا الْآخِذَ بِغَيْرِ حَقٍّ مِنْ أَكْلِ الْمَالِ بِالْبَاطِلِ فَهُوَ كَالرِّبَا.

Penerjemah: Abu Utsman Kharisman