Bimbingan Nabi dan Penjelasan Ulama Tentang Penulisan Surat Wasiat

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: ((مَا حَقُّ امْرِئٍ مُسْلِمٍ، لَهُ شَيْءٌ يُوصَى فِيهِ، يَبِيتُ لَيْلَتَيْنِ إِلَّا وَوَصِيَّتُهُ مَكْتُوبَةٌ عِنْدَهُ)) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ، هَذَا لَفْظُ الْبُخَارِيِّ. وَفِي رِوَايَةٍ لِمُسْلِمٍ: ((يَبِيتُ ثَلَاثَ لَيَالٍ)) . قَالَ ابْنُ عُمَرَ: مَا مَرَّتْ عَلَيَّ لَيْلَةٌ مُنْذُ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ ذَلِكَ إِلَّا وَعِنْدِي وَصِيَّتِي
Dari Abdullah bin Umar -semoga Allah meridhainya-, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tidak ada hak bagi seorang Muslim yang memiliki sesuatu yang perlu diwasiatkan, untuk tidur dua malam kecuali wasiatnya sudah tertulis di sisinya/dekatnya”. Hadits Muttafaq ‘alaih (disepakati), ini adalah lafazh Al-Bukhari. Dan dalam riwayat Muslim: “tidur tiga malam “. Ibnu Umar berkata: “Tidak pernah berlalu satu malam pun atasku sejak aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan itu, kecuali wasiatku sudah ada di sisiku.”
Penjelasan Makna Hadits
Syaikh Ibn Utsaimin rahimahullah menyatakan dalam Syarh Riyadhus Shalihin:
Kemudian Penulis (Al-Imam An-Nawawi) rahimahullah menyebutkan hadits Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tidak ada hak bagi seorang Muslim yang memiliki sesuatu yang perlu diwasiatkan, untuk tidur dua malam kecuali wasiatnya sudah tertulis di sisinya/dekatnya.” Artinya, bukan haknya untuk tidur dua malam kecuali dia telah menulis wasiat yang ingin dia wasiatkan. Dan Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu, sejak mendengar perkataan ini dari Rasulullah, tidak pernah tidur semalam pun kecuali dia telah menulis wasiatnya.
Wasiat maknanya adalah janji (al-’ahd), yaitu seseorang berjanji/mewakilkan kepada seseorang setelah kematiannya untuk mengelola sebagian hartanya, atau berjanji kepada seseorang untuk mengawasi anak-anaknya yang masih kecil, atau berjanji kepada seseorang dalam hal apa pun dari pekerjaan yang dia miliki setelah kematiannya, lalu dia mewasiatkannya. Inilah wasiat.
Misalnya seorang laki-laki menulis: Wasiatku kepada Fulan bin Fulan untuk mengawasi anak-anakku yang masih kecil. Dan wasiatku kepada Fulan bin Fulan untuk membagikan sepertiga hartaku atau seperempatnya atau seperlimanya di jalan Allah. Wasiatku kepada Fulan agar memanfaatkan apa yang aku tinggalkan berupa properti atau lainnya atau yang serupa dengan itu.
Intinya, inilah wasiat: Janji seseorang setelah kematiannya kepada seseorang mengenai sesuatu yang dia miliki, inilah wasiat.
Wasiat itu ada beberapa jenis: Wajib, Haram, dan Ja-izah (dibolehkan/sunnah).
1. Wasiat Wajib
Yaitu ketika seseorang mewasiatkan hak-hak wajib yang menjadi tanggungannya, agar para ahli waris tidak mengingkarinya, terutama jika tidak ada bukti (saksi).
Seperti seseorang memiliki utang atau hak milik orang lain, maka dia wajib mewasiatkannya, terutama jika tidak ada bukti padanya. Karena jika dia tidak mewasiatkannya, maka ahli waris dapat mengingkarinya. Dan ahli waris tidak diwajibkan untuk membenarkan setiap orang yang datang dan berkata, “Aku memiliki piutang sekian-sekian pada mayit kalian.” Mereka tidak diwajibkan untuk membenarkan. Jika mayit tidak mewasiatkannya, maka hak itu mungkin hilang. Maka, siapa pun yang memiliki utang—yakni hak pada tanggungannya untuk orang lain—wajib baginya untuk mewasiatkannya.
Demikian pula, wajib juga mewasiatkan kepada kerabat yang tidak mendapat warisan dengan apa yang mudah (sepatutnya), berdasarkan firman Allah (yang artinya): “(Diwajibkan atas kalian, apabila salah seorang di antara kalian kedatangan [tanda-tanda] maut, jika ia meninggalkan harta yang banyak) (Q.S Al-Baqarah: 180), yakni harta yang banyak (berwasiat).” Ini adalah Naibul Fa’il (Subjek pengganti) “(untuk kedua orang tua dan karib kerabat).” Maka dikecualikan dari itu, dari kedua orang tua dan karib kerabat, siapa pun yang merupakan ahli waris. Karena ahli waris tidak boleh diwasiati, dan ayat tersebut tetap muhkam (tidak terhapus) bagi selain ahli waris.
Demikianlah petunjuk ayat tersebut, dan dengannya Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma menafsirkannya, dan banyak ahli ilmu yang berpendapat demikian, bahwa seseorang wajib berwasiat, jika dia memiliki harta yang banyak, dengan apa yang mudah (sepatutnya) untuk kerabatnya yang tidak mendapat warisan. Adapun ahli waris, tidak boleh diwasiati, karena haknya dari warisan sudah mencukupinya.
Maka, inilah dua perkara di mana wasiat menjadi wajib.
- Pertama: Jika dia memiliki utang—yaitu hak untuk orang lain.
- Kedua: Jika dia meninggalkan harta yang banyak, maka dia wajib mewasiatkan kepada kerabatnya yang bukan ahli waris.
2. Wasiat Muharramah (Haram)
Wasiat ini haram jika dia mewasiatkan kepada salah satu ahli waris, maka itu haram baginya. Seperti mewasiatkan kepada anaknya yang besar dengan sesuatu (yang khusus) dibandingkan ahli waris lainnya, atau mewasiatkan kepada istrinya dengan sesuatu (yang khusus) dibandingkan ahli waris lainnya, maka ini haram baginya. Bahkan meskipun diperkirakan bahwa wanita tersebut—yakni istrinya—dahulu melayaninya di masa hidupnya, menaatinya, dan menghormatinya, lalu dia ingin membalas jasanya; tidak halal baginya untuk mewasiatkan sesuatu untuknya. Demikian juga jika salah satu anaknya berbakti kepadanya, melayaninya, dan berusaha dalam hartanya, lalu dia ingin mewasiatkan sesuatu untuknya; maka itu haram baginya.
Begitu pula apa yang dilakukan sebagian orang: jika dia memiliki beberapa anak dan telah menikahkan anak yang besar, lalu dia mewasiatkan untuk anak-anak kecil sejumlah harta yang sama dengan yang dia gunakan untuk menikahkan anak yang besar, maka ini juga haram. Karena menikahkan adalah memenuhi kebutuhan; seperti makan dan minum. Siapa pun dari anak-anak yang membutuhkannya dan ayahnya memiliki kemampuan, wajib baginya untuk menikahkannya. Dan siapa pun yang tidak membutuhkannya, tidak halal baginya untuk memberinya sesuatu yang sama seperti yang dia berikan kepada saudaranya yang membutuhkan pernikahan.
Masalah ini samar bagi banyak orang, bahkan bagi sebagian penuntut ilmu. Mereka mengira bahwa jika Anda menikahkan anak Anda, Anda wajib mewasiatkan kepada anak-anak kecil sejumlah harta yang sama dengan yang Anda gunakan untuk menikahkannya. Ini tidak benar. Wasiat untuk ahli waris tidak diperbolehkan secara mutlak.
Namun, jika diperkirakan seseorang—karena ketidaktahuan—mewasiatkan sesuatu untuk salah satu ahli waris, maka ini kembali kepada ahli waris setelah kematiannya. Jika mereka mau, mereka laksanakan wasiat itu, dan jika mereka mau, mereka menolaknya.
3. Wasiat Mubah
Yaitu seseorang mewasiatkan sebagian hartanya yang tidak melebihi sepertiga, karena melebihi sepertiga dilarang. Namun, apa yang di bawah sepertiga, Anda bebas melakukannya, dan Anda boleh mewasiatkannya kepada siapa pun yang Anda kehendaki, kecuali ahli waris. Ini diperbolehkan.
Namun, apakah yang lebih utama itu sepertiga, seperempat, atau kurang dari itu? Kami katakan, batas maksimal adalah sepertiga, jangan melebihinya. Dan yang di bawah sepertiga itu lebih utama darinya. Oleh karena itu, Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata: “Seandainya orang-orang mengurangi dari sepertiga menjadi seperempat.” Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Sa’ad bin Abi Waqqash: “Sepertiga, dan sepertiga itu sudah banyak”. Dan Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu berwasiat dengan seperlima hartanya. Dia berkata: “Aku ridha dengan apa yang Allah ridhai untuk diri-Nya, yaitu seperlima,” lalu beliau berwasiat dengan seperlima hartanya. Ini adalah yang terbaik.
Alangkah baiknya para penuntut ilmu dan mereka yang menulis wasiat mengingatkan orang yang berwasiat bahwa yang lebih utama adalah: Wasiat dengan seperlima, bukan dengan sepertiga. Telah tersebar di kalangan masyarakat bahwa sepertiga selalu (yang dianjurkan). Padahal, ini adalah batas tertinggi yang ditentukan oleh Rasul ‘alaihi ash-shalatu wa as-salam, dan yang di bawahnya lebih utama darinya. Maka, seperempat lebih utama dari sepertiga, dan seperlima lebih utama dari seperempat.
Jika ahli waris adalah orang-orang yang membutuhkan, maka tidak meninggalkan wasiat (kepada selain ahli waris) adalah lebih utama; karena ahli waris lebih berhak daripada orang lain. Nabi ‘alaihi ash-shalatu wa as-salam bersabda: “Sesungguhnya jika engkau meninggalkan ahli warismu dalam keadaan kaya, itu lebih baik daripada engkau meninggalkan mereka dalam keadaan miskin yang meminta-minta kepada orang lain”. Jadi, jika ahli waris yang akan mewarisimu kamu ketahui keadaannya biasa-biasa saja, dan harta yang kamu miliki sedikit, dan mereka lebih dekat kepada kefakiran, maka lebih baik kamu tidak berwasiat.
Dalam hadits ini terdapat isyarat bahwa seseorang hendaknya berwasiat, tetapi wasiat terbagi menjadi beberapa bagian sebagaimana telah kami tunjukkan, di antaranya wajib, haram, dan mubah.
Wajib: Seseorang mewasiatkan hak-hak wajib yang menjadi tanggungannya, agar ahli waris tidak mengingkarinya, sehingga hak orang yang berhak atasnya tidak hilang, terutama jika tidak ada bukti.
Yang kedua dari Wasiat Wajib: Wasiat dari orang yang meninggalkan harta yang banyak untuk kerabatnya yang tidak mendapat warisan tanpa penetapan jumlah tertentu, tetapi tidak melebihi sepertiga.
Wasiat Haram: Ada dua jenis juga: Yaitu jika itu untuk salah satu ahli waris, dan jika itu melebihi sepertiga.
Mubah: Selain dari itu. Tetapi yang lebih utama adalah wasiat yang mubah itu seperlima atau kurang. Jika bertambah menjadi seperempat, tidak mengapa. Dan sampai sepertiga pun tidak mengapa, tetapi jangan melebihi sepertiga.
Dalam hadits Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma terdapat petunjuk untuk beramal dengan cara menulis; berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “kecuali wasiatnya sudah tertulis di sisinya/dekatnya”. Maka ini menunjukkan bolehnya beramal, bahkan wajibnya beramal dengan cara menulis.
Dalam sabdanya: “Maktubah/tertulis” (Isim Maf’ul – objek yang dikenai pekerjaan), terdapat isyarat bahwa tidak ada perbedaan antara dia sendiri yang menulis atau orang lain yang dengan tulisannya wasiat itu terbukti kebenarannya. Maka, tulisan itu harus diketahui; baik dengan tulisan tangan orang yang berwasiat itu sendiri, atau dengan tulisan tangan orang yang terpercaya. Adapun jika dengan tulisan tangan yang tidak diketahui, maka tidak ada nilainya dan tidak dapat diamalkan.
Dalam sabdanya: “di sisinya/dekatnya” terdapat isyarat bahwa seyogyanya seseorang menyimpan dokumen-dokumen dan tidak membiarkan orang lain menguasainya, melainkan menyimpannya di tempat yang terjaga dan terkunci, seperti kotak atau lainnya. Karena jika dia mengabaikannya, mungkin akan hilang darinya, atau orang lain menguasainya, mengambilnya, merusaknya, atau semacamnya. Yang penting dalam hal ini adalah perhatian terhadap wasiat, dan seseorang harus menjaganya agar tidak hilang.
Di dalam hadits ini juga terdapat pelajaran demikian sigapnya para Sahabat dalam bersegera menjalankan perintah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Oleh karena itu, Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata setelah mendengar hadits ini dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Tidak pernah berlalu satu malam pun atasku sejak aku mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan ini, kecuali wasiatku sudah tertulis di sisiku”. Maka, seyogyanya seseorang memperhatikan perkara ini agar kematian tidak datang secara tiba-tiba, sementara dia telah merugikan dirinya dan hak orang lain.
Sumber: Syarh Riyadhis Sholihin libni Utsaimin 3/460 – 465)
Naskah dalam Bahasa Arab:
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: ((مَا حَقُّ امْرِئٍ مُسْلِمٍ، لَهُ شَيْءٌ يُوصَى فِيهِ، يَبِيتُ لَيْلَتَيْنِ إِلَّا وَوَصِيَّتُهُ مَكْتُوبَةٌ عِنْدَهُ)) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ، هَذَا لَفْظُ الْبُخَارِيِّ. وَفِي رِوَايَةٍ لِمُسْلِمٍ: ((يَبِيتُ ثَلَاثَ لَيَالٍ)) . قَالَ ابْنُ عُمَرَ: مَا مَرَّتْ عَلَيَّ لَيْلَةٌ مُنْذُ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ ذَلِكَ إِلَّا وَعِنْدِي وَصِيَّتِي
قَالَ الشَّيْخُ ابْنُ عُثَيْمِينَ رَحِمَهُ اللَّهُ تَعَالَى فِي شَرْحِ رِيَاضِ الصَّالِحِينَ:
ثُمَّ ذَكَرَ الْمُؤَلِّفُ رَحِمَهُ اللَّهُ حَدِيثَ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: “مَا حَقُّ امْرِئٍ مُسْلِمٍ لَهُ شَيْءٌ يُوصَى فِيهِ يَبِيتُ لَيْلَتَيْنِ إِلَّا وَوَصِيَّتُهُ مَكْتُوبَةٌ عِنْدَهُ” يَعْنِي مَا حَقُّهُ أَنْ يَبِيتَ لَيْلَتَيْنِ إِلَّا وَقَدْ كَتَبَ وَصِيَّتَهُ الَّتِي يُرِيدُ أَنْ يُوصِيَ بِهَا، وَكَانَ ابْنُ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ مُنْذُ سَمِعَ هَذَا الْكَلَامَ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ لَا يَبِيتُ لَيْلَةً إِلَّا وَقَدْ كَتَبَ وَصِيَّتَهُ
وَالْوَصِيَّةُ: مَعْنَاهَا الْعَهْدُ، وَهِيَ أَنْ يَعْهَدَ الْإِنْسَانُ بَعْدَ مَوْتِهِ لِشَخْصٍ فِي تَصْرِيفِ شَيْءٍ مِنْ مَالِهِ، أَوْ يَعْهَدَ لِشَخْصٍ بِالنَّظَرِ عَلَى أَوْلَادِهِ الصِّغَارِ، أَوْ يَعْهَدَ لِشَخْصٍ فِي أَيِّ شَيْءٍ مِنَ الْأَعْمَالِ الَّتِي يَمْلِكُهَا بَعْدَ مَوْتِهِ فَيُوصِيَ بِهِ هَذِهِ هِيَ الْوَصِيَّةُ
مِثْلُ أَنْ يَكْتُبَ الرَّجُلُ: وَصِيَّتِي إِلَى فُلَانِ بْنِ فُلَانٍ بِالنَّظَرِ عَلَى أَوْلَادِي الصِّغَارِ. وَوَصِيَّتِي إِلَى فُلَانِ بْنِ فُلَانٍ بِتَفْرِيقِ ثُلُثِ مَالِي أَوْ رُبُعِهِ أَوْ خُمُسِهِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ. وَصِيَّتِي إِلَى فُلَانٍ فِي أَنْ يَنْتَفِعَ بِمَا خَلَّفْتُ مِنْ عَقَارٍ أَوْ غَيْرِهِ أَوْ مَا أَشْبَهَ ذَلِكَ
الْمُهِمُّ أَنَّ هَذِهِ هِيَ الْوَصِيَّةُ، عَهْدُ الْإِنْسَانِ بَعْدَ مَوْتِهِ إِلَى شَخْصٍ بِشَيْءٍ يَمْلِكُهُ هَذِهِ هِيَ الْوَصِيَّةُ
وَالْوَصِيَّةُ أَنْوَاعٌ: وَاجِبَةٌ، وَمُحَرَّمَةٌ، وَجَائِزَةٌ
أَوَّلًا: الْوَصِيَّةُ الْوَاجِبَةُ: وَهِيَ أَنْ يُوصِيَ الْإِنْسَانُ بِمَا عَلَيْهِ مِنَ الْحُقُوقِ الْوَاجِبَةِ؛ لِئَلَّا يَجْحَدَهَا الْوَرَثَةُ، لَا سِيَّمَا إِذَا لَمْ يَكُنْ عَلَيْهَا بَيِّنَةٌ
كَأَنْ يَكُونَ عَلَى الْإِنْسَانِ دَيْنٌ أَوْ حَقٌّ لِغَيْرِهِ، فَيَجِبُ أَنْ يُوصِيَ بِهِ لَا سِيَّمَا إِذَا لَمْ يَكُنْ فِيهِ بَيِّنَةٌ؛ لِأَنَّهُ إِذَا لَمْ يُوصِ بِهِ فَإِنَّ الْوَرَثَةَ قَدْ يُنْكِرُونَهُ، وَالْوَرَثَةُ لَا يُلْزَمُونَ أَنْ يُصَدِّقُوا كُلَّ مَنْ جَاءَ مِنَ النَّاسِ وَقَالَ: إِنَّ لِي عَلَى مَيِّتِكُمْ كَذَا وَكَذَا، لَا يُلْزَمُهُمْ أَنْ يُصَدِّقُوا، فَإِذَا لَمْ يُوصِ الْمَيِّتُ بِذَلِكَ، فَإِنَّهُ رُبَّمَا يَكُونُ ضَائِعًا، فَمَنْ عَلَيْهِ دَيْنٌ يَعْنِي حَقٌّ فِي ذِمَّتِهِ لِأَحَدٍ، فَإِنَّهُ يَجِبُ عَلَيْهِ أَنْ يُوصِيَ بِهِ
كَذَلِكَ أَيْضًا أَنْ يُوصِيَ لِأَقَارِبِهِ غَيْرِ الْوَارِثِينَ بِمَا تَيَسَّرَ لِقَوْلِ اللَّهِ تَعَالَى: (كُتِبَ عَلَيْكُمْ إِذَا حَضَرَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ إِنْ تَرَكَ خَيْراً) (الْبَقَرَةُ: 180)، يَعْنِي مَالًا كَثِيرًا (الْوَصِيَّةُ) هَذِهِ نَائِبُ الْفَاعِلِ (لِلْوَالِدَيْنِ وَالْأَقْرَبِينَ) فَخَرَجَ مِنْ ذَلِكَ، مِنَ الْوَالِدَيْنِ وَالْأَقْرَبِينَ مَنْ كَانُوا وَرَثَةً، فَإِنَّ الْوَرَثَةَ لَا يُوصَى لَهُمْ، وَبَقِيَتِ الْآيَةُ مُحْكَمَةً فِيمَا عَدَا الْوَارِثِينَ.
هَكَذَا دَلَالَةُ الْآيَةِ، وَبِهَا فَسَّرَهَا ابْنُ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، وَذَهَبَ إِلَيْهَا كَثِيرٌ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ، أَنَّ الْإِنْسَانَ يَجِبُ أَنْ يُوصِيَ إِذَا كَانَ عِنْدَهُ مَالٌ كَثِيرٌ بِمَا تَيَسَّرَ لِأَقَارِبِهِ غَيْرِ الْوَارِثِينَ، أَمَّا الْوَارِثُ فَلَا يَجُوزُ أَنْ يُوصَى لَهُ؛ لِأَنَّ حَقَّهُ مِنَ الْإِرْثِ يَكْفِيهِ، فَهَذَانِ أَمْرَانِ تَجِبُ فِيهِمَا الْوَصِيَّةُ.
الْأَوَّلُ: إِذَا كَانَ عَلَيْهِ دَيْنٌ يَعْنِي حَقًّا لِلنَّاسِ.
وَالثَّانِي: إِذَا تَرَكَ مَالًا كَثِيرًا، فَإِنَّهُ يَلْزَمُهُ أَنْ يُوصِيَ لِأَقَارِبِهِ مِنْ غَيْرِ الْوَارِثِينَ.
ثَانِيًا: الْوَصِيَّةُ الْمُحَرَّمَةُ: وَهِيَ مُحَرَّمَةٌ إِذَا أَوْصَى لِأَحَدٍ مِنَ الْوَرَثَةِ، فَإِنَّهُ حَرَامٌ عَلَيْهِ، مِثْلُ أَنْ يُوصِيَ لِوَلَدِهِ الْكَبِيرِ بِشَيْءٍ مِنْ بَيْنِ سَائِرِ الْوَرَثَةِ، أَوْ يُوصِيَ لِزَوْجَتِهِ بِشَيْءٍ مِنْ بَيْنِ سَائِرِ الْوَرَثَةِ، فَإِنَّ هَذَا حَرَامٌ عَلَيْهِ، حَتَّى وَلَوْ قُدِّرَ أَنَّ الْمَرْأَةَ أَيِ الزَّوْجَةَ كَانَتْ تَخْدُمُهُ فِي حَيَاتِهِ وَتُطِيعُهُ وَتَحْتَرِمُهُ، وَأَرَادَ أَنْ يُكَافِئَهَا؛ فَإِنَّهُ لَا يَحِلُّ لَهُ أَنْ يُوصِيَ لَهَا بِشَيْءٍ، وَكَذَلِكَ لَوْ كَانَ أَحَدُ أَوْلَادِهِ يَبَرُّ بِهِ وَيَخْدُمُهُ وَيَسْعَى فِي مَالِهِ، فَأَرَادَ أَنْ يُوصِيَ لَهُ بِشَيْءٍ؛ فَإِنَّ ذَلِكَ حَرَامٌ عَلَيْهِ.
وَكَذَلِكَ مَا يَفْعَلُهُ بَعْضُ النَّاسِ إِذَا كَانَ لَهُ أَوْلَادٌ عِدَّةٌ وَزَوَّجَ الْكَبِيرَ أَوْصَى لِلصِّغَارِ بِمِثْلِ الْمَالِ الَّذِي زَوَّجَ بِهِ الْكَبِيرَ، فَإِنَّ هَذَا حَرَامٌ أَيْضًا؛ لِأَنَّ التَّزْوِيجَ دَفْعُ حَاجَةٍ؛ كَالْأَكْلِ وَالشُّرْبِ، فَمَنِ احْتَاجَ إِلَيْهِ مِنَ الْأَوْلَادِ وَعِنْدَ أَبِيهِمْ قُدْرَةٌ وَجَبَ عَلَيْهِ أَنْ يُزَوِّجَهُ، وَمَنْ لَمْ يَحْتَجْ إِلَيْهِ فَإِنَّهُ لَا يَحِلُّ لَهُ أَنْ يُعْطِيَهُ شَيْئًا مِثْلَ مَا أَعْطَى أَخَاهُ الَّذِي احْتَاجَ لِلزَّوَاجِ.
وَهَذِهِ مَسْأَلَةٌ تَخْفَى عَلَى كَثِيرٍ مِنَ النَّاسِ حَتَّى عَلَى طَلَبَةِ الْعِلْمِ، يَظُنُّونَ أَنَّكَ إِذَا زَوَّجْتَ وَلَدَكَ، فَإِنَّكَ يَجِبُ أَنْ تُوصِيَ لِلْأَوْلَادِ الصِّغَارِ بِمِثْلِ مَا زَوَّجْتَهُ بِهِ، وَهَذَا لَيْسَ بِصَحِيحٍ، فَالْوَصِيَّةُ لِلْوَارِثِ لَا تَجُوزُ مُطْلَقًا.
فَإِنْ قُدِّرَ أَنَّ أَحَدًا كَانَ جَاهِلًا وَأَوْصَى لِأَحَدِ الْوَرَثَةِ بِشَيْءٍ، فَإِنَّهُ يَرْجِعُ إِلَى الْوَرَثَةِ بَعْدَ مَوْتِهِ، إِنْ شَاءُوا نَفَّذُوا الْوَصِيَّةَ، وَإِنْ شَاءُوا رَدُّوهَا.
ثَالِثًا: الْوَصِيَّةُ الْمُبَاحَةُ: فَهِيَ أَنْ يُوصِيَ الْإِنْسَانُ بِشَيْءٍ مِنْ مَالِهِ لَا يَتَجَاوَزُ الثُّلُثَ؛ لِأَنَّ تَجَاوُزَ الثُّلُثِ مَمْنُوعٌ، لَكِنْ مَا دُونَ الثُّلُثِ أَنْتَ حُرٌّ فِيهِ، وَلَكَ أَنْ تُوصِيَ فِيهِ لِمَنْ شِئْتَ إِلَّا الْوَرَثَةَ هَذِهِ جَائِزَةٌ.
وَلَكِنْ هَلِ الْأَفْضَلُ الثُّلُثُ أَوِ الرُّبُعُ أَوْ مَا دُونَ ذَلِكَ؟ نَقُولُ أَكْثَرُ شَيْءٍ الثُّلُثُ لَا تَزِدْ عَلَيْهِ، وَمَا دُونَ الثُّلُثِ فَهُوَ أَفْضَلُ مِنْهُ، وَلِهَذَا قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا: لَوْ أَنَّ النَّاسَ غَضُّوا مِنَ الثُّلُثِ إِلَى الرُّبُعِ، فَإِنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لِسَعْدِ بْنِ أَبِي وَقَّاصٍ: ((الثُّلُثُ وَالثُّلُثُ كَثِيرٌ)) ، وَكَانَ أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَوْصَى بِخُمْسِ مَالِهِ. وَقَالَ: أَرْضَى بِمَا رَضِيَ اللَّهُ لِنَفْسِهِ الْخُمُسَ، فَأَوْصَى بِخُمْسِ مَالِهِ. وَهَذَا أَحْسَنُ مَا يَكُونُ.
وَلَيْتَ طَلَبَةَ الْعِلْمِ وَالَّذِينَ يَكْتُبُونَ الْوَصَايَا يُنَبِّهُونَ الْمُوصِينَ عَلَى أَنَّ الْأَفْضَلَ: الْوَصِيَّةُ بِالْخُمُسِ لَا بِالثُّلُثِ، وَقَدْ شَاعَ عِنْدَ النَّاسِ الثُّلُثُ دَائِمًا، وَهَذَا الْحَدُّ الْأَعْلَى الَّذِي حَدَّهُ الرَّسُولُ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ وَمَا دُونَهُ أَفْضَلُ مِنْهُ فَالرُّبُعُ أَفْضَلُ مِنَ الثُّلُثِ، وَالْخُمُسُ أَفْضَلُ مِنَ الرُّبُعِ.
وَإِذَا كَانَ الْوَرَثَةُ مُحْتَاجِينَ فَتَرْكُ الْوَصِيَّةِ أَوْلَى؛ هُمْ أَحَقُّ مِنْ غَيْرِهِمْ قَالَ النَّبِيُّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ ((إِنَّكَ إِنْ تَذَرْ وَرَثَتَكَ أَغْنِيَاءَ خَيْرٌ مِنْ أَنْ تَذَرَهُمْ عَالَةً يَتَكَفَّفُونَ النَّاسَ)) ، فَإِذَا كَانَ الْوَرَثَةُ الَّذِينَ يَرِثُونَكَ تَعْرِفُ أَنَّ حَالَهُمْ، وَسْطٌ وَالْمَالُ شَحِيحٌ عِنْدَهُمْ، وَأَنَّهُمْ إِلَى الْفَقْرِ أَقْرَبُ، فَالْأَفْضَلُ أَلَّا تُوصِيَ.
فَفِي هَذَا الْحَدِيثِ الْإِشَارَةُ إِلَى أَنَّ الْإِنْسَانَ يُوصِي، وَلَكِنَّ الْوَصِيَّةَ تَنْقَسِمُ إِلَى أَقْسَامٍ كَمَا أَشَرْنَا، مِنْهَا وَاجِبَةٌ، وَمِنْهَا مُحَرَّمَةٌ، وَمِنْهَا مُبَاحَةٌ.
فَالْوَاجِبَةُ: أَنْ يُوصِيَ الْإِنْسَانُ بِمَا عَلَيْهِ مِنَ الْحُقُوقِ الْوَاجِبَةِ؛ لِئَلَّا يَجْحَدَهَا الْوَرَثَةُ، فَيَضِيعَ حَقُّ مَنْ هِيَ لَهُ، لَا سِيَّمَا إِذَا لَمْ يَكُنْ بِهَا بَيِّنَةٌ.
وَالثَّانِيَةُ مِنَ الْوَصِيَّةِ الْوَاجِبَةِ وَصِيَّةُ مَنْ تَرَكَ مَالًا كَثِيرًا لِأَقَارِبِهِ الَّذِينَ لَا يَرِثُونَ بِدُونِ تَقْدِيرٍ، لَكِنْ لَا تَزِيدُ عَنِ الثُّلُثِ.
وَالْوَصِيَّةُ الْمُحَرَّمَةُ: نَوْعَانِ أَيْضًا: أَنْ تَكُونَ لِأَحَدٍ مِنَ الْوَرَثَةِ وَأَنْ تَكُونَ زَائِدَةً عَلَى الثُّلُثِ.
وَالْمُبَاحَةُ: مَا سِوَى ذَلِكَ، وَلَكِنَّ الْأَفْضَلَ أَنْ تَكُونَ الْمُبَاحَةُ مِنَ الْخُمُسِ فَأَقَلَّ، وَإِنْ زَادَ الرُّبُعُ فَلَا بَأْسَ، وَإِلَى الثُّلُثِ فَلَا بَأْسَ، وَلَا يَزِيدُ عَلَى الثُّلُثِ.
وَفِي حَدِيثِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا الْعَمَلُ بِالْكِتَابَةِ؛ لِقَوْلِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ((إِلَّا وَوَصِيَّتُهُ مَكْتُوبَةٌ عِنْدَهُ)) فَدَلَّ هَذَا عَلَى جَوَازِ الْعَمَلِ، بَلْ وُجُوبِ الْعَمَلِ بِالْكِتَابَةِ
وَفِي قَوْلِهِ: ((مَكْتُوبَةٌ)) اسْمُ مَفْعُولٍ، إِشَارَةٌ إِلَى أَنَّهُ لَا فَرْقَ بَيْنَ أَنْ يَكُونَ هُوَ الْكَاتِبَ أَوْ غَيْرَهُ مِمَّنْ تَثْبُتُ الْوَصِيَّةُ بِكِتَابَتِهِ، فَلَابُدَّ أَنْ تَكُونَ الْكِتَابَةُ مَعْلُومَةً؛ إِمَّا بِخَطِّ الْمُوصِي نَفْسِهِ، أَوْ بِخَطِّ شَخْصٍ مُعْتَمَدٍ، وَأَمَّا إِذَا كَانَتْ بِخَطِّ مَجْهُولٍ؛ فَلَا عِبْرَةَ بِهَا وَلَا عَمَلَ عَلَيْهَا
وَفِي قَوْلِهِ: ((عِنْدَهُ)) إِشَارَةٌ إِلَى أَنَّهُ يَنْبَغِي أَنْ يَحْتَفِظَ الْإِنْسَانُ بِالْوَثَائِقِ وَأَلَّا يُسَلِّطَ عَلَيْهَا أَحَدًا، بَلْ تَكُونَ عِنْدَهُ فِي شَيْءٍ مَحْفُوظٍ مُحْرَزٍ كَالصُّنْدُوقِ وَغَيْرِهِ؛ لِأَنَّهُ إِذَا أَهْمَلَهَا فَرُبَّمَا تَضِيعُ مِنْهُ، أَوْ يُسَلَّطُ عَلَيْهَا أَحَدٌ يَأْخُذُهَا وَيُتْلِفُهَا أَوْ مَا أَشْبَهَ ذَلِكَ
الْمُهِمُّ فِي هَذَا الِاعْتِنَاءُ بِالْوَصِيَّةِ، وَأَنْ يَحْتَفِظَ بِهَا الْإِنْسَانُ حَتَّى لَا تَضِيعَ.
وَفِيهِ أَيْضًا سُرْعَةُ امْتِثَالِ الصَّحَابَةِ لِأَمْرِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ؛ لِذَلِكَ قَالَ ابْنُ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا بَعْدَ مَا سَمِعَ هَذَا الْحَدِيثَ مِنَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ((مَا مَرَّتْ عَلَيَّ لَيْلَةٌ مُنْذُ سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ هَذَا إِلَّا وَوَصِيَّتِي مَكْتُوبَةٌ عِنْدِي))
فَالَّذِي يَنْبَغِي لِلْإِنْسَانِ أَنْ يَهْتَمَّ بِالْأَمْرِ حَتَّى لَا يَفْجَأَهُ الْمَوْتُ، وَهُوَ قَدْ أَضَاعَ نَفْسَهُ، وَأَضَاعَ حَقَّ غَيْرِهِ.
شرح رياض الصالحين لابن عثيمين في باب ذكر الموت وقصر الأمل
Penerjemah: Abu Utsman Kharisman

Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.