Beranda » Latest » Artikel » Fiqh » Bimbingan Syaikh Muqbil Terkait Shalat Dan Khotbah ‘Id

Bimbingan Syaikh Muqbil Terkait Shalat Dan Khotbah ‘Id

0
grass-gbc9562600_640

Pertanyaan:

Bagaimana tata cara shalat Ied, khotbahnya, serta keluarnya kaum wanita untuk menghadiri shalat dan mendengarkan khotbah?

Jawaban Syaikh Muqbil bin Hadi al-Wadi’iy rahimahullah:

Alhamdulillah Rabbil ‘alamin, wa shallallahu wa sallama ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa sahbihi ajma’in. Wa asyhadu alla ilaha illallah wahdahu la syarika lah, wa asyhadu anna Muhammadan ‘abduhu wa rasuluh. Amma ba’du:

Tata Cara Salat Ied

Shalat Ied itu dikerjakan sebanyak dua rakaat seperti shalat-shalat lainnya. Waktunya dimulai setelah matahari terbit dan meninggi (setinggi tombak) hingga mendekati waktu zawal (matahari tergelincir ke barat).

Shalat ini berjumlah dua rakaat, hanya saja pada rakaat pertama bertakbir sebanyak tujuh kali sebelum membaca Al-Fatihah, dan pada rakaat kedua bertakbir sebanyak lima kali sebelum membaca Al-Fatihah. Sebagaimana hal ini diriwayatkan dari sejumlah sahabat, di antaranya dari hadis ‘Amr bin Syu’aib dari ayahnya dari kakeknya, serta dari hadits Katsir bin ‘Abdullah bin ‘Amr bin ‘Auf dari ayahnya dari kakeknya.

Disyariatkan setelah membaca Al-Fatihah untuk membaca surah “Sabbihisma Rabbikal A’la” (Al-A’la) pada rakaat pertama, dan “Hal Ataka Haditsul Ghasyiyah” (Al-Ghasyiyah) pada rakaat kedua.

Namun, jika para makmum bisa bersabar terhadap bacaan yang panjang, maka hendaknya (imam) membaca surah “Qaf” pada rakaat pertama dan surah “Iqtarabatis Sa’atu Wan Syaqqal Qamar” (Al-Qamar) pada rakaat kedua—ini jika mereka mampu bersabar.

Adapun jika dikhawatirkan membuat makmum menjauh (merasa berat) atau ada orang yang lemah untuk berdiri lama, maka hendaknya ia meringankan bacaannya semampu mungkin.

Kemudian, di antara takbir-takbir tersebut tidak ada doa khusus yang ada riwayatnya (ma’tsur). Berbeda dengan apa yang dikatakan oleh penulis kitab Matan al-Azhar, di mana ia mengatakan: “Sesungguhnya dianjurkan di antara takbir-takbir tersebut doa yang ma’tsur —yaitu di antara tujuh takbir. Apa doa yang dianggap ma’tsur menurut mereka? Yaitu: “Allahu akbar kabira, walhamdulillahi katsira, wa subhanallahibukrataw wa ashila.”

Ini adalah doa yang baik, yang boleh Anda baca di jalanan atau di tempat mana saja. Adapun di dalam shalat, maka ibadah shalat itu bersifat tauqifiyyah (harus berdasarkan dalil paten). Nabi shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam bersabda: “Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku salat.”

Dan tidak ada riwayat yang sahih dari beliau bahwa beliau mengucapkan doa tersebut (di sela-sela takbir Id). Oleh karena itu, Imam Asy-Syaukani dalam kitab As-Sailal Jarar al-Mutadaffiq ‘ala Hada’iqil Azhar berkomentar ketika Imam Al-Mahdi mengatakan “dianjurkan doa yang ma’tsur”, beliau berkata: “Anjuran (hukum sunah) adalah salah satu dari hukum taklif yang lima, dan hal itu tidak bisa ditetapkan melainkan dengan dalil”—artinya, tidak ada dalil dalam masalah ini.

 Tata Cara Khotbah Ied

Adapun khotbah Ied, maka posisinya sama seperti khotbah-khotbah lainnya. Hanya saja, sepantasnya (bagi khatib) untuk melihat kebutuhan kaum muslimin dan apa yang paling penting serta mendesak bagi mereka.

Terdapat dalam kitab (hadits) Shahih dari hadits Abu Sa’id Al-Khudri bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam setelah berkhotbah, beliau mendatangi kaum wanita lalu memberi nasihat kepada mereka dan bersabda: “Wahai sekalian wanita, bersedekahlah kalian! Karena sesungguhnya aku melihat kalian adalah penghuni neraka yang paling banyak.” Ditanyakan: “Karena sebab apa, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: *”Kalian banyak mengingkari (kebaikan suami) dan banyak melaknat. Tidaklah aku melihat orang yang kurang akal dan agamanya yang dapat meluluhkan hati seorang laki-laki yang tegas selain dari salah seorang di antara kalian. Seandainya engkau berbuat baik kepada salah seorang di antara mereka sepanjang tahun, kemudian ia melihat darimu satu keburukan saja, maka ia akan berkata: ‘Aku tidak pernah melihat kebaikan sedikit pun darimu’.”

Kemudian beliau bersabda kepada mereka: “Tidaklah ada seorang wanita di antara kalian yang ditinggal mati oleh tiga orang anaknya melainkan mereka akan menjadi hijab (penghalang) baginya dari api neraka.” Maka seorang wanita bertanya: “Bagaimana kalau dua anak, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Meskipun dua anak.” Hadits ini terdapat dalam kitab Shahih dari hadis Abu Sa’id dan hadis Ibnu ‘Umar radhiyallahu ta’ala ‘anhum.

Maka khotbah Ied itu hanya satu kali khotbah. Tidak ada riwayat yang sahih bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam berkhotbah di hadapan kaum laki-laki sebanyak dua kali khotbah. Riwayat yang menyebutkan beliau berkhotbah dua kali adalah hadis yang lemah (dhaif).

Imam Asy-Syaukani rahimahullah ta’ala mengatakan dalam kitab Naylul Awthar bahwa sepantasnya berkhotbah dua kali karena di-qiyaskan (dianalogikan) dengan salat Jumat. Namun, tidak ada qiyas jika sudah ada teks dalil (nash). Nabi shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam hanya berkhotbah satu kali. Bahkan, pada asalnya tidak ada qiyas dalam masalah ini sebagaimana yang disebutkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, pada “Bab Apa yang Ditanyakan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam lalu Beliau Tidak Menjawab dengan Pendapat Akal Maupun Qiyas”. Beliau menyebutkan ini dalam Kitabul I’tisham bil Kitabi was Sunnah.

Jadi, khotbah Ied itu hanya satu kali khotbah. Dan jika di sana ada jemaah wanita (yang posisinya jauh), maka tidak mengapa jika khatib mendatangi mereka lalu menyampaikan khotbah (nasihat) khusus yang lain untuk mereka.

Hukum Keluarnya Wanita Menuju Salat Ied

Adapun keluarnya kaum wanita (menuju lapangan salat Id), hukumnya adalah mandub (sunah muakad). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam bersabda: “Hendaknya keluar para gadis remaja, wanita-wanita yang dipingit, dan wanita yang sedang haid.” —dan beliau menyebutkan bahwa wanita yang haid memisahkan diri dari tempat salat—.

Perintah di sini pada asalnya menunjukkan kewajiban, akan tetapi maknanya dipalingkan (oleh dalil lain), sehingga hukumnya menjadi mandub bagi mereka untuk keluar. Posisi mereka hendaknya agak terpisah dari kaum laki-laki.

Sedangkan wanita yang sedang haid, mereka tetap mendengarkan khotbah dan dzikir, namun tidak berdiam di dalam mushala (lapangan) tempat kaum muslimin shalat. Beliau bersabda: “Dan hendaknya wanita haid menjauhi tempat salat dan ikut menyaksikan kebaikan serta mendengarkan zikir (khotbah)” atau yang semakna dengan lafaz tersebut.


Sumber: Kaset “Al-Fatwa Asy-Syar’iyyah ‘ala Al-As’ilah Al-‘Aqiqiyyah” Nomor Kaset: 830. Nomor Fatwa: 830

Naskah dalam Bahasa Arab

المصدر : من شريط : ” الفتوى الشرعية على الأسئلة العقيقية”

رقم الشريط : 830

رقم الفتوى : 830

السوال : كيفية صلاة العيد والخطبة وخروج النساء للحضور للصلاة وسماع الخطبة؟

الاجابة : الحمد لله رب العالمين ، وصلى الله وسلم على نبينا محمد وعلى آله وأصحبه أجمعين ، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له ، وأشهد أن محمداً عبده ورسوله أما بعد

 فصلاة العيد ركعتان كسائر الصلوات ، وقتها من بعد طلوع الشمس وإرتفاعها إلى قريب الزوال ، وهي ركعتان إلا أنه في الأولى يكبر قبل القراءة سبعاً ، وفي الثانية يكبر قبل القراءة خمساً كما جاء عن جمع من الصحابة من حديث عمرو بن شعيب عن أبيه عن جده ، ومن حديث كثير بن عبدالله بن عمرو بن عوف عن أبيه عن جده

 ويشرع أن يقرأ فيها بعد الفاتحة بـ: ” سبح أسم ربك الأعلى ” في الأولى ، وفي الثانية ” هل أتاك حديث الغاشية ” ، هذا وإذا كان المأمومون يصبرون على التطويل فليقرأ في الأولى : ” ق ” ، وفي الثانية : ” اقتربت الساعة وانشق القمر ” ، إذا كانوا سيصبرون على هذا ، أما إذا كان يخشى نفورهم أو أن يضعف أحدٌ عن القيام فليخفف ما استطاع

 ثم ليس بين التكبيرتين دعاء مأثور كما قال صاحب ( متن الأزهار ) فإنه قال : فإنه ندب بين التكبيرتين الدعاء المأثور – أي من السبع التكبيرات – ، وما هو الدعاء المأثور عندهم : الله أكبر كبيراً ، والحمد لله كثيراً ، وسبحان الله بكرة وأصيلاً ، هذا دعاء حسن تدعو به في الطريق وفي أي مكان ، أما في الصلاة فإنها توقيفية ، والنبي – صلى الله عليه وعلى آله وسلن – يقول : ” صلوا كما رأيتموني أصلي ” ، ولم يثبت عنه أنه قال ذلك ، من أجل هذا فالشوكاني في ( السيل الجرار المتدفق على حدائق الأزهار ) يقول عند أن قال الإمام المهدي : وندب الدعاء المأثور يقول : الندب هو أحد الأحكام الخمسة ولا يثبت ذلك إلا بدليل – يعني ولا دليل على هذا

 وأما الخطبة فكسائر الخطب إلا أنه ينبغي أن ينظر لحاجة المسلمين وما هم به أعنى وأهم ، فقد ثبت في الصحيح من حديث أبي سعيد الخدري أن النبي – صلى الله عليه وعلى آله وسلم – قال عند أن وعظ النساء بعد الخطبة فوعظهن وقال : ” يا معشر النساء تصدقن فإن رأيتكن أكثر أهل النار ” قيل : ومما ذاك يا رسول الله؟ ، قال : ” يكفرن العشير ، ويكثرن اللعن لو أحسنت إلى إحداهن الدهر ثم رأت منك سواءاً قالت : ما رأيت منك خيراً قط ” ثم قال لهن : ” ما منكن من امرأة تقدم ثلاثة من الولد إلا كانوا لها حجاباً من النار ” ، فقالت امرأة : واثنين يا رسول الله؟ قال : ” واثنين ” وهو في الصحيح من حديث أبي سعيد ومن حديث ابن عمر رضي الله تعالى عنهم

 فهي خطبة واحدة ولم يثبت أن النبي – صلى الله عليه وعلى آله وسلم – خطب الرجال خطبتين ، وما جاء أنه خطب خطبتين فهو حديث ضعيف ، والشوكاني رحمه الله تعالى يقول في ( نيل الأوطار ) ينبغي أن يخطب خطبتان قياساً على صلاة الجمعة ، ولا قياس مع النص فالنبي – صلى الله عليه وعلى آله وسلم – خطب خطبة واحدة ، بل لا قياس أصلاً كما ذكر هذا البخاري في ( صحيحه ) باب ما كان النبي – صلى الله عليه وعلى آله وسلم – يسأل فلم يقل برأي ولا قياس ، ذكر هذا في كتاب الإعتصام بالكتاب والسنة ، فهي خطبةٌ واحدة ، وإذا وُجد نساء فلا بأس أن يذهب ويخطبهن خطبة أخرى

 وأما خروج النساء فإنه مندوب فالرسول – صلى الله عليه وعلى آله وسلم – يقول : ” يخرج العواتق وذوات الخدور والحيض ” – وذكر أن الحيض يعتزن المصلى – ، فالأمر ههنا للوجوب إلا أنه صُرف ، فهو مندوب لهن أن يخرجن ، ويكن منفصلات قليلاً عن الرجال ، والحائض تستمع الخطبة والذكر ولا تبقى في المصلى الذي يصلي فيه المسلمون يقول : ” وليعتزلن المصلى ويسمعن الذكر ” أو بهذا المعنى

Penerjemah: Abu Utsman Kharisman