Balas Dendam Terkesan Sebagai Kemuliaan Padahal Merupakan Kehinaan

Ibnul Qoyyim rahimahullah menyatakan:
وانتقام ظَاهره عز وباطنه ذل فَمَا زَاد الله بِعَفْو إِلَّا عزا لَا انتقم أحد لنَفسِهِ إِلَّا ذل وَلَو لم يكن إِلَّا بِفَوَات عز الْعَفو وَلِهَذَا مَا انتقم رَسُول الله لنَفسِهِ قطّ
Balas dendam secara dzhahirnya (terlihat seperti) kemuliaan, padahal batinnya adalah kehinaan. Tidaklah Allah menambah pada pemberian maaf melainkan kemuliaan. Tidaklah seseorang membalas (untuk memuaskan) dirinya kecuali kehinaan (yang ia dapatkan). Meskipun (seandainya kehinaan itu hanya berupa) terlewatkan dari kemuliaan memaafkan. Karena itu, Rasulullah shollallahu alaihi wasallam tidak pernah membalas untuk kepentingan pribadi beliau sama sekali. (ar-Ruh 1/242)