15 Jumadil awal 1444
Beranda » Latest » Artikel » Nasihat » Meredam Radikalisme di Bulan Ramadhan

Meredam Radikalisme di Bulan Ramadhan

KHUTBAH JUMAT MASJID TAMAN BAHAGIA KOTA PROBOLINGGO

9 Ramadhan 1439 H/ 25 Mei 2018 M

Disampaikan oleh: Abu Utsman Kharisman


Khutbah Pertama

الْحَمْدُ للهِ عَلَى مَا لَهُ مِنَ الْأَسْمَاءِ الْحُسْنَى وَالْمَثَلِ الْأَعْلَى، وَمَا خَلَقَهُ وَحَكَمَ بِهِ فِي الْأُوْلَى وَالْأُخْرَى. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَلَهُ تُرْفَعُ الشَّكْوَى، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمَصْطَفَى، وَنَبِيُّهُ الْمُجْتَبَى . اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ الْعُلَمَاءِ الْفُضَلَاءِ النُّجَبَاءِ

Saudaraku kaum muslimin rahimakumullah…

Segala puji bagi Allah yang telah menyampaikan kita pada hari ke-9 di bulan Ramadhan tahun ini. Kita sangat berharap Allah senantiasa memberikan taufiq dan pertolongan kepada kita untuk mempersembahkan ibadah yang terbaik kepada-Nya di sisa usia kita, terlebih di saat yang mulia, di bulan Ramadhan ini.

Bulan Ramadhan adalah bulan yang dinantikan oleh setiap insan yang beriman. Mereka bergembira, bersyukur, memanfaatkan waktu sebaik-baiknya. Karena bulan Ramadhan adalah bulan yang istimewa.

Tidak kita temukan di bulan lain keutamaan yang ada di bulan Ramadhan. Bulan ini adalah bulan ketika para syaithan dibelenggu, pintu-pintu neraka ditutup, dan pintu-pintu surga dibuka. Begitu besar kemudahan bagi orang yang ingin berbuat kebaikan. Tiap malam di bulan Ramadhan juga ada orang-orang yang sebelumnya telah layak masuk neraka, namun dengan ampunan Allah, mereka terbebaskan dari adzab neraka.

Rasulullah shollallahu alaihi wasallam bersabda:

إِذَا كَانَتْ أَوَّلُ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ صُفِّدَتِ الشَّيَاطِينُ وَمَرَدَةُ الْجِنِّ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ فَلَمْ يُفْتَحْ مِنْهَا بَابٌ وَفُتِحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ فَلَمْ يُغْلَقْ مِنْهَا بَابٌ وَنَادَى مُنَادٍ يَا بَاغِيَ الْخَيْرِ أَقْبِلْ وَيَا بَاغِيَ الشَّرِّ أَقْصِرْ وَلِلَّهِ عُتَقَاءُ مِنَ النَّارِ وَذَلِكَ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ

Jika (masuk) malam pertama Ramadhan, Syaithan-syaithan dan yang paling durhaka dari Jin dibelenggu. Ditutup pintu-pintu neraka, dan tidak dibuka satupun. Dibuka pintu-pintu surga dan tidak ditutup satupun. Ada penyeru yang berseru: Wahai yang mengharapkan kebaikan, menghadaplah. Wahai yang menginginkan keburukan, tahanlah. Dan Allah memiliki orang-orang yang terbebaskan dari neraka. Dan itu terjadi pada tiap malam.

(H.R atTirmidzi, Ibnu Majah, dishahihkan oleh Ibnu Hibban dan al-Albany).

Jangan sampai kita lalai di bulan yang mulia ini, melewatkan begitu saja, yang akhirnya nanti kita menyesal. Sungguh, orang yang meninggal dunia, sangat berharap ia kembali ke dunia untuk diberi kesempatan ulang beramal sholih, beribadah kepada Allah Ta’ala.

حَتَّى إِذَا جَاءَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ارْجِعُونِ (99) لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحًا فِيمَا تَرَكْتُ

Hingga ketika telah datang kematian menghampiri salah seorang dari mereka, ia berkata: Wahai Rabbku, kembalikanlah aku (ke dunia). Agar aku kembali bisa beramal sholih (menggantikan kesempatan yang dulunya) aku tinggalkan.

(Q.S al-Mu’minun ayat 99-100)

Malaikat Jibril pernah berdoa dan diaminkan oleh Nabi shollallahu alaihi wasallam. Salah satu doa Malaikat Jibril yang diaminkan oleh Rasul tersebut adalah kecelakaan bagi seseorang yang mendapat kesempatan di bulan Ramadhan, namun ia tidak mendapat ampunan hingga berakhirnya Ramadhan.

شَقِيٌّ عَبْدٌ أَدْرَكَ رَمَضَانَ فَانْسَلَخَ مِنْهُ وَلَمْ يُغْفَرْ لَهُ

Sungguh celaka (sengsara) seorang hamba yang mendapati Ramadhan hingga berlalu, namun ia tidak diampuni.

(H.R al-Bukhari dalam Adabul Mufrad, dishahihkan Syaikh al-Albaniy)

Saudaraku kaum muslimin rahimakumullah…

Saat kita berpuasa, janganlah hanya meninggalkan hal-hal yang membatalkan puasa saja. Sesungguhnya Allah tidak butuh kita hanya meninggalkan makan, minum, dan nafsu syahwat semata. Semestinya, kita tinggalkan seluruh perbuatan yang diharamkan atau yang bisa mengurangi pahala ibadah puasa kita.

Rasulullah shollallahu alaihi wasallam bersabda:

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ وَالْجَهْلَ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

Barangsiapa yang tidak meninggalkan ucapan dusta dan perbuatannya, serta perilaku kebodohan (bertindak sewenang-wenang), maka Allah tidaklah butuh dengan sikapnya menjauhi makan dan minumnya (dalam puasa).

(H.R alBukhari)

Sahabat Nabi Jabir bin Abdillah radhiyallahu anhuma pernah berkata:

إذَا صُمْتَ فَلْيَصُمْ سَمْعُك وَبَصَرُك وَلِسَانُك عَنِ الْكَذِبِ وَالْمَأْثَمِ ، وَدَعْ أَذَى الْخَادِمِ ، وَلْيَكُنْ عَلَيْك وَقَارٌ وَسَكِينَةٌ يَوْمَ صِيَامِكَ ، وَلاَ تَجْعَلْ يَوْمَ فِطْرِكَ وَيَوْمَ صِيَامِكَ سَوَاءً

Jika engkau berpuasa, maka puasakanlah pendengaran, penglihatan, dan lidahmu dari dusta dan dosa. Janganlah menyakiti budak. Hendaknya engkau bersikap tenang dan santun pada saat berpuasa. Jangan jadikan keadaanmu sama saja antara pada saat berpuasa dengan tidak berpuasa.

(Riwayat Ibnu Abi Syaibah)

Abul ‘Aaliyah –seorang Ulama Tabi’i- rahimahullah pernah berkata:

الصَّائِمُ فِي عِبَادَةٍ مَا لَمْ يَغْتَبْ

Seorang yang berpuasa, senantiasa dalam kondisi ibadah, selama ia tidak melakukan ghibah (membicarakan keburukan orang lain, pent).

(Riwayat Ibnu Abi Syaibah)

Semoga Allah Azza Wa Jalla senantiasa memberikan taufiq, pertolongan, dan rahmat-Nya kepada kita semua…

أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِجَمِيْعِ اْلمُسْلِمِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ


khutbah jumat lainnya:

Kewajiban Menuntut Ilmu Agama

artikel terkait:

Kecaman Terhadap Aksi Bom Bunuh Diri dan Berbagai Tindakan Teror yang Meresahkan

Pelaku Teror Adalah Simpatisan ISIS, Bukan Wahabi atau Salafi

Berpuasa dari Ucapan dan Perbuatan yang Diharamkan


Khutbah Kedua

الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ حَمْدًا كَثِيْرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيْهِ كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَاهُ
وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ
قَاَلَ اللهُ تَعَالَى: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَآَمِنُوا بِرَسُولِهِ يُؤْتِكُمْ كِفْلَيْنِ مِنْ رَحْمَتِهِ وَيَجْعَلْ لَكُمْ نُورًا تَمْشُونَ بِهِ وَيَغْفِرْ لَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Saudaraku kaum muslimin, rahimakumullah…

Beberapa waktu yang lalu kita dikejutkan oleh peristiwa-peristiwa terorisme di Indonesia. Aksi pembunuhan aparat kepolisian di Mako Brimob, maupun peledakan bom bunuh diri di beberapa tempat terjadi menjelang bulan suci Ramadhan.

Sesungguhnya aksi-aksi terorisme tersebut benar-benar bertentangan dengan ajaran Islam. Bahkan memberikan image yang buruk terhadap keindahan Islam. Tidak sedikit yang menjadi korban dalam aksi-aksi tersebut adalah aparat keamanan yang muslim, yang sangat mulia kehormatan dan darahnya.

Janganlah seseorang membunuh jiwa yang terlindungi dalam syariat Islam. Jiwa yang terlindungi bisa berupa seorang muslim, atau orang kafir yang terjaga darahnya karena ia tidak memusuhi Islam, seperti kafir Dzimmi atau Muahad.

Sungguh besar dosanya orang yang membunuh seorang muslim dengan sengaja.

وَمَنْ يَقْتُلْ مُؤْمِنًا مُتَعَمِّدًا فَجَزَاؤُهُ جَهَنَّمُ خَالِدًا فِيهَا وَغَضِبَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَلَعَنَهُ وَأَعَدَّ لَهُ عَذَابًا عَظِيمًا

Dan barangsiapa yang membunuh seorang beriman secara sengaja, maka balasannya adalah Jahannam, ia kekal di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan Allah melaknatnya, serta menyediakan untuknya adzab yang pedih.

(Q.S anNisaa’ ayat 93)

Kemuliaan (darah) seorang muslim lebih besar di sisi Allah dibandingkan kemuliaan Ka’bah. Sahabat Nabi Ibnu Umar radhiyallahu anhu pernah memandang ke arah Ka’bah dan berkata:

مَا أَعْظَمَكِ وَأَعْظَمَ حُرْمَتَكِ وَالْمُؤْمِنُ أَعْظَمُ حُرْمَةً عِنْدَ اللَّهِ مِنْكِ

Sungguh demikian agungnya dirimu, dan demikian agungnya kemuliaanmu. Namun seorang beriman lebih besar kemuliaannya di sisi Allah dibandingkan dirimu.

(Riwayat atTirmidzi dan dinyatakan hasan shahih oleh Syaikh al-Albaniy)

Dalam hadits yang lain, Rasulullah shollallaahu alaihi wasallam bersabda:

لَزَوَالُ الدُّنْيَا أَهْوَنُ عَلَى اللَّهِ مِنْ قَتْلِ رَجُلٍ مُسْلِمٍ

Sungguh lenyapnya dunia masih lebih ringan di sisi Allah dibandingkan terbunuhnya satu orang muslim.

(H.R atTirmidzi, anNasaai, Ibnu Majah, dishahihkan Syaikh al-Albaniy)

Pembunuhan terhadap seorang kafir yang terjaga darahnya, bisa menyebabkan seseorang tidak mencium aroma wangi Surga:

مَنْ قَتَلَ مُعَاهَدًا لَمْ يَرِحْ رَائِحَةَ الْجَنَّةِ وَإِنَّ رِيحَهَا تُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ أَرْبَعِينَ عَامًا

Barangsiapa yang membunuh kafir Mua’ahad, tidak akan mencium aroma Surga. Padahal sesungguhnya aroma Surga akan tercium dari jarak 40 tahun.

(H.R al-Bukhari dari Abdullah bin ‘Amr)

Kita semestinya mendukung upaya pemerintah untuk memberantas berbagai bentuk terorisme. Semoga Allah Ta’ala memberikan taufiq dan pertolongan kepada pemerintah muslim di Indonesia untuk melaksanakan hal tersebut secara baik dan benar dengan mendapatkan keridhaan dari Allah Azza Wa Jalla.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَات إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَات

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا
اللهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا… اللهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا… اللهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا
رَبَّنَا آَتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلَّمَ
وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ اْلعَالَمِيْنَ
عبادَ الله، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنْ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ * وَأَوْفُوا بِعَهْدِ اللَّهِ إِذَا عَاهَدْتُمْ وَلا تَنقُضُوا الأَيْمَانَ بَعْدَ تَوْكِيدِهَا وَقَدْ جَعَلْتُمُ اللَّهَ عَلَيْكُمْ كَفِيلاً إِنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا تَفْعَلُونَ، فَاذْكُرُوا اللهَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يزِدْكُمْ، ولَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ، والله يعلمُ مَا تَصْنَعُوْنَ