Beranda » Latest » Artikel » Nasihat » Naskah Khotbah Jumat: Bijak Menggunakan Media Sosial

Naskah Khotbah Jumat: Bijak Menggunakan Media Sosial

0
vector-smartphone-with-blank-white-screen_107791-1328

Khotbah Pertama

إِنَّ الْحَمْد لِلّٰهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلا مُضِلَّ لَهُ، وَمْنْ يَضْلُلُ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدُهُ لا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدَاً  عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيراً وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيباً

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيداً * يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزاً عَظِيماً

أَمَّا بَعْدُ: فَإِنَّ أَصْدَقَ الحَدِيثِ كِتَابُ اللهِ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرَّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ، وَكُلَّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ

Ayyuhal muslimun ibadallah…

Sesungguhnya di antara tantangan terbesar yang kita hadapi di masa ini adalah pesatnya perkembangan media sosial dengan berbagai bentuknya. Di saat iman semakin melemah, justru ujian berupa keberadaan media sosial semakin berkembang pesat.

Ayyuhal muslimun ibadallah…

Kita tentu tidak menutup mata akan kebaikan dan manfaat yang kita dapatkan melalui media sosial. Ibarat pisau bermata dua: media sosial akan bermanfaat di tangan yang bijak, tangan yang terkendali dengan iman dan ilmu.

Ia akan menjalin silaturahim, hubungan persaudaraan dengan kerabatnya yang jauh, yang mungkin akan sulit berjumpa karena berbagai keterbatasan di dunia nyata. Ia akan menyebarkan ilmu yang langsung dapat dijangkau luas, tak dibatasi oleh tempat dan waktu. Dalam berbagai peristiwa yang membutuhkan kecepatan tanggapan, di tangannya media sosial menjadi penggerak andal berbagai bantuan kepedulian dan penambal keretakan hubungan.

Namun ibadallah, media sosial juga akan menggoreskan luka bahkan membunuh di tangan yang lalai. Dia akan merusak akidah dengan melancarkan berbagai pemikiran kufur, pelecehan terhadap agama, penistaan terhadap Allah dan Rasul-Nya ﷺ, serta penyebaran bid‘ah, khurafat, dan kebohongan atas nama agama.

Di sana, seseorang tidak lagi memperhatikan sumber dan kriteria penyampai agama. Asal dibalut dengan visual yang menarik dan narasi yang menggugah, ia akan segera mengonsumsinya hingga akhirnya terjerumus.

Padahal ulama kita, Muhammad bin Sirin telah berpesan,

إِنَّ هَذَا الْعِلْمَ دِيْنٌ، فَانْظُرُوا عَمَّنْ تَأْخُذُوْنَ دِيْنَكُمْ

Sesungguhnya ilmu ini adalah agama, yang akan menentukan keselamatan atau kehancuran kita, maka perhatikan, selektiflah, dari siapa kalian mengambil agama kalian. (Diriwayatkan oleh Al Imam Muslim dalam Mukadimah kitab Shahih beliau, -ed)

Ayyuhal ikhwah a’azzakumullah…

Media sosial juga berpotensi besar menjadi penyulut fitnah dan perpecahan. Kita selalu diingatkan dengan pesan Allah tabaraka wa ta’ala,

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا

Berpegang teguhlah kalian semua dengan tali Allah, dengan Al Quran, dan janganlah berpecah belah (Q.S. Ali Imran: 103, ed-)

Namun media sosial tidak hanya memecah belah, tapi juga membuat manusia berpaling dari tali Allah itu sehingga mereka mudah dibuat senang bersama-sama di atas kesesatan.

Dalam setiap komunitas salafiyyin, ada pihak-pihak yang menjadi kepanjangan tangan setan untuk menimbulkan kegaduhan di antara mereka.

هَمَجٌ رَعَاعٌ، أَتْبَاعُ كُلِّ نَاعِقٍ، يَمِيْلُوْنَ مَعَ كُلِّ رِيْحٍ

Orang-orang dungu, yang dangkal keilmuannya karena enggan belajar, enggan hadir di majelis ilmu, mereka digambarkan sebagai para penggembala tanpa arah, hanya ikut-ikutan kata orang, selalu latah turut menebar peristiwa viral di media sosial kepada teman-teman tongkrongannya. (Petikan ucapan yang dinisbatkan kepada Ali bin Abi Tholib, diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dalam Hilyatul Awliya’ dan Al Khothib Al Baghdadi dalam Tarikh Baghdad, ed-)

Orang-orang yang lebih memilih mendasari setiap tindak-tanduknya dengan yang didapatinya dari media sosial, ketimbang bertanya kepada ustadz atau menggalinya dari majelis taklim. Saat berjumpa dengan pihak selain teman-teman dekatnya, tampak seakan normal seperti biasanya, namun ia tetap membawa kedongkolan dalam dadanya.

Lantas apa bedanya pihak-pihak seperti itu dengan kaum munafikin dari kalangan Ahlul kitab yang Allah sebutkan dalam firman-Nya,

وَإِذَا لَقُوكُمْ قَالُوا آمَنَّا وَإِذَا خَلَوْا عَضُّوا عَلَيْكُمُ الْأَنَامِلَ مِنَ الْغَيْظِ

Ketika mereka berjumpa dengan kalian wahai mukminin, mereka akan tegas menyatakan demi tetap meraih simpati kalian, ‘aamanna’, kami sama-sama beriman seperti kalian. Namun di belakang kalian, saat berkumpul dengan sesama mereka, mereka menggigit ujung-ujung jarinya karena begitu benci terhadap kalian. (Q.S. Ali Imran: 119, ed-)

Ayyuhal muslimun ibadallah…

Perkembangan pesat media sosial juga menjadi tantangan tersendiri bagi orang tua untuk menjaga putra-putrinya dari berbagai dampak buruk yang dapat menjerumuskan.

Jangan sampai fitrah anak-anak kecil kita dirusak oleh tontonan tidak bermutu bahkan membawa pesan-pesan perusakan moral dan akidah. Akhirnya keluguan mereka berubah menjadi sikap aneh yang mencemaskan.

Bagi para orang tua yang Allah amanahkan menjaga dan merawat anak-anak perempuan, ittaqullah fi anfusihinna. Sungguh, Dahsyatnya arus keburukan yang dibawa oleh media sosial dapat mengancam keselamatan mereka. Jangan malah mempersilakan mereka bebas berselancar di sana atau bahkan memfasilitasinya.

Bisa saja putri anda begitu menjaga dirinya di dunia nyata. Ia kenakan hijab syar’i layaknya seorang muslimah sejati. Ia tak pernah bersinggungan dengan laki-laki yang bukan mahramnya walau hanya menatap muka atau berbalas kata. Namun di media sosial, ia bisa menjadi begitu liar, wal ‘iyadzu billah.

Tanpa rasa malu ia buka hijab yang selama ini menutupi wajahnya. Bahkan tanpa canggung ia berbicara dan berinteraksi dengan laki-laki non mahram kenalannya di media sosial. Padahal ia telah hafal betul bagaimana perintah Allah kepada wanita beriman sepertinya,

وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ

Dan hendaklah para wanita beriman itu menutupkan khimar mereka, hijab yang menutupi wajah mereka, hingga ke bagian atas tubuh mereka (Q.S. An Nuur: 31, ed-)

Semoga Allah menjaga kita dan anak-anak kita dari berbagai fitnah, serta membimbing kita semua agar mampu menjaga amanah yang Allah berikan kepada kita.

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ اقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ مِن كُلِّ ذَنبٍ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

Khotbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُوْلَهُ بِالْهُدَى وَدِيْنِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهِ، وَكَفَى بِاللّٰهِ شَهِيْدًا. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ إِقْرَارًا بِهِ وَتَوْحِيْدًا، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا مَزِيْدًا

قَالَ اللهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيمِ: يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِيرٌۢ بِمَا تَعْمَلُونَ

Ibadallah…

Bagi seorang tholib, interaksi di media sosial saat masa liburan tentu menyisakan kegundahan tersendiri. Ada komunikasi yang belum tuntas, ada pergunjingan yang terputus saat seru-serunya, bahkan ada nafsu syahwat yang belum terpuaskan. Sehingga meski raganya telah hadir di ma’had, jiwanya masih terpancung pada bilah-bilah layar media sosialnya di rumah.

Ayyuhath tholib al mughoffal, wahai santri yang tengah dirundung hal-hal melalaikan yang membuat engkau resah, jangan pernah menyalahkan siapapun atas berbagai kegagalan dalam belajar yang engkau rasakan. Saat engkau sulit menghafal, susah memahami, bahkan tidak mampu mengikuti dars demi dars yang diselenggarakan, sungguh qolbumu telah dirasuki berbagai hal melalaikan. Padahal Allah telah berpesan kepada kita semua,

وَلَا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَنْ ذِكْرِنَا

Dan janganlah engkau menuruti pihak-pihak yang telah Kami lalaikan qolbunya dari mengingat Kami, mengingat Allah tabaraka wata’ala (Q.S. Al Kahf: 28, ed-)

Ayyuhath tholabah…

Kalian tengah menabung pahala berlimpah hasil perjuangan tholabul ilmi yang kalian lakukan. Berharaplah kepada Allah agar memperberat timbangan kebaikan kalian dari berbagai ibadah yang kalian lakukan di ma’had. Saat kalian berjibaku dengan kantuk di penghujung malam untuk menegakkan qiyamul lail, mengisi sunyi dengan lantunan suara menghafal Kalam Allah.

Jangan sia-siakan itu semua saat kesempatan berlibur di rumah, saat sendiri dengan gawainya, kemudian berani membuka yang dilarang, melihat yang diharamkan, mengikuti akun-akun yang merusak iman dan akhlak, bahkan berinteraksi dengan lawan jenis tanpa batas. Sungguh, media sosial telah membuka ruang khalwat baru. Saat pertemuan itu tak lagi di balik pintu kamar yang tertutup semata, namun di balik layar ponsel yang menyala.

Nabi kita alaihis sholatu wassalam telah mengingatkan,

لَأَعْلَمَنَّ أَقْوَامًا مِنْ أُمَّتِي يَأْتُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِحَسَنَاتٍ أَمْثَالِ جِبَالِ تِهَامَةَ بِيضًا فَيَجْعَلُهَا اللهُ عَزَّ وَجَلَّ هَبَاءً مَنْثُورًا, قَالو: يَارَسُولَ اللهِ! صِفْهُمْ لَنَا، جَلِّهِمْ لَنَا؛ أَنْ لَا نَكُونَ مِنْهُمْ وَنَحْنُ لَا نَعْلَمُ. قَالَ: أَمَا إِنَّهُمْ إِخْوَانُكُمْ، وَمِنْ جِلْدَتِكُمْ، وَيَأْخُذُونَ مِنْ اللَّيْلِ كَمَا تَأْخُذُونَ، وَلَكِنَّهُمْ أَقْوَامٌ إِذَا خَلَوْا ‌بِمَحَارِمِ ‌اللهِ ‌انْتَهَكُوهَا

Sungguh, aku benar-benar mengetahui ada sekelompok orang dari umatku yang datang pada hari kiamat dengan pahala sebesar gunung-gunung Tihamah, putih bersih karena berisi berbagai kebaikan, namun Allah menjadikannya hancur bagaikan debu yang beterbangan.

Para sahabat terkejut dan bertanya: “Jelaskan sifat mereka untuk kami, wahai Rasulullah, agar kami tidak termasuk di dalamnya tanpa kami sadari.”

Kemudian Nabi ﷺ menjelaskan: “Mereka adalah saudara-saudara kalian (sesama muslim), dari golongan kalian, mereka juga beribadah di malam hari sebagaimana kalian beribadah. Namun, jika mereka sendirian dan berhadapan dengan perkara-perkara yang Allah haramkan, mereka melanggarnya.” (H.R. Ibnu Majah, dihasankan oleh Syaikh Muqbil bin Hadi Al Wadi’i rahimahullah dalam Ash Shahihul Musnad, ed-)

Semoga Allah melindungi kita dari berbagai hal yang dapat menghapus kebaikan yang kita lakukan. Semoga Allah memberikan taufik kepada kita untuk dapat terus menjaga keistiqomahan di tengah badai fitnah yang terus berdatangan, hingga kita berjumpa dengan Allah tabaraka wata’ala.

اَللّٰهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ تَوْبَةً نَصُوْحًا، اَللّٰهُمَّ ارْزُقْنَا خَشْيَتَكَ فِي الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ

اَللّٰهُمَّ احْفَظْ عَلَيْنَا دِيْنَنَا الَّذِيْ هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا، وَاحْفَظْ أَبْنَاءَنَا مِنَ الْفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ

اَللّٰهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا، وَوَفِّقْهُمْ لِمَا تُحِبُّ وَتَرْضَى، وَخُذْ بِنَوَاصِيْهِمْ لِلْبِرِّ وَالتَّقْوَى

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، بِرَحْمَتِكَ يَا وَاهِبَ الْعَطِيَّاتِ

وَصَلِّ اللّٰهُمَّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحَابَتِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ


Disampaikan oleh Abu Dzayyal Muhammad Wafi di Masjid Al Fauzan Kompleks Ma’had Al I’tishom bis Sunnah Kraksaan, pada tanggal 13 Rajab 1447 H/ 2 Januari 2026 M (dengan beberapa perubahan dan penyesuaian pada naskah)