Beranda » Latest » Artikel » Nasihat » Khotbah Jumat: Futur, Penyebab dan Solusi Mengatasinya

Khotbah Jumat: Futur, Penyebab dan Solusi Mengatasinya

0
clock-g7d8dc070e_640

Khotbah Pertama

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَجَعَلَ الظُّلُمَاتِ وَالنُّورَ ثُمَّ الَّذِينَ كَفَرُوا بِرَبِّهِمْ يَعْدِلُونَ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجَمَعِيْنَ. قَالَ اللَّهُ تَعَالَى : يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

Saudaraku, kaum muslimin, rahimakumullah…

Tema khotbah kita kali ini adalah FUTUR: PENYEBAB DAN SOLUSI MENGATASINYA. Futur adalah berkurangnya semangat dalam melakukan ibadah atau menjalankan ketaatan kepada Allah, termasuk berkurangnya semangat menuntut ilmu.

Futur itu ada yang bersifat ringan. Tidak berat. Hal itu bisa menimpa siapa saja. Muncul sedikit kejenuhan dan kebosanan. Suatu hal yang manusiawi, bisa menimpa siapa saja. Nabi kita Muhammad shollallahu alaihi wasallam bersabda:

إِنَّ لِكُلِّ شَيْءٍ شِرَّةً وَلِكُلِّ شِرَّةٍ فَتْرَةً، فَإِنْ كَانَ صَاحِبُهَا سَدَّدَ وَقَارَبَ فَارْجُوهُ

“Sesungguhnya pada setiap amal itu ada masa semangatnya, dan pada setiap masa semangat itu ada masa jenuhnya. Maka barang siapa yang pada masa jenuhnya itu ia tetap menempuh jalan yang lurus (saddada) dan bersikap pertengahan (qaaraba), maka harapkanlah (kebaikan) baginya. (H.R atTirmidzi)

Dalam kondisi futur, jangan sampai seorang meninggalkan kewajiban-kewajiban dan tetap menjauhi hal yang diharamkan. Bahkan, semestinya ia juga melakukan ibadah-ibadah sunnah meski jumlahnya berkurang.

Namun, ada kalanya futur itu bersifat berat. Sampai seseorang demikian terpuruk. Menjauh dari majelis-majelis kebaikan. Mungkin saja tidak lagi shalat berjamaah di masjid. Atau bahkan lebih parah, wal iyaadzu billaah…

Apa saja penyebab futur yang berat itu?

Di antara penyebab futur adalah karena seseorang tidak menjaga penglihatan dan pendengarannya. Pandangannya diumbar sehingga melihat hal-hal yang haram, bahkan menjadi kecanduan dengannya. Atau melihat tontonan-tontonan ceramah orang fasik atau menyimpang. Menggerus keyakinannya pada ajaran Islam yang benar dan manhajus Salaf. Atau dia umbar pendengarannya untuk mendengarkan musik dan nyanyian atau pertunjukan dari orang-orang fasik maupun menyimpang. Sahabat Nabi Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu anhu menyatakan bahwa nyanyian itu bisa menumbuhkan kemunafikan dalam hati.

Penyebab futur lainnya di antaranya adalah tersilaukan dengan orang-orang yang sukses secara duniawi, bermewah-mewahan. Sehingga takjub dengan tokoh-tokoh dunia yang bergelimang harta dan popularitas. Mengidolakan mereka dan ingin seperti mereka. Padahal Allah Ta’ala berfirman:

وَلَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَى مَا مَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِنْهُمْ زَهْرَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا لِنَفْتِنَهُمْ فِيهِ وَرِزْقُ رَبِّكَ خَيْرٌ وَأَبْقَى

Janganlah sekali-kali engkau tujukan pandangan matamu pada kenikmatan yang telah Kami anugerahkan kepada beberapa golongan dari mereka (sebagai) bunga kehidupan dunia agar Kami uji mereka dengan (kesenangan) itu. Karunia Tuhanmu lebih baik dan lebih kekal (Q.S Thaha ayat 131)

Di antara penyebab futur yang lain adalah jika seseorang bersikap ghuluw dalam ibadah. Melampaui batas, hingga ia capek sendiri. Mengejar yang sangat ideal, tapi tidak secara bertahap. Ingin ditempuh sesaat. Rasulullah shollallahu alaihi wasallam bersabda:

إِنَّ الدِّينَ يُسْرٌ، وَلَنْ يُشَادَّ الدِّينَ أَحَدٌ إِلَّا غَلَبَهُ

Sesungguhnya agama ini adalah mudah. Tidaklah seseorang memberat-beratkan diri kecuali ia akan terkalahkan…(H.R al-Bukhari)

Penyebab futur lainnya adalah kekurangyakinan terhadap ajaran agama Islam yang benar maupun Manhajus Salaf. Terkena berbagai syubhat yang tidak dikonsultasikan kepada orang yang berilmu secara tuntas. Menyebabkan ia lemah keyakinan bahwa sebenarnya Islam itu adalah ajaran yang membuatnya menjadi mulia. Nabi shollallahu alaihi wasallam bersabda:

الإِسْلاَمُ يَعْلُو وَلاَ يُعْلَى

Islam itu tinggi dan tidak ada yang lebih tinggi darinya (H.R ad-Daraquthniy dan lainnya, dihasankan Syaikh al-Albaniy)

Tidak bisa Islam dipahami dan diterapkan secara benar melainkan dengan merujuk pada pemahaman Nabi dan para Sahabat beliau yang diikuti para Ulama Ahlussunnah setelahnya, yang itu merupakan Manhajus Salaf.

Begitu banyak orang-orang yang dahulu berpindah-pindah atau berada di suatu kelompok yang menyimpang, hingga kemudian berlabuh ke Manhajus Salaf, menjadi seorang Salafy. Dia sudah kenal berbagai kesesatan dari kelompok-kelompok lain. Maka saat ia menjadi Salafiy ia begitu yakin ini adalah harga mati. Manhajus Salaf adalah satu-satunya jalan yang benar. Orang yang demikian tidak goyah dan goncang dengan pertolongan Allah hingga maut menjemputnya. Sebagaimana para Sahabat Nabi yang dahulu mengenal Jahiliyyah dan begitu rusaknya keadaan Jahiliyyah, hingga mereka masuk Islam dengan kokoh, sangat tidak ingin kembali dalam keadaan Jahiliyyah.

Kemudian, faktor terbesar futur adalah dosa-dosa seseorang. Dosa menimbulkan bintik hitam dalam hati. Jika semakin dilakukan, akan bertambah bintik hitam itu. Hingga hati menjadi hitam. Semakin jauh dari Allah. Dosa bisa berupa kemaksiatan, kebid’ahan, atau kekufuran maupun kesyirikan.

Semoga Allah Ta’ala membersihkan hati kita untuk mudah menerima kebenaran, mudah khusyu’ dalam ibadah-ibadah, melahirkan perasaan takut yang sebenarnya kepada Allah, dan semoga Allah mengampuni kita dan segenap kaum muslimin.

Khotbah Kedua

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ . وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجَمَعِيْنَ. قَالَ اللَّهُ تَعَالَى : يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَابْتَغُوا إِلَيْهِ الْوَسِيلَةَ وَجَاهِدُوا فِي سَبِيلِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Saudaraku, kaum muslimin, rahimakumullah…

Apabila di khotbah pertama kita telah menyebutkan beberapa penyebab futur, maka di khotbah kedua ini kita akan sebutkan solusi bagi yang mengalami futur (berkurangnya semangat dalam menuntut ilmu dan ibadah). Beberapa solusinya, di antaranya adalah:

Pertama: Banyak mengingat kematian, mengkhawatirkan akhir kehidupan yang buruk (su-ul khotimah).

Allah Ta’ala berfirman:

كَلَّا إِذَا بَلَغَتِ التَّرَاقِيَ (26) وَقِيلَ مَنْ رَاقٍ (27) وَظَنَّ أَنَّهُ الْفِرَاقُ (28) وَالْتَفَّتِ السَّاقُ بِالسَّاقِ (29) إِلَى رَبِّكَ يَوْمَئِذٍ الْمَسَاقُ (30)

Sekali-kali tidak! Apabila (nyawa) telah sampai di kerongkongan, dan dikatakan (kepadanya), “Siapa yang (dapat) menyembuhkan?” Dia pun yakin bahwa itulah waktu perpisahan (dengan dunia), dan bertautlah betis (kiri) dengan betis (kanan). Kepada Tuhanmulah pada hari itu (manusia) digiring. (Q.S al-Qiyaamah ayat 26-30)

Pengalaman di sekitar kita menunjukkan bahwa kematian tidak selalu untuk orang yang sudah tua. Anak-anak kecil, remaja, atau siapa saja ketika telah tiba ajalnya maka ia akan berjumpa dengan Allah dan akan mempertanggungjawabkan perbuatannya di dunia.

Rasulullah shollallahu alaihi wasallam bersabda:

أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ

Perbanyaklah mengingat kematian yang merupakan penghancur kelezatan (H.R atTirmidzi)

Kedua: Banyak membaca alQuran dengan tadabbur. Jangan hanya membaca alQuran untuk dihafal atau dilantunkan biasa. Sediakan waktu untuk tadabbur Quran dengan merujuk pada tafsir Ulama Ahlussunnah. Mendengarkan kajian tadabbur atau tafsir alQuran dari para asatidzah Ahlussunnah.

Ketiga: Meyakini dengan kuat kemuliaan ajaran Islam dan Manhajus Salaf serta tidak mau diganti dengan lainnya. Semakin kuat keyakinan itu, dengan kita semakin berilmu tentang ajaran yang benar. Semakin bertambah ilmu kita dan semakin kita paham begitu menyimpangnya, begitu buruknya kelompok-kelompok sesat yang ada. Maka begitu bernilainya Manhajus Salaf dalam pandangan kita.

Keempat: Banyak berdoa kepada Allah agar dikokohkan di atas ketaatan kepada-Nya. Karena Dialah Allah penguasa segalanya. Bahkan termasuk penguasa hati kita.

Di antara doa yang diajarkan Nabi shollallahu alaihi wasallam adalah:

يَا مُقَلِّبَ القُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ

Wahai (Allah) Yang membolak-balikkan hati, kokohkan hatiku di atas agamamu (H.R atTirmidzi)

Ataupun doa-doa lain, sesuai dengan hal yang bisa kita pahami. Banyak berdoa kepada Allah agar Allah mengembalikan semangat kita. Karena semangat itu, anugerah Allah. Tekad kita, kekokohan kita itu karunia dari Allah. Maka mintalah kepada Allah.

Kelima: Banyak beristighfar, banyak bertobat kepada Allah, agar dosa-dosa kita dihapus. Agar hati kita kembali menjadi jernih. Banyak beristighfar, banyak bertobat. Juga banyak mengucapkan: LAA HAWLA WA LAA QUWWATA ILLAA BILLAAH. Tiada daya dan kekuatan kecuali atas pertolongan Allah.

Keenam: Membaca kisah para Nabi, para Sahabat, maupun semangat para Ulama terdahulu.

Allah Ta’ala berfirman:

لَقَدْ كَانَ فِي قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لِأُولِي الْأَلْبَابِ مَا كَانَ حَدِيثًا يُفْتَرَى وَلَكِنْ تَصْدِيقَ الَّذِي بَيْنَ يَدَيْهِ وَتَفْصِيلَ كُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ

Sungguh, pada kisah mereka benar-benar terdapat pelajaran bagi orang-orang yang berakal sehat. (Al-Qur’an) bukanlah cerita yang dibuat-buat, melainkan merupakan pembenar (kitab-kitab) yang sebelumnya, memerinci segala sesuatu, sebagai petunjuk, dan rahmat bagi kaum yang beriman. (Q.S Yusuf ayat 111)

Ketujuh: Berteman dekat dengan orang-orang yang sholih, yang bersemangat dalam menuntut ilmu dan ibadah.

Kedelapan: Rajin mengikuti kajian Islam yang benar berdasarkan manhajus Salaf.

Kesembilan: Bervariasi dalam melakukan melakukan aktivitas ketaatan kepada Allah. Berganti dari satu ketaatan kepada ketaatan yang lain.

Kesepuluh: Banyak berdzikir mengingat Allah dengan dzikir-dzikir yang diajarkan Nabi atau dzikir mutlak. Dalam berbagai keadaan kita, ketika kita berdiri, berjalan, duduk, dan berbaring. Banyak berdzikir. Karena kelalaian akan memudahkan bisikan setan di hati kita.

Kesebelas: Lakukan aktivitas mubah yang kita senangi, yang bermanfaat, diniatkan sebagai ibadah kepada Allah.

Keduabelas: Tutup celah agar jangan melakukan penyebab-penyebab futur sebagaimana yang telah dibahas pada khotbah yang pertama. Tundukkan pandangan, jaga pendengaran. Jangan silau dengan orang-orang yang bergelimang harta. Orang-orang kafir dan tokoh yang diidolakan. Jangan silau dengan mereka. Kokohkan keyakinan kita pada ajaran Islam yang benar. Semangat belajar dan terus belajar. Untuk membuat kita semakin yakin bahwa Manhajus Salaf, Manhajnya Nabi dan para Sahabat adalah manhaj yang benar. Jauhi berbagai dosa. Namun jika kita tergelincir ke dalam dosa, segera bertobat, beristighfar, dan minta maaf pada pihak yang terdzhalimi. Iringi keburukan dengan kebaikan.

Semoga Allah Ta’ala senantiasa menolong kita agar istiqomah di atas kebenaran dan jalan Allah hingga kita berjumpa dengan kematian.

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ. رَبَّنَا إِنَّنَا سَمِعْنَا مُنَادِيًا يُنَادِي لِلْإِيمَانِ أَنْ آمِنُوا بِرَبِّكُمْ فَآمَنَّا رَبَّنَا فَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَكَفِّرْ عَنَّا سَيِّئَاتِنَا وَتَوَفَّنَا مَعَ الْأَبْرَارِ. اللَّهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُورِنَا، اللَّهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُورِنَا، اللَّهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُورِنَا. اللَّهُمَّ أَعِنَّا عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ . رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلَّمَ


Disampaikan di masjid al-Fauzan ma’had al I’tishom bissunnah Sumberlele Kraksaan Kab Probolinggo Jawa Timur pada 18 Sya’ban 1447 H/ 6 Februari 2026 M oleh Abu Utsman Kharisman