Beranda » Latest » Artikel » Ibadah » Karunia Allah dalam Pensyariatan Puasa
gambar kurma

Syaikh as-Sa’diy rahimahullah menyatakan dalam tafsirnya:

​”Allah Ta’ala mengabarkan tentang karunia yang Dia berikan kepada hamba-hamba-Nya, yaitu dengan diwajibkannya puasa atas mereka sebagaimana Dia telah mewajibkannya kepada umat-umat terdahulu. Hal ini dikarenakan puasa termasuk syariat dan perintah yang mengandung kemaslahatan bagi makhluk di setiap zaman.

​Di dalam (penyebutan kewajiban bagi umat terdahulu) ini terdapat dorongan semangat bagi umat ini, bahwasanya hendaknya kalian berlomba-lomba dengan umat lain dalam menyempurnakan amal serta bersegera menuju perangai yang saleh. Selain itu, (hal ini menunjukkan) bahwa puasa bukanlah termasuk perkara berat yang dikhususkan hanya bagi kalian.

​Kemudian Allah Ta’ala menyebutkan hikmah-Nya dalam pensyariatan puasa melalui firman-Nya: “Agar kalian bertakwa.”

​Sesungguhnya puasa merupakan salah satu sebab terbesar menuju ketakwaan, karena di dalamnya terdapat bentuk ketaatan terhadap perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Di antara poin-poin ketakwaan yang terkandung dalam puasa adalah:

  • ​Meninggalkan Keinginan Nafsu: Orang yang berpuasa meninggalkan apa yang diharamkan Allah baginya (selama puasa) seperti makan, minum, jima’, dan semisalnya yang sangat diinginkan oleh jiwanya. Ia melakukannya demi mendekatkan diri kepada Allah dan mengharap pahala dengan meninggalkan hal-hal tersebut. Inilah bagian dari takwa.

  • ​Melatih Muraqabah (Merasa Diawasi): Orang yang berpuasa melatih dirinya untuk selalu merasa diawasi oleh Allah Ta’ala. Ia meninggalkan apa yang disukai nafsunya padahal ia mampu melakukannya, semata-mata karena ia tahu bahwa Allah senantiasa melihatnya.

  • ​Mempersempit Ruang Gerak Setan: Puasa mempersempit aliran setan, karena setan mengalir dalam tubuh anak Adam melalui aliran darah. Dengan berpuasa, pengaruh setan melemah sehingga kemaksiatan pun berkurang.

  • ​Meningkatkan Ketaatan: Orang yang berpuasa pada umumnya menjadi lebih banyak melakukan ketaatan, dan ketaatan itu sendiri merupakan bagian dari karakteristik takwa.

  • ​Menumbuhkan Empati Sosial: Ketika orang kaya merasakan perihnya rasa lapar, hal itu mendorongnya untuk membantu kaum fakir miskin yang kekurangan. Ini pun termasuk dalam karakteristik ketakwaan.”


Sumber: Taisir Karimir Rahman fi Tafsiri Kalamil Mannan, penafsiran surah al-Baqoroh ayat 183

Naskah dalam Bahasa Arab

قال الشيخ السعدي رحمه الله تعالى في تفسيره

يخبر تعالى بما منَّ به على عباده، بأنه فرض عليهم الصيام، كما فرضه على الأمم السابقة، لأنه من الشرائع والأوامر التي هي مصلحة للخلق في كل زمان. وفيه تنشيط لهذه الأمة، بأنه ينبغي لكم أن تنافسوا غيركم في تكميل الأعمال، والمسارعة إلى صالح الخصال، وأنه ليس من الأمور الثقيلة، التي اختصيتم بها. ثم ذكر تعالى حكمته في مشروعية الصيام فقال: ﴿لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ﴾ فإن الصيام من أكبر أسباب التقوى، لأن فيه امتثال أمر الله واجتناب نهيه. فمما اشتمل عليه من التقوى: أن الصائم يترك ما حرم الله عليه من الأكل والشرب والجماع ونحوها، التي تميل إليها نفسه، متقربا بذلك إلى الله، راجيا بتركها، ثوابه، فهذا من التقوى. ومنها: أن الصائم يدرب نفسه على مراقبة الله تعالى، فيترك ما تهوى نفسه، مع قدرته عليه، لعلمه باطلاع الله عليه، ومنها: أن الصيام يضيق مجاري الشيطان، فإنه يجري من ابن آدم مجرى الدم، فبالصيام، يضعف نفوذه، وتقل منه المعاصي، ومنها: أن الصائم في الغالب، تكثر طاعته، والطاعات من خصال التقوى، ومنها: أن الغني إذا ذاق ألم الجوع، أوجب له ذلك، مواساة الفقراء المعدمين، وهذا من خصال التقوى