Hadits Muadz Tentang Tahapan Pensyariatan Shalat dan Puasa

Matan Hadits
عَنْ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ قَالَ: أُحِيلَتِ الصَّلَاةُ ثَلَاثَةَ أَحْوَالٍ، وَأُحِيلَ الصِّيَامُ ثَلَاثَةَ أَحْوَالٍ، فَأَمَّا أَحْوَالُ الصَّلَاةِ: فَإِنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدِمَ الْمَدِينَةَ وَهُوَ يُصَلِّي سَبْعَةَ عَشَرَ شَهْرًا إِلَى بَيْتِ الْمَقْدِسِ، ثُمَّ إِنَّ اللهَ أَنْزَلَ عَلَيْهِ {قَدْ نَرَى تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِي السَّمَاءِ فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضَاهَا فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ، وَحَيْثُ مَا كُنْتُمْ فَوَلُّوا وُجُوهَكُمْ شَطْرَهُ} [البقرة: 144] قَالَ: فَوَجَّهَهُ اللهُ إِلَى مَكَّةَ قَالَ: فَهَذَا حَوْلٌ. قَالَ: وَكَانُوا يَجْتَمِعُونَ لِلصَّلَاةِ وَيُؤْذِنُ بِهَا بَعْضُهُمْ بَعْضًا حَتَّى نَقَسُوا أَوْ كَادُوا يَنْقُسُونَ. قَالَ ثُمَّ إِنَّ رَجُلًا مِنَ الْأَنْصَارِ يُقَالُ لَهُ عَبْدُ اللهِ بْنُ زَيْدٍ أَتَى رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ، إِنِّي رَأَيْتُ فِيمَا يَرَى النَّائِمُ وَلَوْ قُلْتُ إِنِّي لَمْ أَكُنْ نَائِمًا لَصَدَقْتُ، إِنِّي بَيْنَا أَنَا بَيْنَ النَّائِمِ وَالْيَقْظَانِ إِذْ رَأَيْتُ شَخْصًا عَلَيْهِ ثَوْبَانِ أَخْضَرَانِ فَاسْتَقْبَلَ الْقِبْلَةَ، فَقَالَ: اللهُ أَكْبَرُ. اللهُ أَكْبَرُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ. مَثْنَى مَثْنَى حَتَّى فَرَغَ مِنَ الْأَذَانِ، ثُمَّ أَمْهَلَ سَاعَةً. قَالَ: ثُمَّ قَالَ مِثْلَ الَّذِي قَالَ غَيْرَ أَنَّهُ يَزِيدُ فِي ذَلِكَ قَدْ قَامَتِ الصَّلَاةُ، قَدْ قَامَتِ الصَّلَاةُ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” عَلِّمْهَا بِلَالًا فَلْيُؤَذِّنْ بِهَا “. فَكَانَ بِلَالٌ أَوَّلَ مَنْ أَذَّنَ بِهَا. قَالَ: وَجَاءَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ، إِنَّهُ قَدْ طَافَ بِي مِثْلُ الَّذِي أَطَافَ بِهِ غَيْرَ أَنَّهُ سَبَقَنِي فَهَذَانِ حَوْلَانِ. قَالَ: وَكَانُوا يَأْتُونَ الصَّلَاةَ، وَقَدْ سَبَقَهُمْ بِبَعْضِهَا النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: فَكَانَ الرَّجُلُ يُشِيرُ إِلَى الرَّجُلِ إِذَا جَاءَ كَمْ صَلَّى؟ فَيَقُولُ: وَاحِدَةً أَوْ اثْنَتَيْنِ فَيُصَلِّيهَا، ثُمَّ يَدْخُلُ مَعَ الْقَوْمِ فِي صَلَاتِهِمْ قَالَ: فَجَاءَ مُعَاذٌ فَقَالَ: لَا أَجِدُهُ عَلَى حَالٍ أَبَدًا إِلَّا كُنْتُ عَلَيْهَا، ثُمَّ قَضَيْتُ مَا سَبَقَنِي. قَالَ: فَجَاءَ وَقَدْ سَبَقَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِبَعْضِهَا قَالَ: فَثَبَتَ مَعَهُ، فَلَمَّا قَضَى رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَاتَهُ قَامَ فَقَضَى فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” إِنَّهُ قَدْ سَنَّ لَكُمْ مُعَاذٌ فَهَكَذَا فَاصْنَعُوا ” فَهَذِهِ ثَلَاثَةُ أَحْوَالٍ، وَأَمَّا أَحْوَالُ الصِّيَامِ: فَإِنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدِمَ الْمَدِينَةَ فَجَعَلَ يَصُومُ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ، وَقَالَ يَزِيدُ: فَصَامَ تِسْعَةَ عَشَرَ شَهْرًا مِنْ رَبِيعِ الْأَوَّلِ إِلَى رَمَضَانَ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ، وَصَامَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ ثُمَّ إِنَّ اللهَ فَرَضَ عَلَيْهِ الصِّيَامَ، فَأَنْزَلَ اللهُ {يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ} [البقرة: 183] إِلَى هَذِهِ الْآيَةِ {وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ} [البقرة: 184] قَالَ: فَكَانَ مَنْ شَاءَ صَامَ، وَمَنْ شَاءَ أَطْعَمَ مِسْكِينًا، فَأَجْزَأَ ذَلِكَ عَنْهُ قَالَ: ثُمَّ إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ أَنْزَلَ الْآيَةَ الْأُخْرَى {شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ} [البقرة: 185] إِلَى قَوْلِهِ {فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ} [البقرة: 185] قَالَ: فَأَثْبَتَ اللهُ صِيَامَهُ عَلَى الْمُقِيمِ الصَّحِيحِ، وَرَخَّصَ فِيهِ لِلْمَرِيضِ وَالْمُسَافِرِ وَثَبَّتَ الْإِطْعَامَ لِلْكَبِيرِ الَّذِي لَا يَسْتَطِيعُ الصِّيَامَ، فَهَذَانِ حَوْلَانِ. قَالَ: وَكَانُوا يَأْكُلُونَ وَيَشْرَبُونَ وَيَأْتُونَ النِّسَاءَ مَا لَمْ يَنَامُوا، فَإِذَا نَامُوا امْتَنَعُوا. قَالَ: ثُمَّ إِنَّ رَجُلًا مِنَ الْأَنْصَارِ يُقَالُ لَهُ صِرْمَةُ ظَلَّ يَعْمَلُ صَائِمًا حَتَّى أَمْسَى فَجَاءَ إِلَى أَهْلِهِ فَصَلَّى الْعِشَاءَ، ثُمَّ نَامَ فَلَمْ يَأْكُلْ وَلَمْ يَشْرَبْ حَتَّى أَصْبَحَ فَأَصْبَحَ صَائِمًا قَالَ: فَرَآهُ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَدْ جَهَدَ جَهْدًا شَدِيدًا قَالَ: ” مَا لِي أَرَاكَ قَدْ جَهَدْتَ جَهْدًا شَدِيدًا؟ ” قَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ، إِنِّي عَمِلْتُ أَمْسِ فَجِئْتُ حِينَ جِئْتُ، فَأَلْقَيْتُ نَفْسِي فَنِمْتُ، وَأَصْبَحْتُ حِينَ أَصْبَحْتُ صَائِمًا. قَالَ: وَكَانَ عُمَرُ قَدْ أَصَابَ مِنَ النِّسَاءِ مِنْ جَارِيَةٍ أَوْ مِنْ حُرَّةٍ بَعْدَ مَا نَامَ، وَأَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَذَكَرَ ذَلِكَ لَهُ فَأَنْزَلَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ {أُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ إِلَى نِسَائِكُمْ} [البقرة: 187] إِلَى قَوْلِهِ {ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ} [البقرة: 187] وَقَالَ يَزِيدُ فَصَامَ تِسْعَةَ عَشَرَ شَهْرًا مِنْ رَبِيعِ الْأَوَّلِ إِلَى رَمَضَانَ (رواه أحمد)
Dari Mu’adz bin Jabal, ia berkata: “Shalat diubah melalui tiga tahapan, dan puasa juga diubah melalui tiga tahapan.”
Tahapan-tahapan Shalat
Tahap Pertama: Ketika Nabi ﷺ tiba di Madinah, beliau shalat menghadap ke Baitul Maqdis selama tujuh belas bulan. Kemudian Allah menurunkan ayat (yang artinya): “Sungguh Kami melihat wajahmu menengadah ke langit, maka Kami palingkan engkau ke kiblat yang engkau sukai. Palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram…” (QS. Al-Baqarah: 144). Maka Allah menghadapkan beliau ke arah Makkah. Inilah satu tahap.
Tahap Kedua: Dahulu mereka berkumpul untuk shalat dengan saling memanggil satu sama lain hingga mereka menggunakan lonceng atau hampir menggunakannya. Kemudian seorang laki-laki dari kaum Anshar yang bernama Abdullah bin Zaid datang kepada Rasulullah ﷺ dan berkata: “Wahai Rasulullah, aku bermimpi—dan jika aku katakan aku tidak sedang tidur maka aku jujur—saat aku antara tidur dan terjaga, aku melihat seseorang memakai dua pakaian hijau menghadap kiblat lalu berucap: Allahu Akbar, Allahu Akbar, Asyhadu alla ilaha illallah (dua kali-dua kali) hingga selesai adzan. Kemudian ia diam sejenak lalu mengucapkan hal yang sama, namun ia menambahkan: Qad qamatish shalah, qad qamatish shalah.” Rasulullah ﷺ bersabda: “Ajarkanlah itu kepada Bilal agar ia mengumandangkannya.” Maka Bilal menjadi orang pertama yang mengumandangkan adzan. Lalu Umar bin Al-Khattab datang dan berkata: “Wahai Rasulullah, sungguh aku juga memimpikan hal yang sama dengan yang dia lihat, namun dia mendahuluiku.” Inilah tahap kedua.
Tahap Ketiga: Dahulu mereka datang untuk shalat berjamaah saat Nabi ﷺ telah mendahului mereka beberapa rakaat. Seseorang akan memberi isyarat kepada temannya yang baru datang saat bertanya: “Sudah berapa rakaat?” Temannya menjawab (dengan isyarat): “Satu atau dua rakaat.” Maka orang itu shalat sendiri mengganti rakaat yang tertinggal, baru kemudian masuk mengikuti imam. Suatu hari Mu’adz datang dan berkata: “Aku tidak akan mendapati beliau dalam suatu keadaan kecuali aku akan mengikutinya (langsung bermakmum), lalu aku selesaikan rakaat yang tertinggal setelah itu.” Maka ia datang saat Nabi ﷺ telah mendahuluinya beberapa rakaat, lalu ia langsung mengikuti beliau (bermakmum). Ketika Rasulullah ﷺ menyelesaikan shalatnya, Mu’adz berdiri untuk menyempurnakan kekurangannya. Rasulullah ﷺ bersabda: “Sesungguhnya Mu’adz telah membuat sunnah (jalan) bagi kalian, maka lakukanlah seperti itu.” Inilah tiga tahapan shalat.
Tahapan-tahapan Puasa
Tahap Pertama: Rasulullah ﷺ tiba di Madinah dan beliau berpuasa tiga hari setiap bulan. Yazid berkata: Beliau berpuasa sembilan belas bulan dari Rabi’ul Awwal hingga Ramadhan sebanyak tiga hari setiap bulan, dan beliau juga berpuasa hari Asyura. Kemudian Allah mewajibkan puasa atas beliau dengan menurunkan ayat: “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu…” (QS. Al-Baqarah: 183) hingga ayat: “…Dan bagi orang-orang yang berat menjalankannya, wajib membayar fidyah, yaitu memberi makan seorang miskin.” (QS. Al-Baqarah: 184). Saat itu, siapa yang ingin berpuasa maka ia berpuasa, dan siapa yang ingin tidak puasa maka ia memberi makan orang miskin, dan itu sudah mencukupinya.
Tahap Kedua: Kemudian Allah ‘Azza wa Jalla menurunkan ayat lain: “Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an…” hingga firman-Nya: “…Maka barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa.” (QS. Al-Baqarah: 185). Maka Allah menetapkan kewajiban puasa bagi orang yang mukim dan sehat, memberi keringanan bagi yang sakit dan musafir, serta tetap mewajibkan fidyah bagi orang tua renta yang tidak mampu berpuasa. Inilah dua tahap.
Tahap Ketiga: Dahulu (di awal kewajiban Ramadhan), mereka boleh makan, minum, dan mendatangi istri selama mereka belum tidur. Jika sudah tidur, mereka dilarang melakukannya. Kemudian ada seorang laki-laki Anshar bernama Shirmah yang bekerja sepanjang hari dalam keadaan puasa hingga sore hari. Ia pulang ke keluarganya dan shalat Isya, lalu ia tertidur sehingga ia tidak makan dan tidak minum sampai pagi, lalu ia lanjut berpuasa lagi di pagi hari itu. Rasulullah ﷺ melihatnya dalam keadaan sangat lemas, lalu beliau bertanya: “Mengapa aku melihatmu sangat lemas?” Ia menjawab: “Wahai Rasulullah, kemarin aku bekerja lalu aku pulang dan langsung tertidur, sehingga pagi ini aku tetap berpuasa.” Sementara itu, Umar juga sempat mendatangi istrinya setelah ia tidur (di malam hari), lalu ia mendatangi Nabi ﷺ dan menceritakan hal itu. Maka Allah ‘Azza wa Jalla menurunkan ayat (yang artina): “Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan istri-istri kamu…” sampai firman-Nya: “…Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai malam.” (QS. Al-Baqarah: 187).
Takhrij Hadits
Diriwayatkan oleh Ahmad dan Abu Dawud, dishahihkan oleh Syaikh al-Albaniy dengan pemberian catatan bahwa lafadz yang shahih pada takbir adzan adalah 4 kali dengan penguatan dari jalur riwayat lain.

Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.