Beranda » Latest » Artikel » Ahkam » Hukum Memakai Pakaian Berwarna Merah Polos
cf3f66ee11253b17c243ca32211d41ad

Pertanyaan:

Demikian pula seorang penanya bertanya tentang hukum mengenakan warna-warna: Warna merah murni (polos), baik itu berupa kemeja (gamis) atau semisalnya?

Jawaban Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz rahimahullah:

Sebagian Ulama memakruhkannya (membencinya) berdasarkan beberapa riwayat bahwa Nabi ﷺ melarang memakai warna merah. Namun, mayoritas ulama (jumhur) tidak memakruhkannya, karena Nabi ﷺ pernah memakai hullah (pakaian) merah. Hal ini terjadi pada saat Haji Wada’, sebagaimana dalam hadits Abu Juhaifah yang melihat Nabi ﷺ mengenakan pakaian merah.

Ulama yang memakruhkannya menjawab (berargumen) bahwa pakaian tersebut adalah pakaian yang memiliki garis-garis merah dan bukan merah polos/murni; hal ini dimaksudkan untuk mengompromikan (menggabungkan) berbagai riwayat yang ada. Sebagian ulama lainnya berpendapat bahwa larangan tersebut ditujukan pada kain yang dicelup dengan mu’ashfar (zat pewarna kuning kemerahan) secara murni, itulah yang dilarang, sedangkan selain itu tidak ada masalah.

Maka, perkara dalam hal ini ada keleluasaan insya Allah. Akan tetapi, jika warnanya merah pekat —yakni merah murni yang sangat merah—yang dicelup mu’ashfar dan tidak ada garis-garis putih, hitam, atau warna lainnya, maka meninggalkannya adalah lebih utama demi keluar dari perselisihan ulama (ikhtilaf). Adapun jika pada pakaian tersebut terdapat garis-garis atau bintik-bintik hitam, putih, atau semacamnya, maka hilanglah kemakruhannya.


Sumber: https://binbaz.org.sa/fatwas/30172/حكم-لبس-الاحمر-الخالص-في-قميص-او-نحوه

Transkrip Fatwa dalam Bahasa Arab

السؤال: كذلك يسأل سائلٌ عن لبس الألوان: اللون الأحمر الخالص إن كان قميصًا أو نحو ذلك؟

أجاب عنه الشيخ عبد العزيز ين عبد الله بن باز رحمه الله تعالى: بعض أهل العلم يكرهه؛ لما جاء في بعض الروايات أنَّ النبي نهى عن لبس الأحمر، والجمهور لا يكرهون ذلك؛ لأنه ﷺ كان يلبس الحُلَّة الحمراء، كان في حجَّة الوداع في حديث أبي جُحيفة رأى النبيَّ ﷺ وعليه حُلَّة حمراء، وأجاب مَن كره ذلك بأنها حلَّة فيها خطوط حمر، وليست مُصمتةً؛ جمعًا بين الروايات، وبعضهم حمل ذلك على المعصفر الخالصّ، هو الذي فيه النَّهي، وما سواه لا حرج فيه.

فالأمر في هذا واسعٌ إن شاء الله، لكن إذا كان أحمر مفدّم –يعني: خالص الحمرة، شديد الحمرة- فيه معصفر، وليس فيه خطوط بيض ولا سود ولا كذا؛ يكون تركه أوْلى خروجًا من الخلاف، أما إذا كانت فيه خطوط أو نقط سود أو بيض أو شبه ذلك؛ زالت الكراهة