14 Jumadil awal 1444
Beranda » Latest » Artikel » Nasihat » Khotbah Jumat: Menikmati Manisnya Keimanan

Khotbah Jumat: Menikmati Manisnya Keimanan

Disampaikan oleh Abu Utsman Kharisman di Masjid Baitul Alim Sapikerep Sukapura, 22 Dzulhijjah 1443 H/ 22 Juli 2022 M

Khotbah Pertama:

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَى عَبْدِهِ الْكِتَابَ وَلَمْ يَجْعَلْ لَهُ عِوَجًا. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.قَالَ اللهُ تَعَالَى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ :{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ}

Saudaraku kaum muslimin, rahimakumullaah…

Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan hidayah Islam dan keimanan kepada kita. Meski kita menyadari bahwa keimanan kita tidaklah sempurna. Penuh dengan kekurangan. Namun, semestinya kita tidak putus asa untuk berjuang dan memohon kepada Allah Ta’ala agar mempersembahkan ibadah yang terbaik untuk-Nya.

Saudaraku….

Sesungguhnya iman itu manis rasanya. Menghadirkan ketenangan, ketentraman, dan kenyamanan dalam jiwa. Kenikmatan luar biasa yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata.

Rasulullah shollallahu alaihi wasallam menjelaskan ada 3 hal yang menyebabkan iman terasa manis.

ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ أَنْ يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لَا يُحِبُّهُ إِلَّا لِلَّهِ وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِي الْكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ

Ada 3 hal yang jika seseorang memilikinya, ia akan merasakan manisnya iman. (Pertama) dia menjadikan Allah dan Rasul-Nya adalah yang paling dia cintai dibandingkan selain keduanya. (Kedua) Dia mencintai seseorang, tidaklah dia mencintainya, kecuali karena Allah. (Ketiga) ia tidak suka kembali pada kekafiran sebagaimana ia tidak suka dilemparkan ke dalam api
(H.R al-Bukhari dan Muslim, lafadz sesuai riwayat al-Bukhari)

Hal pertama yang menyebabkan seseorang merasakan manisnya keimanan adalah ia menjadikan Allah dan Rasul-Nya sebagai yang paling dia cintai di atas segala-galanya. Seorang suami mencintai istrinya. Demikian pula sebaliknya. Namun, ketika keinginan sang suami atau sang istri bertentangan dengan perintah Allah dan Rasul-Nya, orang itu akan lebih mendahulukan kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya.

Demikian pula terhadap orang lain. Orang yang akan merasakan manisnya iman, akan lebih mendahulukan cinta kepada Allah dan Rasul-Nya, dibandingkan cinta kepada anak, orangtua, kerabat, guru, atasan, sahabat, atau siapapun juga.

Manusia yang seharusnya paling kita cintai adalah Rasulullah Muhammad shollallahu alaihi wasallam. Bukti kecintaan itu semestinya ditunjukkan dengan meneladani sunnah beliau. Menjalankan perintah beliau, dan meninggalkan larangan beliau. Mengimani segala berita yang beliau sampaikan. Tidak beribadah kepada Allah kecuali berdasarkan sunnah yang beliau ajarkan.

Cinta kepada Rasulullah shollallahu alaihi wasallam adalah bagian dari cinta kepada Allah. Cinta kepada Rasul adalah bagian dari penghambaan kita kepada Allah, karena Allah lah yang memerintahkan demikian.

Cinta kepada Rasul tidak boleh menjadi tandingan cinta kita kepada Allah. Jika Rasul adalah manusia dan makhluk yang seharusnya paling kita cintai, namun Allah adalah Dzat yang seharusnya paling dicintai di atas segalanya. Cinta kepada Allah haruslah lebih tinggi dibandingkan cinta kepada Rasul, apalagi makhluk yang lain. Tidak boleh setara kadarnya atau bahkan melebihi cinta kepada Allah.

Allah Ta’ala berfirman:

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْدَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ وَالَّذِينَ آَمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ

Dan di antara manusia, ada yang menjadikan selain Allah sebagai tandingan yang ia mencintai mereka sebagaimana kecintaannya kepada Allah. Sedangkan orang-orang yang beriman, sangat besar kecintaannya kepada Allah…
(Q.S al-Baqoroh ayat 165)

Syaikh Muhammad bin Sholih al-Utsaimin rahimahullah menyatakan:

“Namun, yang disayangkan, sebagian manusia mencintai Rasul bersamaan (sebagai tandingan) bagi Allah. Dia tidak mencintai Rasul karena Allah. Perhatikanlah perbedaan ini. Dia mencintai Rasul bersamaan (sebagai tandingan) bagi Allah. Engkau dapati dia mencintai Rasul lebih banyak dibandingkan kecintaannya kepada Allah. Ini adalah bagian dari kesyirikan.

Seharusnya engkau mencintai Rasul karena Allah. Karena beliau adalah utusan Allah. Kecintaan yang asal dan induknya adalah kecintaan kepada Allah Azza Wa Jalla. Namun, orang-orang yang bersikap melampaui batas terhadap Rasul shollallahu alaihi wasallam, mereka mencintai Rasul bersamaan (sebagai tandingan) bagi Allah. Mereka tidak mencintai beliau karena Allah. Artinya mereka menjadikan beliau sebagai sekutu bagi Allah dalam hal kecintaan. Bahkan dia mencintai Rasul lebih dari kecintaannya kepada Allah.

Jika disebut nama Rasul shollallahu alaihi wasallam, merinding kulitnya karena demikian besarnya cinta dan pengagungannya. Namun ketika disebut Allah, dia tidak terpengaruh sama sekali. Apakah ini adalah kecintaan yang bermanfaat bagi manusia? Jawabannya adalah tidak. Ini adalah kecintaan yang syirik. Wajib bagi anda untuk mencintai Allah dan Rasul-Nya dan menjadikan kecintaan anda kepada Rasul shollallahu alaihi wasallam tumbuh dari kecintaan kepada Allah dan mengikuti kecintaan kepada Allah”.

Demikian Syaikh Ibn Utsaimin menjelaskan dalam syarh Riyadhis Sholihin (1/432).

Saudaraku kaum muslimin rahimakumullah…

Kemudian, poin kedua yang akan menyebabkan seseorang merasakan manisnya keimanan adalah dia mencintai seseorang karena Allah. Dia mencintai seseorang bukan karena jasa baik orang itu kepadanya. Dia mencintai seseorang bukan karena pamrih atau manfaat duniawi. Dia cinta kepada orang itu karena orang tersebut orang yang taat kepada Allah, berpegang teguh dengan sunnah, menjauhi hal-hal yang dilarang Allah.

Semakin orang itu dekat dengan Allah, ia semakin cinta. Namun, jika orang itu menjauh dari Allah, berkuranglah kadar cintanya sesuai kadar jauhnya orang itu dari Allah.

Kalau ia mencintai seseorang karena Allah, ia akan mengabaikan sisi kekurangan lain pada orang itu dalam hal-hal yang bukan prinsip, karena setiap orang pasti tidak luput dari kekurangan. Ia mencintai orang itu karena Allah. Bukan karena keinginan pribadinya. Ia menoleransi dan memaafkan sisi-sisi kekurangan yang bisa ditoleransi. Meski ia juga tidak mengabaikan sisi nasihat dengan penyampaian yang baik dan hikmah. Guna perbaikan dan bahan untuk berbenah.

Tali keimanan yang paling kuat adalah cinta karena Allah dan benci karena Allah. Rasulullah shollallahu alaihi wasallam bersabda:

أَوْثَقُ عُرَى الْإِيْمَانِ : الْمُوَالَاةُ فِي اللهِ وَالْمُعَادَاةُ فِي اللهِ وَالْحُبُّ فِي اللهِ وَ الْبُغْضُ فِي اللهِ عَزَّ وَجَلَّ

Tali keimanan yang paling kuat adalah berloyalitas (saling melindungi; menolong) karena Allah, memusuhi karena Allah, cinta karena Allah, dan benci karena Allah Azza Wa Jalla
(Hadits dari Ibnu Abbas dishahihkan Syaikh al-Albaniy dalam Shahih al-Jami’)

Semoga Allah Ta’ala memberikan taufiq dan pertolongan agar kita menjadikan Allah dan Rasul-Nya yang paling kita cintai dibandingkan selainnya, dan semoga kita mampu untuk mencintai manusia karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِجَمِيْعِ اْلمُسْلِمِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Khotbah Kedua:

الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ حَمْدًا كَثِيْرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيْهِ كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَاهُ
وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. قال الله تعالى : يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

Saudaraku kaum muslimin, rahimakumullah…

Hal ketiga yang akan membuat seseorang merasakan manisnya iman adalah dia benci kembali kepada kekafiran setelah Allah selamatkan dia, sebagaimana ia benci dilemparkan ke dalam api.

Jika sebelumnya ia mengalami masa-masa kelam, bergelimang dosa dan keburukan, kemudian Allah beri hidayah kepadanya. Ia pun berhijrah. Berpindah menjadi seseorang yang mentauhidkan Allah, berpegangteguh dengan sunnah, bersemangat dan banyak menjalankan ketaatan kepada Allah. Ia tidak punya keinginan sama sekali untuk kembali. Meski dunia masa lalunya itu menawarkan kemewahan, kekayaan, atau kenikmatan duniawi yang begitu besar.

Justru ia benci. Bahkan, ia membenci segala yang dibenci Allah. Baginya, nikmat hidayah Allah tersebut tidak bisa ditukar dengan apapun. Orang yang demikian akan merasakan manisnya keimanan.

Sebagaimana para Sahabat Nabi yang berhijrah ke Habasyah, mereka sangat benci kembali pada kekafiran, setelah Rasul shollallahu alaihi wasallam mengajak mereka untuk mentauhidkan Allah dan taat kepada-Nya. Mereka pun tinggalkan perilaku-perilaku Jahiliyyah yang bertentangan dengan ajaran Islam. Saat kaumnya memaksa dan menindas mereka agar kembali pada agama nenek moyangnya, mereka memilih berhijrah meninggalkan negeri yang mereka cintai, agar bisa beribadah dengan tenang kepada Allah Ta’ala.

Sungguh, para Sahabat Nabi adalah teladan kita dalam berbagai kebaikan. Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala memberikan taufiq dan pertolongan kepada kita untuk kokoh dalam keimanan dan kita bisa merasakan manisnya iman, nikmatnya ibadah dalam naungan tauhid dan sunnah.

وَلَكِنَّ اللَّهَ حَبَّبَ إِلَيْكُمُ الْإِيمَانَ وَزَيَّنَهُ فِي قُلُوبِكُمْ وَكَرَّهَ إِلَيْكُمُ الْكُفْرَ وَالْفُسُوقَ وَالْعِصْيَانَ أُولَئِكَ هُمُ الرَّاشِدُونَ (7) فَضْلًا مِنَ اللَّهِ وَنِعْمَةً وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ (8)

…namun Allah lah yang menjadikan kalian cinta pada keimanan. Dia perindah keimanan itu dalam hati kalian. Dialah Allah pula yang membuat kalian membenci kekafiran, kefasikan, dan kemaksiatan. Mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk. Itu adalah karunia dan nikmat dari Allah. Allah adalah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana
(Q.S al-Hujurat ayat 7-8)

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَات إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَات

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا
اللهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا… اللهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا… اللهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا…
رَبَّنَا آَتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلَّمَ
وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ اْلعَالَمِيْنَ