11 Jumadil awal 1444
Beranda » Latest » Artikel » Nasihat » Khotbah Idul Fitri 1 Syawwal 1443 H: Menebar Kebaikan dan Manfaat Untuk Diri dan Sesama

Khotbah Idul Fitri 1 Syawwal 1443 H: Menebar Kebaikan dan Manfaat Untuk Diri dan Sesama

TEMPAT: LAPANGAN LEMBAGA PEMASYARAKATAN MILITER III WONOAYU SIDOARJO

الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيْرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيْهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.قَالَ اللهُ تَعَالَى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ :يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

الله أكبر الله أكبر لا إله إلا الله والله أكبر الله أكبر ولله الحمد

Saudaraku kaum muslimin wal muslimat rahimakumullah…

Segala puji bagi Allah yang memberikan anugerah bulan Ramadan. Dialah yang memberikan taufiq dan pertolongan kepada kita dalam menjalani ibadah puasa, shalat tarawih, tilawah al-Quran, zakat fithr, dan berbagai ibadah lainnya.

Semoga Allah Ta’ala menerima ibadah-ibadah kita dan menjadikan kita sebagai orang-orang yang keluar dari Ramadan dalam keadaan terampuni. Semoga Allah Ta’ala memanjangkan usia kita, makmur dalam ketaatan kepada-Nya hingga Allah perkenankan kita untuk menikmati lagi ibadah di bulan Ramadan tahun-tahun berikutnya.

الله أكبر الله أكبر لا إله إلا الله والله أكبر الله أكبر ولله الحمد

Saudaraku….

Dari sejak terbenamnya matahari, kita sempurnakan bilangan hari bulan Ramadan, dan Allah perintahkan kepada kita untuk bertakbir mengagungkan-Nya, hingga pelaksanaan shalat Ied. 

وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

…Hendaknya kalian sempurnakan bilangan hari bulan Ramadan, dan bertakbirlah mengagungkan Allah sesuai dengan petunjuk yang Dia berikan kepada kalian, agar kalian bersyukur (Q.S al-Baqoroh ayat 185)

الله أكبر الله أكبر لا إله إلا الله والله أكبر الله أكبر ولله الحمد

Saudaraku….

Kita bersyukur kepada Allah Ta’ala, dari sejak terjadinya pandemi yang melanda dunia, baru di tahun ini kita mendapat keleluasaan yang lebih untuk menikmati ibadah shalat Ied. Kita berharap semoga keadaan menjadi semakin baik bagi kita semua. Tetaplah menjalankan protokol kesehatan sesuai arahan pemerintah kita. Niatkan sebagai ibadah untuk mendekatkan diri kita kepada Allah Ta’ala.

Begitu banyak pelajaran berharga yang kita petik dari peristiwa pandemi. Salah satunya adalah kesabaran untuk berupaya, berjuang, sambil menanti datangnya kemudahan, setelah muncul kesulitan. Seberat apapun kesulitan itu mendatangi kita, Allah telah persiapkan kemudahan yang lebih banyak dari kesulitan itu.

فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا (5) إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا (6)

Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan (Q.S Alam Nasyrah ayat 5-6)

Ketika pasukan kaum muslimin di bawah pimpinan Abu Ubaidah bin al-Jarrah terkepung di Syam, dan mengalami situasi yang berat dan sulit, Abu Ubaidah mengirim surat kepada Umar bin al-Khoththob radhiyallahu anhu. Kemudian Umar pun menjawab surat itu dengan pernyataan:

فَإِنَّهُ لَمْ تَكُنْ شِدَّةٌ إِلاَّ جَعَلَ اللَّهُ بَعْدَهَا فَرْجًا , وَلَنْ يَغْلِبَ عُسْرٌ يُسْرَيْنِ

Sesungguhnya, tidaklah terjadi suatu kesulitan, melainkan Allah akan menjadikan setelahnya jalan keluar. Dan satu kesulitan tidak akan pernah mengalahkan 2 kemudahan (yang Allah turunkan, pent) (H.R Ibnu Abi Syaibah)

Setelah itu, Umar bin al-Khoththob radhiyallahu anhu membacakan firman Allah tentang perintah untuk terus bersabar, komitmen dalam perjuangan, dan bertakwa agar mendapat kesuksesan:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Wahai orang-orang yang beriman, bersabarlah, teruslah bersabar, tetaplah berjuang dalam jihad, serta bertakwalah kepada Allah agar kalian mendapat kesuksesan (Q.S Ali Imran ayat 200)

Maka kebaikan dan manfaat itu akan tercapai dengan bersabar dan bertakwa karena Allah. Keduanya haruslah ditopang dengan ilmu yang benar.

Seseorang tidak akan pernah bisa bersabar, kalau ia tidak berilmu.

وَكَيْفَ تَصْبِرُ عَلَى مَا لَمْ تُحِطْ بِهِ خُبْرًا

Dan bagaimana engkau bisa bersabar terhadap sesuatu yang engkau tidak memiliki ilmunya? (Q.S al-Kahfi ayat 68)

Maka, berilmulah dengan benar, agar anda bisa bersabar pula secara benar.

Ketakwaan pun tidak akan tercapai tanpa ilmu. Takwa itu adalah menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Bagaimana seseorang bisa bertakwa, kalau ia tidak tahu apa yang Allah perintahkan kepadanya saat dalam situasi itu? Bagaimana seseorang bisa bertakwa, kalau ia tidak tahu apa larangan Allah bagi dia jika mengalami masalah seperti itu? Maka takwa harus didasari oleh ilmu.

Ilmu yang benar adalah ilmu yang diajarkan oleh Nabi shollallahu alaihi wasallam dan para Sahabatnya. Ilmu yang benar adalah bimbingan alQuran, hadits Nabi yang shahih, yang dipahami dan diterapkan oleh para Sahabat ridhwanullahi alaihim ajmain.

Kebaikan dan manfaat akan tersebar ketika ilmu yang benar disebar dan diamalkan. Pengamalan terhadap ilmu yang benar itulah yang berupa kesabaran dan ketakwaan.

Maka, saudaraku, bersemangatlah untuk terus menuntut ilmu bimbingan alQuran, hadits Nabi, maupun teladan dari para Sahabat Nabi ridhwanullahi alaihim ajmain. Saat kita sudah tahu ilmunya, bersemangatlah untuk mengamalkan dan menyebarkannya sesuai kemampuan kita. Sebarkan ilmu itu dengan hikmah, maka manis dan indahnya ilmu pun akan semerbak mengalir bertumbuh dan berkembang. Menjadi tabungan kebaikan bagi kita di akhirat kelak.

Kalaupun saat ini kita tertahan untuk sementara, sesungguhnya itu adalah momentum bagi kita untuk mempersiapkan versi terbaik bagi diri kita selepas dari penahanan ini. Menjadi pribadi yang kokoh dalam keilmuan, kokoh dalam kesabaran dan terbimbing untuk selalu bertakwa kepada Allah di mana pun berada.

Untuk saudariku, kaum muslimah….

Jaga lisan anda. Kadangkala ada seorang wanita yang rajin beribadah, taat pada suaminya. Tapi ketika marah, ia tidak mampu menjaga lisannya. Ia bahkan seringkali melaknat anak-anaknya. Memaki dan mencerca mereka dengan kata-kata yang buruk.

Hati-hati saudariku, bertakwalah kepada Allah….

Dari ucapan, kaum wanita banyak menimbulkan fitnah. Pergunjingan, adu domba sesama muslim dan muslimah. Tidak sedikit persaudaraan retak karena ucapan. Suami terseret istrinya untuk memusuhi saudaranya karena ucapan istrinya.

Jadilah sang penebar kedamaian dan kebaikan di manapun anda berada. Janganlah jadi penebar fitnah dan permusuhan.

Wahai saudariku, ucapkanlah ucapan yang baik atau diam.

وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, ucapkanlah ucapan yang baik atau diam (H.R al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah)

Bersyukurlah saudariku…bersyukurlah….dan bersyukurlah….

Ingat-ingat selalu nikmat Allah atas kalian. Lihatlah pada saudara kalian yang kondisinya di bawah kalian dalam hal duniawi. Agar kalian semakin bersyukur kepada Allah.

انْظُرُوا إِلَى مَنْ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَلَا تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ فَهُوَ أَجْدَرُ أَنْ لَا تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ

Lihatlah kepada orang yang di bawah kalian. Jangan melihat pada orang yang di atas kalian. Hal itu akan membuat kalian tidak meremehkan nikmat Allah terhadap kalian (H.R Muslim dari Abu Hurairah)

Sebagian istri merasa tinggi di hadapan suaminya. Ia memandang rendah suaminya dan meremehkannya. Ini adalah dosa besar. 

Rasulullah shollallahu alaihi wasallam bersabda:

لاَ يَنْظُرُ اللَّهُ إِلَى امَرَأَةٍ لاَ تَشْكُرُ زَوْجَهَا وَهِيَ لا تَسْتَغْنِي عَنْهُ

Allah tidak akan melihat kepada seorang wanita yang tidak bersyukur terhadap suaminya padahal ia masih membutuhkannya (H.R anNasaai, al-Bazzaar, dishahihkan Syaikh al-Albaniy)

Demikian besarnya hak seorang suami terhadap istrinya, disebutkan dalam sebuah hadits:

حَقُّ الزَّوْجِ عَلَى زَوْجَتِهِ لَوْ كَانَتْ بِهِ قرْحَةٌ فَلَحِسَتْهَا أَوِ انْتَثَرَ مِنْخَرَاهُ صَدِيْدًا أَوْ دَمًا ثُمَّ ابْتَلَعَتْهُ مَا أَدَّتْ حَقَّهُ

Hak suami atas istrinya adalah : jika pada tubuh suami tersebut ada luka kemudian sang istri menjilatnya atau keluar nanah atau darah yang keluar dari rongga hidung suami kemudian istri menelannya, hal itu belumlah menunaikan hak suami (H.R al-Bazzar, Ibn Abi Syaibah, dishahihkan al-Hakim dan al-Albany)

Semoga Allah Ta’ala senantiasa melimpahkan rahmat, taufiq, pertolongan, dan ampunan-Nya kepada segenap kaum muslimin…

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَات 

اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ مِنَ الْخَيْرِ كُلِّهِ عَاجِلِهِ وَآجِلِهِ مَا عَلِمْنَا مِنْهُ وَمَا لَمْ نَعْلَمْ اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِ مَا سَأَلَكَ عَبْدُكَ وَنَبِيُّكَ مُحَمَّدٌ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا عَاذَ مِنْهُ عَبْدُكَ وَنَبِيُّكَ اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْجَنَّةَ وَمَا قَرَّبَ إِلَيْهَا مِنْ قَوْلٍ أَوْ عَمَلٍ وَنَسْأَلُكَ أَنْ تَجْعَلَ كُلَّ قَضَاءٍ تَقْضِيهِ لَنَا خَيْرًا

وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلَّمَ

وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ اْلعَالَمِيْنَ

تقبل الله منا ومنكم صالح الأعمال

 

Disampaikan oleh: Abu Utsman Kharisman