11 Jumadil awal 1444
Beranda » Latest » Artikel » Manhaj » Bolehkah Saling Membiarkan Perbedaan Prinsip dalam Agama?

Bolehkah Saling Membiarkan Perbedaan Prinsip dalam Agama?

Fatwa Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin rahimahullah

Pertanyaan:

Syaikh yang mulia, sebagaimana dimaklumi bahwa Syiah dan Murjiah mereka semua berselisih dengan Ahlus Sunnah wal Jama’ah dengan perselisihan yang besar. Sementara terdapat kaedah emas: “Kita saling bekerjasama dalam hal yang kita sepakati bersama, seraya kita saling memaafkan pada perkara yang kita perselisihkan.” Bagaimana kita bisa bertoleransi terhadap (kesesatan) kaum Syiah itu?

 

Jawaban:

(Yang disebut sebagai) “kaedah emas” ini sebenarnya bukanlah kaedah emas. Bahkan tidak pantas dikategorikan sebagai kaedah. Justru (mestinya) hal-hal yang kita sepakati itu termasuk nikmat Allah Azza wa Jalla. Sementara kesepakatan (jauh) lebih baik dari pada perselisihan. Sedangkan yang kita perselisihkan (harus dipilah), terkadang ada pihak yang penyelisihannya (terhadap kesepakatan) bisa ditolerir, namun ada pula yang tidak bisa.

Apabila perselisihan terjadi pada perkara yang memang bisa dimaklumi maka hal tersebut tidak mengapa. Bahkan sering terjadi perbedaan pendapat di kalangan para imam (madzhab fiqh). Seperti Imam Ahmad dengan Imam AsySyafi’i, Imam Malik maupun Abu Hanifah, semua beliau (rahimahumullah) memiliki pendapat yang berbeda.

Sedangkan apabila perselisihan yang terjadi bukan kategori yang bisa ditolerir, seperti perbedaan dalam prinsip-prinsip akidah, dalam hal ini tidak bisa kita saling membiarkan satu sama lainnya. Bahkan merupakan kewajiban untuk rujuk kepada Al Quran dan Sunnah Nabi, tanpa memberi toleransi (baca: memaklumi keyakinan mereka – pen).

▪️▫️▪️▫️▪️▫️▪️▫️▪️▫️▪️

baca juga artikel terkait:

Terhindar dari Kebid’ahan dan Paham yang Menyimpang Adalah Suatu Anugerah yang Sangat Besar

Sifat Kelompok yang Selamat (Al Firqotun Najiyah)

Komitmen Berpegang Teguh dengan Manhaj Salaf Meskipun Manusia Menjauhinya

Jadi seharusnya kaum syiah, murjiah dan seluruh mubtadi’ kembali rujuk kepada Al Quran dan As Sunnah dan tidak ditolerir.

Sehingga sebenarnya “kaedah” tersebut bukanlah kaedah emas. Barangkali anda bisa menyebutnya sebagai “kaedah kayu.”

Anda telah mengerti sekarang, bahwa terhadap masalah yang memang diperbolehkan ijtihad, yang demikian ini tidak mengapa kita bertoleransi terhadap pihak yang berbeda pendapat. Adapun dalam perkara yang bukan ranah ijtihad, seperti masalah-masalah akidah, apabila ada orang yang menyelisihi (akidah) salaf, tidak mungkin kita mentolerir mereka.

▪️▫️▪️▫️▪️▫️▪️▫️▪️▫️▪️

 

ما صحة ما يقال: (نتعاون فيما اتفقنا عليه ويعذر بعضنا بعضاً فيما اختلفنا فيه)؟

السؤال:
فضيلة الشيخ! من المعلوم أن الشيعة والمرجئة هؤلاء كلهم يختلفون مع أهل السنة والجماعة اختلافاً عظيماً، وهناك قاعدة عند بعض العلماء يسمونها القاعدة الذهبية: «يعين بعضنا بعضاً فيما اتفقنا ويعذر بعضنا بعضاً فيما اختلفنا» فكيف نعذر هؤلاء الشيعة؟

الجواب:
هذه القاعدة الذهبية ليست قاعدة ذهبية ولا تستحق أن تكون قاعدة، بل ما اتفقنا فيه فهو من نعمة الله -عزّ وجلّ-، والاتفاق خير من الاختلاف، وما اختلفنا فيه فقد يعذر فيه المخالف وقد لا يعذر، فإذا كان الاختلاف في أمر يسوغ فيه الاختلاف فهذا لا بأس به، ولا زال الأئمة يختلفون، فالإمام أحمد والشافعي ومالك وأبو حنيفة كلهم يختلفون
وأما إذا كان الخلاف لا يعذر فيه كالخلاف في العقائد، فإنه لا يعذر بعضنا بعضاً، بل الواجب الرجوع إلى ما دل عليه الكتاب والسنة
فعلى المرجئة وعلى الشيعة وعلى كل مبتدع أن يرجع إلى الكتاب والسنة ولا يعذر، فهذه القاعدة ليست قاعدة ذهبية، ولعلك تسميها قاعدة خشبية.      عرفت الآن الذي يسوغ فيه الاجتهاد، هذا لا بأس أن نسمح للمخالف، والذي لا يسوغ فيه الاجتهاد كمسائل العقائد التي يخالف فيها الإنسان السلف لا يمكن أن يعذروا.

المصدر
الشيخ ابن عثيمين من لقاءات الباب المفتوح، لقاء رقم(75)

▪️▫️▪️▫️▪️▫️▪️▫️▪️▫️▪️

Diterjemahkan oleh Abu Abdirrohman Sofian dari sumber:
Liqo’at Bab Al Maftuh, pertemuan no. 75

Faedah dalam bentuk video bisa anda lihat di sini