Beranda » Latest » Artikel » Ruduud » Kritikan Ilmiah Untuk Ustadz Adi Hidayat (UAH) Berkaitan Dengan Kajian Tentang Ramadan

Kritikan Ilmiah Untuk Ustadz Adi Hidayat (UAH) Berkaitan Dengan Kajian Tentang Ramadan

0
pen-g88d2d9e10_640

Saudaraku kaum muslimin, rahimakumullah…

Kritikan ilmiah adalah bagian dari nasihat kepada saudara sesama muslim. Baik kepada pihak yang dituju, maupun terhadap kaum muslimin secara umum. Selama penyampaian itu disertai hujjah, dalil, dan bukti yang kuat, selayaknya diterima dengan baik.

Hal yang melatarbelakangi tulisan ini dibuat adalah kiriman video singkat dari seorang saudara kita yang mempertanyakan benarkah ada sunnah Nabi secara khusus tentang doa menjelang Ramadan. Sebagaimana yang diajarkan oleh Ustadz Adi Hidayat (selanjutnya disingkat UAH) di video tersebut. Setelah saya kaji, ternyata apa yang diajarkan oleh UAH itu kepada para jamaahnya tidaklah benar. Kemudian saya mencoba melihat beberapa video UAH lainnya tentang kajian Ramadan secara random (acak dan mengambil sample), kemudian memberi catatan kritikan ilmiah lainnya seperti yang tertuang di tulisan ini.

Beberapa poin kritikan ilmiah terhadap UAH yang akan disampaikan di tulisan ini, di antaranya:

  1. Kesalahan UAH dalam mengajarkan doa menjelang Ramadan, padahal itu adalah doa melihat hilal di bulan hijriyah apapun.
  2. Kesalahan menyebut riwayat hadits Usamah bin Zaid tentang Nabi banyak berpuasa Sya’ban (terlalu fokus pada nomor riwayat tapi terluput siapa Ulama hadits yang meriwayatkan).
  3. Kesalahan dalam menisbatkan penghapusan seluruh dosa karena shalat malam di bulan Ramadan kecuali utang, sebagai pendapat Ulama. Padahal hal yang berkaitan dengan itu adalah untuk hadits tentang orang yang terbunuh dalam pertempuran di jalan Allah.
  4. Kesalahan dalam riwayat tentang tinta Ulama ditimbang dengan darah syuhada’. Riwayatnya sebenarnya sangat lemah atau bahkan dinilai oleh sebagian Ulama sebagai riwayat palsu.

Berikut ini akan dijabarkan penjelasan kritikan ilmiah terhadap masing-masing poin tersebut.

Poin Pertama: Kesalahan UAH tentang Doa Menjelang Ramadan

Transkrip Video di channel Lecture Studio Official yang Diunggah pada 23 Sep 2024 ketika Ustadz Adi Hidayat (UAH) mengajarkan doa masuk Ramadan:

Tolong hafalkan doa ini. Dan ini doa yang diajarkan Nabi menjelang Ramadan. Supaya mendapatkan kesehatan, kekuatan, keselamatan untuk beribadah saat Ramadan. Hadisnya di At Tirmidzi, nomor hadis 3254. Qala, langsung saja, Qala Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam. Allahumma Allahumma ahillahu ahillahu alaina alaina bil yumni bil yumni wal iman wal iman wassalamati wassalamati wal Islam wal Islam Rabbi Rabbi wa rabbukallah. Ah, itu tolong nanti dihafalkan, tadi sudah direkam, dibimbing, nanti ketika ditetapkan masuk awal Ramadan, bacakan itu. Ya Allah, anugerahkan awal Ramadan kepada kami dengan ketenangan, kedamaian, kekuatan iman, keselamatan, sehat enggak sakit sampai selesai puasanya, diberikan kekuatan untuk ibadah dalam keislaman dan diikhlaskan hanya karena Allah Subhanahu Wa Taala.

Kritikan Ilmiah:

Apabila kita melihat kepada hadits yang dimaksud, yaitu:

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا رَأَى الهِلَالَ قَالَ: اللَّهُمَّ أَهْلِلْهُ عَلَيْنَا بِاليُمْنِ وَالإِيمَانِ وَالسَّلَامَةِ وَالإِسْلَامِ، رَبِّي وَرَبُّكَ اللَّهُ

“Sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam apabila melihat hilal (bulan sabit), beliau mengucapkan: ‘Allahumma ahlilhu ‘alaina bil-yumni wal-iimani was-salaamati wal-islaam, Rabbii wa Rabbukallaah.’ (Ya Allah, tampakkanlah bulan itu kepada kami dengan membawa keberuntungan, keimanan, keselamatan, dan Islam. Tuhanku dan Tuhanmu (wahai bulan) adalah Allah).’ (H.R atTirmidzi, dishahihkan Syaikh al-Albaniy)

Secara lafadz, UAH juga keliru mendiktekan kepada jamaah dengan kata AHILLAHU. Padahal kalau di dalam lafadz atTirmidzi, yang benar Adalah AHLILHU. Kalau lafadz hadits AHILLAHU itu dalam riwayat lain, seperti Ahmad dalam Musnadnya, ad-Daarimiy dalam Sunannya, Ibnu Hibban dalam Shahihnya. Maka hal ini juga sama dengan kritikan ilmiah pada poin ke-2 nantinya bahwasanya UAH terlalu fokus menghafal nomor hadits tapi terluput dari hal yang lebih esensial, seperti lafadz haditsnya. Mengejar presisi pada nomor hadits, tapi terluput dari lafadz hadits yang sebenarnya lebih penting.

Kemudian, kesalahan fatal lainnya adalah bahwa hadits itu tidak berkenaan dengan doa menjelang Ramadan. Itu adalah doa untuk yang melihat hilal pada bulan apapun.

Syaikh Muhammad bin Sholih al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan bahwa itu adalah doa untuk yang melihat hilal, bukan yang mendengar bahwa hilal terlihat (Majmu’ Fatawa wa Rasail al-Utsaimin 19/38)

Poin Kedua: UAH Terlalu Fokus Pada Nomor Hadits Atau Bilangan Angka Hingga Luput Pada Yang Lebih Esensial

Di video “Kajian Musawarah – Menyiapkan Amalan Terbaik di Bulan Ramadhan – Ustadz Adi Hidayat”, UAH mengemukakan hadits Usamah bin Zaid yang bertanya mengapa Nabi banyak berpuasa di bulan Sya’ban. Kemudian Nabi shollallahu alaihi wasallam menjelaskan alasannya. Di situ, UAH menyebutkan hadits itu di Shahih Muslim nomor hadits 23357.

Presisi nomor haditsnya. Tapi salah kitab rujukan haditsnya. Karena hadits itu tidak terdapat dalam Shahih Muslim. Tapi adanya dalam Sunan an-Nasaai.

Jadi, UAH seperti orang yang presisi menyebut nomor kamar, tapi keliru dalam menyebut nama hotelnya. Bisa tepat benar dalam menyebut gang, cluster, atau bahkan nomor rumah, tapi salah dalam menyebut nama perumahannya.

Bagi para pelajar ilmu hadits, kitab Shahih Muslim secara umum adalah kitab shahih dengan validitas peringkat ke-2 setelah Shahih al-Bukhari. Sehingga, hadits yang ada dalam Shahih Muslim tidak perlu dicari siapa Ulama yang menshahihkan, karena mayoritas Ulama menilainya shahih. Berbeda dengan hadits dalam kitab induk hadits yang lain selain Shahih al-Buhari maupun Shahih Muslim, diperlukan penilaian siapa Ulama yang menshahihkannya.

Selain itu, penomoran hadits, barulah dikenal oleh orang belakangan. Kalau Ulama terdahulu, biasanya sekedar menyebut hadits itu dikeluarkan di kitab induk hadits apa dan kadang disebut pula siapa Sahabat Nabi yang meriwayatkan. Mereka tidak menyebut nomor. Penomoran itu baru dilakukan oleh orang-orang belakangan. Belum lagi, penomoran hadits pada penerbit yang berbeda bisa menghasilkan nomor yang berbeda.

Ketika mengisyaratkan hadits Usamah bin Zaid tentang puasa bulan Sya’ban, UAH menyatakan (berikut transkripnya):

Baik saya akan memulai dulu ee dengan satu Hadis standar dulu gimana nabi mempersiapkan diri sebelum masuk ke Ramadan hadisnya riwayat Muslim imam muslim nomor hadis 23357 23357 yang meriwayatkannya sahabat Usamah bin Zaid secara singkat sahabat Usamah ini satu kali mengamati nabi melakukan satu perilaku khusus di bulan syakban sahabat ini senang mengamati nabi apa yang dikerjakan diikutin gitu ya Secara singkatnya (VIDEO Kajian Musawarah – Menyiapkan Amalan Terbaik di Bulan Ramadhan – Ustadz Adi Hidayat, menit 45:06-45:37)

Yang benar adalah hadits itu diriwayatkan oleh an-Nasaai, bukan Muslim.

Terdapat dalam Sunan an-Nasaai pada nomor hadits 23357:

أُسَامَةُ بْنُ زَيْدٍ، قَالَ: قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، لَمْ أَرَكَ تَصُومُ شَهْرًا مِنَ الشُّهُورِ مَا تَصُومُ مِنْ شَعْبَانَ، قَالَ: ذَلِكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ، وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيهِ الْأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ، فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ

Usamah bin Zaid berkata: Aku berkata: Wahai Rasulullah, aku tidak melihat anda berpuasa pada bulan tertentu (selain Ramadan) yang lebih banyak dibandingkan di bulan Sya’ban. Nabi bersabda: Itu adalah bulan yang manusia lalai darinya. Berada di antara Rajab dan Ramadan. Itu adalah bulan diangkatnya amalan-amalan menuju Tuhan semesta alam. Sehingga aku suka jika amalanku diangkat dalam keadaan aku berpuasa (H.R an-Nasaai)

Saudaraku, kesalahan dalam menyebut bahwa suatu hadits diriwayatkan oleh Ulama siapa adalah suatu hal yang bisa dialami siapa saja. Termasuk saya sendiri. Karena itu, penting bagi kita untuk jangan mendemonstrasikan kekuatan hafalan kita dalam kondisi sebenarnya memungkinkan bagi kita membacanya dari kitab Ulama atau catatan yang kita buat sendiri. Baik catatan tulis manual, atau catatan digital.

Tidak ada yang meragukan kekuatan hafalan al-Imam Ahmad. Bahkan sebagian pihak mempersaksikan bahwa beliau hafal 1 juta hadits, lengkap dengan sanadnya. Tapi beliau lebih banyak membacakan hadits dari catatan beliau. Untuk memastikan bahwa apa yang disampaikan benar-benar sesuai dan peluang kesalahannya kecil.

Syaikh Abdullah bin Abdirrahim al-Bukhari juga dikenal pakar hadits di Madinah. Kekuatan hafalannya luar biasa. Tapi dalam menyampaikan kajian, tidak jarang beliau membaca dari makalah. Itu yang terlihat dari beberapa rekaman muhadharah yang beliau sampaikan.

Jangan sampai, agar mengundang decak kagum dan terungkap suatu pujian: “Wah, ustadz itu hebat. Setiap menyampaikan tidak pernah pegang kitab, kebanyakan dari hafalannya”, kemudian kita mengorbankan penyampaian yang lebih tepat dan akurat. Padahal kita sebenarnya bisa menyampaikannya dengan melihat catatan atau kitab. Beda halnya apabila kita diminta secara mendadak menyampaikan suatu taushiyah, ta’lim, tanpa ada persiapan. Atau memang belum sempat menyusun materi yang akan disampaikan, tidak mengapa kita menyampaikannya berdasarkan hafalan kita. Dengan tetap memberi kesempatan kepada para hadirin atau siapa saja yang mendengar kajian itu apabila ditemukan kesalahan, bisa disampaikan koreksinya.

Poin Ketiga: Kesalahan UAH Dalam Menisbatkan Penghapusan Seluruh Dosa Karena Shalat Malam Di Bulan Ramadan Kecuali Utang, Sebagai Pendapat Ulama

UAH menyatakan:

….nah keutamaan Tarawih dan itu amal pertama di Ramadan kalau kita baru menunaikan saja salam dua rakaat dan mengerjakan apa yang Nabi Tunjukkan semua dosa yang pernah dilakukan gugur seketika semua. catat Ini semua dosanya gugur tapi saya klarifikasi dulu ya catatan ini penting kecuali utang utang tetap dibayar tidak lunas ya ya ini Ini catatan ulama hadis catatan ulama hadis kalau ngaji hadis ini ada catatan khusus di situ yang digugurkan adalah dosa. Bukan hutang kata para ulama tuh ya….(VIDEO Kajian Musawarah – Menyiapkan Amalan Terbaik di Bulan Ramadhan – Ustadz Adi Hidayat, menit 1:11:07 – 1:11:42)

Kritikan Ilmiah terhadap pernyataan UAH tersebut: 

Kalau kita merujuk pada syarh para Ulama terhadap hadits melakukan qiyamu Ramadan dengan iman dan ihtisab, mereka akan menyoroti perbedaan pendapat apakah dosa yang terhapuskan itu semua dosa (termasuk dosa besar) atau dosa kecil saja. Sebagaimana hal itu dijelaskan dalam Fathul Baariy Syarh Shahih al-Bukhari karya Ibnu Hajar al-Asqolaaniy, maupun an-Nawawiy ketika mensyarh Shahih Muslim. Bukan pengecualian terhadap utang. Kalau pengecualian terhadap utang itu adalah pembahasan hadits yang lain, yaitu orang yang mati syahid terbunuh di jalan Allah, bisa diampuni seluruh dosanya kecuali utang. Hal ini adalah hadits Shahih Muslim dari Sahabat Abu Qotadah maupun Abdullah bin Amr bin al-Ash.

عَنْ أَبِي قَتَادَةَ، أَنَّهُ سَمِعَهُ، يُحَدِّثُ عَنْ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، أَنَّهُ قَامَ فِيهِمْ فَذَكَرَ لَهُمْ أَنَّ الْجِهَادَ فِي سَبِيلِ اللهِ، وَالْإِيمَانَ بِاللهِ أَفْضَلُ الْأَعْمَالِ، فَقَامَ رَجُلٌ، فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ، أَرَأَيْتَ إِنْ قُتِلْتُ فِي سَبِيلِ اللهِ، تُكَفَّرُ عَنِّي خَطَايَايَ؟ فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «نَعَمْ، إِنْ قُتِلْتَ فِي سَبِيلِ اللهِ، وَأَنْتَ صَابِرٌ مُحْتَسِبٌ، مُقْبِلٌ غَيْرُ مُدْبِرٍ» ، ثُمَّ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «كَيْفَ قُلْتَ؟» قَالَ: أَرَأَيْتَ إِنْ قُتِلْتُ فِي سَبِيلِ اللهِ أَتُكَفَّرُ عَنِّي خَطَايَايَ؟ فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: نَعَمْ، وَأَنْتَ صَابِرٌ مُحْتَسِبٌ، مُقْبِلٌ غَيْرُ مُدْبِرٍ، إِلَّا الدَّيْنَ، فَإِنَّ جِبْرِيلَ عَلَيْهِ السَّلَامُ قَالَ لِي ذَلِكَ

dari Abu Qotadah yang ia dengar menyampaikan hadits dari Rasulullah shollallahu alaihi wasallam bahwasanya beliau berdiri di hadapan mereka dan menyebutkan kepada mereka: Sesungguhnya jihad di jalan Allah dan beriman kepada Allah adalah amalan yang paling utama. Kemudian bangkitlah seorang laki-laki dan berkata: Wahai Rasulullah, bagaimana pendapat anda jika aku terbunuh di jalan Allah apakah dosa-dosaku terhapuskan? Rasulullah shollallahu alaihi wasallam bersabda kepadanya: Ya, jika engkau terbunuh di jalan Allah dalam keadaan bersabar, mengharapkan pahala, menghadap ke depan tidak mundur. Kemudian Rasulullah shollallahu alaihi wasallam berkata: Bagaimana ucapanmu tadi? Orang itu berkata: Bagaimana pendapat anda jika aku terbunuh di jalan Allah, apakah dosa-dosaku akan terhapuskan? Rasulullah shollallahu alaihi wasallam bersabda: Ya, jika engkau dalam keadaan bersabar, mengharapkan pahala, menghadap ke depan tidak mundur. Kecuali utang. Sesungguhnya Jibril alaihis salaam berkata demikian baru saja kepadaku. (H.R Muslim)

يُغْفَرُ لِلشَّهِيدِ كُلُّ ذَنْبٍ إِلاَّ الدَّيْنَ

Diampuni bagi orang yang mati syahid seluruh dosanya kecuali utang (H.R Muslim dari Abdullah bin Amr bin al-Ash)

Kita kembali kepada pembahasan shalat malam bisa menghapuskan dosa yang telah lalu. Hadits yang akan kita kemukakan adalah hadits dalam Shahih al-Bukhari dan Ulama yang mensyarah hadits itu adalah al-Hafidzh Ibnu Hajar al-Asqolaaniy. Nampak di sana bahwa yang dikaji oleh para Ulama adalah apakah penghapusan dosa itu berlaku hanya untuk dosa kecil ataukah juga untuk dosa besar. Itu yang dibahas Ulama dalam syarh-syarhnya. Bukan mengecualikan penghapusan dosa dengan utang. Kalaulah kita ingin mengarahkan agar orang-orang yang mendengar penjelasan itu jangan sampai ujub dan merasa dosanya sudah diampuni dengan sekadar shalat 2 rakaat di malam Ramadan, ingatkan bahwa dosa yang berkaitan dengan manusia tidak bisa dilebur hanya dengan itu. Harus ditunaikan tanggungan kita kepada manusia. Apabila ada kesalahan minta maaf atau minta dihalalkan. Kalau punya janji atau utang, berusahalah dilunasi. Jangan menyandarkan itu sebagai pandangan Ulama dalam ilmu hadits.

Berikut ini hadits dan penjelasan Ulama terhadap hadits itu:

عَنِ ابْنِ شِهَابٍ قَالَ: أَخْبَرَنِي أَبُو سَلَمَةَ: أَنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ: «سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ لِرَمَضَانَ: مَنْ قَامَهُ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا، غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Dari Ibnu Syihab ia berkata: telah mengkhabarkan kepadaku Abu Salamah bahwasanya Abu Hurairah –semoga Allah meridhainya – berkata: Aku mendengar Rasulullah shollallahu alaihi wasallam bersabda tentang Ramadan: Barang siapa yang qiyamul lail (di bulan itu) dengan iman dan berharap pahala, akan diampuni dosanya yang telah lalu (H.R al-Bukhari)

Al-Hafidzh Ibnu Hajar al-Asqolaaniy rahimahullah menyatakan:

قَوْلُهُ غُفِرَ لَهُ ظَاهِرُهُ يَتَنَاوَلُ الصَّغَائِر والكبائر وَبِه جزم بن الْمُنْذِرِ وَقَالَ النَّوَوِيُّ الْمَعْرُوفُ أَنَّهُ يَخْتَصُّ بِالصَّغَائِرِ وَبِهِ جَزَمَ إِمَامُ الْحَرَمَيْنِ وَعَزَاهُ عِيَاضٌ لِأَهْلِ السُّنَّةِ قَالَ بَعْضُهُمْ وَيَجُوزُ أَنْ يُخَفِّفَ مِنَ الْكَبَائِرِ إِذَا لَمْ يُصَادِفْ صَغِيرَةً

Sabda Nabi: “Akan diampuni dosanya”, secara dzhahir mencakup dosa kecil dan dosa besar. Itu yang ditegaskan oleh Ibnul Mundzir. An-Nawawiy berkata: yang sudah dikenal (dari penjelasan Ulama) adalah bahwa hal itu khusus untuk dosa-dosa kecil. Sebagaimana ditegaskan oleh Imamul Haramain, dan Iyaadl menilainya sebagai pandangan Ahlussunnah. Sebagian mereka menyatakan bahwa bisa saja dengan sebab itu dosa-dosa besar menjadi diringankan jika tidak mendapati dosa kecil lagi (Fathul Baari 4/251)

Poin Keempat: Kesalahan Dalam Riwayat Tentang Tinta Ulama Ditimbang Dengan Darah Syuhada’. Riwayatnya Sebenarnya Sangat Lemah Atau Bahkan Dinilai Oleh Sebagian Ulama Sebagai Riwayat Palsu

Hal ini bersumber dari video ceramah UAH yang disampaikan pada tahun 2020, saat masih masa pandemi, sehingga orang-orang banyak yang tinggal di rumah. Mungkin beliau ingin menyampaikan bahwa dengan belajar ilmu agama dari rumah, itu suatu keutamaan yang besar. Namun sayangnya, beliau mengisyaratkan pada riwayat yang tidak shahih.

UAH menyatakan:

….tidaklah semua orang beriman berjuang ke medan perang seluruhnya. Aku turunkan satu amalan yang kalaupun ia kerjakan nilainya sama dengan yang berjuang fisabilillah di medan perang. Statusnya sama. Masya Allah. Apalagi di masa tenang ya masa sekarang banyak PSBB. Kemudian aktivitas banyak di rumah. Ini peluangnya besar. Ini amalan senilai dengan jihad Fii sabiilillah kalau wafat Mujahid dia statusnya yang wafat ditimbang penanya seperti ditimbang darah para syuhada demikian nanti ada satu riwayat yang sampai kepada kita ….(Video [HD LIVE] Fiqh Ramadhan – Ustadz Adi Hidayat, 22 April 2020 menit 13:29 – 14:06)

Kritikan Ilmiah terhadap pernyataan UAH ini:

Riwayat yang diisyaratkan oleh UAH itu tidaklah shahih. Berikut ini kutipannya:

يُوزَنُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ‌مِدَادُ ‌الْعُلَمَاءِ ‌وَدَمُ ‌الشُّهَدَاءِ

Akan ditimbang pada hari kiamat tinta para Ulama dengan darah para Syuhada’ (H.R Ibnu Abdil Barr dalam Jami’ Bayanil Ilmi wa Fadhlih dari Abud Dardaa’)

Di dalam sanad riwayat ini terdapat Ismail bin Abi Ziyaad yang dinilai sebagai pemalsu hadits oleh Ibnu Hibban dan dinilai matruk oleh ad-Daraquthniy, sehingga dinilai sebagai riwayat palsu oleh Syaikh al-Albaniy dalam Silsilah al-Ahadits ad-Dhaifah wal Maudhu’ah nomor 4832.

Demikianlah pemaparan kritikan ilmiah untuk Ustadz Adi Hidayat berkaitan dengan Kajian Ramadan. Ini hanya catatan kecil terhadap sedikit video ceramah beliau yang didapatkan secara acak dari sedikit sample.

Semoga Allah Ta’ala senantiasa melimpahkan taufiq, rahmat, pertolongan, dan ampunan-Nya kepada segenap kaum muslimin.


Penulis: Abu Utsman Kharisman