Beranda » Latest » Artikel » Fatwa » Sunnahnya Mengirim Makanan Untuk Keluarga yang Berduka

Sunnahnya Mengirim Makanan Untuk Keluarga yang Berduka

0
food-3166385_640

Pertanyaan:

Syaikh yang mulia, surat ini datang dari Boumerdes Aljazair, dari penanya Abdur Ra’uf. Ia berkata dalam pertanyaan pertamanya: Bagaimana hukum syariat mengenai apa yang disebut ‘makan malam mayit’ (atau jamuan untuk kematian), Syaikh?

Jawaban Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz rahimahullah menyatakan:

Jika mereka (kerabat atau tetangga) memberikan jamuan… Jamuan untuk keluarga mayit adalah sunnah.

Jika seseorang meninggal, disyariatkan bagi tetangganya dan kerabatnya untuk menjamu mereka, yaitu mengirimkan makanan (makan malam) kepada mereka. Ini karena keluarga tersebut sedang sibuk dengan musibah yang menimpa.

Telah ditetapkan dari Nabi ﷺ, bahwa ketika datang berita bahwa Ja’far (bin Abi Thalib) radiyallahu ‘anhu terbunuh dalam Perang Mu’tah, Nabi ﷺ bersabda kepada keluarganya: “Buatkanlah untuk keluarga Ja’far makanan, karena sungguh telah datang kepada mereka apa yang menyibukkan mereka.”

Oleh karena itu, jika kerabat atau tetangga seseorang meninggal, dianjurkan (disukai/mustahab) bagi tetangga atau kerabat lain untuk membuatkan makanan bagi keluarga tersebut, karena mereka disibukkan oleh kematian.

Adapun keluarga mayit, mereka tidak boleh membuat apa pun. Itu adalah bid’ah (hal baru yang diada-adakan dalam agama), yaitu jika mereka membuat makanan untuk orang lain dan mengundang orang lain. Ini disebut ma’tam (perkumpulan ratapan/berkabung), dan ini tidak benar.

Jarir bin Abdillah Al-Bajali radiyallahu ‘anhu berkata: “Kami menganggap berkumpul di rumah keluarga mayit dan membuat makanan setelah kematian sebagai bagian dari An-Niyahah (meratap).”

Mereka berkumpul untuk meratapi mayit, atau membuatkan makanan untuk orang-orang dan mengundang mereka—ini tidak benar.

Adapun jika orang-orang datang untuk menyampaikan takziyah, atau tetangga, atau lainnya datang untuk menghibur mereka, atau mereka mengirimkan makanan kepada keluarga mayit karena mereka sedang sibuk—maka tidak mengapa (tidak masalah).


Transkrip Fatwa dalam Bahasa Arab

السؤال: سماحة الشيخ! هذه الرسالة وصلت من الجزائر بمرداس، من السائل عبد الرؤوف، يقول في سؤاله الأول: ما حكم الشرع فيما يسمى بعشاء الميت يا شيخ؟

الجواب: إذا عشوا … الميت سنة، إذا مات إنسان شرع لجيرانه، وأقاربه أن يعشوهم، أن يبعثوا لهم عشاء؛ لأنهم مشغولون بالمصيبة، ثبت عنه ﷺ: أنه لما جاء خبر جعفر جعفر بن أبي طالب لما قتل في غزوة مؤتة، قال لأهله ﷺ: اصنعوا لآل جعفر طعامًا؛ فقد أتاهم ما يشغلهم فإذا مات قريب الإنسان، أو جاره؛ استحب لأهله أن يصنعوا لهم طعامًا؛ لأنهم شغلوا بالموت

أما أهل الميت، فلا يصنعوا شيئًا، بدعة، كونهم يصنعون للناس، ويدعون للناس هذا يسمى مأتم، ما يصلح، يقول جرير بن عبد الله البجلي : “كنا نعد الاجتماع إلى أهل الميت، وصنعة الطعام بعد الموت من النياحة” يجتمعون لينوحوا عليه، أو ليصنعوا للناس طعامًا يدعونهم، هذا لا يصلح، أما يأتون للتعزية، يأتي الجيران، أو غيرهم يعزونهم، أو يبعثون لهم طعامًا؛ لأنهم مشغولون؛ فلا بأس

Sumber: https://binbaz.org.sa/fatwas/16315/استحباب-صنع-الطعام-لاهل-الميت