Beranda » Latest » Artikel » Fatwa » Fatwa Al Lajnah Ad Daimah Tentang Bekerja di Bank, Bea Cukai, atau Kantor Pajak

Fatwa Al Lajnah Ad Daimah Tentang Bekerja di Bank, Bea Cukai, atau Kantor Pajak

0
euro_seem_money_finance_piggy_bank_save_cent_coins-868415

Pertanyaan (Fatwa No. 7883)

Saya adalah lulusan sarjana ekonomi (perdagangan) sejak tiga tahun lalu. Hingga saat ini saya belum mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan ijazah saya karena kondisi di luar kendali saya, namun itu adalah kehendak Allah. Saya telah menunggu hingga kesempatan itu datang, dan saya dihadapkan pada pilihan pekerjaan berikut:

  1. Bekerja di Bank.

  2. Bekerja di Dinas Bea Cukai.

  3. Bekerja di Kantor Pajak.

Karena setiap orang wajib memastikan kehalalan sumber penghasilan dan pekerjaannya, maka saya harus bertanya kepada saudara-saudara yang mulia yang kami mengiranya berada dalam kebaikan, meskipun kami tidak mendahului Allah dalam memuji seseorang pun. Salah satunya adalah Syaikh Muhammad Ahmad al-Muqaddam yang disebut juga Muhammad Ismail. Beliau menyarankan saya mengirim surat kepada Yang Mulia (al-Lajnah ad Daimah) untuk meminta fatwa. Beliau juga menyatakan bahwasanya bank tidak diragukan lagi keharamannya. Adapun terkait pajak dan bea cukai, beliau mengarahkan untuk bertanya kepada Yang Mulia (al-Lajnah ad Daimah)

Ada pendapat lain dari seorang ulama Mesir yang mengatakan: “Jika kita katakan ini haram dan itu haram lalu kita tidak bekerja di sana, maka kita meninggalkan posisi-posisi sensitif negara tersebut untuk orang non-muslim.” Beliau berpendapat agar muslim tetap bekerja di bank dan tidak meninggalkannya untuk non-muslim sampai tiba urusan Allah di mana bank-bank tersebut dikelola dengan cara syariat yang benar. Bagaimana pendapat Anda?

Dan saya ingin memberikan kepada Yang Mulia sebuah gambaran singkat mengenai hakikat pekerjaan yang akan saya lakukan jika saya menerima pekerjaan di Bea Cukai atau Pajak.

Adapun mengenai Bea Cukai: Yang Mulia tentu mengetahui bahwa semua barang dan komoditas datang ke Bea Cukai dari luar negeri, baik itu komoditas dan barang yang diperbolehkan (mubah) maupun yang diharamkan seperti khamar (minuman keras), tembakau, dan lain-lain.

Pekerjaan saya di sana adalah sebagai petugas bea cukai yang bertugas memeriksa barang-barang tersebut, menentukan jenisnya, serta mencocokkannya dengan dokumen dan surat-surat resminya sebagai langkah awal untuk menentukan tarif biaya masuk (bea) atas barang tersebut.

Jadi, pekerjaan saya di sini mengharuskan pemeriksaan dan penilaian terhadap komoditas serta barang-barang yang masuk, baik yang haram maupun yang halal, serta mencocokkannya dengan daftar pengiriman barang yang menyertainya.

Bagaimanakah pendapat Yang Mulia mengenai jenis pekerjaan seperti ini?

Berikanlah fatwa kepada kami, semoga Anda mendapatkan pahala.

Adapun mengenai Pajak: Sistem perpajakan Mesir menetapkan bahwa seseorang wajib membayar sejumlah uang tertentu atau kewajiban finansial sebagai hak mutlak bagi negara, yang dipungut secara paksa dan rida tidak rida dari individu. Tugas saya di sana nantinya adalah menentukan besaran pajak tertentu yang dikenakan kepada orang tertentu, serta memungutnya dari mereka secara paksa, tanpa pilihan, dan penuh tekanan. Sebagaimana yang dikatakan kepada kami: bahwa ini adalah salah satu jenis Al-Makus (pungutan haram/liar).

Pajak-pajak ini dibebankan kepada para pemilik tempat hiburan malam, kelab malam (cabaret), kasino, pemilik kendaraan, aktor/artis, pedagang, pengrajin, petani, perusahaan, hingga pabrik. Dengan demikian, upah (gaji) yang akan saya terima merupakan campuran dari kumpulan jenis-jenis pajak tersebut.

Setelah saya berhasil—dengan pertolongan Allah—memberikan gambaran singkat kepada Anda mengenai pekerjaan di Bank, Bea Cukai, dan Pajak, maka harapan kami kepada Yang Mulia adalah memberikan fatwa kepada kami terkait ketiga pekerjaan tersebut; sebuah fatwa yang membuat kami tidak perlu lagi bertanya kepada siapa pun setelahnya. Kami berjanji dengan janji yang jujur, kapan pun fatwa ini sampai kepada kami, kami akan melaksanakannya dengan penuh amanah apa pun konsekuensinya dan kami tidak akan ragu-ragu.

Kami memohon kepada Anda untuk segera mengirimkan fatwa ini, karena saya sudah hampir mulai bekerja di Bea Cukai. Kami mendoakan semoga Anda sukses, semoga Allah memberkahi Anda untuk kami, dan menjadikan Anda sandaran serta penolong bagi seluruh umat Islam. Semoga Allah memberi Anda taufik dan memantapkan langkah Anda.”

Jawaban al-Lajnah ad-Daimah

Pertama: Jika pekerjaan di kantor pajak sesuai dengan kriteria yang Anda sebutkan, maka hukumnya adalah Haram juga; karena di dalamnya terdapat unsur kezaliman dan kesewenang-wenangan, serta terdapat unsur melegalkan hal-hal yang haram (seperti tempat maksiat) dan memungut pajak atas hal tersebut.

Kedua: Cara mencari nafkah tidaklah terbatas pada pekerjaan yang disebutkan tadi, dan tidak terbatas pada jabatan sebagai pegawai saja. Pintu-pintu mencari nafkah yang halal untuk mendapatkan kekayaan dan memenuhi kebutuhan hidup sangatlah banyak.

Maka, seorang muslim wajib bertakwa kepada Allah dan menempuh jalan-jalan mencari nafkah yang halal demi mencari rida Allah, agar Allah memudahkan urusannya. Allah Ta’ala berfirman:

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا (2) وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا (3)

“Barang siapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar, dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)-Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan (takdir) bagi tiap-tiap sesuatu.” (QS. At-Thalaq: 2-3)

Wabillahit taufiq, semoga sholawat serta salam tercurah kepada Nabi kita Muhammad, keluarga, dan para sahabatnya.


Sumber: Fatawa al-Lajnah ad-Daimah lil Buhuts al-Ilmiyyah wal Ifta (Jilid 15, hal. 64-67)


Tertanda:

  • Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz (Ketua)
  • Syaikh Abdurrazzaq Afifi (Wakil Ketua)
  • Syaikh Abdullah bin Ghudayyan (Anggota)
  • Syaikh Abdullah bin Qu’ud (Anggota)

Naskah Fatwa dalam Bahasa Arab

الفتوى رقم (7883)

س: إنني حاصل على بكالوريوس تجارة منذ ثلاث سنوات، وحتى الآن لم أجد عملا بالشهادة، وذلك لظروف لا دخل لي بها، ولكنها إرادة الله، وانتظرت حتى تحين الفرصة، وكان علي أن أقبل عملا من الأعمال الآتية: إما العمل بالبنوك، أو العمل بمصلحة الجمارك، أو العمل بمصلحة الضرائب، ولأنه مفروض على كل إنسان أن يتحرى الحلال في مصدر دخله وعمله الذي يقوم به، من هنا كان لا بد من سؤال الأخوة الأفاضل الذين نحسبهم على خير ولا نزكي على الله أحدا، ومنهم على سبيل المثال: الأخ الشيخ محمد أحمد المقدم المكنى بمحمد إسماعيل ولكنه قال لي: أن أرسل خطابا إلى فضيلتكم لتقديم الفتوى، وأفادني بأن البنوك لا تقبل الشك في حرمتها، فهي حرام ولا شك، أما بالنسبة للضرائب والجمارك فأوكلني بهما لفضيلتكم، وهناك رأي آخر لأحد العلماء المصريين يقول: إننا نقول إن هذا حرام، وذلك حرام ولا نعمل فيهما، ونتركهما لغير المسلمين، وهي وظائف ولا شك حساسة في الدولة، وكان من رأيه أن يعمل المسلم في البنوك ولا نتركها لغير المسلمين حتى يحين أمر الله وتدار هذه البنوك بالطريقة الشرعية السليمة، فما رأيكم في ذلك؟ وأحب أن أعطي لفضيلتكم نبذة مختصرة عن ماهية العمل الذي سأقوم به لو قبلت العمل بالجمارك أو الضرائب، فبالنسبة للجمارك: فيعلم فضيلتكم أن الجمارك تأتي لها من الخارج جميع البضائع والسلع سواء كانت سلعا وبضائع مباحة أو كانت محرمة كالخمور والتبغ وغيرها، وعملي في ذلك هو: أنني مأمور جمرك أقوم بفحص هذه البضائع وتحديد نوعيتها ومطابقتها للمستندات، والأوراق الخاصة بها تمهيدا لتحديد الرسوم الجمركية عليها، فوظيفتي هنا تستلزم فحص وتقييم السلع والبضائع الواردة سواء كانت محرمة أو محللة ومطابقتها لقوائم الشحن الواردة مع البضائع، فما رأي فضيلتكم في مثل هذه النوعية من الأعمال؟ أفتونا مأجورين. أما بالنسبة للضرائب: فالنظام الضريبي المصري يقتضي أن يدفع الشخص مبلغا معينا من المال أو فريضة نقدية كحق مطلق للدولة وهي تحصل قسرا وجبرا من الأفراد، ووظيفتي فيها ستكون هي تحديد الضريبة المعينة التي يخضع لها الشخص المعين وتحصيلها منه قسرا وعنوة وجبرا، فكما قيل لنا: إنها نوع من أنواع المكوس، فالضرائب هذه تفرض على أصحاب الملاهي والكباريهات والكازينوهات والسيارات والممثلين والتجار والصناع والمزارعين والشركات والمصانع، وبالتالي فالأجر الذي سوف أحصل عليه خليط من جملة هذه الأنواع من الضرائب، وبعد أن استطعت بعون الله أن أقدم لكم نبذة مختصرة عن العمل في كل من البنوك والجمارك والضرائب فرجاؤنا من فضيلتكم إفتاؤنا بخصوص الثلاثة أعمال السابقة، فتوى لا نسأل أحدا بعدها، ونعدكم عهدا صادقا متى جاءتنا الفتوى سنقوم بتنفيذها بكل أمانة مهما كانت النتائج وما تلكأنا. ونرجو منكم المسارعة في إرسال الفتوى، حيث إنني على وشك العمل في الجمارك، نرجو لكم التوفيق، وبارك الله لنا فيك، وجعلكم سندا وعونا للأمة الإسلامية جميعا، وفقكم الله وسدد خطاكم.

ج: أولا: إذا كان العمل بمصلحة الضرائب على الصفة التي ذكرت فهو محرم أيضا؛ لما فيه من الظلم والاعتساف، ولما فيه من إقرار المحرمات وجباية ضريبة عليها. ثانيا: ليست طرق الكسب وقفا على ما ذكر من الأعمال، ولا محصورة في الوظائف، بل أبواب الكسب الحلال والحصول على ما يحتاجه الإنسان من الثروة وما يقوم بشئون حياته كثيرة، فعلى المسلم أن يتقي الله ويسلك طرق الكسب الحلال، إرضاء لله؛ لييسر الله أمره، وقال الله تعالى: {وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا} {وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا} وبالله التوفيق، وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم.

اللجنة الدائمة للبحوث العلمية والإفتاء

عضو … عضو … نائب الرئيس … الرئيس

عبد الله بن قعود … عبد الله بن غديان … عبد الرزاق عفيفي … عبد العزيز بن عبد الله بن باز