Beranda » Latest » Artikel » Fatwa » Pandangan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah tentang Apakah Ada Kewajiban Bermadzhab bagi Muslim

Pandangan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah tentang Apakah Ada Kewajiban Bermadzhab bagi Muslim

0
Pandangan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah tentang Apakah Ada Kewajiban Bermadzhab bagi Muslim

Pertanyaan:

Syaikh Taqiyuddin (Ibnu Taimiyyah) rahimahullah ditanya: Apa pendapat para ulama, imam-imam agama—semoga Allah meridhai mereka semua—mengenai seorang laki-laki yang ditanya: “Apa madzhabmu?”

Lalu ia menjawab: “Madzhabku Muhammadi; aku mengikuti Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

Kemudian dikatakan kepadanya: “Setiap mukmin sepatutnya mengikuti sebuah madzhab, dan barang siapa yang tidak bermadzhab maka dia adalah setan.” Laki-laki itu pun menyahut: “ Lalu apa madzhab Abu Bakar ash-Shiddiq dan para Khalifah setelahnya—semoga Allah meridai mereka?”

Lalu dikatakan lagi kepadanya: “Tidak pantas bagimu kecuali mengikuti salah satu dari madzhab-madzhab ini.” Maka manakah pihak yang benar? Berikanlah fatwa kepada kami, semoga Anda mendapatkan pahala.

Jawaban Beliau (Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah):

Alhamdulillah. Sesungguhnya yang wajib bagi manusia hanyalah menaati Allah dan Rasul-Nya. Adapun mereka yang merupakan Ulul Amri (pemegang otoritas/ilmu) yang Allah perintahkan untuk ditaati dalam firman-Nya (yang artinya): “Taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kalian.” (QS. An-Nisa: 59).

Ketaatan kepada mereka hanyalah wajib karena mengikuti ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya, bukan ketaatan yang bersifat independen (tersendiri). Kemudian Allah berfirman (yang artinya): “Kemudian jika kalian berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Quran) dan Rasul (Sunnahnya), jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagi kalian) dan lebih baik akibatnya.” (QS. An-Nisa: 59).

Apabila seorang muslim menghadapi suatu masalah, hendaknya ia meminta fatwa kepada orang yang ia yakini akan memberinya fatwa berdasarkan syariat Allah dan Rasul-Nya, dari madzhab mana pun ia berasal.

Tidak wajib bagi seorang pun muslim untuk bertaklid (fanatik buta) kepada person tertentu dari kalangan ulama dalam setiap apa yang ia katakan.

Tidak wajib pula bagi seorang pun muslim untuk berkomitmen pada madzhab tertentu selain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam setiap apa yang diwajibkan dan dikabarkannya.

Bahkan, setiap orang itu perkataannya bisa diambil atau ditinggalkan, kecuali Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Adapun seseorang mengikuti madzhab tertentu karena ketidakmampuannya untuk mengetahui syariat kecuali melalui jalur tersebut, maka hal itu termasuk perkara yang dibolehkan baginya. Namun, hal itu bukanlah perkara yang wajib bagi setiap orang jika ia mampu mengetahui syariat melalui jalan yang lain.

Bahkan, setiap orang wajib bertakwa kepada Allah semampunya, mencari ilmu tentang apa yang diperintahkan Allah dan Rasul-Nya, melaksanakan apa yang diperintahkan, dan meninggalkan apa yang dilarang. Wallahu a’lam.

(al-Fatawa al-Kubro libni Taimiyyah 1/207)

Naskah dalam Bahasa Arab

[مَسْأَلَةٌ الْتِزَامُ مَذْهَبِ شَخْصٍ مُعَيَّنٍ]

16 – مَسْأَلَةٌ:

سُئِلَ: الشَّيْخُ تَقِيُّ الدِّينِ رَحْمَةُ اللَّهِ عَلَيْهِ، مَا تَقُولُ السَّادَةُ الْعُلَمَاءُ أَئِمَّةُ الدِّينِ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ – أَجْمَعِينَ فِي رَجُلٍ سُئِلَ: إيشِ مَذْهَبُك؟ فَقَالَ: مُحَمَّدِيٌّ، أَتَّبِعُ كِتَابَ اللَّهِ، وَسُنَّةَ رَسُولِهِ مُحَمَّدٍ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – فَقِيلَ: لَهُ يَنْبَغِي لِكُلِّ مُؤْمِنٍ أَنْ يَتَّبِعَ مَذْهَبًا، وَمَنْ لَا مَذْهَبَ لَهُ فَهُوَ شَيْطَانٌ، فَقَالَ: إيشِ كَانَ مَذْهَبُ أَبِي بَكْرٍ الصِّدِّيقِ وَالْخُلَفَاءِ بَعْدَهُ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ -؟ فَقِيلَ لَهُ: لَا يَنْبَغِي لَك إلَّا أَنْ تَتَّبِعَ مَذْهَبًا مِنْ هَذِهِ الْمَذَاهِبِ فَأَيُّهُمْ الْمُصِيبُ؟ أَفْتُونَا مَأْجُورِينَ

فَأَجَابَ: الْحَمْدُ لِلَّهِ إنَّمَا يَجِبُ عَلَى النَّاسِ طَاعَةُ اللَّهِ وَرَسُولِهِ، وَهَؤُلَاءِ أُولُو الْأَمْرِ الَّذِينَ أَمَرَ اللَّهُ بِطَاعَتِهِمْ فِي قَوْلِهِ: {أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الأَمْرِ مِنْكُمْ} [النساء: 59] . إنَّمَا تَجِبُ طَاعَتُهُمْ تَبَعًا لِطَاعَةِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ، لَا اسْتِقْلَالًا، ثُمَّ قَالَ: {فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلا} [النساء: 59]

وَإِذَا نَزَلَتْ بِالْمُسْلِمِ نَازِلَةٌ فَإِنَّهُ يَسْتَفْتِي مَنْ اعْتَقَدَ أَنَّهُ يُفْتِيهِ بِشَرْعِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ مِنْ أَيِّ مَذْهَبٍ كَانَ، وَلَا يَجِبُ عَلَى أَحَدٍ مِنْ الْمُسْلِمِينَ تَقْلِيدُ شَخْصٍ بِعَيْنِهِ مِنْ الْعُلَمَاءِ فِي كُلِّ مَا يَقُولُ، وَلَا يَجِبُ عَلَى أَحَدٍ مِنْ الْمُسْلِمِينَ الْتِزَامُ مَذْهَبِ شَخْصٍ مُعَيَّنٍ غَيْرِ الرَّسُولِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – فِي كُلِّ مَا يُوجِبُهُ وَيُخْبِرُ بِهِ، بَلْ كُلُّ أَحَدٍ مِنْ النَّاسِ يُؤْخَذُ مِنْ قَوْلِهِ وَيُتْرَكُ إلَّا رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -. وَاتِّبَاعُ الشَّخْصِ لِمَذْهَبِ شَخْصٍ بِعَيْنِهِ لِعَجْزِهِ عَنْ مَعْرِفَةِ الشَّرْعِ مِنْ غَيْرِ جِهَتِهِ إنَّمَا هُوَ مِمَّا يَسُوغُ لَهُ، لَيْسَ هُوَ مِمَّا يَجِبُ عَلَى كُلِّ أَحَدٍ إذَا أَمْكَنَهُ مَعْرِفَةُ الشَّرْعِ بِغَيْرِ ذَلِكَ الطَّرِيقِ، بَلْ كُلُّ أَحَدٍ عَلَيْهِ أَنْ يَتَّقِيَ اللَّهَ مَا اسْتَطَاعَ وَيَطْلُبَ عِلْمَ مَا أَمَرَ اللَّهُ بِهِ وَرَسُولُهُ فَيَفْعَلُ الْمَأْمُورَ، وَيَتْرُكُ الْمَحْظُورَ، وَاَللَّهُ أَعْلَمُ

الفتاوى الكبرى لابن تيمية

Penerjemah: Abu Utsman Kharisman