Beranda » Latest » Artikel » Fiqh » Musafir yang Batal Wudhunya Saat Bermakmum kepada Imam Mukim

Musafir yang Batal Wudhunya Saat Bermakmum kepada Imam Mukim

0
4bef257a9f83fe42126f4ea05ce540fd

Pertanyaan:

Seorang musafir salat di belakang imam yang mukim (penduduk setempat), lalu wudhunya batal sehingga ia keluar dari salat. Kemudian ia kembali (setelah berwudhu lagi) dan mendapati imam telah selesai salat. Apakah ia harus melakukan salat secara sempurna (4 rakaat sebagaimana mukim) atau salat musafir (qashar)?

Jawaban Syaikh Rabi’ bin Hadi al-Madkhali rahimahullahu ta’ala:

Tidak, ia memulai salatnya dari awal dan tidak perlu salat dengan cara mukim. Khalas (cukup), ia salat dengan cara salat musafir.

Seandainya ia tetap (bersambung) bersama imam sampai selesai, maka wajib baginya untuk menyempurnakan salatnya (4 rakaat). Adapun ketika ia telah keluar dari salat, maka ia masuk kembali dalam salat yang baru. Sementara imam sudah selesai, urusan telah berakhir, tidak ada lagi hubungan salat antara engkau dengan imam tersebut.

Salatlah salat fardu yang diwajibkan atasmu (yaitu qashar). Berusahalah jika engkau mendapati jamaah lain dan imamnya seorang mukim yang baru, maka salatlah bersamanya dan ikuti salatnya. Jika tidak ada, maka Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai kesanggupannya; engkau salat dengan salat musafir (qashar).


Sumber: Kaset berjudul: Nasihat li Ba’dhil Musafirin

Transkrip Fatwa dalam Bahasa Arab

السؤال : مسافر صلى وراء مقيم وانتقض وضوءه فخرج من الصلاة ثم رجع ووجد الإمام قد انصرف هل يصلي صلاة مقيم أم مسافر؟

أجاب عنه الشيخ ربيع بن هادي المدخلي رحمه الله تعالى: لا، يستأنف الصلاة ولا يصلي صلاة مقيم، خلاص، يصلي صلاة مسافر، لو بقي مع الإمام حتى يتم يجب أن يتم الصلاة، أما وقد خرج من الصلاة فهو دخل من جديد في صلاة جديدة، انصرف الإمام، انتهى، ما فيه صلاة بينك وبينه، صل الصلاة المفروضة عليك، حاول إذا حصلت صلاة مجموعة وبينهم إمام مقيم جديد صل معه، صلي بصلاته، وإلا لا يكلف الله نفسا إلا وسعها، تصلي صلاة المسافر.

[شريط بعنوان: نصيحة لبعض المسافرين]