Beranda » Latest » Artikel » Aqidah » Intisari Pemahaman Ahlussunnah Wal Jama’ah
sunset-473604_640

Imam Abdul Qohir bin Thohir Al Baghdadi (w. 429 H) rahimahullah ketika menjelaskan berbagai golongan yang dimaksudkan dalam hadits Nabi ﷺ tentang perpecahan umat menjadi 73 golongan, yang 72 di neraka dan 1 di surga, beliau rahimahullah membuat intisari kesimpulan golongan yang selamat tersebut;

“Adapun golongan yang ke-73 adalah Ahlus Sunnah wal Jama‘ah dari dua bagian kelompoknya: ahlur-ra’yi¹ dan ahlul hadits, selain pihak yang ‘membeli lahwul-hadits’². Para fuqaha dari kedua kelompok ini, para qari, para ahli hadits, dan para pakar diskusi dari kalangan ahli hadits, semuanya sepakat di atas satu keyakinan dalam hal tauhid Sang Pencipta, ciri-ciri tauhid, Keadilan-Nya, Hikmah-Nya, serta pada Nama-nama dan Sifat-sifat-Nya.

(Mereka berkeyakinan yang seragam) juga dalam bab kenabian dan imamah, dalam hukum akhirat, dan dalam seluruh prinsip-prinsip dasar agama. Mereka hanya berbeda pendapat dalam masalah halal dan haram berupa cabang-cabang hukum. Sementara perbedaan itu tidak berkonsekwensi saling menilai sesat atau fasik. Mereka itulah Al Firqatun-najiyah (golongan yang selamat).

Golongan ini dihimpun oleh pengakuan terhadap tauhid Sang Pencipta, sifat Azali-Nya yang Qadim, dan kesempatan untuk bisa melihat-Nya (di surga kelak-pen.) tanpa tasybih (menyerupakan-Nya dengan makhluk) dan tanpa ta‘thil (meniadakan sifat-sifat-Nya), disertai pengakuan terhadap kitab-kitab Allah, rasul-rasul-Nya, penguatan terhadap syariat Islam, menghalalkan hukum yang dihalalkan Al-Qur’an, mengharamkan hal yang diharamkan Al-Qur’an, dengan tetap terikat pada ketentuan yang sah dari sunnah Rasulullah ﷺ.

Termasuk pula keyakinan tentang kebangkitan dan perkumpulan (pada hari kiamat), pertanyaan kedua malaikat di alam kubur, pengakuan terhadap telaga (Al Haudh) dan mizan (timbangan amal, catatan amal dan jasad insan).

Maka siapa saja yang berpegang teguh pada keyakinan yang telah kami sebutkan ini dan tidak mencampurkan imannya dengan suatu bid‘ah dari bid‘ah Khawarij, Rafidhah, Qadariyyah, maupun seluruh para pengikut hawa nafsu, berarti ia termasuk bagian dari golongan yang selamat tersebut, apabila Allah menutup hidupnya dengan keimanan seperti itu.

Telah masuk dalam golongan besar ini mayoritas umat dan kelompok terbesarnya, yaitu termasuk para pengikut (keyakinan aqidah seperti) Imam Malik, asy-Syafi‘i, Abu Hanifah, al-Awza‘i, ats-Tsauri, dan Ahluzh-Zhahir.”


Sumber: Al Farq baina Al Firaq, hal. 19-20

Catatan:
1) Sebutan ahlur-ra’yi (pihak yang mengandalkan nalar) adalah julukan di masa perkembangan awal madzhab-madzhab fiqh. Disematkan kepada Ibrahim An-Nakha’i dan kemudian Imam Abu Hanifah di Baghdad, karena relatif sedikitnya riwayat hadits yang bisa diperoleh, sehingga pendapat fiqih dari kawasan tersebut banyak yang berpanduan pada qiyas. Sementara sebutan ahlul hadits (pihak yang mengandalkan hadits), disematkan bagi para ulama Hijaz, asal perkembangan Imam Malik yang kemudian ciri mendahulukan rujukan hadits sebagai acuan bagi madzhab Asy-Syafi’i (jadid) dan berikutnya Imam Ahmad juga Azh-Zhahiriyyah. Jadi bukan sebutan ahlur-ra’yi secara aqidah untuk para penganut filsafat, dua hal ini sama dalam sebutan, namun berbeda konteksnya.

2) Lahwul hadits disebutkan dalam ayat Al Quran dan ditafsirkan sebagai nyanyian atau ucapan indah yang menyaingi dalil syar’i. Sehingga kalangan yang disebut ‘membeli lahwul hadits’ adalah semua pihak yang tidak mengajarkan Al Quran dan hadits untuk berdakwah kepada Allah, seperti para pendongeng, penyanyi ataupun yang bermetode dakwah dengan cara mereka. Wallahu a’lam.

Naskah dalam bahasa Arab:

فاما الْفرْقَة الثَّالِثَة وَالسَّبْعُونَ فَهِيَ أهل السّنة وَالْجَمَاعَة من فريقى الرَّأْي والْحَدِيث دون من يشترى لَهو الحَدِيث وفقهاء هذَيْن الْفَرِيقَيْنِ وقراؤهم ومحدثوهم ومتكلمو أهل الحَدِيث مِنْهُم كلهم متفقون على مقَالَة وَاحِدَة فِي تَوْحِيد الصَّانِع وَصِفَاته وعدله وحكمته وَفِي اسمائه وَصِفَاته وفى ابواب النُّبُوَّة والإمامة وفى احكام العقبى وفى سَائِر اصول الدّين وانما يَخْتَلِفُونَ فِي الْحَلَال وَالْحرَام من فروع الاحكام وَلَيْسَ بَينهم فِيمَا اخْتلفُوا فِيهِ مِنْهَا تضليل وَلَا تفسيق وهم الْفرْقَة النَّاجِية

ويجمعها الاقرار بتوحيد الصَّانِع وَقدمه وَقدم صِفَاته الأزلية واجازة رُؤْيَته من غير تَشْبِيه وَلَا تَعْطِيل مَعَ الاقرار بكتب الله وَرُسُله وبتأييد شَرِيعَة الاسلام واباحة مَا أَبَاحَهُ الْقُرْآن وَتَحْرِيم مَا حرمه الْقُرْآن مَعَ قيود مَا صَحَّ من سنة رَسُول الله صلى الله عليه وسلم واعتقاد الْحَشْر والنشر وسؤال الْملكَيْنِ فِي الْقَبْر والاقرار بالحوض وَالْمِيزَان

فَمن قَالَ بِهَذِهِ الْجِهَة الَّتِي ذَكرنَاهَا وَلم يخلط ايمانه بهَا بِشَيْء من بدع الْخَوَارِج وَالرَّوَافِض والقدرية وَسَائِر اهل الاهواء فَهُوَ من جملَة الْفرْقَة النَّاجِية ان ختم الله لَهُ بهَا

وَقد دخل فِي هَذِه الْجُمْلَة جُمْهُور الامة وسوادها الْأَعْظَم من اصحاب مَالك وَالشَّافِعِيّ وأبى حنيفَة والأوزاعى والثورى وَأهل الظَّاهِر

Diterjemahkan oleh: Abu Abdirrohman Sofian