Beranda » Latest » Artikel » Aqidah » Terjaganya Para Nabi dari Kesalahan yang Berkaitan dengan Kejujuran dan Amanah

Terjaganya Para Nabi dari Kesalahan yang Berkaitan dengan Kejujuran dan Amanah

0
16dc182c64eb5b5ab4cb907b38e32f05

Pertanyaan:

Penanya dari Sudan menanyakan, “Wahai Fadhilatusy Syaikh, kita ketahui bahwasanya para Rasul ma’shum (terjaga) dari kesalahan. Apakah mereka terjaga dari kesalahan berkaitan dengan pensyariatan saja atau dalam segala perkara?”

Jawaban Syaikh Muhammad bin Sholih al-Utsaimin rahimahullah:

Para Nabi dan Rasul -semoga sholawat dan salam tercurah kepada mereka berbicara berdasarkan wahyu dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Mereka ma’shum (terjaga) dari segala kesalahan yang mencederai kejujuran dan amanah mereka. Ini adalah hal yang membuat mereka terpercaya.

Adapun yang terjadi dari ijtihad mereka, dalam hal itu kadang mereka salah. Nuh -semoga sholawat dan salam tercurah kepadanya- pernah meminta kepada Tuhannya untuk menyelamatkan anak laki-lakinya, kemudian Allah berfirman kepadanya:

إِنَّهُ لَيْسَ مِنْ أَهْلِكَ إِنَّهُ عَمَلٌ غَيْرُ صَالِحٍ فَلا تَسْأَلْنِ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنِّي أَعِظُكَ أَنْ تَكُونَ مِنَ الْجَاهِلِينَ

Sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu karena perbuatannya sungguh tidak baik. Oleh karena itu, janganlah engkau memohon kepada-Ku sesuatu yang tidak engkau ketahui (hakikatnya). Sesungguhnya Aku menasihatimu agar engkau tidak termasuk orang-orang bodoh (Q.S Hud ayat 46)

Rasulullah (Muhammad) shollallahu alaihi wasallam pernah mengharamkan apa yang Allah halalkan sebagai ijtihad dari beliau, kemudian Allah berfirman kepada beliau:

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ لِمَ تُحَرِّمُ مَا أَحَلَّ اللَّهُ لَكَ تَبْتَغِي مَرْضَات أَزْوَاجِكَ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ قَدْ فَرَضَ اللَّهُ لَكُمْ تَحِلَّةَ أَيْمَانِكُمْ

Wahai Nabi, mengapa engkau mengharamkan yang Allah halalkan kepadamu karena mengharamkan keridhaan para istrimu? Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Allah telah mewajibkan bagi kalian membayar sumpah kalian (Q.S atTahrim ayat 1-2)

Beliau juga pernah memaafkan (memberi izin) suatu kaum yang meminta izin untuk tidak berjihad (padahal mereka kaum munafik itu tidak memiliki udzur, pen). Kemudian Allah berfirman kepada beliau:

عَفَا اللَّهُ عَنْكَ لِمَ أَذِنتَ لَهُمْ حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكَ الَّذِينَ صَدَقُوا وَتَعْلَمَ الْكَاذِبِينَ

Allah memaafkan engkau karena memberi izin kepada mereka, hingga jelas bagimu siapakah di antara mereka yang jujur dan engkau mengetahui siapa yang berdusta (Q.S atTaubah ayat 43)

Namun, mereka terjaga (ma’shum) dari dibiarkan tetap berada dalam kesalahan. Artinya, kalau terjadi kesalahan dalam ijtihad mereka, sesungguhnya Allah Ta’ala pasti akan menjaga mereka untuk tidak terus menerus dalam kesalahan itu. Berbeda dengan orang lain yang tidak terjaga dari hal itu.


Sumber: Fatawa Nurun alad Darb lil Utsaimin 4/2)

Naskah dalam Bahasa Arab

‌‌هذا السائل يا فضيلة الشيخ من السودان يقول: يا فضيلة الشيخ نعلم أن الرسل معصومون من الخطأ، هل هم معصومون من الخطأ في التشريع فقط، أم في كل الأمور؟

 فأجاب رحمه الله تعالى: الأنبياء والرسل عليهم الصلاة والسلام يتكلمون بوحي الله سبحانه وتعالى، وهم معصومون من كل خطأ يخل بصدقهم وأمانتهم، وهذا هو محل الثقة فيهم. وأما ما نتج عن اجتهادٍ منهم فإنهم قد يخطئون فيه، فإن نوحاً عليه الصلاة والسلام سأل ربه أن ينجي ابنه، فقال الله له: (إِنَّهُ لَيْسَ مِنْ أَهْلِكَ إِنَّهُ عَمَلٌ غَيْرُ صَالِحٍ فَلا تَسْأَلْنِ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنِّي أَعِظُكَ أَنْ تَكُونَ مِنَ الْجَاهِلِينَ) . ورسول الله صلى الله عليه وعلى آله وسلم حرم ما أحل الله له اجتهاداً منه، فقال الله له: (يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ لِمَ تُحَرِّمُ مَا أَحَلَّ اللَّهُ لَكَ تَبْتَغِي مَرْضَات أَزْوَاجِكَ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ قَدْ فَرَضَ اللَّهُ لَكُمْ تَحِلَّةَ أَيْمَانِكُمْ) . وعفا عن قومٍ استأذنوه في الجهاد فقال الله له: (عَفَا اللَّهُ عَنْكَ لِمَ أَذِنتَ لَهُمْ حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكَ الَّذِينَ صَدَقُوا وَتَعْلَمَ الْكَاذِبِينَ) . لكنهم معصومون من الإقرار على الخطأ، يعني لو حصل منهم خطأ في اجتهادٍ اجتهدوه فإن الله تعالى لا بد أن يعصمهم من الاستمرار فيه، بخلاف غيرهم فإنهم لا يعصمون من ذلك

فتاوى نور على الدرب للعثيمين 4\2

Penerjemah: Abu Utsman Kharisman