11 Jumadil awal 1444
Beranda » Latest » Artikel » Adab » Ungkapan: Kita Lebih Membutuhkan Adab yang Baik Meski Sedikit, Dibandingkan Banyaknya Ilmu

Ungkapan: Kita Lebih Membutuhkan Adab yang Baik Meski Sedikit, Dibandingkan Banyaknya Ilmu

Ada sebuah ungkapan: “kita lebih membutuhkan adab yang baik, meski sedikit, dibandingkan banyaknya ilmu”. Apakah ungkapan itu benar? Siapakah yang menyatakan ungkapan semakna itu?

Tulisan dan kajian ini terinspirasi dari kajian yang disampaikan oleh Syaikh Abdurrahman bin Auf Kuuniy hafidzhahullah yang disiarkan melalui radio Miratsul Anbiyaa’. Judul kajian beliau adalah:

التعليق على أثر ابن المبارك رحمه الله: (نحن إلى قليل من الأدب أحوج منا إلى كثير من العلم)

“Catatan Ringkas terhadap Atsar Ibnul Mubarak: Kita Lebih Membutuhkan Kepada Adab (yang Baik, Meski) Sedikit, Dibandingkan Ilmu yang Banyak”

Terinspirasi dari kajian beliau yang sarat faidah tersebut, kemudian saya menambahkan beberapa catatan dari kalam Ulama, hadits Nabi, maupun penjelasan yang diperlukan dalam tulisan ini.

Tulisan ini akan menguraikan beberapa penjelasan, di antaranya:

  1. Siapakah Ulama Salaf yang menyatakan demikian?
  2. Apa makna ungkapan tersebut?
  3. Bagaimana doa-doa yang diajarkan Nabi untuk mendapatkan ilmu yang bermanfaat dan mendapatkan akhlak yang mulia?
  4. Meluruskan kesalahpahaman terkait ungkapan tersebut.

Semoga Allah Ta’ala memberikan taufiq dan pertolongan kepada kita.


Baca Juga: Interaksi yang Baik Antara Guru Dengan Murid


Kalam Ulama Salaf

Al-Laits bin Sa’ad rahimahullah (wafat tahun 175 H) pernah melihat penuntut ilmu hadits, kemudian beliau berkata:

أَنْتُمْ إِلَى يَسِيْرٍ مِنَ الْأَدَبِ أَحْوَجُ مِنْكُمْ إِلَى كَثِيْرٍ مِنَ الْعِلْمِ

Kalian lebih membutuhkan adab yang baik meski sedikit, dibandingkan ilmu yang banyak
(riwayat al-Khothib dalam kitab al-Jami’ li Akhlaaqir Roowiy wa Aadaabis Saami’)

Abdullah bin al-Mubarak (wafat tahun 181 H) menyatakan:

أَنْتُمْ إِلَى قَلِيْلٍ مِنَ الْأَدَبِ أَحْوَجُ إِلَى كَثِيْرٍ مِنَ الْعِلْمِ

Kalian lebih membutuhkan adab yang baik meski sedikit, dibandingkan ilmu yang banyak
(riwayat Ibnul Muqri’ dalam Mu’jamnya)

Adab yang dimaksud adalah perilaku baik, teratur, indah, sesuai dengan akhlak mulia. Artinya, masih lebih baik seseorang yang berakhlak mulia dalam ucapan dan perbuatan, meski tidak banyak ilmu dan wawasan yang ia hafal, dibandingkan banyak hafalan dan wawasan, namun akhlaknya buruk.

Mestinya, seorang yang mempelajari ilmu Dien dan mendapat keberkahan dalam ilmunya, dijadikan oleh Allah sebagai ilmu yang bermanfaat, akan mempengaruhi sikap dan perilakunya. Al-Hasan al-Bashri rahimahullah menyatakan:

قَدْ كَانَ الرَّجُلُ يَطْلُبُ الْعِلْمَ فَلَا يَلْبَثُ أَنْ يُرَى ذَلِكَ فِي تَخَشُّعِهِ وَهَدْيِهِ وَفِي لِسَانِهِ وَبَصَرِهِ وَبِرِّهِ

Seseorang yang mempelajari ilmu (dengan benar), tidak berapa lama, akan terlihat pada kekhusyuannya, perilakunya, ucapannya, penglihatannya, dan kebaikannya
(riwayat Ahmad dalam az-Zuhud)

Namun, kadangkala, seseorang hanya banyak wawasan dan hafalannya, tidak dijadikan sebagai ilmu yang bermanfaat oleh Allah. Karena itu, di antara doa yang diajarkan Nabi shollallahu alaihi wasallam adalah meminta ilmu yang bermanfaat dan dijauhkan dari ilmu yang tidak bermanfaat.


Baca Juga: Tiga Permintaan Dalam Doa Selepas Shalat Subuh


Sebagian Doa yang Diajarkan Nabi

Dalam hadits Ummu Salamah riwayat Ibnu Majah, disebutkan:

أَنَّ النَّبِىَّ صلى الله عليه وسلم كَانَ يَقُولُ إِذَا صَلَّى الصُّبْحَ حِينَ يُسَلِّمُ: اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا وَرِزْقًا طَيِّبًا وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً

Bahwasanya Nabi shollallahu alaihi wasallam jika selesai shalat Subuh, saat setelah salam, mengucapkan: ALLAAHUMMA INNII AS-ALUKA ‘ILMAN NAAFI’AN WA RIZQON THOYYIBAN WA ‘AMALAN MUTAQOBBALAN (Ya Allah, sesungguhnya aku meminta kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rezeki yang baik, dan amal yang diterima)
(H.R Ibnu Majah, dishahihkan Syaikh al-Albaniy)

اللهمَّ انْفَعْنِي بِمَا عَلَّمْتَنِي، وَعَلِّمْنِي مَا يَنْفَعُنِي، وَارْزُقْنِي عِلْماً تَنْفَعُنِي بِهِ

Ya Allah, berikanlah aku manfaat dari ilmu yang Engkau ajarkan kepadaku, ajarkan kepadaku ilmu yang bermanfaat bagiku, dan berikanlah aku rezeki ilmu yang bermanfaat
(H.R al-Hakim, dishahihkan Syaikh al-Albaniy dalam Silsilah as-Shahihah)

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لَا يَنْفَعُ وَمِنْ قَلْبٍ لَا يَخْشَعُ وَمِنْ نَفْسٍ لَا تَشْبَعُ وَمِنْ دَعْوَةٍ لَا يُسْتَجَابُ لَهَا

Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat, hati yang tidak khusyu’, jiwa yang tidak pernah puas, dan doa yang tidak dikabulkan
(H.R Muslim)

Nabi shollallahu alaihi wasallam juga mengajarkan doa memohon akhlak yang mulia dan perlindungan dari akhlak yang tercela. Dalam salah satu doa istiftah, dinyatakan:

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا اسْتَفْتَحَ الصَّلَاةَ كَبَّرَ ثُمَّ قَالَ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ لَا شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا مِنْ الْمُسْلِمِينَ اللَّهُمَّ اهْدِنِي لِأَحْسَنِ الْأَعْمَالِ وَأَحْسَنِ الْأَخْلَاقِ لَا يَهْدِي لِأَحْسَنِهَا إِلَّا أَنْتَ وَقِنِي سَيِّئَ الْأَعْمَالِ وَسَيِّئَ الْأَخْلَاقِ لَا يَقِي سَيِّئَهَا إِلَّا أَنْتَ

Dari Jabir bin Abdillah ia berkata: Nabi shollallahu alaihi wasallam jika memulai shalat, bertakbir, kemudian berkata (yang artinya): Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup dan matiku, untuk Allah Rabb semesta alam. Tidak ada sekutu bagi-Nya. Karena itulah aku diperintah dan aku termasuk orang-orang muslim. Ya Allah, berikanlah aku petunjuk kepada amalan dan akhlak yang terbaik. Tidak ada yang bisa memberi petunjuk pada yang terbaiknya kecuali Engkau. Lindungilah aku dari amalan dan akhlak yang buruk. Tidak ada yang bisa melindungi dari keburukannya kecuali Engkau
(H.R anNasaai, dishahihkan Syaikh al-Albaniy)

اللَّهُمَّ جَنِّبْنِي مُنْكَرَاتِ اَلْأَخْلَاقِ وَالْأَعْمَالِ وَالْأَهْوَاءِ وَالْأَدْوَاءِ

Ya Allah, jauhkanlah aku dari akhlak yang buruk, amalan yang jelek, hawa nafsu, dan berbagai penyakit yang buruk
(HR. ath-Thabarani, dishahihkan Syaikh Muqbil)


Baca Juga: Manakah yang Lebih Utama: Mempelajari Ilmu Atau Mengamalkan Ilmu?


Makna Ungkapan Kalam Ulama Salaf Tersebut

Adakalanya seseorang banyak hafalan ayat al-Quran dan haditsnya, namun ia tidak dikaruniai pemahaman yang benar, sehingga justru berpahaman menyimpang. Seperti kelompok Khawarij. Ada di antara mereka yang hafal alQuran, begitu indah lantunan tilawah alQurannya, bahkan sebagian mereka hafal banyak hadits, namun mereka suka mengkafirkan kaum muslimin. Buruk pemahaman dan akhlaknya. Maka ilmu yang ada pada mereka hanya sekedar wawasan dan koleksi hafalan saja. Bukan ilmu yang bermanfaat. Masih jauh lebih baik seorang muslim yang hanya menghafal sedikit ayat al-Quran dan hadits, namun Allah berkahi ilmunya, membuahkan perasaan takut kepada Allah, amal sholih, dan akhlak yang mulia.

Seseorang yang tidak diberi taufiq oleh Allah, tidak dijadikan berkah ilmunya, semakin banyak belajar, justru semakin buruk kelakuannya. Semakin banyak yang ia pelajari, semakin sombong sikapnya. Itu adalah bencana.

Dalam ma’had Ahlussunnah, lebih baik seorang anak yang adabnya baik meski secara akademis kurang, dibandingkan anak yang prestasi akademiknya tinggi namun akhlaknya buruk. Kalau sampai akhlaknya mulia dan prestasi akademiknya baik, maka itu menjadi sempurna.

Seorang anak yang beradab kepada gurunya, teman sebaya, baik tutur kata dan perilakunya, suka membantu, mudah memaafkan, meski nilai hafalannya tidak sempurna, masih lebih baik dibandingkan rekannya yang nilai hafalannya tinggi, tapi tidak berakhlak mulia. Misalkan sombong, suka berdusta, banyak mencela, suka mengeluh, tidak banyak bersyukur, sering konflik dengan rekannya, selalu dendam tidak mudah memaafkan, dan berbagai akhlak buruk lainnya.


Baca Juga: Ilmu yang Benar tentang Satu Ayat atau Satu Hadits Sangat Berharga Bagi Para Ulama Salaf


Beradab Baik Karena Allah

Hal yang harus diperhatikan adalah nikmati berakhlak mulia itu dalam ibadah, ikhlas karena Allah Azza Wa Jalla. Jangan karena berharap pujian manusia. Seorang yang adabnya baik, akan mendapatkan kecintaan Allah Azza Wa Jalla. Yahya bin Muadz rahimahullah menyatakan:

مَنْ تَأَدَّبَ بِأَدَبِ اللهِ صَارَ مِنْ أَهْلِ مَحَبَّةِ اللهِ

Barang siapa yang beradab dengan adab (yang diajarkan) Allah, maka ia akan menjadi orang yang dicintai oleh Allah
(Madarijus Salikin karya Ibnul Qoyyim (2/376)).

Jadi, ketika dia beradab baik, ia tidak peduli apakah manusia akan menilainya baik atau tidak. Yang penting, ia berharap kecintaan Allah Azza Wa Jalla.

Jangan putus asa untuk kembali berakhlak mulia ketika tergelincir dalam akhlak buruk, apalagi jika karena tidak sengaja. Misalkan, seseorang sudah berusaha untuk senantiasa berakhlak mulia kepada orangtuanya. Ia menjaga tutur kata dan perilakunya, tidak ingin menyakiti orangtuanya, ingin selalu membahagiakan orangtuanya. Namun, qoddarallah, suatu saat ia tergelincir mengucapkan ucapan yang tidak sepantasnya kepada orangtua. Itu suatu ketergelinciran karena bukan tabiat dia. Kebiasaan dia selalu baik, dan niatan dia selalu baik. Namun, karena kondisi tertentu yang sulit dihindari, kadang ia berucap atau berbuat tidak seperti biasanya.

Kalau kemudian ia sesali, ia beristighfar kepada Allah, minta maaf kepada orangtuanya, jangan putus asa untuk berupaya kembali berakhlak mulia. Allah Azza Wa Jalla berfirman:

رَبُّكُمْ أَعْلَمُ بِمَا فِي نُفُوسِكُمْ إِنْ تَكُونُوا صَالِحِينَ فَإِنَّهُ كَانَ لِلْأَوَّابِينَ غَفُورًا

Rabb kalian lebih mengetahui apa yang ada di dalam jiwa kalian. Jika memang (niat kalian) baik, sesungguhnya Dia (Allah) Maha Mengampuni orang-orang yang senantiasa bertobat
(Q.S al-Israa’ ayat 25)

Jangan sampai dengan ketergelinciran itu, ia kemudian putus asa. Merasa sudah menodai upaya baiknya, sehingga kemudian malas untuk bangkit kembali memulai upaya akhlak baiknya.


Baca Juga: Kebodohan Adalah Pintu Terbesar Masuknya Iblis Memperdayai Manusia


Kesalahpahaman dalam Memahami Ungkapan Tersebut

Di antara kesalahpahaman dalam memahami ungkapan tersebut, ada yang menjadikan ungkapan itu sebagai alasan untuk tidak ingin memperbanyak ilmu. Ia beralasan: “Toh percuma saya perbanyak ilmu, nantinya kalau adabnya tidak baik kan sia-sia”. Itu tidak benar. Hal itu sebenarnya sekedar dalih untuk menutupi kemalasannya dalam menuntut ilmu.

Belajar menuntut ilmu dan berusaha menambah ilmu, adalah bagian dari perintah Allah. Allah Ta’ala memerintahkan kepada Nabi-Nya untuk berdoa: Wahai Rabbku, tambahkanlah ilmu kepadaku. Allah Ta’ala berfirman:

وَقُلْ رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا

…dan ucapkanlah: Wahai Rabbku, tambahkanlah ilmu kepadaku
(Q.S Thoha ayat 114)

Nabi shollallahu alaihi wasallam juga mewajibkan kaum muslimin untuk menuntut ilmu:

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ وَ إِنَّ طَالِبَ الْعِلْمِ يَسْتَغْفِرُ لَهُ كُلُّ شَيْءٍ حَتَّى الْحِيْتَانُ فِي الْبَحْرِ

Menuntut ilmu adalah wajib bagi setiap muslim. Sesungguhnya penuntut ilmu akan dimintakan ampunan oleh segala sesuatu, sampai-sampai ikan di lautan
(H.R Ibnu Abdil Barr dalam al-Ilmu, dishahihkan Syaikh al-Albaniy dalam Shahih al-Jaami’us Shoghir)

Sehingga, salah jika seseorang beralasan dengan ungkapan kalam Ulama Salaf itu agar tidak menambah ilmunya khawatir adabnya tidak baik. Mestinya, ia berjuang untuk terus menambah ilmu, dan berdoa agar Allah memberkahi serta menjadikan ilmunya sebagai ilmu yang bermanfaat. Ia juga belajar adab yang baik, sekaligus berdoa agar Allah karuniakan kepadanya akhlak yang mulia.

Di antara syubhat sebagian pihak terhadap ungkapan kalam Ulama Salaf tersebut adalah: mereka menjadikan ungkapan itu untuk mendiskreditkan Ahlussunnah. Mereka menganggap bahwa dakwah Ahlussunnah adalah dakwah yang tidak beradab ketika menjelaskan bahaya kesyirikan, kebid’ahan, atau kemaksiatan. Mereka menganggap percuma ilmu yang banyak jika adabnya tidak baik. Yang dimaksud adalah tidak usah membantah kesyirikan, kebid’ahan, atau kemaksiatan. Mereka bermaksud untuk mematikan amar ma’ruf nahi munkar. Ini juga suatu hal yang salah.

Padahal, seseorang tidak bisa mentauhidkan Allah secara benar kalau ia tidak menjauhi kesyirikan. Seseorang tidak bisa menjalankan Sunnah Nabi secara benar jika ia tidak menjauhi kebid’ahan. Seseorang tidak bisa sempurna menjalankan ketaatan, kalau ia tidak berupaya menjauhi kemaksiatan.

Dakwah melarang kesyirikan, kebid’ahan, maupun kemaksiatan adalah dakwah Nabi shollallahu alaihi wasallam. Jika disampaikan dengan hikmah, itu adalah bagian dari adab yang baik. Bagian dari kewajiban amar ma’ruf nahi munkar dan memberikan nasihat untuk segenap kaum muslimin. Selama penyampaiannya tepat sesuai kondisi dan keadaan, tidak mencela atau melecehkan kepribadian seseorang, maka demikianlah bagian dari dakwah Nabi dan para Salafus Sholih.

Semoga Allah Ta’ala senantiasa menambah ilmu kita, menjadikannya sebagai ilmu yang bermanfaat, dan menganugerahkan akhlak yang mulia kepada kita semua.

 

Penulis:
Abu Utsman Kharisman