Sunnah Yang Mulai Ditinggalkan: Kerabat Dan Tetangga Mengirimkan Makanan Untuk Keluarga Yang Berduka

Sesungguhnya apabila ada keluarga yang berduka, disunnahkan bagi para tetangga dan kerabat untuk mengirimkan makanan siap saji dalam sehari semalam agar keluarga yang berduka tidak repot memasak. Karena mereka sedang berkabung, yang bahkan untuk sekadar makan saja mereka tidak berselera.
Sunnahnya mengirimkan makanan siap saji tersebut menjadi hal yang disepakati oleh para Ulama Fiqh dari 4 madzhab. Namun kemudian sunnah ini menjadi asing dan ditinggalkan.
Berikut ini akan dikemukakan pandangan para Ulama fiqh dari 4 madzhab berkaitan dengan hal itu.
Ibnu Qudamah rahimahullah berkata dalam Al-Mughni (3/496):
“Dianjurkan (mustahab) untuk menyiapkan makanan bagi keluarga jenazah, lalu mengirimkannya kepada mereka, sebagai bentuk pertolongan bagi mereka dan penguat hati mereka. Karena, mereka mungkin sibuk dengan musibah yang menimpa mereka dan juga dengan orang-orang yang datang bertamu, sehingga terhalang untuk menyiapkan makanan bagi diri mereka sendiri. Abu Dawud telah meriwayatkan dalam Sunan-nya, dengan sanad dari Abdullah bin Ja’far, ia berkata: ‘Ketika berita kematian Ja’far datang, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Buatkanlah makanan untuk keluarga Ja’far, karena sungguh telah datang kepada mereka urusan yang menyibukkan mereka.” Diriwayatkan dari Abdullah bin Abi Bakar bahwa ia berkata: ‘Maka sunnah itu senantiasa berlaku pada kami, hingga ditinggalkan oleh orang yang meninggalkannya.'”
Ibnu Abidin -salah seorang Ulama Hanafiyyah- berkata dalam Hasyiyah-nya (2/240):
“Dianjurkan bagi tetangga keluarga jenazah dan kerabat yang jauh untuk menyiapkan makanan yang mengenyangkan mereka sepanjang hari dan malam mereka, berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: ‘Buatkanlah makanan untuk keluarga Ja’far, karena sungguh telah datang kepada mereka urusan yang menyibukkan mereka.’ (Hadis ini) di-hasan-kan oleh At-Tirmidzi dan di-shahih-kan oleh Al-Hakim. Dan juga karena hal itu termasuk perbuatan baik (birr) dan kebajikan (ma’ruf). Dan hendaknya mereka mendesak keluarga jenazah untuk makan, karena kesedihan dapat menghalangi mereka untuk makan, sehingga mereka bisa menjadi lemah.”
An-Nawawi rahimahullah -salah seorang Ulama Syafiiyyah- berkata dalam Al-Majmu’ (5/319):
“Telah disepakati oleh teks-teks Asy-Syafi’i dalam Al-Umm dan Al-Mukhtashar serta para ulama madzhab bahwa dianjurkan bagi kerabat dan tetangga jenazah untuk membuat makanan bagi keluarga jenazah dan makanan itu hendaknya cukup untuk mengenyangkan mereka pada hari itu dan malamnya. Asy-Syafi’i berkata dalam Al-Mukhtashar: ‘Saya suka jika kerabat dan tetangga jenazah membuatkan makanan untuk keluarga jenazah pada hari itu dan malamnya yang mengenyangkan mereka, karena hal itu adalah sunnah dan perbuatan orang-orang saleh.’ Para ulama madzhab kami berkata: ‘Dan hendaknya didesak mereka untuk makan, walaupun jenazah berada di negeri lain.'” (Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzab 5/319)
Ibnu Al-Haj salah satu ulama Malikiyah berkata dalam Al-Madkhal (3/275):
“Dianjurkan untuk menyiapkan makanan bagi keluarga jenazah selama tidak ada perkumpulan untuk meratap dan sejenisnya, berdasarkan apa yang diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dan Abu Dawud dari Abdullah bin Ja’far, ia berkata: ‘Ketika berita kematian Ja’far datang, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Buatkanlah makanan untuk keluarga Ja’far, karena sungguh telah datang kepada mereka urusan yang menyibukkan mereka.” Dan karena hal itu termasuk mendekatkan diri kepada keluarga dan tetangga serta berbuat baik kepada mereka, maka hal itu dianjurkan (mustahab). Oleh karena itu, para ulama madzhab Syafi’i rahimahullah ‘alaihim berkata: ‘Seyogianya bagi kerabat jenazah untuk membuatkan makanan yang mengenyangkan bagi keluarga jenazah pada hari itu dan malamnya.’ Mereka berkata: ‘Adapun perbuatan keluarga jenazah menyiapkan makanan dan mengumpulkan orang-orang untuk makan, maka tidak ada riwayat sedikit pun tentangnya, dan hal itu adalah bid’ah yang tidak dianjurkan.'”
Naskah dalam Bahasa Arab
قال ابن قدامة رحمه الله تعالى في المغني :أنَّه يُسْتَحَبُّ إصْلاحُ طَعامٍ لأهْلِ المَيِّتِ، يَبْعَثُ به إليهم، إعانَةً لهم، وجَبْرًا لِقُلُوبِهم؛ فإنَّهم رُبَّما اشْتَغَلُوا بمُصِيبَتِهم وبِمَنْ يَأْتِى إليهم عن إصْلاحِ طَعامٍ لأنْفُسِهم. وقد رَوَى أبو دَاوُدَ، في “سُنَنِه”، بإسْنادِه عن عبدِ اللهِ بن جعفرٍ، قال: لمّا جاءَ نَعْىُ جَعْفَرٍ، قال رسولُ اللَّه صلى الله عليه وسلم: “اصْنَعُوا لِآلِ جَعْفَرٍ طَعَامًا؛ فَإنَّهُ قَدْ أَتَاهُمْ أَمْرٌ يَشْغَلُهُم”. ورُوِىَ عن عبدِ اللهِ بن أبي بكرٍ، أنَّه قال: فما زَالَتِ السُّنَّةُ فينا، حتى تَرَكَها مَن تَرَكَها
قال ابن عابدين الحنفي في حاشيته: وَيُسْتَحَبُّ لِجِيرَانِ أَهْلِ الْمَيِّتِ وَالْأَقْرِبَاءِ الْأَبَاعِدِ تَهْيِئَةُ طَعَامٍ لَهُمْ يُشْبِعُهُمْ يَوْمَهُمْ وَلَيْلَتَهُمْ، لِقَوْلِهِ صلى الله عليه وسلم «اصْنَعُوا لِآلِ جَعْفَرٍ طَعَامًا فَقَدْ جَاءَهُمْ مَا يَشْغَلُهُمْ» حَسَّنَهُ التِّرْمِذِيُّ وَصَحَّحَهُ الْحَاكِمُ وَلِأَنَّهُ بِرٌّ وَمَعْرُوفٌ، وَيُلِحُّ عَلَيْهِمْ فِي الْأَكْلِ لِأَنَّ الْحُزْنَ يَمْنَعُهُمْ مِنْ ذَلِكَ فَيَضْعُفُونَ
قال النووي رحمه الله تعالى في المجموع: واتفقت نصوص الشافعي في الأم والمختصر والأصحاب على أنه يستحب لا قرباء الميت وجيرانه أن يعملوا طعاما لأهل الميت ويكون بحيث يشبعهم في يومهم وليلتهم قال الشافعي في المختصر وأحب لقرابة الميت وجيرانه أن يعملوا لأهل الميت في يومهم وليلتهم طعاما يشبعهم فإنه سنة وفعل أهل الخير قال اصحابنا ويلح علهيم في الأكل ولو كان الميت في بلد آخر(المجموع شرح المهذب 5\319)
قال ابن الحاج من علماء المالكية في المدخل : ويستحب تهيئة طعام لأهل الميت ما لم يكن الاجتماع للنياحة وشبهها لما روى الترمذي وأبو داود عن عبد الله بن جعفر قال: لما جاء نعي جعفر قال النبي: صلى الله عليه وسلم «اصنعوا لآل جعفر طعاما فإنه قد جاءهم ما يشغلهم» ولأن ذلك من التقرب إلى الأهل والجيران والبر لهم فكان ذلك مستحبا. ولذلك قال أصحاب الشافعي رحمه الله عليهم: ينبغي لقرابة الميت أن يعملوا لأهل الميت في يومهم وليلتهم طعاما يشبعهم قالوا: وأما إصلاح أهل الميت طعاما وجمع الناس عليه فلم ينقل فيه شيء، وهو بدعة غير مستحب
Penulis: Abu Utsman Kharisman

Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.