Beranda » Latest » Artikel » Adab » Tuntunan Dalam Berinteraksi Dengan Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) dan Semisalnya

Tuntunan Dalam Berinteraksi Dengan Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) dan Semisalnya

0
Photo by Tobias Rademacher

Pertanyaan:

Wahai Syaikh yang mulia, bagaimana tuntunan syariat dalam memperlakukan ODGJ? Apakah boleh memukul dan mengejeknya? Lalu bagaimana cara bertobat dari perbuatan tersebut sementara ia sendiri tidak mengetahuinya?

Jawaban Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah:

Orang dengan gangguan jiwa (ODGJ, atau lebih dikenal dengan sebutan orang gila) tidak memiliki akal, sehingga memukulnya pada umumnya tidak membawa manfaat. Namun memang kadang kala pukulan itu akan membawa manfaat. Bila memukulnya dalam rangka mendidik benar-benar dapat membawa manfaat, maka tidak mengapa dilakukan, sebagaimana halnya memukul anak kecil untuk mendidik (dengan pukulan ringan yang tidak mencederai).

Akan tetapi jika pukulan itu tidak memberikan manfaat, maka hukumnya tidak boleh, karena itu hanyalah menyakitinya tanpa manfaat apa pun.

Adapun mengejek atau merendahkan ODGJ, maka saya khawatir orang yang melakukannya akan mendapatkan hukuman serupa dengan yang menimpa ODGJ tersebut. Saya khawatir ia bisa dihilangkan akalnya, atau akal anak-anaknya, yang laki-laki maupun perempuan. Karena itu, hendaknya seseorang bertakwa kepada Allah dan bersyukur atas nikmat akal sehat yang Allah berikan kepadanya dan tidak diberikan kepada orang yang diuji dengan gangguan jiwa.

Dan kita semua mengetahui, bahwa seseorang tidak menginginkan dirinya menjadi mendapatkan gangguan jiwa seperti itu. Penyakit tersebut bukanlah pilihannya. Itu adalah ujian dan cobaan dari Allah. Maka bagaimana mungkin seseorang merendahkan hal yang tidak dapat dihindari dan bukan pilihan pelakunya?

Mengejek ODGJ sama seperti mengejek seseorang yang memiliki wajah kurang menarik, atau tubuh yang tidak sempurna, dan semisalnya.

Oleh karena itu, seseorang wajib bersyukur memuji Allah atas nikmat keselamatan dari ujian yang Allah berikan kepada mereka. Hendaklah ia mendoakan agar orang-orang yang diuji tersebut diberi keselamatan dan kesembuhan. Demikianlah.


Sumber:

https://al-fatawa.com/fatwa/50

Naskah dalam bahasa Arab:

السائل : فضيلة الشيخ ما حكم الشرع في نظركم في معاملة المجنون؟ وهل يجوز ضربه والاستهزاء به؟ وكيف تكون التوبة من تلك الأفعال وهو لا يعرف؟

الشيخ محمد بن صالح العثيمين:

المجنون ليس له عقل وضربه لا يُفيد شيئا، هذا هو الغالب أن ضربه لا يفيد وربما يفيد فإذا كان ضربه للتأديب مفيدا فلا بأس بضربه كضرب الصغير وإذا كان غير مفيد فلا يجوز لأنه إيلام بلا فائدة وأما السخرية به والاستهزاء به فأخشى أن يُعاقب الساخر به والمستهزئ به أن يُعاقب بمثل ما حصل لهذا المجنون، أخشى أن يسلب عقله، أخشى أن يسلب عقل أبنائه أو بناته فليتق الله امرؤ في نفسه وليحمد الله الذي عافاه مما ابتلى هذا المجنون.

ومعلوم أن الإنسان لا يحب أن يكون مجنونا وليس الجنون باختياره لكنه ابتلاء من الله وامتحان فكيف تسخر بأمر لا قِبل للمتصف به فيه وليس باختياره؟ إن المستهزئ بالمجنون كالمستهزئ بمن وجهه ليس بجميل أو قامته ليست مستقيمة أو ما أشبه ذلك فعلى المرء أن يحمد الله سبحانه وتعالى أن عافاه مما ابتلى به هؤلاء المبتلون وليسأل الله لهم العافية. نعم

Penerjemah: Abu Dzayyal Muhammad Wafi