Beranda » Latest » Artikel » Aqidah » Peredaran Matahari dan Sujudnya di Bawah ‘Arsy
sky-3335585_640

Pertanyaan:

Allah Ta‘ala berfirman:

وَالشَّمْسُ تَجْرِي لِمُسْتَقَرٍّ لَهَا ذَلِكَ تَقْدِيرُ الْعَزِيزِ الْعَلِيمِ [يس:٣٨]

Apakah ta’wil/tafsir tentang makna ayat tersebut?

Jawaban Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani rahimahullah:

“Ta’wilnya adalah sebagaimana yang disebutkan dalam sebuah hadits:

مستقرها حين تطلع الشمس من مغربها

‘Tempat berhentinya adalah ketika matahari terbit dari arah barat.’

Akan tetapi, ayat tersebut tidak ada hubungannya dengan pembahasan tentang bentuk bumi apakah bulat atau datar, dan apakah bumi diam atau bergerak. Ayat ini adalah menyampaikan kabar tentang perkara ghaib yang akan terjadi di masa mendatang.”

Penanya:

“Jika demikian, ‘tempat berhenti’ (مستقرها) itu waktunya terjadi pada hari kiamat? Sementara hadits (lain) menyebutkan:

كل يوم تستأذن تحت العرش وتسجد

‘Setiap hari matahari meminta izin di bawah Arsy dan bersujud (kepada Allah).’…”

Syaikh rahimahullah:

“Hadits tersebut memang hadits yang shahih. Namun, (kabar tentang) perginya matahari ke bawah Arsy tidak bertentangan dengan hakikatnya secara syariat, karena memang matahari itu selalu berada di bawah Arsy. Hanya saja, dalam konteks tempat tertentu; yaitu Madinah. Rasulullah ﷺ menyampaikan hal itu ketika beliau bersabda kepada Abu Dzar radhiyallahu anhu:

أتدري أين تذهب؟

‘Tahukah engkau ke mana matahari itu pergi?’

Jadi Rasulullah ﷺ mengabarkannya bahwa matahari itu pergi dan bersujud di bawah Arsy ketika matahari terbenam dari sudut pandang kota Madinah. Inilah (kompromi) makna yang menghilangkan kerancuan. Karena matahari setiap saat ‘tenggelam’ dari suatu wilayah mana pun di dunia. Tetapi yang dimaksud dalam hadits tersebut adalah maghrib yang khusus terjadi di Madinah Al Munawwarah. Sehingga sujudnya matahari itu sesuai dengan waktu yang serasi dengan waktu Maghrib di Madinah, dan bukan untuk seluruh negeri di dunia.”

Lanjutan pertanyaan:

“Apakah dapat dipahami dari hadits itu bahwa matahari berhenti ketika bersujud?”

Jawaban Syaikh rahimahullah:

“Tidak harus demikian. Karena manusia yang lemah pun bisa bersujud sambil berjalan. Benar atau tidak?

Coba kita ingat sekarang bahwa shalat khauf (shalat dalam situasi darurat semisal ketika perang-pen.) memiliki dua kategori: (yang tingkat kegentingannya tidak parah disebut) shalat khauf, dan shalat khauf asy-syadid (yang sangat berat).

Pada shalat khauf yang sangat berat tidak ada ruku‘ dan sujud sebagaimana biasanya, tetapi cukup dengan isyarat kepala. Seorang Muslim bisa terus melanjutkan berperang dan mengayunkan pedang kepada orang kafir, sementara waktu shalat telah masuk, maka ia bisa shalat sambil berjalan menyerang musuh. Demikian itu bisa terjadi pada manusia. Apalagi pada benda langit yang hakikatnya Allah yang lebih mengetahui. Maka tidak ada pertentangan antara keduanya.”


Sumber: Durus lisy-Syaikh Al Albani, 7/20

Naskah dalam bahasa Arab:

تفسير قوله تعالى: (والشمس تجري لمستقر لها … )

السؤال

قال تعالى: {وَالشَّمْسُ تَجْرِي لِمُسْتَقَرٍّ لَهَا ذَلِكَ تَقْدِيرُ الْعَزِيزِ الْعَلِيمِ} [يس:٣٨] فما هو تأويل هذه الآية؟

الجواب

تأويلها كما جاء في الحديث: (مستقرها حين تطلع الشمس من مغربها) لكن الآية ليس لها علاقة بموضوع كروية الأرض، وهل هي ساكنة أم متحركة؟ فالآية خبر عن غيب سيقع فيما يأتي من الزمن

السائل: إذاً: المستقر وقته يوم القيامة، وحديث: (كل يوم تستأذن تحت العرش وتسجد)

الشيخ: هذا حديث صحيح، لكن ذهابها إلى تحت العرش لا يتعارض مع الحقائق الشرعية؛ لأنها هي دائماً تحت العرش، ولكن بالنسبة لبلد معين وهي المدينة، حيث كان الرسول عليه الصلاة والسلام قد تكلم فيها عندما قال لـ أبي ذر: (أتدري أين تذهب؟) فأخبره الرسول عليه السلام بأنها تذهب وتسجد تحت العرش حينما تغرب بالنسبة للمدينة، هذا هو المعنى الذي يزيل الإشكال، بأنها هي دائماً تغرب في كل لحظة عند بلد، لكن هذا المقصود غروباً خاصاً بـ المدينة المنورة، فسجودها -إذاً- هو في ذلك الوقت الذي يتناسب مع توقيت المدينة، وليس مع كل بلد في الدنيا

تابع للسؤال: هل يفهم من هذا الحديث توقف الشمس حال السجود؟ الجواب: ليس بالضروري؛ لأن الإنسان العاجز قد يسجد وهو ماشي، صح أو لا؟ نستحضر -الآن- صلاة الخوف لها صورتان: صلاة الخوف، وصلاة الخوف الشديد؛ صلاة الخوف الشديد ليس فيها ركوع وسجود كما هو المعهود، وإنما هو الإيماء بالرأس، فالمسلم يقاتل ويسايف الكافر وقد أدركه الوقت، فهو يصلي ويمشي إلى عدوه، هذا بالنسبة للإنسان، فما بالك بالنسبة لكوكب ربنا أعلم بحقيقته؟ فلا منافاة بين الأمرين

Diterjemahkan oleh: Abu Abdirrohman Sofian