Bila Pengajar, Imam dan Muadz-dzin Menerima Imbalan

Asal ketentuan bagi juru dakwah, pengajar, imam dan muadz-dzin masjid hendaknya ikhlash hanya mengharapkan balasan dari Allah secara tulus, tidak mengharap imbalan dari selain-Nya, sebagaimana disebutkan dalam ayat Allah:
قُلْ مَا سَأَلْتُكُم مِّنْ أَجْرٍ فَهُوَ لَكُمْ ۖ إِنْ أَجْرِيَ إِلَّا عَلَى اللَّهِ ۖ وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ
“Katakanlah (wahai Muhammad ﷺ), ‘Imbalan apapun yang (seandainya) aku minta dari kalian, itu semuanya untuk kalian. Imbalanku hanyalah dari Allah, sedangkan Dia Maha Menyaksikan segala sesuatu.” (QS. Saba’: 47).
Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah menjelaskan tafsir ayat ini:
“Beliau ﷺ tidak meminta imbalan kepada seorangpun dalam penyampaian ajaran Islam dan memperingatkan manusia (dari bahaya kesyirikan & kemaksiatan), karena beliau ﷺ telah menyatakan, ‘Imbalan apapun yang (layak) aku minta dari kalian, itu semuanya untuk kalian.’
Baca Juga: Hukum Memungut Bayaran dari Sebuah Fatwa (Keputusan)
Yang menjadi faedah ayat ini pula: (etika) bersikap rendah hati terhadap lawan diskusi, yang tercermin dalam ungkapan beliau (yang diabadikan dalam ayat-pent.) ‘kalau toh andaikan aku meminta imbalan kepada kalian, silakan kalian ambil untuk kalian saja.’
Juga termasuk faedah ayat ini: haramnya mengambil upah dari penyampaian ilmu syar‘i. Alasannya adalah karena hal itu menyelisihi petunjuk Nabi ﷺ dari satu sisi. Sedangkan dari sisi lain karena menyampaikan syariat merupakan kewajiban bagi seseorang. Sementara sesuatu yang wajib tidak boleh dijadikan sebagai sumber upah.
Baca Juga: Bolehkah Meruqyah Orang Kafir?
Jika anda bertanya: Apakah boleh mengambil upah dari mengajarkan Al Quran, (atau) menerima bayaran dari mengajarkan Al Quran?
Jawabannya: Para ulama berbeda pendapat dalam hal ini menjadi dua pendapat, karena adanya perbedaan tekstual sekian nash (dalilnya).
Di antara mereka ada yang mengatakan bahwa hal itu boleh, berdasarkan sabda Nabi ﷺ :
إنَّ أحقَّ ما أخذتُم عليه أجرًا كتابُ اللهِ
‘Sesungguhnya perkara yang paling berhak kalian menerima imbalannya adalah Kitab Allah (Al Quran).’
Juga karena orang tersebut tidak mengambil upah dari membaca Al Quran. Seandainya ia mengambil upah dari membaca Al Quran, tentu kami katakan bahwa hal itu haram. Namun ia mengambil upah karena mengajar, bersusah payah, dan membimbing orang tersebut. Oleh karena itu, seandainya perkara ini wajib baginya, dalam arti ia diwajibkan mengajarkan orang tersebut (karena memang tanggung jawabnya-pent.), maka mengambil upah darinya menjadi haram.¹
Alasan yang ketiga: Nabi ﷺ menjadikannya sebagai (mahar) pengganti dalam pernikahan. Beliau bersabda: “Aku menikahkan engkau dengan wanita ini dengan (mahar) hafalan yang engkau miliki dari Al Quran.”
Sementara (mahar) pengganti termasuk ‘upah’, berdasarkan firman Allah Ta’ala:
فَمَا اسْتَمْتَعْتُمْ بِهِ مِنْهُنَّ فَآتُوهُنَّ أُجُورَهُنَّ
“Maka wanita-wanita yang telah kalian nikmati (campuri) di antara mereka, berikanlah kepada mereka upah (mahar) mereka.” (QS. An-Nisa’: 24)
Sehingga tatkala Nabi ﷺ menjadikannya sebagai (mahar) pengganti dalam pernikahan, hal itu sekaligus menunjukkan bolehnya menerima imbalan pengganti untuk pengajaran Al Quran.
Selain itu karena Nabi ﷺ juga memperbolehkan para sahabat yang membacakan ruqyah kepada seorang kepala kabilah yang tersengat (binatang), lalu mereka menerima sekelompok kambing sebagai bayaran. Maka beliau ﷺ memperbolehkannya; bukan karena mereka membaca Al Quran, tetapi karena mereka berhasil mengobati orang yang tersengat itu. Inilah yang benar.
Artinya, boleh mengambil upah untuk mengajarkan Al Quran. Hanya saja jika (tanggung jawab) mengajarkan Al Quran itu merupakan kewajiban, seperti pada masa awal Islam², maka mengambil upah dari hal itu menjadi haram.
Baca Juga: Sebagian Profesi dan Pekerjaan Para Nabi Menurut Penjelasan Al-Qurthubiy
Baiklah, jika berdasarkan pendapat yang mengatakan haramnya mengambil upah, apakah boleh menerima bantuan dari Baitul Mal bagi pengajar Al Quran?
Jawabannya, ya, boleh. Karena itu bukan sebagai upah. Oleh sebab itu muadz-dzin dan imam diperbolehkan mengambil dari Baitul Mal bagian yang dapat membantu mereka dalam melaksanakan adzan dan menjadi imam.
Sumber: Transkrip Audio Tafsir Surah Saba’, Kaset no. 11 sisi B.
Naskah dalam bahasa Arab:
لم يطلب من أحد أجراً على تبليغ الرسالة وإنذار الناس لأنه قال كل ما سألتكم من أجر فهو لكم
من الفوائد أيضاً : التنزل مع الخصم أي على فرض أني سألت فهو لكم
ومن فوائدها أيضاً : تحريم أخذ الأجر على إبلاغ العلم الشرعي ووجهه أنه مخالف لهدي النبي صلى الله عليه وسلم هذا من جهة ، من جهة أخرى أن تبليغ الشرع واجب على الإنسان والواجب لا يجوز أن يتخذ الإنسان عليه أجراً فإن قلت : هل يجوز الأخذ على تعليم القرآن ، أخذ الأجرة على تعليم القرآن ؟ الجواب أن العلماء اختلفوا في ذلك على قولين لاختلاف ظواهر النصوص ومنهم من قال : أنه جائز لقول النبي عليه الصلاة والسلام : ( أن أحق ما أخذتم عليه أجراً كتاب الله )
ولأن هذا الرجل لا يأخذ أجراً على قراءة القرآن لو أخذ أجراً على قراءة القرآن قلنا هذا حرام لكنه أخذ أجراً على التعليم والتعب وتلقين هذا الرجل ولذلك لو كانت المسألة واجبة عليه بمعنى لو كان يجب عليه أن يعلم هذا الرجل لكان أخذ الأجر عليه حراماً ، الوجه الثالث : أن النبي صلى الله عليه وسلم جعله عوضاً للنكاح فقال : ( زوجتكها بما معك من القرآن ) وعوض النكاح أجر لقوله تعالى : (( فَمَا اسْتَمْتَعْتُمْ بِهِ مِنْهُنَّ فَآتُوهُنَّ أُجُورَهُنَّ ))[النساء:24]فلما جعله النبي عليه الصلاة والسلام عوضاً في النكاح دل ذلك على جواز أخذ العوض على تعليمه ولأن النبي صلى الله عليه وسلم أجاز أخذ قطيع الغنم من جماعة الذين قرءوا على سيد القوم الذي لدغ وأخذوا عليه قطيعاً من الغنم فأجاز النبي صلى الله عليه وسلم ذلك ، لا لأنهم قرءوا القرآن ولكن لأنهم عالجوا هذا اللديغ وهذا هو الصحيح أي يجوز أخذ الأجرة على تعليم القرآن لكن إن كان تعليم القرآن واجباً كما في صدر الإسلام فإن أخذ الأجرة عليه حرام ، طيب وهل يجوز على القول بأن أخذك عليه حرام هل يجوز أخذ رد من بيت المال لمعلم القرآن ؟ الجواب نعم لأن هذا ليس بأجرة ولذلك جاز للمؤذن والإمام أن يأخذ من بيت المال ما يستعين به على أذانه وعلى إمامته
تفسير سورة سبأ-11b
¹ Contohnya ayah yang bertanggungjawab mengajarkan Al Quran kepada anaknya, justru menerima upah dari anaknya/keluarganya dalam penunaian kewajibannya itu. Seperti inilah yang tampaknya disebut sebagai haram oleh beliau, wallahu a’lam.
² Maksudnya, di awal Islam, hampir tidak ada madrasah khusus pengajaran Al Quran. Semua keluarga bertanggung jawab mengajarkan kepada anggota keluarganya, karena memang Al Quran diturunkan dalam bahasa mereka.
Diterjemahkan oleh: Abu Abdirrohman Sofian

Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.