Beranda » Latest » Artikel » Ahkam » Ketentuan Menjamak Dua Sholat Ketika Hujan
bahrain-79639_640

Pertanyaan diajukan kepada Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah:

“Syaikh yang mulia, kemarin hujan turun di daerah kami sejak sholat Ashar sampai sholat Isya’ di suatu kota sebelah Utara Buraidah, sementara saya menjadi imam. Muadz-dzin sempat meminta agar dilakukan jama’ sholat sedangkan saya bingung dalam masalah itu, tetapi karena desakan muazin agar kita menjama’, akhirnya kami menjama’ sholat. Dan telah terdapat fatwa Anda bahwa kita harus memastikan kondisi hujan, tingkat derasnya, dan keadaan orang-orang ketika hujan; (yaitu) apakah hujan itu berdampak pada mereka atau tidak. Maka saya ingin (rincian) penjelasan tentang ketentuan jama’ ini dari semua sisi. Jazakumullahu khairan.”

Jawaban Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah:

“Anda harus mengetahui bahwa hukum asalnya adalah wajib menunaikan sholat pada waktunya. Allah Ta‘ala berfirman:

إِنَّ ٱلصَّلَوٰةَ كَانَتۡ عَلَى ٱلۡمُؤۡمِنِينَ كِتَٰبٗا مَّوۡقُوتٗا

‘Sesungguhnya sholat itu merupakan kewajiban yang waktunya telah ditentukan bagi orang-orang yang beriman’. (QS. An-Nisa’: 103)

Para ulama juga telah sepakat bahwa haram mendahulukan sholat sebelum waktunya tanpa udzur syar‘i, yang hal itu menyebabkan sholat tidak sah, karena menyelisihi ketentuan yang Allah perintahkan. Juga telah valid dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda:

‌مَنْ ‌عَمِلَ ‌عَمَلًا ‌لَيْسَ ‌عَلَيْهِ ‌أَمْرُنَا، ‌فَهُوَ ‌رَدٌّ

‘Setiap orang yang mengerjakan amalan yang tidak berdasar perintah kami, maka amalan itu tertolak.’

Inilah hukum asalnya, inilah perkara yang pasti dan tidak mengandung keraguan.

Apabila ada sebab yang menjadi alasan untuk jama’; baik taqdim maupun ta’khir, maka ulama berbeda pendapat dalam hal itu. Ada di antara mereka yang berpendapat bahwa tidak ada jama’ kecuali di Arafah dan Muzdalifah saja. Ada pula yang berpendapat bahwa jama’ boleh dalam segala keadaan, dan ini adalah pendapat kaum (Syi’ah) Rafidhah, bahkan mereka memandang jama’ itu boleh dikerjakan tanpa sebab, jika mau melakukan jama’ (mereka) silakan, kalau tidak mau juga (mereka) silakan.

Namun pendapat yang benar adalah; jama’ itu diperbolehkan ketika terjadi kesulitan (masyaqqah). Dalilnya adalah hadits Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma:

جمع النبي صلى الله عليه وسلم في المدينة من غير خوف ولا مطر

‘Nabi ﷺ menjama’ di Madinah tanpa rasa takut dan tanpa hujan’.

Mereka (para tabi’in) bertanya: ‘Apa tujuan beliau melakukan itu?’ Ibnu Abbas menjawab:

أراد ألا يحرج أمته

Beliau ingin supaya umatnya tidak mengalami kesulitan.’

Makna ‘kesulitan’ (haraj) adalah agar tidak menimpa mereka situasi menyulitkan. Maka kesulitan berusaha ditangkal dalam syariat kita. Karena itu, jika dengan tidak menerapkan jama’ ternyata akan menimbulkan kesulitan dan keberatan bagi masyarakat; misalnya karena pasar menjadi becek, atau hujan membasahi pakaian dan menyulitkan orang-orang berjalan, maka itu menjadi udzur.

Adapun jika hujan hanya turun rintik-rintik, cuaca tidak dingin, pasar juga tidak becek, maka tidak boleh menerapkan jama’, meskipun muadzin atau jema’ah memaksa.

Bagaimana menurutmu, seandainya engkau berpuasa Ramadhan di bulan Sya’ban, apakah boleh? Demikian pula, jika engkau melakukan jama’ Isya dengan Maghrib tanpa udzur, juga tidak boleh.

Cukup mengherankan (sikap bermudah-mudahan kini), (padahal) dahulu saya masih ingat, pada masa lalu ketika belum ada listrik, pasar masih gelap, (jalan) penuh lumpur dan tanah, belum ada aspal. Meski begitu mereka tidak menjama’ kecuali karena kesulitan yang sangat, sampai-sampai seseorang tidak bisa datang ke masjid kecuali dengan tongkat sebagai penopang, atau hujan deras yang sangat lebat. Padahal mereka lebih mengalami kesulitan daripada sekarang dengan tingkat yang jauh lebih besar.

Sekarang walhamdulillah, kebanyakan pasar sudah beraspal dan terang, serta hampir tidak ada kesulitan dan kesempitan. Jadi bermudah-mudahan dalam masalah jama’ ini merupakan kesalahan besar.

Engkau (sekarang) memiliki dalil yang tegas, yaitu wajibnya sholat pada waktunya. Engkau juga memiliki (pengetahuan tentang) sebab yang membolehkan jama’. Maka apabila engkau tidak yakin bahwa sebab itu benar dan syar’i, janganlah melakukan jama’.

Dan imamlah yang memiliki keputusan dalam masalah ini, bukan muadzin. Tugas muadzin hanya dalam urusan adzan. Adapun urusan sholat dan jama’ maka keputusan berada pada imam.”


Dikutip dari: Liqo’ Al Bab Al Maftuh, 50/15

Naskah dalam bahasa Arab:

[ضوابط الجمع في المطر]

فضيلة الشيخ: بالأمس كان المطر يتساقط عندنا من صلاة العصر حتى صلاة العشاء في بلدة شمال بريدة، وكنت إماما، وطلب المؤذن أن تجمع الصلاة وتحيرت في الأمر، لكن كان من إلحاح المؤذن أن نجمع فجمعنا الصلاة، وقد وردت فتوى لسماحتكم أنه لابد أن نتحقق من المطر وشدته وخروج الناس حال المطر، هل يؤثر عليهم، فأريد توضيح الضابط في هذا الجمع من جميع الجوانب جزاك الله خيرا؟

يجب أن تعلم أن الأصل وجوب أداء الصلاة في وقتها، قال تعالى: {إن الصلاة كانت على المؤمنين كتابا موقوتا} [النساء:١٠٣] وقد أجمع العلماء على أن تقديم الصلاة قبل وقتها بدون عذر شرعي حرام يقتضي عدم صحتها؛ لأن هذا خلاف ما أمر الله به، وقد ثبت عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال: (من عمل عملا ليس عليه أمرنا فهو رد) هذا هو الأصل، وهذا شيء محكم ليس فيه اشتباه.

فإذا وجد سبب للجمع -تقديم أو تأخير- فإن العلماء مختلفون في هذا؛ منهم من يرى أنه لا جمع إلا بـ عرفة ومزدلفة فقط، ومنهم من يرى الجمع بكل حال، وهذا رأي الرافضة، حيث يرون أنه يجوز الجمع بدون سبب، إن شئت اجمع وإن شئت لا، لكن الصحيح أن الجمع جائز للمشقة، والدليل على ذلك حديث عبد الله بن عباس رضي الله عنهما قال: (جمع النبي صلى الله عليه وسلم في المدينة من غير خوف ولا مطر) قالوا: (ما أراد من ذلك؟ قال: أراد ألا يحرج أمته)

ومعنى (يحرج) أي: ألا يلحقها الحرج، فالحرج مرفوع في شريعتنا، فإذا كان في ترك الجمع حرج ومشقة على الناس إما لكون الأسواق وحلا، أو لكون المطر ينزل يبلل الثياب ويؤذي الماشين، فهذا عذر، أما إذا كان ينزل قطرات يسيرة والجو دافئ والأسواق ليس فيها وحل، فلا تجمع حتى لو أصر المؤذن أو المأمومون، أرأيت لو صمت رمضان في شعبان هل يجوز؟!! فإذا قدمت العشاء مع المغرب بدون عذر فإنه لا يجوز، والعجيب الآن أنني أذكر أن الناس كانوا في السابق ليس هناك كهرباء والأسواق مظلمة ووحل وطين وليس هناك إسفلت، ومع ذلك كانوا لا يجمعون إلا لمشقة شديدة، بحيث أن الإنسان لا يأتي إلى المسجد إلا ومعه عصا يتوكأ عليها، أو مطر وابل صيب، وهم أشد مشقة من الآن بكثير، الآن ولله الحمد غالب الأسواق مسفلتة ومضاءة، وليس هناك مشقة ولا حرج، فالتهاون في هذا غلط عظيم؛ فأنت لديك نص محكم، وهو وجوب الصلاة في وقتها وعندك سبب مبيح للجمع، فإذا كنت لم تتيقن أن السبب صحيح شرعي فلا تجمع، والإمام هو الذي له الحكم في هذه المسألة، المؤذن له الحكم في الأذان أما مسألة الصلاة والجمع فهذه إلى الإمام

Diterjemahkan oleh: Abu Abdirrohman Sofian