4 Jumadil awal 1444
Beranda » Latest » Artikel » Adab » Bolehkah Menambahkan Ungkapan Kebahagiaan Beserta Salam?

Bolehkah Menambahkan Ungkapan Kebahagiaan Beserta Salam?

FATWA KOMISI TETAP
Pertanyaan ke-4 dari Fatwa no. 20845

Pertanyaan ke-4:

Syaikh yang mulia, apakah wajib membalas salam yang diucapkan selain lafal “ASSALAMU’ALAYKUM”? Misalnya apabila mengucapkan: “AHLAN”, “MARHABAN”, “KAYFAK”, atau salam sambil mengisyaratkan dengan tangan, atau (kerdipan) mata, atau salam pengemudi dengan membunyikan klakson?

 

Jawaban:

Yang disunnahkan, hendaknya seorang muslim menghidupkan salam penghormatan dengan salam yang disyariatkan. Idealnya seorang muslim mengucapkan: “ASSALAMU’ALAYKUM WAROHMATULLAHI WABAROKATUH.”

Hal ini dilandasi hadits yang disebutkan dalam riwayat Abu Dawud, At Tirmidzi, dan An Nasai, dari ‘Imron  bin Hushoin radhiyallahu ‘anhuma beliau berkata:

جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ : السَّلَامُ عَلَيْكُمْ. فَرَدَّ عَلَيْهِ السَّلَامَ، ثُمَّ جَلَسَ، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ” عَشْرٌ “. ثُمَّ جَاءَ آخَرُ فَقَالَ : السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ. فَرَدَّ عَلَيْهِ، فَجَلَسَ، فَقَالَ : ” عِشْرُونَ “. ثُمَّ جَاءَ آخَرُ فَقَالَ : السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ. فَرَدَّ عَلَيْهِ، فَجَلَسَ، فَقَالَ : ” ثَلَاثُونَ

“Pernah seseorang datang menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam lalu mengucapkan: “ASSALAMU’ALAYKUM.” (‘Imran berkata); Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam membalas salamnya itu, kemudian beliau shollallahu ‘alaihi wasallam  duduk, seraya bersabda: “Sepuluh.” Kemudian yang lain datang dan mengucapkan: “ASSALAMU’ALAYKUM WA ROHMATULLAH.” Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam membalasnya, lalu duduk, seraya bersabda: “Dua puluh.” Selanjutnya yang lain tiba, ia mengucapkan; “ASSALAMU’ALAYKUM WA ROHMATULLAHI WA BAROKATUH.” Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pun membalasnya, lalu duduk, seraya  bersabda: “Tiga puluh.”

Dan wajib bagi seorang yang mendengar salam untuk membalas dengan ucapan penghormatan yang setara atau yang lebih baik lagi. Berdasarkan firman Allah Ta’ala:

 وَإِذَا حُيِّيتُم بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّوا بِأَحْسَنَ مِنْهَا أَوْ رُدُّوهَا

“Apabila kalian diberi penghormatan dengan suatu ucapan, hendaklah kalian ucapkan penghormatan yang lebih baik atau balaslah dengan yang setara.” (QS. An Nisa : 86)

Juga tidak mengapa seseorang menyampaikan salam dari kejauhan atau dari mobilnya seraya memberi isyarat dengan tangannya kepada saudaranya itu agar dia benar-benar memahaminya, dengan tetap lisannya mengucapkan lafal salam yang disyariatkan, seperti yang telah disebutkan sebelumnya.

Sebagaimana juga tidak ada halangan jika seorang muslim mengucapkan kepada saudaranya:
HAYAKALLAH
atau
AHLAN
atau
KAYFA HALUK
dan semisalnya dari sekian ragam ungkapan yang dimaksudkan menyampaikan perasaan gembira terhadap saudaranya muslim.

Akan tetapi sepatutnya ungkapan-ungkapan tersebut diutarakan setelah mengucapkan salam yang disyariatkan. Adapun mencukupkan hanya sebatas ungkapan-ungkapan tersebut dengan meninggalkan salam, maupun salam dengan cara membunyikan klakson mobil (saja), yang demikian itu menyelisihi sunnah (bimbingan islam), serta tidak ada dasarnya, sehingga wajib meninggalkan hal itu.

Sementara taufiq diharapkan dari Allah semata, sedangkan sholawat dan jaminan keselamatan dari Allah bagi nabi kita Muhammad beserta keluarga dan para sahabat beliau.

Komite Tetap Penelitian Ilmiah dan Fatwa (Saudi Arabia)
ttd
– Abdul Aziz bin Abdillah AlusySyaikh (Ketua)
– Sholih bin Fauzan Al Fauzan (Anggota)
– Bakr bin Abdillah Abu Zaid (Anggota)

______________________________

baca juga fatwa-fatwa lainnya:

KEHARUSAN MEMAHAMI KONDISI DALAM BERDAKWAH

Fatwa Syaikh bin Baz Tentang Mengirim Dana untuk Berkurban ke Luar Daerah

Membaca Al Quran dan Dzikir dalam Keadaan Berdiri, Duduk ataupun Berbaring


 

?? Teks Arab:

فتاوى اللجنة الدائمة
السؤال الرابع من الفتوى رقم ( 20845 )
السؤال 4 : فضيلة الشيخ : هل يجب الرد على من سلم في غير ألفاظ (السلام عليكم)؟ مثلا إذا قال : أهلا ، أو مرحبا ، أو كيفك ، أو إذا سلم بالإشارة باليد ، أو بالعين ، أو إذا سلم السواق بالبوري .

الجواب 4 : السنة أن يحيي المسلم أخاه المسلم بالتحية الشرعية كما ورد في ألفاظ السلام المشروعة ، والأكمل في ذلك أن يقول المسلم : السلام عليكم ورحمة الله وبركاته ، ويدل لذلك ما أخرجه أبو داود والترمذي والنسائي عن عمران بن حصين قال : « جاء رجل إلى النبي صلى الله عليه وسلم فقال : (السلام عليكم) ، فرد عليه السلام ، ثم جلس ، فقال النبي صلى الله عليه وسلم : ((عشر)) ثم جاء آخر فقال : (السلام عليكم ورحمة الله) فرد عليه فجلس ، فقال : ((عشرون)) ثم جاء آخر فقال : (السلام عليكم ورحمة الله وبركاته) فرد عليه فجلس فقال : ((ثلاثون)) » ، ويجب أن يرد السامع السلام بمثل تحيته أو أحسن منها ؛ لقول الله تعالى : { وَإِذَا حُيِّيتُمْ بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّوا بِأَحْسَنَ مِنْهَا أَوْ رُدُّوهَا }
ولا بأس أن يسلم الإنسان على البعيد أو هو في سيارته ويشير بيده له ليشعره بذلك ، مع تلفظه بالسلام المشروع المذكور سابقا كما أنه لا مانع من أن يقول المسلم لأخيه : حياك الله ، أو أهلا ، أو كيف حالك ونحوها من العبارات التي تدخل السرور على أخيه المسلم ، لكن تكون تلك العبارات بعد إلقاء السلام المشروع ، أما الاقتصار على هذه العبارات وترك السلام أو السلام بمنبه السيارة (البوري)- فذلك خلاف السنة ولا أصل له ، فيجب ترك ذلك .
وبالله التوفيق ، وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم .

اللجنة الدائمة للبحوث العلمية والإفتاء
عضو … عضو … الرئيس
بكر بن عبد الله أبو زيد … صالح بن فوزان الفوزان … عبد العزيز بن عبد الله آل الشيخ

Klik untuk mengunjungi arsip fatwa 


Diterjemahkan oleh Abu Abdirrohman Sofian
Sumber Artikel: Grup WA Al I’tishom