15 Jumadil awal 1444
Beranda » Latest » Artikel » Nasihat » Khotbah Jumat: Mensyukuri Nikmat Air Bagi Kehidupan Manusia

Khotbah Jumat: Mensyukuri Nikmat Air Bagi Kehidupan Manusia

Disampaikan pada khotbah Jumat di masjid Baitul Alim Sapikerep Sukapura, 5 Shafar 1444 H/ 2 September 2022 M

Khotbah Pertama:

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَى عَبْدِهِ الْكِتَابَ وَلَمْ يَجْعَلْ لَهُ عِوَجًا. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.قَالَ اللهُ تَعَالَى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ : يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

Saudaraku kaum muslimin, rahimakumullaah…

Begitu berlimpah nikmat Allah Ta’ala kepada kita. Tidak ada suatu nikmat pun yang kita rasakan, melainkan berasal dari Allah Azza Wa Jalla:

وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ

Dan tidaklah ada suatu nikmat pun kecuali berasal dari Allah… (Q.S an-Nahl ayat 53)

Di antara nikmat yang Allah berikan kepada kita adalah nikmat air. Air adalah unsur yang sangat esensial bagi kehidupan manusia dan seluruh makhluk.

وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيّ

Kami jadikan air sebagai (sebab) kehidupan segala sesuatu (Q.S al-Anbiyaa’ ayat 30)

Allah mengingatkan kita akan nikmat diturunkannya air dari langit, yang darinyalah manusia meminumnya.

هُوَ الَّذِي أَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً لَكُمْ مِنْهُ شَرَابٌ

Dialah (Allah) yang menurunkan air dari langit untuk kalian, yang darinyalah kalian minum… (Q.S anNahl ayat 10)

Air yang Allah turunkan dari langit adalah air yang suci lagi mensucikan.

وَأَنْزَلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً طَهُورًا

Dan Kami turunkan dari langit air yang suci (Q.S al-Furqon ayat 48)

Allah adalah Sang Pencipta. Dia pula yang menjadikan bumi sebagai hamparan, langit sebagai atap, dan menurunkan air dari langit, sehingga dengannya tumbuhlah buah-buahan sebagai rezeki bagi manusia. Hanya Dialah Allah yang mampu berbuat demikian, sehingga Dialah satu-satunya yang berhak diibadahi dan tidak disekutukan dengan tandingan-tandingan lainnya. Demikian Allah jelaskan dalam alQuran surah al-Baqoroh ayat 21 dan 22.

Saudaraku kaum muslimin, rahimakumullah…

Di antara nikmat yang pertama kali Allah tanyakan kepada kita pada hari kiamat adalah kesehatan badan dan nikmat air dingin. Rasulullah shollallahu alaihi wasallam bersabda:

إِنَّ أَوَّلَ مَا يُسْأَلُ عَنْهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَعْنِي الْعَبْدَ مِنْ النَّعِيمِ أَنْ يُقَالَ لَهُ أَلَمْ نُصِحَّ لَكَ جِسْمَكَ وَنُرْوِيَكَ مِنْ الْمَاءِ الْبَارِد

Sesungguhnya yang pertama kali seorang hamba akan ditanya pada hari kiamat tentang nikmat yang telah diterimanya adalah: “Bukankah Kami telah membuat badanmu sehat dan memberikan kepuasan minum dari air yang dingin?” (H.R atTirmidzi, dishahihkan oleh Syaikh al-Albaniy)

Bersedekah dengan air adalah termasuk sedekah yang paling utama. Sahabat Nabi Sa’ad bin Ubadah radhiyallahu anhu pernah bertanya: Wahai Rasulullah, sedekah apakah yang paling utama? Nabi shollallahu alaihi wasallam bersabda:

سَقْيُ الْمَاءِ

Memberikan air (H.R Ibnu Hibban, dihasankan Syaikh al-Albaniy)

Penduduk neraka nanti akan meminta kepada penghuni surga agar diberikan air dan sebagian rezeki yang Allah berikan:

وَنَادَى أَصْحَابُ النَّارِ أَصْحَابَ الْجَنَّةِ أَنْ أَفِيضُوا عَلَيْنَا مِنَ الْمَاءِ أَوْ مِمَّا رَزَقَكُمُ اللَّهُ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ حَرَّمَهُمَا عَلَى الْكَافِرِينَ

Penghuni neraka berseru kepada penghuni surga: Tuangkanlah kepada kami air atau rezeki yang Allah berikan kepada kalian. Mereka berkata: Sesungguhnya Allah mengharamkan keduanya bagi orang-orang kafir (Q.S al-A’raf ayat 50)

Subhanallah, sesungguhnya air segar yang kita rasakan di dunia ini, tidak akan bisa kita nikmati lagi di kehidupan akhirat, jika kita menjadi orang-orang kafir. Maka bersyukurlah dengan beriman secara benar, agar nikmat yang kita rasakan saat ini menjadi bertambah dan berlipat dalam kehidupan yang kekal abadi di akhirat nanti.

أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِجَمِيْعِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

 

Khotbah Kedua:

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَجَعَلَ الظُّلُمَاتِ وَالنُّورَ ثُمَّ الَّذِينَ كَفَرُوا بِرَبِّهِمْ يَعْدِلُونَ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. قَالَ اللهُ تَعَالَى : يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

Saudaraku kaum muslimin, rahimakumullah…

Hukum asal air adalah suci. Di mana saja kita mendapatkan air yang berasal dari alam, hukum asalnya adalah suci, bisa diminum, digunakan berwudhu. mandi, atau menghilangkan najis. Rasulullah shollallahu alaihi wasallam bersabda:

إِنَّ الْمَاءَ طَهُورٌ لَا يُنَجِّسُهُ شَيْءٌ

Sesungguhnya air adalah suci (dan mensucikan), tidaklah ternajiskan dengan suatu apapun (H.R Abu Dawud, atTirmidzi, anNasaa-i)

Kecuali apabila air itu terkena benda najis yang kemudian mengubah warna, rasa, dan baunya sebab benda najis tersebut, maka air itu pun hukumnya menjadi najis. Demikian ijma’ (kesepakatan) para Ulama.

Nabi shollallahu alaihi wasallam mengajarkan hemat dalam penggunaan air. Beliau bisa bersuci secara sempurna dengan menggunakan air yang takarannya sangat sedikit. Beliau berwudhu’ dengan 1 mud (sekitar 0,75 liter) dan mandi dengan 1 sha’ (sekitar 3 liter)

عَنْ أَنَس بْنِ مَالِكٍ :كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَتَوَضَّأُ بِالْمُدِّ, وَيَغْتَسِلُ بِالصَّاعِ إِلَى خَمْسَةِ أَمْدَادٍ

Dari Anas bin Malik radhiyallaahu ‘anhu beliau berkata: Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam berwudhu’ dengan 1 mud dan mandi dengan 1 sha’ sampai 5 mud (Muttafaqun ‘alaih: diriwayatkan dan disepakati keshahihannya oleh alBukhari dan Muslim)

Bahkan, Nabi Muhammad shollallaahu ‘alaihi wasallam pernah berwudhu’ dengan 2/3 mud (sekitar 0,5 liter air), sebagaimana hadits riwayat Ahmad dari Sahabat Abdullah bin Zaid.

Nabi shollallahu alaihi wasallam melarang para Sahabatnya boros dalam penggunaan air, meskipun berada di tempat yang berlimpah air.

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَرَّ بِسَعْدٍ وَهُوَ يَتَوَضَّأُ فَقَالَ مَا هَذَا السَّرَفُ فَقَالَ أَفِي الْوُضُوءِ إِسْرَافٌ قَالَ نَعَمْ وَإِنْ كُنْتَ عَلَى نَهَرٍ جَارٍ

Dari Abdullah bin ‘Amr bahwasanya Rasulullah shollallahu alaihi wasallam melewati Sa’ad yang sedang berwudhu’. Kemudian Nabi bersabda: Mengapa berlebihan dalam penggunaan air ini? Sa’ad berkata: Apakah dalam berwudhu’, seseorang bisa boros dalam penggunaan air? Beliau bersabda: Ya, meskipun engkau berada di sungai yang mengalir (artinya: janganlah boros/ berlebihan, pent)(H.R Ibnu Majah, dishahihkan Syaikh al-Albaniy dalam Silsilah as-Shahihah)

Nikmat air ini haruslah kita syukuri. Manfaatkan dengan sebaik-baiknya, untuk menunjang ketaatan kepada Allah Ta’ala. Jika Allah berkehendak untuk menghilangkan air, tidak ada satu kekuatan pun yang bisa mengadakan air di muka bumi.

Allah Ta’ala berfirman:

قُلْ أَرَأَيْتُمْ إِنْ أَصْبَحَ مَاؤُكُمْ غَوْرًا فَمَنْ يَأْتِيكُمْ بِمَاءٍ مَعِينٍ

Katakanlah, bagaimana pendapat kalian jika di pagi hari air kalian surut ke dalam tanah. Siapakah yang bisa mendatangkan kalian air yang segar? (Q.S al-Mulk ayat 30)

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَات

اللَّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ وَنَجِّنَا مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ وَجَنِّبْنَا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَبَارِكْ لَنَا فِي أَسْمَاعِنَا وَأَبْصَارِنَا وَقُلُوبِنَا وَأَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ وَاجْعَلْنَا شَاكِرِينَ لِنِعْمَتِكَ مُثْنِينَ بِهَا قَابِلِيهَا وَأَتِمَّهَا عَلَيْنَا

رَبَّنَا آَتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلَّمَ

وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ اْلعَالَمِيْنَ

 

Disampaikan oleh: Abu Utsman Kharisman

(Terinspirasi dari khotbah Jumat Syaikh Munir as-Sa’diy dalam Daurah Masyayikh Imam al-Muzani 1 Ma’had Minhajul Atsar Jember)