4 Jumadil awal 1444
Beranda » Latest » Artikel » Muamalah » Keutamaan Sikap Memaafkan dan Berlapang Dada

Keutamaan Sikap Memaafkan dan Berlapang Dada

Cuplikan khotbah Syaikh Kholid bin Qosim Ar-Raddadi rahimahullah

Kebanyakan manusia mengira bahwa sikap memaafkan dan melupakan kesalahan orang lain selalu identik dengan kelemahan dan kehinaan. Sungguh yang demikian itu tidaklah benar.

Saat kita memaafkan dan melupakan kesalahan orang lain bukan berarti kita menjadi hina dan rendah. Bahkan itu adalah perlambang keberanian, sebuah karunia yang besar, serta kemampuan untuk mengendalikan diri.

Terlebih jika sikap memaafkan tersebut kita tempuh saat kita benar-benar mampu untuk membalas. Dalam hal ini, al-Imam al-Bukhari rahimahullah mencantumkan sebuah tema pembahasan dalam kitab sahih beliau bertajuk:

“Bab (pembahasan) tentang bolehnya membalas kedzaliman orang yang berbuat dzalim. Berdasarkan firman Allah ta’ala:

وَٱلَّذِينَ إِذَآ أَصَابَهُمُ ٱلْبَغْىُ هُمْ يَنتَصِرُونَ

Dan orang-orang yang apabila diperlakukan dengan dzalim mereka membela diri (QS. asy-Syura: 39)

Lalu beliau membawakan ucapan Ibrahim anNakha’i rahimahullah: ‘Mereka adalah orang-orang yang tidak suka untuk direndahkan. Namun jika mereka mampu (untuk membalasnya) mereka akan memaafkan.'”


Baca Juga: Jadilah Pemaaf Agar Diampuni Allah


Sebagian orang ada yang bersikap sangat keras sehingga mustahil baginya untuk memaafkan kesalahan orang kepadanya. Engkau tidak akan melihat dalam hidupnya kecuali membalas dan upaya untuk memuaskan hasrat dendamnya. Orang semacam itu tak lain merupakan musuh dari pikirannya sendiri dan dikuasai penuh oleh hawa nafsunya. Sehingga ia terpalingkan dari sikap yang lebih baik berupa memaafkan, dan selalu dituntut untuk bertindak buruk dengan membalas kesalahan orang lain tersebut.

Aisyah ibunda kaum beriman menceritakan:

ما ضَرَبَ رَسولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عليه وسلَّمَ شيئًا قَطُّ بيَدِهِ، وَلَا امْرَأَةً، وَلَا خَادِمًا؛ إلَّا أَنْ يُجَاهِدَ في سَبيلِ اللهِ، وَما نِيلَ منه شَيءٌ قَطُّ، فَيَنْتَقِمَ مِن صَاحِبِهِ؛ إلَّا أَنْ يُنْتَهَكَ شَيءٌ مِن مَحَارِمِ اللهِ، فَيَنْتَقِمَ لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tidak pernah memukul siapapun dengan tangannya, tidak kepada istrinya atau bahkan pembantu beliau. Kecuali saat beliau berjihad di jalan Allah. Beliau juga tidak pernah membalas seseorang yang berlaku buruk kepada beliau, kecuali saat keharaman Allah dilanggar sehingga beliau akan menindaknya karena Allah azza wajalla
(HR. Muslim)

Maka wahai sekalian hamba Allah, memaafkan adalah sikap yang senantiasa dihasung oleh agama islam ini. Darinya akan muncul berbagai buah yang sangat indah, di antara yang paling agung ialah orang yang gemar memaafkan akan diampuni oleh Allah. Allah berfirman:

فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُۥ عَلَى ٱللَّهِ ۚ إِنَّهُۥ لَا يُحِبُّ ٱلظَّٰلِمِينَ

Barangsiapa yang memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya di sisi Allah. Sesungguhnya Allah tidaklah mencintai orang-orang yang berbuat dzalim
(QS. Asy-Syuro: 40)

Allah juga berfirman:

وَلْيَعْفُوْا وَلْيَصْفَحُوْاۗ اَلَا تُحِبُّوْنَ اَنْ يَّغْفِرَ اللّٰهُ لَكُمْ ۗوَاللّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ

Hendaklah kalian saling memaafkan dan melupakan kesalahan. Tidakkah kalian ingin Allah mengampuni kalian? Dan sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang
(Q.S An-Nuur: 22)


Baca Juga: Lupa Kerugian Manusiawi, Bermusuhan Kerugian Tak Terlupa


Maka siapapun yang ingin diampuni oleh Allah hendaknya dia berusaha mengampuni hamba-hamba Allah dan selalu mempergauli mereka dengan sikap memaafkan, berlapang dada, tidak mempedulikan kesalahan mereka, dan selalu membalas kejelekan mereka dengan kebaikan.

ٱدْفَعْ بِٱلَّتِى هِىَ أَحْسَنُ فَإِذَا ٱلَّذِى بَيْنَكَ وَبَيْنَهُۥ عَدَٰوَةٌ كَأَنَّهُۥ وَلِىٌّ حَمِيمٌ وَمَا يُلَقَّىٰهَآ إِلَّا ٱلَّذِينَ صَبَرُوا۟ وَمَا يُلَقَّىٰهَآ إِلَّا ذُو حَظٍّ عَظِيمٍ

Balaslah (keburukan itu) dengan perbuatan yang lebih baik. Sehingga orang yang ada permusuhan antara engkau dengannya menjadi layaknya sosok yang sangat dekat lagi mencintai. Dan tiadalah yang dianugerahi demikian kecuali orang yang sabar, dan tiadalah yang diberi taufik untuk melaksanakannya kecuali orang yang memiliki bagian (ganjaran) yang besar
(QS. Fushshilat: 34-35)

Sumber: http://shorturl.at/cGQ25

 

Diterjemahkan oleh: Abu Dzayyal Muhammad Wafi