11 Jumadil awal 1444
Beranda » Latest » Artikel » Tauhid » Serial Kajian Kitabut Tauhid: Bab Ke-30: Termasuk Kesyirikan Meminta Hujan Terhadap Bintang-Bintang (Bagian Ke-2)

Serial Kajian Kitabut Tauhid: Bab Ke-30: Termasuk Kesyirikan Meminta Hujan Terhadap Bintang-Bintang (Bagian Ke-2)

Dalil Kedua

أَرْبَعٌ فِي أُمَّتِي مِنْ أَمْرِ الْجَاهِلِيَّةِ لَا يَتْرُكُونَهُنَّ الْفَخْرُ فِي الْأَحْسَابِ وَالطَّعْنُ فِي الْأَنْسَابِ وَالْاسْتِسْقَاءُ بِالنُّجُومِ وَالنِّيَاحَةُ وَقَالَ النَّائِحَةُ إِذَا لَمْ تَتُبْ قَبْلَ مَوْتِهَا تُقَامُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَعَلَيْهَا سِرْبَالٌ مِنْ قَطِرَانٍ وَدِرْعٌ مِنْ جَرَبٍ

Ada 4 hal pada umatku yang termasuk perkara Jahiliyyah, tidak mereka tinggalkan, (yaitu) Berbangga dengan leluhur, mencela nasab, meminta hujan kepada bintang-bintang, dan meratap (pada saat kematian). Beliau bersabda: wanita yang meratap, jika tidak bertobat sebelum meninggalnya, akan dibangkitkan pada hari kiamat dengan memakai pakaian dari timah panas dan baju kudis
(H.R Muslim dari Abu Malik al-‘Asy-ariy)

Penjelasan Dalil Kedua

Nabi shollallahu alaihi wasallam menjelaskan dalam hadits ini adanya kebiasaan-kebiasaan Jahiliyyah yang tidak hilang pada sebagian umat Islam. Kebiasaan-kebiasaan itu adalah suatu hal yang buruk dan tercela.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah menyatakan: “…sesungguhnya sebagian perkara Jahiliyyah yang tidak ditinggalkan oleh manusia, seluruhnya adalah celaan bagi orang yang tidak meninggalkannya.” (Iqtidhous Shirothil Mustaqim 1/69)

Nabi menyebutkan ada 4 hal dalam hadits ini, yaitu:

Pertama: “al-Fakhru fil Ahsaab”, yaitu berbangga dengan kemuliaan yang dimilikinya. Bisa berupa kemuliaan leluhur nenek moyang yang dikenal kebaikannya seperti pemberani, dermawan, paling kaya, dan semisalnya. Atau kemuliaan itu ada pada dirinya.

Padahal segala nikmat yang diterima seseorang adalah dari Allah. Tiada daya dan kekuatan kecuali atas pertolongan Allah. Tidak ada satu alasanpun yang membenarkan sikap berbangga atas kemuliaan yang dicapai oleh leluhurnya atau dirinya sendiri. Kalaulah tidak Allah beri kemuliaan itu, mereka tidak akan mendapatkannya.

Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab rahimahullah menyatakan: “Jika seseorang tidak boleh berbangga dengan amal perbuatannya sendiri, lalu bagaimana ia bisa berbangga dengan amal perbuatan ayah maupun kakeknya?” (I’anatul Mustafid bisyarhi Kitabit Tauhid karya Syaikh Sholih al-Fauzan 2/27).

Kedua: “at-Tho’nu fil Ansaab”, yaitu celaan terhadap nasab/ garis keturunan seseorang. Misalkan jika seseorang saling mencela atau bertengkar, kemudian salah satunya ada yang mencela garis keturunan pihak lain.

Ketiga: “al-Istisqoo’ bin nujuum”, yaitu menisbatkan sebab turunnya hujan kepada bintang-bintang. Artinya, mereka meyakini bahwa hujan itu turun dengan sebab munculnya bintang-bintang tertentu. Hal ini termasuk syirik kecil atau kekufuran kecil, yang meski tidak mengeluarkan seseorang dari Islam, namun merupakan dosa besar.

Termasuk kesyirikan akbar yang mengeluarkan dari Islam jika seseorang menganggap bahwa bintang-bintang itu bukan hanya penyebab, namun sebagai penentu utama turun atau tidaknya hujan.

Padahal sesungguhnya yang menurunkan hujan adalah Allah atas kehendakNya, dan Dia tidaklah menjadikan bintang-bintang sebagai penyebab turunnya hujan.

Keempat: “an-Niyaahah”, yaitu meratapi kematian orang lain. Dengan berteriak, atau menyebut-nyebut kebaikan orang yang baru meninggal yang menunjukkan ia tidak ridha atas takdir Allah, atau melakukannya dalam bentuk perbuatan, seperti merobek baju, menjambak rambut sendiri, dan semisalnya yang banyak dilakukan oleh kaum Jahiliyyah.

Disebutkan pula dalam hadits itu bahwa jika seseorang yang melakukan niyahah (meratapi kematian) itu tidak bertobat sebelum meninggalnya, maka ia akan mendapatkan dua azab berupa dipakaikan pakaian panas dan gatal pada tubuhnya. Pakaian dari tembaga panas yang meleleh serta pakaian kudis di tubuhnya. Sehingga ia akan menderita dengan itu.

Seseorang yang mengalami musibah terhadap orang yang dicintainya, saat bersedih boleh baginya untuk menangis. Namun ia harus menjaga lisan dan perbuatannya agar jangan sampai menunjukkan ketidakridhaan terhadap takdir Allah.

Ketika putra Nabi Muhammad shollallaahu alaihi wasallam yang bernama Ibrahim meninggal dunia, Rasulullah shollallahu alaihi wasallam menangis dan ditanya oleh Abdurrahman bin Auf: dan engkau (menangis) juga wahai Rasulullah? Rasul menjawab: sesungguhnya ini adalah rahmat (kasih sayang), kemudian beliau menyatakan:

إِنَّ الْعَيْنَ تَدْمَعُ وَالْقَلْبَ يَحْزَنُ وَلَا نَقُولُ إِلَّا مَا يَرْضَى رَبُّنَا

Sesungguhnya mata berlinang, hati bersedih, dan kami tidak mengucapkan kecuali apa yang diridhai oleh Tuhan kami (H.R alBukhari no 1120)

إِنَّ اللَّهَ لَا يُعَذِّبُ بِدَمْعِ الْعَيْنِ وَلَا بِحُزْنِ الْقَلْبِ وَلَكِنْ يُعَذِّبُ بِهَذَا وَأَشَارَ إِلَى لِسَانِهِ أَوْ يَرْحَمُ

Sesungguhnya Allah tidaklah mengadzab karena air mata yang berlinang ataupun hati yang bersedih. Namun Ia mengazab karena ini (beliau mengisyaratkan pada lisannya) atau Allah merahmati (H.R al-Bukhari dan Muslim)

 

Penulis: Abu Utsman Kharisman