11 Jumadil awal 1444
Beranda » Latest » Artikel » Manhaj » Para Ulama Adalah Pewaris Para Nabi

Penjelasan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah tentang poin-poin pembeda keyakinan dan sikap yang benar dari yang ekstrim terhadap kedudukan ulama

Adapun selain para Nabi dari kalangan masyaikh ilmu agama, barangsiapa yang memposisikan mereka sebagai:

  • penyambung antara Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan ummat beliau
  • menyampaikan (petunjuk dari Nabi) kepada mereka
  • mengajarkan ilmu kepada mereka
  • membiasakan mereka dengan adab yang baik
  • menjadi teladan bagi mereka

Berarti dia telah benar dalam hal itu.

Dan mereka (para ulama itu) jika mereka telah bersepakat, kesepakatan mereka menjadi hujjah pasti. Mereka (para ulama tersebut) tidak akan bersepakat dalam kesesatan. Dan apabila mereka mengalami perselisihan tentang suatu permasalahan, mereka mengembalikan (rujukan)nya kepada Allah dan Ar Rasul -shallallahu alaihi wasallam-.

Sementara masing-masing pribadi mereka bukanlah profil yang terbebas dari kesalahan (maksum) secara merata. Bahkan setiap individu manusia dapat diterima ucapannya bisa pula ditinggalkan, kecuali Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.

Juga Nabi shallallahu alaihi wasallam telah bersabda:

الْعُلَمَاء وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ، فإِنَّ الْأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا وَلَا دِرْهَمًا، وَرَّثُوا الْعِلْمَ، فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ

“Para Ulama adalah para pewaris Nabi-nabi. Karena sesungguhnya para Nabi tidaklah mewariskan (mata uang) dinar tdak pula dirham, mereka mewariskan ilmu. Barangsiapa yang memperolehnya berarti dia telah mendapat bagian (warisan para Nabi) yang melimpah.”

(Namun apabila) kalian menetapkan posisi mereka (para ulama tersebut) sebagai perantara antara Allah dan makhluk-Nya, seperti posisi petugas penjaga pintu yang menjadi perantara antara seorang raja dengan rakyatnya. Dengan cara menganggap merekalah yang menyampaikan kepada Allah berbagai kebutuhan hamba-Nya. Sedangkan Allah hanya akan memberi petunjuk kepada hamba-hamba-Nya serta mengaruniakan rezeki kepada mereka hanya melalui jalur perantaraan mereka (para ulama).

Sehingga (berdasar keyakinan semacam itu) para makhluk meminta kepada mereka (para ulama), lalu para ulama menyampaikan permintaan kepada Allah. Seperti kedudukan para (pejabat) perantara di sisi para raja, mereka menyampaikan permintaan masyarakat, karena dekatnya (kedudukan) mereka (para pejabat itu) dari mereka (para raja tersebut).

Sementara masyarakat mengajukan permintaan kepada para pejabat itu sebenarnya sebagai bentuk etika agar tidak secara langsung (lancang) meminta kepada sang raja. Atau bisa jadi karena cara mengajukan permintaan melalui jalur pejabat itu akan lebih bermanfaat dibandingkan upaya meminta langsung kepada sang raja. Karena memang mereka (para pejabat itu) lebih dekat kedudukannya di sisi raja dibandingkan kedudukan si pemohon keperluan itu sendiri.

Jadi siapapun yang menetapkan posisi sebagai perantara bagi mereka (para ulama) dengan gambaran semacam ini, orang tersebut (secara hukum asal secara umum- pent) telah kafir sekaligus musyrik. Wajib dituntut untuk bertobat (oleh pemerintah muslim-pen). Jika dia bersedia bertobat (itulah yang diharapkan), namun jika tidak sudi, (mereka berhak) dihukum mati (oleh pemerintah muslim-pent).

Dan mereka ini telah melakukan penyerupaan terhadap Allah. Mereka menyerupakan makhluk dengan Sang Pencipta, sekaligus mereka menjadikan tandingan-tandingan bagi Allah.

Sumber:
Al Wasithoh baina Al Haq wa Al Kholq hal. 25


Artikel lain yang semoga juga bermanfaat:


Naskah Arab:

اﻟﻌﻠﻤﺎء ﻭﺭﺛﺔ اﻷﻧﺒﻴﺎء

ﻭﻣﻦ ﺳﻮﻯ اﻷﻧﺒﻴﺎء ـ ﻣﻦ ﻣﺸﺎﻳﺦ اﻟﻌﻠﻢ ﻭاﻟﺪﻳﻦ ـ ﻓﻤﻦ ﺃﺛﺒﺘﻬﻢ ﻭﺳﺎﺋﻂ ﺑﻴﻦ اﻟﺮﺳﻮﻝ ﻭﺃﻣﺘﻪ، ﻳﺒﻠﻐﻮﻧﻬﻢ، ﻭﻳﻌﻠﻤﻮﻧﻬﻢ، ﻭﻳﺆﺩﺑﻮﻧﻬﻢ، ﻭﻳﻘﺘﺪﻭﻥ ﺑﻬﻢ، ﻓﻘﺪ ﺃﺻﺎﺏ ﻓﻰ ﺫﻟﻚ

ﻭﻫﺆﻻء ﺇﺫا ﺃﺟﻤﻌﻮا ﻓﺈﺟﻤﺎﻋﻬﻢ ﺣﺠﺔ ﻗﺎﻃﻌﺔ، ﻻ ﻳﺠﺘﻤﻌﻮﻥ ﻋﻠﻰ ﺿﻼﻟﺔ، ﻭﺇﻥ ﺗﻨﺎﺯﻋﻮا ﻓﻰ ﺷﻰء ﺭﺩﻭﻩ ﺇﻟﻰ اﻟﻠﻪ ﻭاﻟﺮﺳﻮﻝ، ﺇﺫ اﻟﻮاﺣﺪ ﻣﻨﻬﻢ ﻟﻴﺲ ﺑﻤﻌﺼﻮﻡ ﻋﻠﻰ اﻹﻃﻼﻕ، ﺑﻞ ﻛﻞ ﺃﺣﺪ ﻣﻦ اﻟﻨﺎﺱ ﻳﺆﺧﺬ ﻣﻦ ﻛﻼﻣﻪ ﻭﻳﺘﺮﻙ ﺇﻻ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ، ﻭﻗﺪ ﻗﺎﻝ اﻟﻨﺒﻰ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ: (اﻟﻌﻠﻤﺎء ﻭﺭﺛﺔ اﻷﻧﺒﻴﺎء، ﻓﺈﻥ اﻷﻧﺒﻴﺎء ﻟﻢ ﻳﻮﺭﺛﻮا ﺩﻳﻨﺎﺭا ﻭﻻ ﺩﺭﻫﻤﺎ، ﻭﺇﻧﻤﺎ ﻭﺭﺛﻮا اﻟﻌﻠﻢ، ﻓﻤﻦ ﺃﺧﺬﻩ ﻓﻘﺪ ﺃﺧﺬ ﺑﺤﻆ ﻭاﻓﺮ) ﻭﺇﻥ ﺃﺛﺒﺘﻢ ﻭﺳﺎﺋﻂ ﺑﻴﻦ اﻟﻠﻪ ﻭﺑﻴﻦ ﺧﻠﻘﻪ ـ ﻛﺎﻟﺤﺠﺎﺏ اﻟﺬﻳﻦ ﺑﻴﻦ اﻟﻤﻠﻚ ﻭﺭﻋﻴﺘﻪ ـ ﺑﺤﻴﺚ ﻳﻜﻮﻧﻮﻥ ﻫﻢ ﻳﺮﻓﻌﻮﻥ ﺇﻟﻰ اﻟﻠﻪ ﺣﻮاﺋﺞ ﺧﻠﻘﻪ، ﻓﺎﻟﻠﻪ ﺇﻧﻤﺎ ﻳﻬﺪﻯ ﻋﺒﺎﺩﻩ ﻭﻳﺮﺯﻗﻬﻢ ﺑﺘﻮﺳﻄﻬﻢ، ﻓﺎﻟﺨﻠﻖ ﻳﺴﺄﻟﻮﻧﻬﻢ، ﻭﻫﻢ ﻳﺴﺄﻟﻮﻥ اﻟﻠﻪ، ﻛﻤﺎ ﺃﻥ اﻟﻮﺳﺎﺋﻂ ﻋﻨﺪ اﻟﻤﻠﻮﻙ ﻳﺴﺄﻟﻮﻥ اﻟﻤﻠﻮﻙ اﻟﺤﻮاﺋﺞ ﻟﻠﻨﺎﺱ، ﻟﻘﺮﺑﻬﻢ ﻣﻨﻬﻢ، ﻭاﻟﻨﺎﺱ ﻳﺴﺄﻟﻮﻧﻬﻢ، ﺃﺩﺑﺎ ﻣﻨﻬﻢ ﺃﻥ ﻳﺒﺎﺷﺮﻭا ﺳﺆاﻝ اﻟﻤﻠﻚ، ﺃﻭ ﻷﻥ ﻃﻠﺒﻬﻢ ﻣﻦ اﻟﻮﺳﺎﺋﻂ ﺃﻧﻔﻊ ﻟﻬﻢ ﻣﻦ ﻃﻠﺒﻬﻢ ﻣﻦ اﻟﻤﻠﻚ؛ ﻟﻜﻮﻧﻬﻢ ﺃﻗﺮﺏ ﺇﻟﻰ اﻟﻤﻠﻚ ﻣﻦ اﻟﻄﺎﻟﺐ ﻟﻠﺤﻮاﺋﺞ. ﻓﻤﻦ ﺃﺛﺒﺘﻬﻢ ﻭﺳﺎﺋﻂ ﻋﻠﻰ ﻫﺬا اﻟﻮﺟﻪ، ﻓﻬﻮ ﻛﺎﻓﺮ ﻣﺸﺮﻙ، ﻳﺠﺐ ﺃﻥ ﻳﺴﺘﺘﺎﺏ، ﻓﺈﻥ ﺗﺎﺏ ﻭﺇﻻ ﻗﺘﻞ. ﻭﻫﺆﻻء ﻣﺸﺒﻬﻮﻥ ﻟﻠﻪ، ﺷﺒﻬﻮا اﻟﻤﺨﻠﻮﻕ ﺑﺎﻟﺨﺎﻟﻖ، ﻭﺟﻌﻠﻮا ﻟﻠﻪ ﺃﻧﺪاﺩا

 

Diterjemahkan oleh:
Abu Abdirrohman Sofian