Meniti Jalan Sahabat: Cara Sederhana Melepaskan Diri dari Belantara Syubhat

Pertanyaan:
Apa nasihat Anda untuk seorang pemuda yang tertimpa pemikiran rancu dalam akidahnya? Bagaimana cara kita menasihatinya dan bagaimana jalan untuk melakukan hal tersebut? Semoga Allah memberkahi Anda.
Jawaban Syaikh Shalih bin Abdil Aziz Aalusy Syaikh:
Pengaruh dalam masalah akidah itu jangan dianggap remeh, jangan dianggap remeh. Di dalamnya ada hal yang sifatnya yakin (pasti) dan ada yang sifatnya kemungkinan; ada yang disepakati (ijma’) dan ada yang diperselisihkan.
Ada hal yang yakin, ada hal yang baru sebatas kemungkinan.
Ada orang yang pergi lalu berkata: “Tidak, ini yang benar, ini yang benar.” Baik, apakah ini hal yang yakin atau baru kemungkinan? Dia menjawab: “Tidak, ini kemungkinan. Si Fulan berkata begini, saya mengunggulkan pendapat ini, saya memilih ini, hal ini ada penjelasan begini, mazhab ini begini…” Baik, lalu di manakah hal yang pasti itu?
Jadi kita tidak sedang membahas bantahan-bantahan atau rincian akidah yang mendalam sebagai pandangan awal dalam metodologi (manhaj), yaitu metodologi dalam menyikapi perbedaan pendapat: di manakah hal yang yakin dan di manakah hal yang bukan yakin?
Sebagai contoh, kita ambil pembahasan yang berkaitan dengan Tauhid Ibadah. Ada orang-orang yang datang dan berkata: “Tidak apa-apa membangun kubah di atas kuburan, bertawasul, atau meminta pertolongan (istighatsah) kepada para wali,” dan seterusnya, meskipun hal itu tidak ada pada zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dia sendiri berkata: “Meskipun tidak ada pada zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ulama Fulan pernah berpendapat demikian, ulama Fulan berpendapat demikian, ulama Fulan berpendapat demikian…” dan seterusnya.
Dengan demikian, dalam perkataannya ia telah membagi ucapan menjadi hal yang yakin dan hal yang baru sebatas kemungkinan.
Jika itu adalah perkataan yang disampaikan para ulama, kita katakan: itu adalah kemungkinan yang bisa saja benar atau tidak benar, dan kita tidak ingin berlarut-larut membahas kemungkinan tersebut. Namun sebagai metode dasar: janganlah menuju ke hal yang masih sebatas kemungkinan, karena kematian bisa datang besok sementara Anda berada di atas akidah yang tidak pasti.
Pergilah menuju hal yang pasti! Jadikan hidup Anda sebagai pencarian terhadap apa yang pasti. Hal yang pasti itu adalah apa yang terdapat dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah, serta apa yang ada pada zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan zaman para Khulafaur Rasyidin. Ini adalah hal yang tidak perlu diperdebatkan lagi.
Demi Allah, saya tidak ingin masuk ke dalam rincian-rincian. Rincian-rincian ini tidak memberi manfaat bagi saya. Di manakah posisi saya? Apa yang ada pada zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam? Dan apa yang ada pada zaman para sahabat dan seterusnya? Sudah, selesai, itulah yang akan saya ikuti.
Sumber:
Video pendek channel @khizana_62 berjudul:
نصيحة لمن أصيب بإنحراف في عقيدته || للشيخ صالح بن عبدالعزيز آل الشيخ
(diunggah 9 Maret 2025)
Transkrip dalam Bahasa Arab
السُّؤَالُ: مَا هِيَ نَصِيحَتُكُمْ لِشَابٍّ أُصِيبَ بِلَوْثَةٍ فِكْرِيَّةٍ فِي عَقِيدَتِهِ؟ كَيْفَ نَنْصَحُهُ وَمَا الطَّرِيقُ لِذَلِكَ؟ بَارَكَ اللهُ فِيكُمْ
الْجَوَابُ (الـشَّيْخُ صَالِحٌ آلُ الشَّيْخِ): يَعْنِي التَّأَثُّرُ الْعَقَدِيُّ لَا تَتَسَاهَلْ فِيهِ، لَا تَتَسَاهَلْ فِيهِ. فِيهِ يَقِينٌ وَفِيهِ احْتِمَالٌ، فِيهِ مُجْمَعٌ عَلَيْهِ وَفِيهِ مُخْتَلَفٌ فِيهِ
فِيهِ يَقِينٌ، فِيهِ احْتِمَالٌ. فِي وَاحِدٍ يَذْهَبُ يَقُولُ: “لَا، هَذَا صَحِيحٌ، هَذَا صَحِيحٌ”. طَيِّبٌ، هَذَا احْتِمَالٌ وَلَا يَقِينٌ؟ يَقُولُ: “لَا، احْتِمَالٌ. هَذَا قَالَ كَذَا، أَنَا أُرَجِّحُ كَذَا، أَنَا أَخْتَارُ كَذَا، هَذَا فِيهِ كَذَا، هَذَا الْمَذْهَبُ كَذَا…” طَيِّبٌ، الْيَقِينِيُّ، الْيَقِينِيُّ هُوَ أَيْنَ؟
فَنَحْنُ مَا نَبْحَثُ فِي الرُّدُودِ وَمَا نَبْحَثُ فِي الْعَقَائِدِ الْمُفَصَّلَةِ وَكَذَا كَنَظْرَةٍ بِدَائِيَّةٍ فِي الْمَنْهَجِ، فِي الْمَنْهَجِ فِي تَلَقِّي الْخِلَافَاتِ: أَيْنَ الْيَقِينُ وَأَيْنَ غَيْرُ الْيَقِينِ؟
يَعْنِي مَثَلًا نَأْتِي فِي مَبَاحِثَ تَتَعَلَّقُ بِتَوْحِيدِ الْعِبَادَةِ، يَأْتِي نَاسٌ يَقُولُونَ: “لَا، لَا بَأْسَ مِنْ بِنَاءِ الْقُبَابِ، وَوُجُودِ التَّوَسُّلَاتِ وَالاسْتِغَاثَاتِ بِالأَوْلِيَاءِ وَإِلَى آخِرِهِ”، حَتَّى لَوْ لَمْ تُوجَدْ فِي زَمَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. هُوَ يَقُولُ: “حَتَّى لَوْ لَمْ تُوجَدْ فِي زَمَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ بِهَا مِنَ الْعُلَمَاءِ فُلَانٌ، وَقَالَ بِهَا فُلَانٌ، وَقَالَ بِهَا فُلَانٌ…” إِلَى آخِرِهِ
إِذَنْ هُوَ فِي كَلَامِهِ قَسَّمَ الْكَلَامَ إِلَى يَقِينِيٍّ وَإِلَى احْتِمَالِيٍّ. فَإِذَا كَانَ كَلَامُ الْعُلَمَاءِ قَالُوهُ، نَقُولُ: هُوَ احْتِمَالٌ يَكُونُ صَحِيحًا أَوْ غَيْرَ صَحِيحٍ، مَا نَبْغَى نَبْحَثُ فِي الاحْتِمَالِ. لَكِنْ كَمَنْهَجٍ أَوَّلِيٍّ: لَا تَذْهَبْ إِلَى الاحْتِمَالِ؛ لِأَنَّ هَذَا فِيهِ مَوْتٌ بُكْرَةً وَأَنْتَ عَلَى عَقِيدَةٍ غَيْرِ يَقِينِيَّةٍ
اِذْهَبْ إِلَى الْيَقِينِ، فَاجْعَلْ حَيَاتَكَ بَحْثًا عَنِ الْيَقِينِ. الْيَقِينُ هُوَ الَّذِي جَاءَ فِي الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ، وَكَانَ فِي زَمَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَزَمَنِ الْخُلَفَاءِ، هَذَا مَا فِيهِ كَلَامٌ
وَاللهِ أَنَا مَا أَبْغَى أَدْخُلَ فِي تَفَاصِيلَ، هَذِهِ التَّفَاصِيلُ مَا تَنْفَعُنِي، أَنَا وَيْنِ؟ أَيْش كَانَ فِي زَمَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ؟ وَأَيْش كَانَ فِي زَمَنِ الصَّحَابَةِ وَكَذَا؟ خَلَاصٌ، أَنَا بَمْشِي عَلَيْهِ
قناة خزانة العلم، “نصيحة لمن أصيب بإنحراف في عقيدته || للشيخ صالح بن عبدالعزيز آل الشيخ”، مقطع فيديو على يوتيوب، ٢:٢٢، ٩ مارس ٢٠٢٥م،
Penerjemah: Abu Utsman Kharisman

Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.