Beranda » Latest » Artikel » Ibadah » Bijak Memilih Amal Terbaik di Setiap Waktu dan Keadaan Guna Menggapai Ridha Ilahi

Bijak Memilih Amal Terbaik di Setiap Waktu dan Keadaan Guna Menggapai Ridha Ilahi

0
book-8224121_1280

Al-Imam Ibnul Qoyyim rahimahullah menyatakan:

“Sesungguhnya ibadah yang paling utama adalah beramal demi meraih keridhaan Rabb pada setiap waktu sesuai dengan tuntutan dan tugas waktu tersebut.

Di waktu jihad, maka ibadah yang paling utama adalah jihad, meskipun harus meninggalkan wirid-wirid rutin seperti shalat malam atau puasa sunnah di siang hari. Bahkan, (jihad lebih utama) meskipun harus meninggalkan kesempurnaan shalat fardu (seperti meringkasnya), tidak sebagaimana saat kondisi aman.

Di waktu kedatangan tamu, misalnya, yang paling utama adalah menunaikan haknya dan menyibukkan diri melayaninya daripada melakukan wirid sunnah. Demikian pula dalam menunaikan hak istri dan keluarga.

Di waktu sahur, yang paling utama adalah menyibukkan diri dengan shalat malam, membaca Al-Qur’an, berdoa, berdzikir, dan beristighfar.

Di waktu ada murid yang mencari bimbingan atau mengajar orang yang bodoh, maka yang paling utama adalah fokus mengajar dan menyibukkan diri dengannya.

Di waktu azan, yang paling utama adalah meninggalkan wirid yang sedang dikerjakan dan menyibukkan diri menjawab seruan muadzin.

Di waktu shalat lima waktu, yang paling utama adalah bersungguh-sungguh dan tulus melaksanakannya sesempurna mungkin, bersegera mengerjakannya di awal waktu, dan keluar menuju masjid jami’; semakin jauh jaraknya maka itu lebih utama.

Di waktu ada orang yang sangat butuh bantuan, baik bantuan berupa kedudukan (pertolongan jabatan), bantuan fisik, atau harta, maka yang paling utama adalah menyibukkan diri membantunya, menolong kesulitannya, dan mendahulukan hal itu di atas wirid rutin maupun khalwat (menyendiri untuk ibadah) Anda.

Di waktu membaca Al-Qur’an, yang paling utama adalah menghimpun hati dan tekad untuk mentadabburi serta memahaminya, seolah-olah Allah Ta’ala sedang berbicara langsung kepada Anda. Maka Anda fokuskan hati untuk memahami dan merenungkannya, disertai tekad untuk melaksanakan perintah-Nya; hal ini lebih utama daripada fokusnya hati seseorang yang menerima surat dari penguasa (untuk urusan dunia).

Di waktu wukuf di Arafah, yang paling utama adalah bersungguh-sungguh dalam merendahkan diri (tadharru’), berdoa, dan berdzikir, daripada melakukan puasa yang justru memperlemah kondisi tubuh untuk melakukan itu semua.

Di sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah, yang paling utama adalah memperbanyak ibadah, terutama takbir, tahlil, dan tahmid; itu lebih utama daripada jihad yang hukumnya tidak fardu ain.

Di sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan, yang paling utama adalah menetap di masjid (iktikaf), berkhalwat, dan fokus beribadah tanpa menyibukkan diri berinteraksi dengan manusia. Menurut banyak ulama, hal ini bahkan lebih utama daripada menyibukkan diri mengajar ilmu atau membacakan Al-Qur’an kepada mereka.

Di waktu saudara muslimmu sakit atau meninggal, yang paling utama adalah menjenguknya, menghadiri jenazahnya, serta mengantarkannya ke pemakaman; mendahulukan hal itu daripada khalwat dan fokus ibadah pribadi Anda.

Di waktu terjadi musibah atau gangguan manusia terhadap Anda, yang paling utama adalah menunaikan kewajiban sabar sambil tetap berinteraksi dengan mereka, bukan malah lari dari mereka. Karena seorang mukmin yang berinteraksi dengan manusia dan bersabar atas gangguan mereka lebih utama daripada orang yang tidak berinteraksi sehingga tidak diganggu.

Berinteraksi dengan mereka dalam kebaikan itu lebih baik daripada menjauhi mereka. Sebaliknya, menjauhi mereka dalam keburukan lebih utama daripada berinteraksi di dalamnya. Namun, jika ia tahu bahwa dengan berinteraksi ia bisa menghilangkan atau mengurangi keburukan tersebut, maka berinteraksi saat itu lebih utama daripada menjauh.

Maka, yang paling utama pada setiap waktu dan keadaan adalah mendahulukan keridhaan Allah pada waktu dan keadaan tersebut, serta menyibukkan diri dengan kewajiban, tugas, dan tuntutan waktu itu. Mereka itulah orang-orang yang mencapai tingkatan ahli ibadah yang mutlak (Ahlu al-Ta’abbud al-Mutlaq).”


Sumber: Madarijus Salikin karya Ibnul Qoyyim 1/109-111

Naskah dalam Bahasa Arab

قال ابن القيم رحمه الله تعالى في مدارج السالكين

إِنَّ أَفْضَلَ الْعِبَادَةِ الْعَمَلُ عَلَى مَرْضَاةِ الرَّبِّ فِي كُلِّ وَقْتٍ بِمَا هُوَ مُقْتَضَى ذَلِكَ الْوَقْتِ وَوَظِيفَتُهُ، فَأَفْضَلُ الْعِبَادَاتِ فِي وَقْتِ الْجِهَادِ: الْجِهَادُ، وَإِنْ آَلَ إِلَى تَرْكِ الْأَوْرَادِ، مِنْ صَلَاةِ اللَّيْلِ وَصِيَامِ النَّهَارِ، بَلْ وَمِنْ تَرْكِ إِتْمَامِ صَلَاةِ الْفَرْضِ، كَمَا فِي حَالَةِ الْأَمْنِ. وَالْأَفْضَلُ فِي وَقْتِ حُضُورِ الضَّيْفِ مَثَلًا الْقِيَامُ بِحَقِّهِ، وَالِاشْتِغَالُ بِهِ عَنِ الْوِرْدِ الْمُسْتَحَبِّ، وَكَذَلِكَ فِي أَدَاءِ حَقِّ الزَّوْجَةِ وَالْأَهْلِ. وَالْأَفْضَلُ فِي أَوْقَاتِ السَّحَرِ الِاشْتِغَالُ بِالصَّلَاةِ وَالْقُرْآنِ، وَالدُّعَاءِ وَالذِّكْرِ وَالِاسْتِغْفَارِ. وَالْأَفْضَلُ فِي وَقْتِ اسْتِرْشَادِ الطَّالِبِ، وَتَعْلِيمِ الْجَاهِلِ الْإِقْبَالُ عَلَى تَعْلِيمِهِ وَالِاشْتِغَالِ بِهِ. وَالْأَفْضَلُ فِي أَوْقَاتِ الْأَذَانِ تَرْكُ مَا هُوَ فِيهِ مِنْ وِرْدِهِ، وَالِاشْتِغَالُ بِإِجَابَةِ الْمُؤَذِّنِ. وَالْأَفْضَلُ فِي أَوْقَاتِ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ الْجِدُّ وَالنُّصْحُ فِي إِيقَاعِهَا عَلَى أَكْمَلِ الْوُجُوهِ، وَالْمُبَادَرَةُ إِلَيْهَا فِي أَوَّلِ الْوَقْتِ، وَالْخُرُوجُ إِلَى الْجَامِعِ، وَإِنْ بَعُدَ كَانَ أَفْضَلَ. وَالْأَفْضَلُ فِي أَوْقَاتِ ضَرُورَةِ الْمُحْتَاجِ إِلَى الْمُسَاعَدَةِ بِالْجَاهِ، أَوِ الْبَدَنِ، أَوِ الْمَالِ الِاشْتِغَالُ بِمُسَاعَدَتِهِ، وَإِغَاثَةُ لَهْفَتِهِ، وَإِيثَارُ ذَلِكَ عَلَى أَوْرَادِكَ وَخَلْوَتِكَ. وَالْأَفْضَلُ فِي وَقْتِ قِرَاءَةِ الْقُرْآنِ جَمْعِيَّةُ الْقَلْبِ وَالْهِمَّةِ عَلَى تَدَبُّرِهِ وَتَفَهُّمِهِ، حَتَّى كَأَنَّ اللَّهَ تَعَالَى يُخَاطِبُكَ بِهِ، فَتَجْمَعُ قَلْبَكَ عَلَى فَهْمِهِ وَتَدَبُّرِهِ، وَالْعَزْمُ عَلَى تَنْفِيذِ أَوَامِرِهِ أَعْظَمُ مِنْ جَمْعِيَّةِ قَلْبِ مَنْ جَاءَهُ كِتَابٌ مِنَ السُّلْطَانِ عَلَى ذَلِكَ. وَالْأَفْضَلُ فِي وَقْتِ الْوُقُوفِ بِعَرَفَةَ الِاجْتِهَادُ فِي التَّضَرُّعِ وَالْدُعَاءِ وَالْذِكْرِ دُونَ الصَّوْمِ الْمُضْعِفِ عَنْ ذَلِكَ. وَالْأَفْضَلُ فِي أَيَّامِ عَشْرِ ذِي الْحِجَّةِ الْإِكْثَارُ مِنَ التَّعَبُّدِ، لَاسِيَّمَا التَّكْبِيرُ وَالْتَهْلِيلُ وَالْتَحْمِيدُ، فَهُوَ أَفْضَلُ مِنَ الْجِهَادِ غَيْرِ الْمُتَعَيَّنِ. وَالْأَفْضَلُ فِي الْعَشْرِ الْأَخِيرِ مِنْ رَمَضَانَ لُزُومُ الْمَسْجِدِ فِيهِ وَالْخَلْوَةِ وَالِاعْتِكَافِ دُونَ التَّصَدِّي لِمُخَالَطَةِ النَّاسِ وَالِاشْتِغَالِ بِهِمْ، حَتَّى إِنَّهُ أَفْضَلُ مِنَ الْإِقْبَالِ عَلَى تَعْلِيمِهِمُ الْعِلْمَ، وَإقْرَائِهِمُ الْقُرْآنَ، عِنْدَ كَثِيرٍ مِنَ الْعُلَمَاءِ. وَالْأَفْضَلُ فِي وَقْتِ مَرَضِ أَخِيكَ الْمُسْلِمِ أَوْ مَوْتِهِ عِيَادَتُهُ، وَحُضُورُ جِنَازَتِهِ وَتَشْيِيعُهُ، وَتَقْدِيمُ ذَلِكَ عَلَى خَلْوَتِكَ وَجَمْعِيَّتِكَ. وَالْأَفْضَلُ فِي وَقْتِ نُزُولِ النَّوَازِلِ وَأَذَاةِ النَّاسِ لَكَ أَدَاءُ وَاجِبِ الصَّبْرِ مَعَ خُلْطَتِكَ بِهِمْ، دُونَ الْهَرَبِ مِنْهُمْ، فَإِنَّ الْمُؤْمِنَ الَّذِي يُخَالِطُ النَّاسَ لِيَصْبِرَ عَلَى أَذَاهُمْ أَفْضَلُ مِنَ الَّذِي لَا يُخَالِطُهُمْ وَلَا يُؤْذُونَهُ. وَالْأَفْضَلُ خُلْطَتُهُمْ فِي الْخَيْرِ، فَهِيَ خَيْرٌ مِنَ اعْتِزَالِهِمْ فِيهِ، وَاعْتِزَالُهُمْ فِي الشَّرِّ، فَهُوَ أَفْضَلُ مِنْ خُلْطَتِهِمْ فِيهِ، فَإِنْ عَلِمَ أَنَّهُ إِذَا خَالَطَهُمْ أَزَالَهُ أَوْ قَلَّلَهُ فَخُلْطَتُهُمْ حِينَئِذٍ أَفْضَلُ مِنِ اعْتِزَالِهِمْ. فَالْأَفْضَلُ فِي كُلِّ وَقْتٍ وَحَالٍ إِيثَارُ مَرْضَاةِ اللَّهِ فِي ذَلِكَ الْوَقْتِ وَالْحَالِ، وَالِاشْتِغَالُ بِوَاجِبِ ذَلِكَ الْوَقْتِ وَوَظِيفَتِهِ وَمُقْتَضَاهُ. وَهَؤُلَاءِ هُمْ أَهْلُ التَّعَبُّدِ الْمُطْلَقِ

Penerjemah: Abu Utsman Kharisman