Doa Menjenguk Orang Sakit dan Ruqyah yang Dibacakan 7 Kali

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: مَنْ عَادَ مَرِيضًا، لَمْ يَحْضُرْ أَجَلُهُ فَقَالَ عِنْدَهُ سَبْعَ مِرَارٍ: أَسْأَلُ اللَّهَ الْعَظِيمَ رَبَّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ أَنْ يَشْفِيَكَ، إِلَّا عَافَاهُ اللَّهُ مِنْ ذَلِكَ الْمَرَضِ
Dari Ibnu Abbas dari Nabi shollallahu alaihi wasallam bahwasanya beliau bersabda: Barang siapa menjenguk orang sakit yang belum tiba ajalnya, kemudian membaca di sisinya sebanyak 7 kali: AS-ALULLAAHAL ‘ADZHIIM ROBBAL ‘ARSYIL ‘ADZHIIM AN YASYFIYAK (Aku meminta kepada Allah Yang Maha Agung, Pemilik Arsy yang agung, untuk menyembuhkanmu), kecuali Allah akan menyembuhkannya dari sakit itu (H.R Abu Dawud dan atTirmidzi, dishahihkan Syaikh al-Albaniy, lafadz sesuai riwayat Abu Dawud)
As-Shon’aaniy rahimahullah menyatakan:
Maka semestinya setiap orang yang menjenguk (orang sakit) mengucapkan (doa itu) karena ia tidak mengetahui siapa yang telah dekat ajalnya (dan siapa yang belum, pen) (atTanwiir Syarh al-Jami’is Shoghiir 9/508)
Abul Hasan Ubaidullah bin Muhammad al-Mubarakfuriy rahimahullah:
…pembatasan (akan sembuhnya orang yang sakit itu) adalah kondisi kebanyakan atau jika terpenuhi syarat-syaratnya….memungkinkan juga bahwa dengan sebab keberkahan doa itu Allah akan meringankan kematian baginya (orang yang sakit)(Muro’aatul Mafaatiih Syarh Misykaatil Mashoobiih 5/247)
Syaikh Muhammad bin Sholih al-Utsaimin rahimahullah menyatakan:
“Hadits Ibnu Abbas (menjelaskan) bahwa sesungguhnya seseorang apabila menjenguk orang sakit yang belum tiba ajalnya—yaitu penyakit yang dideritanya bukan penyakit yang membawa kepada kematian—lalu ia mengucapkan: ‘As-alullāhal ‘adhīm, rabbal ‘arsyil ‘adhīm, an yasyfiyaka’ (Aku memohon kepada Allah Yang Maha Agung, Tuhan Arsy yang agung, agar menyembuhkanmu) sebanyak tujuh kali,melainkan Allah akan menyembuhkannya dari penyakit tersebut. Hal ini berlaku jika ajal belum tiba. Adapun jika ajal telah tiba, maka tidak lagi bermanfaat obat maupun bacaan (ruqyah), karena Allah Ta’ala berfirman (yang artinya): ‘Tiap-tiap umat mempunyai ajal; maka apabila telah datang ajalnya, mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak dapat (pula) mendahulukannya.'(Q.S al-A’raaf ayat 34)(Syarh Riyadhis Sholihin Libni Utsaimin 4/483)
Oleh: Abu Utsman Kharisman

Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.