Beranda » Latest » Artikel » Do'a » Doa Yang Sering Dibaca Nabi Sebelum Meninggalkan Majelis

Doa Yang Sering Dibaca Nabi Sebelum Meninggalkan Majelis

0
classroom-with-green-blackboard-wall-wooden-teacher-table-with-chairs_107791-4887

عَنْ خَالِدِ بْنِ أَبِي عِمْرَانَ، أَنَّ ابْنَ عُمَرَ، قَالَ: قَلَّمَا كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُومُ مِنْ مَجْلِسٍ حَتَّى يَدْعُوَ بِهَؤُلَاءِ الدَّعَوَاتِ لِأَصْحَابِهِ: اللَّهُمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَا يَحُولُ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعَاصِيكَ، وَمِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَا بِهِ جَنَّتَكَ، وَمِنَ اليَقِينِ مَا تُهَوِّنُ بِهِ عَلَيْنَا مُصِيبَاتِ الدُّنْيَا، وَمَتِّعْنَا بِأَسْمَاعِنَا وَأَبْصَارِنَا وَقُوَّتِنَا مَا أَحْيَيْتَنَا، وَاجْعَلْهُ الوَارِثَ مِنَّا، وَاجْعَلْ ثَأْرَنَا عَلَى مَنْ ظَلَمَنَا، وَانْصُرْنَا عَلَى مَنْ عَادَانَا، وَلَا تَجْعَلْ مُصِيبَتَنَا فِي دِينِنَا، وَلَا تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا وَلَا مَبْلَغَ عِلْمِنَا، وَلَا تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لَا يَرْحَمُنَا

Dari Kholid bin Abi Imran bahwasanya Ibnu Umar berkata: “Jarang sekali Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berdiri (meninggalkan) suatu majelis kecuali beliau berdoa untuk para sahabatnya dengan doa-doa ini (yang artinya): ‘Ya Allah, berikanlah kepada kami pembagian rasa takut kepada-Mu yang dapat menghalangi kami dari bermaksiat kepada-Mu. Berikanlah kami ketaatan kepada-Mu yang dapat menyampaikan kami ke surga-Mu. Berikanlah kami keyakinan (iman) yang dapat meringankan musibah dunia bagi kami. Berilah kami kenikmatan melalui pendengaran kami, penglihatan kami, dan kekuatan kami selama Engkau menghidupkan kami, dan jadikanlah ia (kesehatan tersebut) tetap ada pada kami hingga kami mati. Jadikanlah pembalasan kami hanya kepada orang yang menzalimi kami, dan tolonglah kami atas orang-orang yang memusuhi kami. Janganlah Engkau jadikan musibah kami menimpa agama kami. Janganlah Engkau jadikan dunia sebagai ambisi terbesar kami dan batas puncak ilmu kami. Dan janganlah Engkau kuasakan atas kami orang-orang yang tidak menyayangi kami.'” (H.R atTirmidzi, dihasankan Syaikh al-Albaniy)

Rangkuman Penjelasan Syaikh Ibn Utsaimin dalam Syarh Riyadhis Sholihin

Al-Imam An-Nawawi rahimahullah mengutip dalam “Bab Adab Majelis dan Teman Majelis” dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam jarang sekali berdiri meninggalkan majelis kecuali beliau mengucapkan doa ini:

1.  “Ya Allah, berikanlah kepada kami pembagian rasa takut kepada-Mu yang dapat menghalangi kami dari bermaksiat kepada-Mu.” Makna: “Iqsim” berarti takdirkan atau tetapkanlah untuk kami. Khasyah adalah rasa takut yang dibarengi dengan ilmu (pengetahuan), sesuai firman Allah (yang artinya): “Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah para ulama (orang berilmu).”(Q.S Fathir ayat 28, pen). Karena setiap kali seseorang merasa takut kepada Allah, rasa takut itu akan mencegahnya melanggar hal-hal yang diharamkan Allah.

2.  “Dan ketaatan kepada-Mu yang dapat menyampaikan kami ke surga-Mu.” Makna: Takdirkanlah ketaatan bagi kami, sebab jalan menuju surga adalah ketaatan kepada Allah. Jika seorang hamba diberi taufik untuk takut kepada Allah, menjauhi keharaman, dan menjalankan ketaatan, maka ia selamat dari neraka karena rasa takutnya dan masuk surga karena ketaatannya.

3.  “Dan keyakinan yang dapat meringankan musibah dunia bagi kami.” Makna: Yakin adalah tingkatan iman tertinggi karena di dalamnya tidak ada keraguan. Anda meyakini hal gaib seolah-olah melihatnya langsung di depan mata. Jika seseorang memiliki keyakinan sempurna terhadap apa yang Allah kabarkan (tentang hari akhir, sifat-sifat Allah, dsb), maka musibah dunia akan terasa ringan. Mengapa? Karena ia yakin musibah itu akan menghapus dosa dan mengangkat derajatnya jika ia bersabar. Baik musibah itu pada fisik, keluarga, maupun harta, semuanya akan terasa ringan dengan adanya keyakinan yang utuh.

4.  “Berilah kami kenikmatan melalui pendengaran, penglihatan, dan kekuatan kami selama Engkau menghidupkan kami.” Makna: Anda meminta Allah agar panca indera dan kekuatan Anda tetap berfungsi selama Anda hidup. Kehilangan indera-indera ini berarti kehilangan banyak kebaikan.

5.  “Dan jadikanlah ia sebagai pewaris dari kami.” Makna: Maksudnya adalah biarkan kenikmatan (pendengaran, penglihatan, kekuatan) itu terus menyertai kami hingga akhir hayat. Istilah “pewaris” di sini adalah kiasan agar kekuatan tersebut tetap ada sampai mati.

6.  “Jadikanlah pembalasan kami hanya kepada orang yang menzalimi kami.” Makna: Mintalah agar Allah membalaskan hak Anda kepada orang yang menzalimi Anda, baik di dunia maupun di akhirat. Seseorang tidak berdosa mendoakan orang yang menzaliminya selama sesuai dengan kadar kezalimannya. Allah Maha Adil dan mengabulkan doa orang yang terzalimi, sebagaimana sabda Nabi kepada Muadz bin Jabal: “Takutilah doa orang yang terzalimi, karena tidak ada penghalang antara doa itu dengan Allah.” Namun, jangan melampaui batas dalam berdoa; jika Anda mendoakan lebih dari kadar kezalimannya, maka Andalah yang menjadi pelaku zalim.

7.  “Tolonglah kami atas orang-orang yang memusuhi kami.” Makna: Musuh terbesar adalah mereka yang memusuhi kita dalam agama Allah (kafir, musyrik, munafik). Anda meminta pertolongan kepada Allah agar menang atas mereka, karena Allah adalah sebaik-baik penolong.

8.  “Janganlah Engkau jadikan musibah kami menimpa agama kami.” Makna: Musibah bisa menimpa harta, keluarga, atau akal. Namun, musibah terbesar adalah musibah dalam agama. Musibah fisik ada yang ringan (seperti flu atau sakit kepala ringan), begitu pula agama (seperti maksiat kecil). Namun ada musibah agama yang mematikan (seperti syirik, kufur, keraguan). Jika agama seseorang terkena musibah, itulah kerugian yang paling nyata.

9.  “Janganlah Engkau jadikan dunia sebagai ambisi terbesar kami dan batas puncak ilmu kami.” Makna: Jangan jadikan dunia segalanya bagi kami. Jadikanlah akhirat sebagai ambisi terbesar. Kita memang butuh dunia, tapi jangan sampai ilmu kita hanya sebatas urusan duniawi (seperti hanya paham kedokteran, astronomi, atau geografi namun buta ilmu syariat). Ilmu yang kekal dan paling penting adalah ilmu tentang akhirat.

10.  “Dan janganlah Engkau kuasakan atas kami orang-orang yang tidak menyayangi kami.” Makna: Jangan biarkan kami dikuasai oleh pemimpin atau orang-orang yang tidak punya rasa belas kasih, yang akan menyakiti dan menindas kami karena dosa-dosa kami.

Syaikh Ibn Utsaimin rahimahullah juga menjelaskan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sering mengucapkan dzikir (doa) ini setiap kali duduk dalam sebuah majelis. Meskipun tidak bersifat wajib, namun itulah yang sering beliau ucapkan.


Disarikan dari: Syarh Riyadhis Sholihin libni Utsaimin 4/361-366

Oleh: Abu Utsman Kharisman