Beranda » Latest » Artikel » Wanita » Dua Tipe Wanita dalam AlQuran
flower-5122242_640

Asy Syaikh Abdurrahman bin Nashir as Sa’di rahimahullah menjelaskan,

Para wanita itu terbagi menjadi dua:

Yang pertama: Golongan wanita paling mulia dan sebaik-baik yang dapat dimiliki oleh para lelaki.

Mereka adalah wanita yang disebut dalam firman Allah:

فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللَّهُ

Maka wanita-wanita yang salihah adalah yang taat dan menjaga diri ketika suaminya tidak ada, sesuai dengan apa yang Allah jaga. (Q.S. An Nisa’: 34)

Artinya: mereka taat kepada Allah dan kepada suami, telah menunaikan hak, dan meraih keberuntungan karena memperoleh dua bagian pahala. Mereka menjaga kehormatan diri dari segala hal yang dapat menimbulkan kecurigaan, menjaga amanah, mengurus rumah tangga, serta memelihara keluarga dengan pendidikan yang baik dan adab yang bermanfaat dalam urusan agama dan dunia.

Mereka dituntut untuk bersungguh-sungguh dalam hal ini dan memohon pertolongan kepada Allah. Firman Allah (yang artinya), “dengan apa yang Allah jaga”, menunjukkan bahwa jika mereka diberi taufik untuk menjalankan tugas mulia ini, hendaknya mereka bersyukur kepada Allah dan menyadari bahwa semua itu adalah penjagaan, pertolongan, dan kemudahan dari-Nya.

Karena siapapun yang dipasrahkan kepada dirinya sendiri, maka nafsu pasti akan mengajak kepada keburukan. Namun siapa yang menyadari karunia Allah, bertawakal kepada-Nya, dan berusaha semaksimal kemampuannya dalam melaksanakan amalan yang bermanfaat, Allah akan mencukupkannya, memperbaiki urusannya, memudahkan kebaikan baginya, dan melimpahkan kebiasaan-kebiasaan baik kepadanya.

Bagian Kedua: Ini adalah golongan wanita yang rendah keadaannya, kebalikan dari golongan pertama dalam setiap sifat.

Karena buruknya akhlak dan rusaknya pendidikan yang didapat. Mereka meremehkan suami dan mendurhakainya dalam perkara yang wajib maupun sunnah.

Allah memerintahkan agar mereka diperbaiki dengan cara yang paling ringan terlebih dahulu, lalu meningkat (jika masih diperlukan). Allah berfirman:

وَاللَّاتِي تَخَافُونَ نُشُوزَهُنَّ فَعِظُوهُنَّ

Wanita-wanita yang kamu khawatirkan sikap nusyuznya, maka nasihatilah mereka. (Q.S. An Nisa’: 34)

Artinya: jelaskan kepada mereka hukum Allah dan Rasul-Nya tentang kewajiban taat kepada suami, beri motivasi dengan pahala yang dijanjikan, dan buat mereka takut dari akibat durhaka. Jelaskan pula konsekuensi berupa hukuman, dihilangkan haknya, bolehnya suami menjauhi mereka, bahkan memukul (dengan beberapa ketentuan).

Jika nasihat dan peringatan yang seharusnya diberikan ternyata tidak juga dijalankan, dan sikap nusyuz (pembangkangan) benar-benar terjadi tanpa ada tanda-tanda sadar atau mau berubah, maka bila nasihat sudah tidak bermanfaat, langkah berikutnya adalah menjauhi istri di tempat tidur. Maksudnya, suami tidak tidur bersamanya dan tidak melakukan hubungan suami istri, bahkan tidak melakukan bentuk kedekatan lainnya, dengan harapan cara ini dapat membawa manfaat dan memperbaiki keadaan.

Namun, tindakan hajr ini harus dilakukan sebatas yang diperlukan saja, sekadar untuk mencapai tujuan perbaikan. Sebab tujuan dari hajr ini bukan untuk melampiaskan perasaan, melainkan untuk mendidik istri dan memperbaiki sikapnya.

Karena itu, hajr tidak boleh dilakukan untuk memuaskan ego atau emosi pribadi, sebagaimana yang dilakukan oleh orang yang tidak bijak: ketika istrinya menyelisihi keinginannya, ia terus-menerus menjauhi, menyimpan rasa kesal, dan tetap menyimpan kekecewaan dengan terus menyalahkannya karena tidak menuruti keinginannya, hingga akhirnya berubah menjadi dendam dan kebencian yang keduanya merupakan perangai tercela.

Keadaan seperti ini bukanlah hajr yang baik dan bermanfaat, melainkan sikap dendam yang justru merugikan pelakunya sendiri, karena tidak menghasilkan perbaikan dan tidak mendatangkan maslahat apa pun.

Jika hajr tidak berhasil, maka boleh memukul dengan pukulan ringan yang tidak mencederai. Jika tujuan tercapai dan istri kembali taat serta meninggalkan pembangkangan, maka suami wajib kembali bergaul dengan cara yang baik, dan tidak boleh menyakitinya lagi, karena ia telah kembali kepada kebenaran.

Metode ini merupakan bentuk pengobatan bagi setiap pelaku maksiat dan kejahatan. Syariat memberikan keringanan saat seseorang telah meninggalkan kejahatannya, maka seluruh haknya yang sifatnya khusus maupun umum dikembalikan kepadanya, sebagaimana halnya orang yang bertaubat dari perbuatan zalim, perampokan di jalan, dan kejahatan lainnya. Maka terlebih lagi dalam hubungan seorang suami dengan istrinya.

Dalam ayat ini dan ayat-ayat semisalnya terdapat pelajaran yang sangat berharga, yaitu bahwa orang yang telah kembali kepada kebenaran seharusnya tidak terus-menerus diungkit kesalahan masa lalunya. Hal itu justru lebih membantu untuk meneguhkannya dalam kebaikan yang diharapkan. Sebab, mengungkit peristiwa masa lalu bisa saja membangkitkan kembali keburukan, sehingga tujuan perbaikan gagal dan keadaan kembali menjadi lebih buruk daripada sebelumnya.


Sumber: Taisir Al Lathif Al Mannan fi Khulashoh Tafsir Al Quran (hal. 138-139)

Naskah dalam bahasa Arab:

وهن قسمان:

القسم الأول: قسمٌ من أعلى طبقات النساء وخيرِ ما حازه الرجال، وهنَّ المذكورات في قوله: ﴿فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللَّهُ﴾ أي: مطيعاتٌ لله ولأزواجهن، قد أدَّين الحقَّ وفُزْن بكفلين من الثواب، حافظاتٌ لأنفسهن من جميع الرِّيب، وحافظاتٌ لأمانتهن ورعاية بيوتهن، وحافظاتٌ للعائلة بالتربية الحسنة والأدب النافع في الدين والدنيا، وعليهن بذل الجهد والاستعانة بالله على ذلك، فقال: ﴿بِمَا حَفِظَ اللَّهُ﴾ أي: إذا وفَّق لهذا الأمر الجليل فليحمدن الله على ذلك، ويعلمن أن هذا من حفظه وتوفيقه وتيسيره لهن، فإن من وُكِل إلى نفسه فالنفس أمَّارة بالسوء، ومن شاهد منَّة الله وتوكَّل على الله وبذل مقدوره في الأعمال النافعة كفاه الله ما أهمَّه، وأصلح له أمره، ويسَّر له الخير وأجرى عليه عوائده الجميلة

القسم الثاني: من الطبقة النازلة من النساء، وهن ضد السابقات في كل خصلة، اللاتي من سوء أخلاقهن وقبح تربيتهن تترفعن على زوجها وتعصينه في الأمور الواجبة والمستحبة، فأمر الله بتقويمهن بالأسهل فالأَسهل، فقال: ﴿وَاللَّاتِي تَخَافُونَ نُشُوزَهُنَّ فَعِظُوهُنَّ﴾ أي: بيِّنوا لهن حكم الله ورسوله في وجوب طاعة الأزواج، ورغِّبوهن فيما يترتب على ذلك من الثواب، وخوِّفوهن من معصية الأزواج، واذكروا لهن ما يترتب على ذلك من العقاب، وما يترتب عليه من قطع حقوقها وإباحة هجرها وضربها. فإن لم تقم بالموعظة والتذكير المطلوب وحصل النشوز الذي لا يشوبه تذكُّر، فإن لم ينفع التذكير فاهجروهن في المضاجع، بأن لا ينام معها ولا يباشرها بجماع ولا غيره لعل الهجر ينجح، فإن ذلك بمقدار ما يحصل به المقصود فقط، فإن المقصود بالهجر نفع المهجور وأدبه، ليس الغرض منه شفاء النفس كما يفعله من لا رأي له إذا خالفت زوجته أو غيرها ولم يحصل مقصوده هجر هجراً مستمراً أي: يبقى متأثراً بذلك عاتباً على من لم يواته على ما يحب، ووصلت به الحال إلى الحقد الذي هو من الخصائل الذميمة، فهذا ليس من الهجر الجميل النافع، وإنما هو من الحقد الضار بصاحبه الذي لا يحصل به تقويم ولا مصلحة

فإن نفع الهجر للزوجة وإلا انتقل إلى ضربها ضرباً خفيفاً غير مبرِّح، فإن حصل المقصود ورجعت إلى الطاعة وتركت المعصية عاد الزوج إلى عشرتها الجميلة، ولا سبيل له إلى غير ذلك من أذيتها لأنها رجعت إلى الحق

وهذا الدواء لكل عاصٍ ومجرم إن الشارع رخَّصه إذا ترك إجرامه عاد حقه الخاص والعام كما في حق التائب من الظلم وقطع الطريق وغيره، فكيف الزوج مع زوجته

وفي هذه الآية ونحوها فائدة نافعة، وهي أنه ينبغي لمن عاد إلى الحق أن لا يُذكَّر بالأمور السالفة، فإن ذلك أخرى للثبات على المطلوب، فإن تذكير الأمور الماضية ربما أثارت الشر فانكسر الغرض وعادت الحال إلى أشد من الأولى

Penerjemah: Abu Dzayyal Muhammad Wafi