15 Jumadil awal 1444
Beranda » Latest » Artikel » Tarikh » Siroh » Wanita Tercela itu Tak Mampu Melihat Nabi Shollallahu Alaihi Wasallam

Wanita Tercela itu Tak Mampu Melihat Nabi Shollallahu Alaihi Wasallam

Surah Tabbat atau disebut juga surah al-Masad berisi celaan terhadap Abu Lahab dan istrinya. Abu Lahab adalah paman Nabi, namun sangat keras permusuhannya terhadap Nabi shollallahu alaihi wasallam.

Demikian pula istrinya, yang dikenal dengan sebutan Ummu Jamil bintu Harb. Bahu-membahu bersama suaminya untuk menghalangi dakwah Nabi shollallahu alaihi wasallam. Sungguh buruk dan tercela perbuatan mereka.

Setelah turunnya surah al-Masad, istri Abu Lahab itu berusaha mendatangi Nabi shollallahu alaihi wasallam. Rencananya ingin membuat perhitungan.

Saat itu, Nabi shollallahu alaihi wasallam sedang duduk bersama Abu Bakr radhiyallahu anhu. Melihat kedatangan istri Abu Lahab, Abu Bakr khawatir wanita itu akan berbuat buruk terhadap Nabi. Namun Nabi shollallahu alaihi wasallam menenangkan Abu Bakr dan menyatakan bahwa wanita itu tidak akan melihat beliau.

Benar saja, istri Abu Lahab hanya melihat Abu Bakr. Dia mengklaim bahwa Nabi shollallahu alaihi wasallam telah mencelanya. Namun, Abu Bakr menjelaskan bahwa bagaimana mungkin itu bisa terjadi, Nabi shollallahu alaihi wasallam tidak bisa bersyair. Sedangkan celaan-celaan pedas yang diungkapkan orang di masa itu biasanya dalam ungkapan syair-syair. Istri Abu Lahab pun mempercayai Abu Bakr dan pergi.

Abu Bakr heran, bagaimana bisa wanita itu tidak bisa melihat Nabi yang berada di dekatnya. Nabi pun menjelaskan bahwa sayap Malaikat telah menutupi pandangan wanita itu.

Sahabat Nabi Abdullah bin Abbas radhiyallahu anhu mengisahkan:

لَمَّا نَزَلَتْ: {تَبَّتْ يَدَا أَبِي لَهَبٍ} [المسد: 1] جَاءَتِ امْرَأَةُ أَبِي لَهَبٍ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمَعَهُ أَبُو بَكْرٍ، فَلَمَّا رَآهَا أَبُو بَكْرٍ قَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّهَا امْرَأَةٌ بَذِيئَةٌ، وَأَخَافُ أَنْ تُؤْذِيَكَ، فَلَوْ قُمْتَ. قَالَ: إِنَّهَا لَنْ تَرَانِي، فَجَاءَتْ. فَقَالَتْ: يَا أَبَا بَكْرِ إِنَّ صَاحِبَكَ هَجَانِي. قَالَ: لَا، وَمَا يَقُولُ الشِّعْرَ. قَالَتْ: أَنْتَ عِنْدِي مُصَدَّقٌ، وَانْصَرَفَتْ، فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ لَمْ تَرَكَ، قَالَ: لَا، لَمْ يَزَلْ مَلَكٌ يَسْتُرُنِي عَنْهَا بِجَنَاحِهِ

Ketika turun ayat (yang artinya): Sungguh celaka kedua tangan Abu Lahab (Q.S al-Masad ayat 1), datanglah istri Abu Lahab menemui Nabi shollallahu alaihi wasallam. Pada saat itu, beliau sedang bersama Abu Bakr. Ketika Abu Bakr melihat wanita itu, ia berkata: Wahai Rasulullah, sesungguhnya ia adalah wanita yang kasar ucapannya. Aku takut ia akan menyakiti anda. Apakah tidak sebaiknya anda pergi. Nabi bersabda: Dia tidak akan melihat aku.

Datanglah wanita itu dan ia berata: Wahai Abu Bakr, sesungguhnya sahabatmu telah mencela aku. Abu Bakr berkata: Tidak. Ia tidak pernah mengucapkan syair. Wanita itu berkata: Engkau adalah orang yang terpercaya dalam pandanganku. Pergilah wanita itu.

Aku berkata: Wahai Rasulullah, apakah ia memang tidak melihat anda? Nabi bersabda: Tidak. Malaikat terus menutupi aku dari pandangannya dengan sayapnya

(H.R Ibnu Hibban dalam Shahihnya, Abu Ya’la, dan al-Bazzar, riwayat Ibnu Hibban dihasankan Syaikh al-Albaniy dan riwayat al-Bazzar dinyatakan sanadnya hasan oleh al-Hafidz Ibnu Hajar dalam Fathul Baariy).

Subhanallah, salah satu kemahakuasaan Allah. Nabi yang duduk di dekat Abu Bakr tak mampu terlihat oleh wanita yang sudah diliputi kemarahan ingin berbuat buruk pada Nabi shollallahu alaihi wasallam.

Dalam hadits riwayat al-Hakim dan Abu Ya’la disebutkan bahwa Nabi shollallahu alaihi wasallam membaca beberapa ayat al-Quran, di antaranya adalah ayat:

وَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْآنَ جَعَلْنَا بَيْنَكَ وَبَيْنَ الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِالآخِرَةِ حِجَابًا مَسْتُورًا

Dan jika engkau membaca al-Quran, Kami jadikan antara engkau dengan orang-orang yang tidak beriman dengan akhirat ada tabir yang menghalangi (Q.S al-Israa’ ayat 45)

(H.R al-Hakim, disepakati keshahihannya oleh adz-Dzahabiy, disebutkan pula dalam Shahih Sirah anNabawiyyah karya Syaikh al-Albaniy)

Hal itu menunjukkan bahwa upaya buruk seseorang untuk menyakiti atau mencelakai orang lain, jika Allah tidak menghendaki, tidak akan bisa terlaksana. Hanya Allah lah tempat bergantung dan berlindung dari keburukan semua makhluk.

Hadits itu juga memberikan pelajaran kepada kita akan salah satu dari sekian banyak keutamaan Abu Bakr as-Shiddiq radhiyallahu anhu. Beliau adalah orang yang dikenal sangat jujur. Bahkan oleh musuh. Istri Abu Lahab mempercayai Abu Bakr, sehingga ia pun beranjak pergi. Karena kejujuran sudah begitu merasuk dan menyelimuti Abu Bakr radhiyallahu anhu. Abu Bakr telah dikenal dengan perangai baik tersebut.

Memang benar apa yang disampaikan Abu Bakr bahwa Nabi shollallahu alaihi wasallam tidak pernah menggubah syair. Apalagi syair yang mencela istri Abu Lahab.

وَمَا عَلَّمْنَاهُ الشِّعْرَ وَمَا يَنْبَغِي لَهُ إِنْ هُوَ إِلَّا ذِكْرٌ وَقُرْآَنٌ مُبِينٌ

dan Kami tidaklah mengajarkan kepadanya (Muhammad) syair, dan hal itu pun tidak layak baginya. Tidaklah (yang Kami ajarkan kepadanya) melainkan peringatan dan bacaan (Quran) yang jelas
(Q.S Yasin ayat 69).

Abu Bakr tidak berdusta. Bisa jadi yg beliau lakukan adalah tauriyyah, sebagai siasat yang mubah. Apa yang disampaikan oleh Nabi shollallahu alaihi wasallam adalah wahyu dari Allah yang di dalamnya terkandung celaan terhadap Abu Lahab dan istrinya. Beliau hanya menyampaikan amanah dari Allah Azza Wa Jalla.

 

Ditulis oleh:
Abu Utsman Kharisman