Penyimpangan Remaja dan Permasalahannya

Penyebab penyimpangan dan masalah pada remaja itu banyak dan beragam. Hal ini karena masa remaja adalah fase pertumbuhan fisik, intelektual, dan mental yang sangat pesat. Pada fase ini, perubahan dan gejolak dalam diri terjadi dengan cepat dan sering berubah-ubah.
Karena itu, pada masa ini sangat penting bagi remaja untuk dibekali kemampuan mengendalikan diri, menahan hawa nafsu, serta mendapatkan bimbingan yang bijak agar tetap berada di jalan yang benar.
Penyebab Penyimpangan dan Cara Mengatasinya
1. Waktu Luang yang Tidak Terarah
Waktu luang yang dibiarkan tanpa kegiatan adalah penyakit berbahaya bagi pikiran, akal, dan energi tubuh. Jiwa manusia membutuhkan aktivitas dan kesibukan.
Jika seseorang hidup tanpa kegiatan, pikirannya menjadi tumpul, akalnya melemah, semangat hidup menurun, dan akhirnya pikiran-pikiran buruk serta bisikan negatif menguasai hatinya. Bahkan, bisa muncul keinginan-keinginan buruk sebagai pelampiasan dari tekanan akibat kekosongan tersebut.
Solusinya: Remaja hendaknya menyibukkan diri dengan aktivitas yang bermanfaat dan sesuai dengan minatnya, seperti membaca, belajar, berdagang, menulis, atau kegiatan positif lainnya. Dengan begitu, ia terhindar dari kekosongan dan dapat menjadi pribadi yang aktif serta berguna bagi dirinya dan masyarakat.
2. Jarak dan Kekakuan Hubungan antara Remaja dan Orang Tua
Sebagian orang tua melihat penyimpangan pada anak muda, namun merasa bingung, putus asa, dan tidak mampu memperbaiki keadaan mereka. Akibatnya, muncul rasa benci, menjauh, dan sikap tidak peduli terhadap para remaja, bahkan ada yang menganggap bahwa semua remaja itu buruk.
Di sisi lain, remaja dan orang dewasa saling memandang dengan sikap meremehkan dan merendahkan. Ini adalah salah satu bahaya besar bagi kehidupan masyarakat.
Solusinya: Kedua pihak harus berusaha menghilangkan jarak ini dan menyadari bahwa masyarakat itu ibarat satu tubuh. Jika satu bagian rusak, maka seluruh tubuh akan ikut terdampak.
Orang tua hendaknya membuang rasa putus asa, karena betapa banyak orang yang sebelumnya tersesat lalu Allah memberinya hidayah dan menjadikannya sumber kebaikan.
Remaja pun perlu menghormati orang tua dan menghargai pendapat mereka, karena pengalaman hidup yang dimiliki orang tua jauh lebih banyak dibandingkan remaja.
3. Berteman dengan Lingkungan yang Buruk
Bergaul dengan orang-orang yang menyimpang sangat memengaruhi cara berpikir, sikap, dan perilaku seorang remaja. Rasulullah ﷺ bersabda:
الْمَرْءُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ، فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ
“Seseorang itu mengikuti agama (gaya hidup) teman dekatnya, maka hendaklah kalian melihat dengan siapa ia berteman.” (H.R at-Tirmidzi)
Solusinya: Remaja harus selektif dalam memilih teman, carilah teman yang baik, berakhlak, dan berakal sehat.
Nilailah seseorang sebelum menjadikannya sahabat dengan melihat latar belakang, perilaku, dan reputasinya. Jangan mudah tertipu oleh kata-kata manis dan penampilan luar semata.
Sebagaimana dikatakan dalam syair:
ابْلُ الرِّجَالَ إِذَا أَرَدْتَ إِخَاءَهُمْ … وَتَوَسَّمَن أُمُورَهُمْ وَتَفَقَّدِ
فَإِذَا ظَفَرْتَ بِذِي الْلبَابَةِ وَالتُّقَى … فِيهِ الْيَدَيْنِ قَرِير عَيْنٍ فَاشْدُدِ
Ujilah manusia jika engkau ingin bersahabat dengan mereka, perhatikan akhlaknya dan telitilah keadaannya.
Jika engkau mendapatkan orang yang berakal sehat dan bertakwa, maka eratkan persahabatan dengannya, niscaya hatimu akan tenang.
4. Membaca Bacaan yang Merusak
Sebagian buku, majalah, atau bacaan tertentu dapat menanamkan keraguan terhadap agama dan menyeret pembacanya ke jurang kerusakan moral, hingga terjerumus ke dalam kekufuran dan perilaku menyimpang. Bacaan seperti ini sangat mudah memengaruhi remaja, karena pikiran mereka masih terbuka dan mudah terpengaruh, lalu tercermin dalam gaya hidup mereka.
Solusinya: Remaja hendaknya menjauhi bacaan semacam itu dan memilih bacaan yang menumbuhkan kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya serta menguatkan iman.
Bacaan terbaik adalah Al-Qur’an, kitab-kitab tafsir yang bersumber dari para ulama terpercaya, dan hadis-hadis Rasulullah ﷺ.
5. Anggapan Bahwa Islam Membatasi Kebebasan dan Potensi
Sebagian remaja menjauhi Islam karena menganggapnya sebagai agama yang ketinggalan zaman, membatasi kebebasan, dan menghambat kemajuan.
Solusinya: Perlu dijelaskan hakikat Islam yang sebenarnya. Islam bukan agama yang mengekang kebebasan, tetapi mengatur dan mengarahkannya dengan bijak.
Jika kebebasan dibiarkan tanpa batas, maka kebebasan satu orang akan bertabrakan dengan kebebasan orang lain, dan yang terjadi hanyalah kekacauan. Karena itu, Allah menyebut aturan-aturan-Nya sebagai “batasan”.
Islam justru membuka ruang luas bagi potensi akal, pikiran, dan fisik. Islam mendorong umatnya untuk berpikir, merenung, dan berkembang.
Islam menghalalkan semua kenikmatan yang tidak membahayakan, seperti makan, minum, pakaian yang baik, dan pernikahan yang sah.
Allah juga menghalalkan semua bentuk usaha yang adil dan saling ridha, serta mengharamkan riba.
Maka, setelah semua ini, masih pantaskah Islam dituduh sebagai agama yang mengekang potensi dan kebebasan?
Catatan Penutup
Problematika remaja adalah masalah nyata yang perlu diperhatikan dengan sungguh-sungguh. Islam tidak hanya menjelaskan masalahnya, tetapi juga memberikan solusi yang sesuai sepanjang zaman. Dengan iman yang kuat, lingkungan yang baik, dan bimbingan yang benar, remaja Muslim dapat tumbuh menjadi generasi yang kuat, berakhlak baik, dan bermanfaat bagi umat.
Disarikan dari: Kitab “Min Musykilaat asy-Syabaab” karya Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin rahimahullah, hal. 18-27
Oleh: Abu Dzayyal Muhammad Wafi

Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.