15 Jumadil awal 1444
Beranda » Latest » Artikel » Muamalah » Membangun Kebiasaan Baik dari Hal-hal Kecil: Tanggungjawab dan Kepedulian

Membangun Kebiasaan Baik dari Hal-hal Kecil: Tanggungjawab dan Kepedulian

Islam mengajarkan untuk tidak mengabaikan kebaikan meski sesuatu yang teranggap kecil. 

لَا تَحْقِرَنَّ مِنَ الْمَعْرُوفِ شَيْئًا

Janganlah sekali-kali engkau meremehkan kebaikan (sekecil) apapun (H.R Muslim dari Abu Dzar)

Setiap kebaikan yang kita upayakan adalah bernilai sedekah.

كُلُّ مَعْرُوفٍ صَدَقَةٌ

Setiap kebaikan adalah sedekah (H.R al-Bukhari dan Muslim)

Bahkan, berbuat sesuatu agar orang tidak terganggu dengan akibat perbuatan kita, adalah sebuah sedekah yang bernilai pahala.

Begitu banyak aktivitas sederhana yang jika dibiasakan, akan memberikan manfaat dan justru menghindarkan kita dari kerugian di masa saat ini atau mendatang.

Sebagai contoh, membuang sampah pada tempatnya dan menjaga kebersihan. Mematikan alat-alat listrik yang tidak terpakai. Menekan tombol flush atau menyiram dengan air pada closet atau tempat buang air besar maupun kecil. Mengembalikan barang yang telah dipakai pada tempatnya semula.

Menutup rapat kembali tempat penyimpanan kue, terutama kue-kue atau makanan yang mudah melempem jika terpapar udara dalam waktu yang lama, seperti krupuk dan semisalnya. Menutup kembali pintu di ruang ber-AC. Menutup rapat kembali secara tepat pintu mobil atau kendaraan.

Jika meminjam kendaraan bermotor, saat ia kembalikan, bahan bakarnya ia isi ulang, setidaknya sama dengan yang ia pakai. Menyingkirkan gangguan dari jalan dan membantu agar tidak ada orang yang terpeleset atau terjatuh karena gangguan itu.

Tidak mengganggu sekitar dengan suara meski dalam keadaan beribadah, misalkan tilawah al-Quran atau murottal dengan suara keras. Menggunakan deodorant atau pencegah bau ketiak setelah mandi. Menutup mulut ketika bersin. Meludah atau membuang ingus secara beradab di tempat yang sesuai. Mematikan kran air yang sudah tidak terpakai. Mengganti atau memperbaiki kran air yang rusak sehingga tidak mengalirkan air terus menerus.

Hal-hal tersebut bisa jadi tergolong ringan dan sederhana. Namun, jika diabaikan, akan menimbulkan hal-hal yang tidak diharapkan. Orang-orang yang peduli dengan hal-hal kecil tersebut, menunjukkan tanggungjawab dia bagi diri dan lingkungannya. Meskipun mungkin nantinya ia tidak mengalami dampak secara langsung, tapi ia juga merasa bahwa saudaranya harus dihindarkan dari kondisi tidak nyaman atau merugikan. Sehingga hubungan persaudaraan semakin baik. 

Sebaliknya, mengabaikan hal-hal semacam itu, dalam taraf tertentu akan membuat kita ternilai sebagai pribadi yang menyebalkan dan tidak menyenangkan. Membuat hubungan pertemanan atau persaudaraan menjadi renggang.

Menyiram kembali closet setelah buang air kecil atau buang air besar, merupakan bagian dari penjagaan terhadap hal yang najis. Itu bagian dari bimbingan syariat. Kalau masih ada najis di sana, selain membuat tidak nyaman orang yang memakai berikutnya, juga khawatir akan terpercik pada tubuh dan pakaiannya yang mempengaruhi ibadah.

Lebih menyebalkan lagi ketika sebagian orang justru membuang puntung rokok, atau pembalut, tisu, dan semisalnya ke saluran pembuangan. Akibatnya, banyak pihak dirugikan ketika saluran mampet dan tidak bisa terbuang dengan baik. Bahkan, kadangkala harus mengeluarkan biaya yang mahal untuk sekedar memperbaiki akibat keteledoran atau tindakan tidak terpuji itu. 

Saat kita melihat ada kendaraan seseorang yang tanpa sengaja lampunya menyala saat diparkir. Ketika kita menduga kuat orangnya lupa mematikan lampu itu, semestinya kita membantu mengingatkan dia. Karena, aliran listrik yang terus menerus itu khawatirnya nanti akan membuat batterai (aki) mobil kehabisan daya. Akibatnya, bisa jadi nantinya mesin kendaraannya tidak bisa dinyalakan saat diperlukan. Suatu kepedulian yang sebenarnya tidak membutuhkan waktu yang lama. Namun sangat berarti bagi orang lain.

Anda bisa menambahkan sederet contoh aktivitas yang lain. Hal-hal kecil yang bagus dijadikan sebagai kebiasaan. Bahkan perlu ditanamkan pada anak-anak kita. Karena meskipun hal-hal itu tergolong remeh, bisa jadi akan berbuah pahala yang besar, jika niatnya ikhlas karena Allah Azza Wa Jalla. 

 

Ditulis oleh: Abu Utsman Kharisman