11 Jumadil awal 1444
Beranda » Latest » Artikel » Ibrah » Berlimpah Keutamaan dan Teladan Nabi Ibrahim alaihissalam

Berlimpah Keutamaan dan Teladan Nabi Ibrahim alaihissalam

Nabi Ibrahim alaihissalam adalah figur yang sarat keteladan. Beliau memiliki banyak keutamaan.

Allah Ta’ala perintahkan kepada Nabi-Nya Muhammad shollallahu alaihi wasallam untuk mengikuti millah (agama) Ibrahim yang lurus:

ثُمَّ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ أَنِ اتَّبِعْ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ

Kemudian Kami wahyukan kepadamu (wahai Muhammad) agar mengikuti millah Ibrahim yang lurus. Dan dia bukanlah termasuk orang-orang musyrik
(Q.S anNahl ayat 123)

Beliau adalah teladan mulia dalam ketauhidan, tawakkal, serta kebaikan-kebaikan lain yang sangat banyak. Hanya Allah saja yang bisa menghitungnya.

Di antara sikap terpuji Nabi Ibrahim –semoga sholawat dan salam tercurah kepada beliau -adalah sikap berlepas diri dari kesyirikan dan orang-orang musyrik. Membencinya karena Allah.

قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ إِذْ قَالُوا لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَآَءُ مِنْكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاءُ أَبَدًا حَتَّى تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَحْدَه

Sungguh dalam diri Ibrahim dan (kaum beriman) yang bersamanya terdapat teladan yang baik bagi kalian. Ketika mereka berkata kepada kaum mereka (yang kafir): Sesungguhnya kami berlepas diri dari kalian dan segala yang kalian sembah selain Allah. Kami bersikap kufur terhadap kalian. Nampak jelas permusuhan dan kebencian antara kami dengan kalian selama-lamanya hingga kalian beriman kepada Allah semata…
(Q.S al-Mumtahanah ayat 4)

Beliau adalah teladan dalam ketawakkalan kepada Allah Ta’ala. Saat akan dilemparkan ke dalam api, Nabi Ibrahim mengucapkan:

Hasbunallahu wa ni’mal wakiil (Cukup bagi kami Allah, dan Dia adalah sebaik-baik tempat bergantung). Dalam hadits riwayat Muslim disebutkan:

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ: حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ; قَالَهَا إِبْرَاهِيمُ عَلَيْهِ السَّلَام حِينَ أُلْقِيَ فِي النَّارِ وَقَالَهَا مُحَمَّدٌ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حِينَ قَالُوا: إِنَّ النَّاسَ قَدْ جَمَعُوا لَكُمْ فَاخْشَوْهُمْ فَزَادَهُمْ إِيمَانًا وَقَالُوا حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu anhu (ia berkata): Hasbunallah wa ni’mal wakiil (cukup bagi kami Allah, dan Dia adalah sebaik-baik tempat bergantung) adalah ucapan Ibrahim alaihissalam ketika dilemparkan ke dalam api. Dan ucapan itu pula yang diucapkan oleh Muhammad shollallahu alaihi wasallam ketika sebagian orang berkata: “Sesungguhnya manusia telah berkumpul akan menyerang kalian, maka takutlah kepada mereka”…
(H.R Muslim)

Dengan ketawakkalan kepada Allah itulah Allah selamatkan Nabi Ibrahim –semoga sholawat dan salam tercurah kepada beliau-. Api yang tabiat aslinya panas, menjadi dingin menyelamatkan tanpa memudharatkan.

قُلْنَا يَا نَارُ كُونِي بَرْدًا وَسَلَامًا عَلَى إِبْرَاهِيمَ

Kami (Allah) berfirman: Wahai api, jadilah engkau dingin dan selamat bagi Ibrahim
(Q.S al-Anbiyaa’ ayat 69)

Nabi Ibrahim adalah teladan dalam melaksanakan perintah Allah Ta’ala. Meski harus mengorbankan sesuatu yang sangat dicintainya, ia korbankan dalam rangka mengedepankan cinta kepada Allah di atas segala sesuatu. Allah anugerahkan anak yang berjiwa halim dan saat sudah bisa bekerja bersama, Allah wahyukan untuk menyembelihnya. Nabi Ibrahim pun melaksanakannya, dan anak beliau, Nabi Ismail juga tunduk dengan penuh kerelaan hati bersedia melaksanakannya.

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ

Ketika anak itu telah mencapai usia yang bisa bekerja bersama ayahnya, Ibrahim berkata: Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpiku aku (diperintah) untuk menyembelihmu. Bagaimana menurutmu? Anak itu (Nabi Ismail) berkata: Wahai ayahku, lakukanlah yang diperintahkan kepadamu. Engkau akan dapati aku insyaallah termasuk orang yang sabar
(Q.S as-Shoffaat ayat 102)

Nabi Ismail sungguh anak yang sangat taat kepada Allah. Berbakti pula pada ayahnya. Dengan penuh kerelaan hati, beliau menyatakan:

يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ

Wahai ayahku, lakukanlah yang diperintahkan kepadamu. Engkau akan dapati aku insyaallah termasuk orang-orang yang sabar
(Q.S as-Shoffaat ayat 102)

Bahkan, Nabi Ismail mempermudah proses penyembelihan itu. Beliau menganjurkan agar ayahnya menelungkupkan wajah Ismail saat akan disembelih. Hal itu dengan tujuan agar jangan sampai ayahnya melihat wajahnya saat akan menyembelih, kemudian timbul perasaan tidak tega dan kasihan, hingga mengurungkan niatnya.

Dalam hadits Ibnu Abbas, Ismail alaihissalaam berkata:

لاَ تَذْبَحْنِي وَأَنْتَ تَنْظُرْ عَسَى أَنْ تَرْحَمَنِي فَلَا تُجْهِزْ عَلَيَّ ارْبُطْ يَدَيَّ إِلَى رَقَبَتِي ثُمَّ ضَعْ وَجْهِي عَلَى اْلأَرْضِ

Janganlah ayahanda menyembelihku dengan memandang ke wajahku. Bisa jadi akan timbul belas kasih pada ayahanda sehingga tidak jadi melakukannya. Ikatlah tanganku pada tengkukku, kemudian letakkanlah wajahku menghadap tanah
(H.R al-Hakim, dinyatakan shahih sesuai syarat al-Bukhari dan Muslim menurut adz-Dzahabiy)

Menelungkupkan wajah ke atas tanah itulah makna firman Allah:

فَلَمَّا أَسْلَمَا وَتَلَّهُ لِلْجَبِينِ

Ketika keduanya telah berpasrah hendak menjalankan perintah Allah, dan telah menelungkupkan wajah Ismail pada tanah
(Q.S as-Shooffaat ayat 103)

Melihat kejujuran iman yang ada pada keduanya, Allah Ta’ala memberikan jalan keluar menggantikannya dengan domba putih untuk disembelih.

وَنَادَيْنَاهُ أَنْ يَا إِبْرَاهِيمُ (104) قَدْ صَدَّقْتَ الرُّؤْيَا إِنَّا كَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ (105) إِنَّ هَذَا لَهُوَ الْبَلَاءُ الْمُبِينُ (106) وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ (107)

Lalu Kami panggil dia: Wahai Ibrahim. Sungguh engkau telah membenarkan mimpi itu. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor (domba putih) sesembelihan yang besar
(Q.S as-Shoffaat ayat 104-107)

Nabi Ibrahim pernah diperintah oleh Allah untuk membawa istrinya Hajar bersama bayi Ismail. Menempuh perjalanan yang sangat jauh ratusan kilometer dari Syam menuju Makkah. Di Makkah, ditinggalkan di tempat yang sepi, tandus, hanya berbekal sekarung kurma dan geriba berisi air minum saja. Saat Nabi Ibrahim akan meninggalkannya, Hajar mengejar. Ibrahim terus pergi tanpa menoleh, Hajar mengejar lagi, demikian berlangsung berkali-kali. Hingga Hajar kemudian berkata:

أَاللَّهُ الَّذِي أَمَرَكَ بِهَذَا

Apakah Allah yang memerintahkan engkau dengan ini?

قَالَ نَعَمْ قَالَتْ إِذَنْ لَا يُضَيِّعُنَا

Ibrahim berkata: Ya. Hajar berkata: Kalau demikian, Allah tidak akan menyia-nyiakan kami

(H.R al-Bukhari dari Ibnu Abbas)

Istri Nabi Ibrahim, Hajar yakin akan pertolongan Allah tersebut. Saat ia mengetahui bahwa ia ditinggalkan hanya bersama bayinya di lembah tandus, tanpa pepohonan, dan tak ada teman, karena perintah Allah, ia kemudian berkata: Kalau demikian, Allah tidak akan menyia-nyiakan kita.

Allah Ta’ala juga memuji Nabi Ibrahim alaihissalam:

إِنَّ إِبْرَاهِيمَ كَانَ أُمَّةً قَانِتًا لِلّهِ حَنِيفًا وَلَمْ يَكُ مِنَ الْمُشْرِكِينَ

Sesungguhnya Ibrahim adalah teladan yang baik, tunduk patuh kepada Allah, lurus, dan tidak pernah termasuk orang-orang yang berbuat kesyirikan
(Q.S anNahl:120)

Meski Nabi Ibrahim –semoga sholawat dan salam tercurah pada beliau- adalah teladan dalam ketauhidan dan beliau tidak pernah berbuat kesyirikan, namun beliau berdoa kepada Allah agar diri beliau dan keturunan beliau dijauhkan dari kesyirikan. Allah Ta’ala berfirman:

وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ اجْعَلْ هَذَا الْبَلَدَ آَمِنًا وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَنْ نَعْبُدَ الْأَصْنَامَ

Dan ketika Ibrohim berdoa: Wahai Tuhanku, jadikanlah negeri ini (Makkah) sebagai negeri yang aman, dan jauhkanlah aku dan anak keturunanku dari menyembah berhala
(Q.S Ibrohim: 35)

Nabi Ibrohim alaihissalam dengan kemurnian tauhid yang ada pada beliau masih mengkhawatirkan kesyirikan pada diri beliau dan keturunannya.

Jika Nabi Ibrohim yang demikian mulia kedudukannya, sebagai Khalil (kekasih) Allah saja masih mengkhawatirkan kesyirikan terjadi pada beliau, maka lebih-lebih lagi orang lain yang di bawahnya. Harus sangat merasa takut dan khawatir terjatuh ke dalam kesyirikan.

Karena itu, seorang tabi’i yang bernama Ibrohim atTaymiy ketika membaca ayat tersebut berkata:

مَنْ يَأْمَنُ مِنَ الْبَلاَءِ بَعْدَ خَلِيْلِ اللهِ إِبْرَاهِيْمَ

Siapakah yang bisa merasa aman dari bala’ (kesyirikan) setelah Kholil Allah (kekasih Allah) Ibrohim (alaihissalam)
(riwayat atThobary dalam tafsirnya)

Upaya untuk menghindar dari kesyirikan itu adalah dengan mempelajari apakah itu tauhid sekaligus lawannya, yaitu kesyirikan. Mempelajari bahaya kesyirikan adalah dalam rangka untuk menghindarinya.

Sebagaimana Sahabat Nabi Hudzaifah bin al-Yaman radhiyallahu anhu bertanya tentang keburukan kepada Nabi bukan untuk mengikuti keburukan itu, namun justru untuk menghindarinya.

كَانَ النَّاسُ يَسْأَلُونَ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم عَنِ الْخَيْرِ وَكُنْتُ أَسْأَلُهُ عَنِ الشَّرِّ مَخَافَةَ أَنْ يُدْرِكَنِى

Orang-orang biasanya bertanya kepada Rasulullah shollallahu alaihi wasallam tentang kebaikan, sedangkan aku bertanya kepada kepada beliau tentang keburukan, karena khawatir bisa menimpaku
(H.R Muslim dari Hudzaifah)

 

Dikutip dari:
Buku “Mari Bersholawat Sesuai Tuntunan Nabi”, Abu Utsman Kharisman