15 Jumadil awal 1444
Beranda » Latest » Artikel » Do'a » Makna Bacaan Tasbih

Tasbih adalah ucapan: Subhanallah atau semakna dengannya, yang artinya adalah Maha Suci Allah.

Kita sucikan Allah dari segala hal yang tidak pantas dinisbatkan kepada Allah, Sang Pemilik segala Kesempurnaan. Kita sucikan Ia dari segala sifat-sifat kekurangan seperti lemah, lupa, lalai, ngantuk, tidur, capek, tuli, dan segala macam aib dan kekurangan yang bisa dijumpai pada makhluk, sebagaimana Allah sendiri mensucikan diriNya dalam KalamNya yang mulia:

وَمَا كَانَ اللهُ لِيُعْجِزَهُ مِنْ شَيْءٍ فِي السَّمَاوَاتِ وَلاَ فِي اْلأَرْضِ

Dan tidak ada suatu pun bagi Allah yang dapat melemahkanNya di langit maupun di bumi
(Q.S Faathir: 44)

وَماَ كَانَ رَبُّكَ نَسِيًّا

Dan sekali-kali Tuhanmu tidak akan lupa…
(Q.S Maryam: 64)

وَمَا اللهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُوْنَ

Dan Allah sekali-kali tidak lalai dari apa yang kalian perbuat
(Q.S AlBaqoroh: 74)

لاَ تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَّلاَ نَوْمٌ

Dan tidaklah menghinggapiNya perasaan kantuk maupun tidur
(Q.S AlBaqoroh: 255)

وَلَقَدْ خَلَقْنَا السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ وَّمَا مَسَّنَا مِنْ لُّغُوْبٍ

Dan sungguh telah Kami ciptakan langit-langit dan bumi dan di antara keduanya dalam enam hari dan tidaklah menghinggapi Kami perasaan capek
(Q.S Qoof : 38)


Baca Juga: Khotbah Jumat: Sikap yang Benar Terhadap Hari Raya Orang Kafir


Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada para Sahabatnya ketika para Sahabat meninggikan suara saat berdoa:

إِنَّكُمْ لاَ تَدْعُوْنَ أَصَمَّ وَلاَغَائِبًا إِنَّمَا تَدْعُوْنَ سَمِيْعًا قَرِيْبًا مُجِيْبًا

Sesungguhnya kalian tidak berdoa kepada Dzat yang tuli atau tiada, sesungguhnya kalian berdoa kepada Yang Maha Mendengar lagi dekat dan Maha mengabulkan doa
(H.R Al-Bukhari, Ibnu Hibban dalam Shahihnya dan Abu Dawud dalam Sunannya)

Kita juga mensucikan Allah dari segala tindakan, persangkaan dan anggapan yang mengada-ada dari orang-orang musyrikin, Yahudi, dan Nasrani. Allah Subhaanahu Wa Ta’ala berfirman:

أَمْ لَهُمْ إِلهٌ غَيْرُ اللهِ سُبْحَانَ اللهِ عَمَّا يُشْرِكُوْنَ

Apakah mereka memiliki sesembahan selain Allah? Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan
(Q.S Faathir: 43)

مَا اتَّخَذَ اللهُ مِنْ وَلَدٍ وَّمَا كَانَ مَعَهُ مِنْ إِلهٍ إِذًا لَّذَهَبَ كُلُّ إِلهٍ بِمَا خَلَقَ وَلَعَلاَ بَعْضُهُمْ عَلَى بَعْضٍ سُبْحَانَ اللهِ عَمَّا يَصِفُوْنَ

Sekali –kali Allah tidak mengangkat anak dan tidak ada bersamanya Ilaah (sesembahan yang haq), jika ada Ilaah lain selainNya, maka setiap Ilaah tersebut akan bersama ciptaannya masing-masing dan akan saling mengalahkan satu sama lain. Maha Suci Allah dari apa yang mereka sifatkan
(Q.S Al-Mu’minuun:91)

Allah juga Maha Suci dari anggapan orang-orang Yahudi dan Nasrani yang menyatakan bahwa Ia memiliki anak dan istri, sebagaimana dalam FirmanNya:

وَقَالَتِ الْيَهُودُ عُزَيْرٌ ابْنُ اللَّهِ وَقَالَتِ النَّصَارَى الْمَسِيحُ ابْنُ اللَّهِ ذَلِكَ قَوْلُهُمْ بِأَفْوَاهِهِمْ يُضَاهِئُونَ قَوْلَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ قَبْلُ قَاتَلَهُمُ اللَّهُ أَنَّى يُؤْفَكُونَ

Orang-orang Yahudi berkata: Uzair adalah anak Allah dan orang-orang Nashrani berkata: al-Masih adalah anak Allah. Itu adalah ucapan mereka dengan mulut-mulut mereka menyamai perkataan orang-orang kafir sebelumnya. Allah melaknat mereka. Bagaimana mereka bisa dipalingkan (dari al-haq)?
(Q.S AtTaubah :30)

أَنّى يَكُوْنُ لَهُ وَلَدٌ وَّلَمْ تَكُنْ لَهُ صَاحِبَةٌ

Pantaskah bagiNya memiliki anak padahal ia tidak memiliki istri?
(Q.S Al-An’aam : 101)

Allah Maha Suci dan kita sucikan Allah dengan bacaan tasbih itu dari segala kekurangan secara mutlak.

سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ (180) وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ (181) وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ (182)

Maha Suci Tuhanmu Yang mempunyai Keperkasaan dari apa yang mereka katakan. Dan keselamatan atas para Rasul. Dan segala puji bagi Allah Tuhan seluruh alam
(Q.S AshShooffaat: 180-182)

Kumandangkanlah makna pensucian ini dalam hati anda ketika membaca bacaan tasbih, baik dalam doa istiftah ini maupun bacaan-bacaan tasbih lain di dalam maupun di luar sholat.

 

Dikutip dari:
Buku “Memahami Makna Bacaan Sholat”, Abu Utsman Kharisman