15 Jumadil awal 1444
Beranda » Latest » Artikel » Aqidah » Cinta Kepada Nabi yang Hakiki Adalah Taat dan Menjalankan Sunnah Beliau

Cinta Kepada Nabi yang Hakiki Adalah Taat dan Menjalankan Sunnah Beliau

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ: جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ، وَاللهِ إِنَّكَ لَأَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ نَفْسِي، وَإِنَّكَ لَأَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَهْلِي، وَأَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ وَلَدِي، وَإِنِّي لَأَكُونُ فِي الْبَيْتِ فَأَذْكُرُكَ فَمَا أَصْبِرُ حَتَّى آتِيَكَ فَأَنْظُرَ إِلَيْكَ، وَإِذَا ذَكَرْتُ مَوْتِي وَمَوْتَكَ عَرَفْتُ أَنَّكَ إِذَا دَخَلْتَ الْجَنَّةَ رُفِعْتَ مَعَ النَّبِيِّينَ، وَإِنِّي إِذَا دَخَلْتُ الْجَنَّةَ خَشِيتُ أَنْ لَا أَرَاكَ، فَلَمْ يَرُدَّ عَلَيْهِ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَتَّى نَزَلَ جِبْرِيلُ بِهَذِهِ الْآيَةِ: وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ وَحَسُنَ أُولَئِكَ رَفِيقًا [النساء:69]
رَوَاهُ الطَّبَرَانِيُّ فِي الْأَوْسَطِ ونقله الشيخ مقبل في الصحيح المسند من أسباب النزول

Dari Aisyah –semoga Allah meridhainya- ia berkata: Seorang laki-laki datang menemui Nabi shollallahu alaihi wasallam dan berkata: Wahai Rasulullah, demi Allah, sesungguhnya anda benar-benar lebih saya cintai dibandingkan cinta saya pada diri saya sendiri. Anda benar-benar lebih saya cintai dibandingkan cinta saya pada keluarga saya. Anda benar-benar lebih saya cintai dibandingkan cinta saya pada anak saya. Kalau saya berada di rumah dan mengingat anda, saya tidak bisa bersabar untuk segera menemui anda dan melihat anda. Kalau saya mengingat kematian dan saya dan kematian anda, saya sadar bahwa anda akan masuk ke dalam Surga dan diangkat bersama para Nabi. Saya jikapun seandainya masuk Surga, saya khawatir tidak bisa melihat anda. Nabi shollallahu alaihi wasallam tidak menjawab apapun, hingga turunlah Jibril menyampaikan ayat ini:

وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ وَحَسُنَ أُولَئِكَ رَفِيقًا 

Dan barangsiapa yang taat kepada Allah dan Rasul, mereka itu akan dikumpulkan bersama orang-orang yang Allah beri nikmat dari kalangan para Nabi, para shiddiq, syuhada’, dan orang-orang sholih. Mereka itu adalah sebaik-baik teman kembali (Q.S anNisaa’ ayat 69)
(Hadits riwayat atThobaroniy dalam Mu’jamul Awsath, dinukil oleh Syaikh Muqbil dalam as-Shahihul Musnad min Asbaabin Nuzul)

Penjelasan Hadits:

Begitu besar kecintaan Sahabat kepada Nabi. Merekalah teladan dalam mencintai Nabi yang sebenarnya. Nabi lebih dicintai oleh Sahabat dibandingkan kecintaan terhadap diri sendiri, anak, dan istrinya. Bahkan, seandainya pun mereka masuk Surga, masih ada kekhawatiran tidak bisa bertemu Nabi nantinya.

Allah pun menurunkan firmanNya dalam surah anNisaa’ ayat 69 bahwa barangsiapa yang ingin dikumpulkan dengan Nabi, para shiddiq, para syuhada’ dan orang-orang sholih, hendaknya ia bersikap taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Jika ingin bergabung dengan orang-orang terbaik itu di Surga nanti, taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya. Laksanakan perintah-Nya, jauhi larangan-Nya.

Setiap orang yang beriman pasti cinta kepada Nabi. Cinta kepada Nabi seharusnya adalah kecintaan karena Allah, bukan kecintaan tandingan bagi Allah. Nabi harus dicintai melebihi manusia siapapun di dunia ini.

لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَلَدِهِ وَوَالِدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ

Tidaklah (sempurna) iman salah seorang dari kalian hingga aku lebih dia cintai dibandingkan anaknya, orangtuanya, dan manusia seluruhnya (H.R al-Bukhari dari Anas bin Malik)

Urwah bin Mas’ud pernah sangat takjub dengan begitu ta’dzhim dan cintanya para Sahabat Nabi kepada Rasulullah shollallahu alaihi wasallam. Urwah bin Mas’ud menjadi delegasi musyrikin Quraisy dalam perjanjian Hudaibiyyah. Saat itu beliau masih kafir. Nantinya beliau menjadi orang beriman yang baik keimanannya.

Urwah bin Mas’ud sudah menjelajah banyak wilayah. Sering melihat penguasa-penguasa di tempat-tempat yang dikunjungi. Beliau sudah pernah melihat penguasa Romawi, Persia, dan Habasyah. Beliau paham betul bagaimana perlakuan rakyat pada raja-rajanya itu. Namun beliau belum pernah melihat sedemikian cinta dan ta’dzhimnya Sahabat Nabi kepada Rasulullah shollallahu alaihi wasallam.

Memang fisik Nabi penuh dengan keberkahan. Jika Nabi mengeluarkan dahak, ditangkap oleh Sahabat Nabi kemudian diusapkan pada wajah dan kulitnya. Jika Nabi selesai berwudhu’, sisa wudhu’nya diperebutkan Sahabat. Memang bagian dari anggota tubuh Nabi adalah keberkahan. Ini hanya berlaku untuk beliau semata. Tidak ada manusia lain yang dianjurkan untuk diperlakukan demikian sepeninggal beliau.

Jika Nabi memerintah, bergegas para Sahabat berusaha memenuhinya. Tidak ada yang berani mengangkat suara saat Nabi bersabda. Juga tidak ada yang berani menatap tajam kepada beliau karena mengagungkannya.

Urwah bin Mas’ud mengisahkan yang beliau amati dalam perjanjian Hudaibiyah. Kisah itu diabadikan dalam hadits Shahih al-Bukhari:

وَاللَّهِ لَقَدْ وَفَدْتُ عَلَى الْمُلُوكِ وَوَفَدْتُ عَلَى قَيْصَرَ وَكِسْرَى وَالنَّجَاشِيِّ وَاللَّهِ إِنْ رَأَيْتُ مَلِكًا قَطُّ يُعَظِّمُهُ أَصْحَابُهُ مَا يُعَظِّمُ أَصْحَابُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُحَمَّدًا وَاللَّهِ إِنْ تَنَخَّمَ نُخَامَةً إِلَّا وَقَعَتْ فِي كَفِّ رَجُلٍ مِنْهُمْ فَدَلَكَ بِهَا وَجْهَهُ وَجِلْدَهُ وَإِذَا أَمَرَهُمْ ابْتَدَرُوا أَمْرَهُ وَإِذَا تَوَضَّأَ كَادُوا يَقْتَتِلُونَ عَلَى وَضُوئِهِ وَإِذَا تَكَلَّمَ خَفَضُوا أَصْوَاتَهُمْ عِنْدَهُ وَمَا يُحِدُّونَ إِلَيْهِ النَّظَرَ تَعْظِيمًا لَهُ

Demi Allah, aku sudah pernah menyaksikan raja-raja: Qoyshor (Penguasa Romawi), Kisraa (Penguasa Persia), dan anNajasyi (Penguasa Habasyah). Demi Allah, aku tidak pernah melihat penguasa yang begitu diagungkan sebagaimana para Sahabatnya mengagungkan Muhammad. Demi Allah, tidaklah ia mengeluarkan dahak kecuali ditangkap oleh tangan seorang dari mereka kemudian diusapkan pada wajah dan kulitnya. Jika ia memerintah, mereka bersegera menjalankan perintahnya. Jika ia berwudhu’, mereka berebut hampir saling bunuh untuk mengambil sisa wudhu’nya. Jika ia berbicara mereka menundukkan suara di sisinya. Mereka juga tidak berani menatap tajam kepada dia karena mengagungkannya (H.R al-Bukhari)

Seorang wanita yang beberapa orang tercintanya ikut dalam perang Uhud, gugur dalam pertempuran. Ketika dikhabarkan bahwa ayahnya, suaminya, dan saudara laki-lakinya terbunuh, yang pertama ia tanyakan adalah: Bagaimana dengan Nabi? Saat diberitahu bahwa Nabi dalam kondisi baik-baik saja, ia sangat bersyukur dan bergembira. Terlupakan semua musibah ketika dipastikan Nabi dalam keadaan baik-baik saja.

مَرّ رَسُولُ اللّهِ صَلّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ بِامْرَأَةِ مِنْ بَنِي دِينَارٍ ، وَقَدْ أُصِيبَ زَوْجُهَا وَأَخُوهَا وَأَبُوهَا مَعَ رَسُولِ اللّهِ صَلّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ بِأُحُدٍ فَلَمّا نُعُوا لَهَا ، قَالَتْ فَمَا فَعَلَ رَسُولُ اللّهِ صَلّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ ؟ قَالُوا : خَيْرًا يَا أُمّ فُلَانٍ هُوَ بِحَمْدِ اللّهِ كَمَا تُحِبّينَ قَالَتْ أَرُونِيهِ حَتّى أَنْظُرَ إلَيْهِ ؟ قَالَ فَأُشِيرَ لَهَا إلَيْهِ حَتّى إذَا رَأَتْهُ قَالَتْ كُلّ مُصِيبَةٍ بَعْدَك جَلَلٌ

Rasulullah shollallahu alaihi wasallam melewati seorang wanita dari Bani Dinar yang suaminya, saudara lakinya, dan ayahnya terbunuh saat berperang bersama Rasulullah shollallahu alaihi wasallam dalam perang Uhud. Ketika ia diberitahukan akan kematian orang-orang tersebut, ia bertanya: Bagaimana dengan Rasulullah shollallahu alaihi wasallam? Mereka berkata: Beliau dalam keadaan baik wahai Ummu Fulan, seperti keadaan yang engkau sukai. Alhamdulillah. Wanita itu berkata: Tunjukkan aku sehingga aku bisa melihat beliau. Ia pun ditunjukkan pada Nabi. Ketika ia melihat beliau, ia berkata: Segala musibah terasa ringan (jika melihat keadaan anda baik-baik saja) (riwayat Ibnu Hisyam dalam Sirah-nya dari Saad bin Abi Waqqash)

Zaid bin ad-Datsinah, tertangkap dan ditawan kaum musyrikin Quraisy. Saat akan dieksekusi bunuh, ia ditanya: Apakah kamu mau kalau Muhammad (shollallahu alaihi wasallam) menggantikan posisimu sebagai tawanan ini, kemudian engkau duduk-duduk santai bersama keluargamu?

Zaid bin ad-Datsinah radhiyallahu anhu dengan tegas menyatakan:

وَاللهِ مَا أُحِبُّ أَنَّ مُحَمَّدًا الْآنَ فِي مَكَانِهِ الَّذِي هُوَ فِيهِ تُصِيبُهُ شَوْكَةٌ تُؤْذِيهِ وَأَنَا جَالِسٌ فِي أَهْلِي

Demi Allah, saya sungguh tidak suka jika Muhammad berada di tempatnya saat ini tertusuk duri yang menyakitkan beliau, sedangkan aku duduk (santai) bersama keluargaku.

Mendengar hal itu, Abu Sufyan (yang saat itu masih kafir) menyatakan:

مَا رَأَيْتُ مِنَ النَّاسِ أَحَدًا يُحِبُّ أَحَدًا كَحُبِّ أَصْحَابِ مُحَمَّدٍ مُحَمَّدًا

Aku tidak pernah melihat seorang pun dari manusia yang mencintai orang lain sebagaimana kecintaan Sahabat Muhammad kepada Muhammad (riwayat al-Baihaqiy dalam Dalaailun Nubuwwah)

Allaahu Akbar….Kita memang mencintai Nabi. Tapi kecintaan kita belum terbukti. Para Sahabat Nabi sudah terbukti cintanya kepada Nabi.

Bahkan, di antara mereka ada yang sudah dipastikan mendapatkan kecintaan dari Nabi. Sebagian Sahabat, ada yang dinyatakan secara tegas bahwa Nabi mencintainya.

Contohnya, Muadz bin Jabal radhiyallahu anhu. Nabi shollallahu alaihi wasallam pernah bersabda:

يَا مُعَاذُ وَاللَّهِ إِنِّي لَأُحِبُّكَ وَاللَّهِ إِنِّي لَأُحِبُّكَ فَقَالَ أُوصِيكَ يَا مُعَاذُ لَا تَدَعَنَّ فِي دُبُرِ كُلِّ صَلَاةٍ تَقُولُ اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ

Wahai Muadz, demi Allah aku benar-benar mencintaimu. Demi Allah, aku benar-benar mencintaimu. Aku berwasiat kepadamu wahai Muadz, janganlah meninggalkan doa di akhir salat (sebelum salam): ALLAHUMMA A’INNII ‘ALAA DZIKRIKA WA SYUKRIKA WA HUSNI ‘IBAADATIKA (Ya Allah, tolonglah aku untuk mengingatMu, bersyukur kepadaMu, dan mempersembahkan ibadah yang baik (diridhai) olehMu (H.R Abu Dawud)

Apakah kita secara personal sudah mendapat kepastian mendapat cinta dari Nabi? Kalau secara umum, memang benar bahwa Nabi mencintai para umatnya dengan kecintaan yang sangat besar. Namun, kepastian untuk tiap individu, orang perorang, manusia sepeninggal Sahabat Nabi tidak ada yang mendapat kepastian itu.

Para Sahabat Nabi adalah teladan dalam perwujudan cinta kepada Nabi. Jika memang benar-benar cinta kepada Nabi, seharusnya seorang mukmin begitu bersemangat untuk menjalankan Sunnah Nabi, teladan, dan bimbingan Nabi.

Utsman bin Affan radhiyallahu anhu bertekad untuk tidak akan meninggalkan Sunnah Nabi meskipun manusia menentangnya. Utsman bin Affan radhiyallahu anhu menyatakan:

لَمْ أَكُنْ أَدَعُ سُنَّةَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِقَوْلِ أَحَدٍ مِنَ النَّاسِ

Aku tidak akan meninggalkan sunnah Rasulullah shollallahu alaihi wasallam karena ucapan siapapun dari kalangan manusia (H.R Ahmad dari Marwan bin al-Hakam)

Demikian seharusnya wujud cinta kepada Nabi. Bukan dalam bentuk perayaan-perayaan tertentu.

Para Sahabat adalah tolok ukur bukti kecintaan kepada Nabi. Apa yang mereka lakukan dan perbuat, itulah yang harusnya diikuti. Sebaliknya, apa yang tidak dilakukan oleh Sahabat Nabi, berarti menunjukkan bahwa hal itu bukanlah bukti kecintaan kepada Nabi.

Ada sebagian pihak yang menganggap bahwa pelaksanaan perayaan Maulid adalah bukti cinta kepada Nabi. Tinggal kita merujuk pada sejarah. Apakah Sahabat Nabi ada yang merayakannya?

Justru sejarah mencatat bahwa pihak yang pertama merayakan Maulid Nabi adalah jauh setelah berakhirnya masa Sahabat Nabi. Bahkan, setelah berakhirnya 3 generasi terbaik. Pihak pertama yang merayakannya adalah Dinasti Fathimiyyun di Mesir pada abad ke-4. Mereka merayakan beberapa maulid, namun tidak khusus maulid Nabi. Tapi juga maulid al-Hasan, al-Husain, dan Fathimah. Meski demikian, gaungnya belum begitu terasa. Belum banyak yang mengikuti. Barulah pada abad ke-7, dirayakan lagi oleh Raja Irbil di Irak secara besar-besaran, kemudian tersebar luas hingga saat ini. Sebelum itu, kaum muslimin dalam kurun generasi terbaik, tidak ada yang merayakan Maulid Nabi. Berarti lebih dari 300-an tahun kaum muslimin tidak ada yang merayakan Maulid Nabi.

Bahkan, kalau kita mengkaji Sirah Nabi. Di bulan Rabi’ul Awwal, Nabi masih sibuk terlibat atau mengkoordinasikan jihad fi sabilillah. Sebagai contoh, perang Buwaath terjadi pada tahun ke-2 Hijriyah di bulan Rabi’ul Awwal. Nabi berusaha menghadang kafilah dagang Quraisy bersama tidak kurang dari 200 Sahabat dengan bendera perang dipegang Sa’ad bin Abi Waqqash.

Contoh lain, pertempuran melawan Bani anNadhir, terjadi di bulan Rabi’ul Awwal. Pengepungan berjalan selama 15 malam. Nabi menunjuk Ibnu Ummi Maktum untuk menjadi wakil beliau di Madinah.

Contoh lain, perang Daumatul Jandal, terjadi di tahun ke-5 Hijriyah, pada bulan Rabi’ul Awwal. Beliau menunjuk Sibaa’ bin Ghurthufah al-Ghifaariy untuk menjadi wakil beliau di Madinah.

Di bulan Rabi’ul Awwal, Nabi dan para Sahabatnya sibuk dengan berbagai amalan ibadah, meneruskan berbagai aktivitas kebaikan, di antaranya jihad fi Sabilillah. Contoh-contoh catatan sejarah itu bisa dilihat dalam kitab al-Bidayah wan Nihayah karya Ibnu Katsir, seorang Ulama bermadzhab Syafiiyyah.

Demikian sedikit paparan, semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala senantiasa melimpahkan rahmat, taufiq, pertolongan, dan ampunan kepada segenap kaum muslimin.

 

Penulis:
Abu Utsman Kharisman