11 Jumadil awal 1444
Beranda » Latest » Artikel » Akhlaq » Menepati Janji

Janji adalah hutang. Suatu ungkapan yang pantas dicamkan setiap muslim yang diberikan taufiq Allah memahami Firman-Nya:

وَأَوْفُوا بِالْعَهْدِ ۖ إِنَّ الْعَهْدَ كَانَ مَسْئُولًا

“Dan penuhilah janji; sesungguhnya janji itu pasti diminta pertanggungan jawabnya.”
(QS. Al Isra’: 34)

Ya, orang yang berjanji, selama isi janjinya adalah kebaikan, dia terikat dengan hutang kepada 2 pihak. Yang pertama kepada Allah yang akan memintai pertanggungjawabannya. Dan yang kedua kepada pihak yang dia menyanggupi janjinya.


Baca Juga: Menjelaskan Kebenaran Bagian Perjanjian Orang Berilmu Kepada Allah


Berusaha memenuhi janji adalah perangai terpuji yang merupakan akhlaq para Nabi. Nabi Ismail menjadi salah satu teladan dalam kebaikan ini. Beliau alaihissalam disebutkan dalam beberapa riwayat rela menunggu dalam waktu yang lama untuk memenuhi janji pertemuan beliau dengan orang lain. Begitu lama sampai cukup untuk waktu bermalam. Dalam riwayat Ibnu Jarir Ath Thobari yang dikutip Al Hafidz Ibnu Katsir dalam tafsir beliau disebutkan:

أَنَّ إِسْمَاعِيلَ النَّبِيَّ، عَلَيْهِ السَّلَامُ، وَعَدَ رَجُلًا مَكَانًا أَنْ يَأْتِيَهُ، فَجَاءَ وَنَسِيَ الرَّجُلُ، فَظَلَّ بِهِ إِسْمَاعِيلُ وَبَاتَ حَتَّى جَاءَ الرَّجُلُ مِنَ الْغَدِ، فَقَالَ: مَا بَرِحْتَ مِنْ هَاهُنَا؟ قَالَ: لَا. قَالَ: إِنِّي نَسِيتُ. قَالَ: لَمْ أَكُنْ لِأَبْرَحَ حَتَّى تَأْتِيَنِي. فلذلك {كَانَ صَادِقَ الْوَعْدِ}

“Bahwa Nabi Isma’il alaihissalam pernah berjanji untuk bertemu seseorang di suatu tempat. Beliaupun datang (menepati janji). Sementara orang yang bersepakat dengan beliau justru lupa. Nabi Isma’ilpun berteduh di tempat tersebut dan bermalam di sana sampai datangnya orang tadi pada keesokan harinya.

Orang itu bertanya, ‘Tidakkah engkau meninggalkan tempat ini?

Nabi Isma’il menjawab, ‘Tidak.’

Orang itu berkata, ‘Aku lupa.’

Nabi Isma’il mengatakan, ‘Saya tidak bisa meninggalkan (tempat pertemuan) sampai anda tiba.’

Karena itulah beliau disebut (dalam ayat):

كَانَ صَادِقَ الْوَعْدِ

Beliau adalah orang yang benar-benar menepati janji.” (QS. Maryam: 54)

Adapun menurut Ibnu Abid Dunya rahimahullah masa menunggu orang yang terikat perjanjian untuk bertemu adalah 22 hari. Beliau rahimahullah menyatakan:

فيقال إنه واعد إنساناً في موضع فلم يرجع إليه فبقى اثنين وعشرين يوماً في انتظاره

“Sehingga ada yang menyatakan bahwa beliau alaihissalam pernah berjanji menemui seseorang di suatu tempat, sehingga beliau tidak kembali pulang dari tempat itu karena tetap menunggu (kedatangan orang yang akan ditemui) selama dua puluh dua hari.”
(Ash Shomt libni Abid Dunya, hal. 232)



Baca Juga: Menjauhi Perbuatan Dusta


Al Hafidz Abu Zakariya Yahya An Nawawi rahimahullah menjelaskan,

ﻗﺎﻝ اﻟﻨﻮﻭﻱ ﺃﺟﻤﻌﻮا ﻋﻠﻰ ﺃﻥ ﻣﻦ ﻭﻋﺪ ﺇﻧﺴﺎﻧﺎ ﺷﻴﺌﺎ ﻟﻴﺲ ﺑﻤﻨﻬﻲ ﻋﻨﻪ ﻓﻴﻨﺒﻐﻲ ﺃﻥ ﻳﻔﻲ ﺑﻮﻋﺪﻩ ﻭﻫﻞ ﺫﻟﻚ ﻭاﺟﺐ ﺃﻭ ﻣﺴﺘﺤﺐ ﻓﻴﻪ ﺧﻼﻑ ﺫﻫﺐ اﻟﺸﺎﻓﻌﻲ ﻭﺃﺑﻮ ﺣﻨﻴﻔﺔ ﻭاﻟﺠﻤﻬﻮﺭ ﺇﻟﻰ ﺃﻧﻪ ﻣﺴﺘﺤﺐ ﻓﻠﻮ ﺗﺮﻛﻪ ﻓﺎﺗﻪ اﻟﻔﻀﻞ ﻭاﺭﺗﻜﺐ اﻟﻤﻜﺮﻭﻩ ﻛﺮاﻫﺔ ﺷﺪﻳﺪﺓ ﻭﻻ ﻳﺄﺛﻢ ﻳﻌﻨﻲ ﻣﻦ ﺣﻴﺚ ﻫﻮ ﺧﻠﻒ ﻭﺇﻥ ﻛﺎﻥ ﻳﺄﺛﻢ ﺇﻥ ﻗﺼﺪ ﺑﻪ اﻷﺫﻯ

ﻗﺎﻝ ﻭﺫﻫﺐ ﺟﻤﺎﻋﺔ ﺇﻟﻰ ﺃﻧﻪ ﻭاﺟﺐ ﻣﻨﻬﻢ ﻋﻤﺮ ﺑﻦ ﻋﺒﺪ اﻟﻌﺰﻳﺰ ﻭﺑﻌﻀﻬﻢ ﺇﻟﻰ اﻟﺘﻔﺼﻴﻞ ﻭﻳﺆﻳﺪ اﻟﻮﺟﻪ اﻷﻭﻝ ﻣﺎ ﺃﻭﺭﺩﻩ ﻓﻲ اﻹﺣﻴﺎء ﺣﻴﺚ ﻗﺎﻝ ﻭﻛﺎﻥ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺇﺫا ﻭﻋﺪ ﻭﻋﺪا ﻗﺎﻝ ﻋﺴﻰﻭﻗﺎﻝ ﺑﻦ ﻣﺴﻌﻮﺩ ﻻ ﻳﻌﺪ ﻭﻋﺪا ﺇﻻ ﻭﻳﻘﻮﻝ ﺇﻥ ﺷﺎء اﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ

“(Para ulama) telah bersepakat bahwa orang yang berjanji kepada orang lain dalam perkara yang tidak terlarang, sepatutnya dia menunaikan janjinya. Lalu apakah hal tersebut hukumnya wajib atau mustahab (anjuran saja) terdapat perbedaan pendapat dalam hal ini, Asy Syafi’i, Abu Hanifah dan jumhur berpendapat bahwa hukumnya mustahab; apabila tidak dilaksanakan dia akan kehilangan keutamaan, serta terjatuh dalam perkara yang sangat dibenci, namun tidak sampai berdosa. Maksudnya ditinjau dari sisi dia yang menyelisihi (janji). Walaupun jelas ternilai dosa apabila dia memang sengaja menimbulkan kerugian.”

Beliau rahimahullah melanjutkan:

“Sedangkan sekelompok lain (dari ulama) berpendapat bahwa hal itu wajib. Di antaranya (yang berpandangan demikian) Umar bin Abdul Aziz. Sementara sebagian ulama lain berpandangan bahwa hukumnya perlu dirinci.

Yang menguatkan sisi penilaian pertama (yang mewajibkan) adalah riwayat yang disebutkan dalam kitab Al Ihya’ yang penulisnya mengatakan ‘Merupakan kebiasaan Nabi shollallahu alaihi wasallam apabila beliau menyanggupi suatu janji beliau akan mengatakan “semoga”.’ Sedangkan Ibnu Mas’ud radhiyallahu anhu berkata: ‘Tidaklah beliau ﷺ menyanggupi janji kecuali beliau mengatakan IN SYA ALLAH TA’ALA.’


Baca Juga: Adab Berkomunikasi 


Muhammad Aysrof Al Adzim Abadi rahimahullah menegaskan penjelasan An Nawawi tersebut:

ﻭﻫﻮ اﻷﻭﻟﻰﺛﻢ ﺇﺫا ﻓﻬﻢ ﻣﻊ ﺫﻟﻚ اﻟﺠﺰﻡ ﻓﻲ اﻟﻮﻋﺪ ﻓﻼ ﺑﺪ ﻣﻦ اﻟﻮﻓﺎء ﺇﻻ ﺃﻥ ﻳﺘﻌﺬﺭ ﻓﺈﻥ ﻛﺎﻥ ﻋﻨﺪ اﻟﻮﻋﺪ ﻋﺎﺯﻣﺎ ﻋﻠﻰ ﺃﻥ ﻻ ﻳﻔﻲ ﺑﻪ ﻓﻬﺬا ﻫﻮ اﻟﻨﻔﺎﻕ ﻛﺬا ﻓﻲ اﻟﻤﺮﻗﺎﺓ

“Dan pendapat ini lebih utama. Kemudian jika dengan telah dipahami hal-hal itu bahwa konsekwensi memenuhi janji adalah harus dilaksanakan, maka mau tidak mau harus dipenuhi, kecuali apabila dia memiliki udzur.

Namun jika sebenarnya saat berjanji dia telah bertekad bulat untuk tidak memenuhinya, maka itulah (bagian) kenifakan.’ Demikian disebutkan dalam Al Mirqoh.”

(Aunul Ma’bud 13/232).

Semoga Allah memberikan kemudahan bagi kita agar selalu benar dalam berjanji. Dan kita memohon kepada-Nya Jalla Jalaluhu untuk memberikan taufiq agar kita selalu menepati janji.

?️ Penulis: Abu Abdirrohman Sofian