15 Jumadil awal 1444
Beranda » Latest » Artikel » Wanita » Penentuan Batas Masa Haidh

Pertanyaan:

Saya adalah wanita yang berusaha sungguh-sungguh memperhatikan urusan kebersihan. Tetapi seringanya saya tidak mendapati cairan putih. Sehingga jumlah hari masa haidh saya dalam rentang 2 pekan. Sementara saya tidak melihat sisa darah kecuali pada pekan pertama yang terkadang maju sehari atau mundur sehari. Lalu muncul cairan yang berwarna khas atau keruh, kemudian setelahnya berwarna kekuningan. Setelah itu saya mendapati kelembaban yang biasa keluar dari wanita pada kesehariannya. Dan seperti saya sebutkan tadi, sering kali tidak saya dapati “cairan putih” (القصة البيضاء).

Saya berharap dari syaikh yang mulia penjelasan terkait hal-hal ini; kapankah dilakukan mandi untuk bersuci dari haidh pada situasi-situasi seperti itu?

Semoga Allah melindungi anda dari kesedihan di dunia maupun akhirat, demikian pula bagi kedua orang tua anda serta seluruh muslimin.


Baca Juga Artikel lainnya: Hukum Cadar (Menutup Wajah bagi Wanita Muslimah) Menurut Pendapat Ulama Bermadzhab Syafiiyyah


Jawaban Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah:

Darah haidh apabila telah berhenti, lalu hanya tersisa cairan kekuningan atau cairan keruh, tidak perlu dianggap kondisi yang demikian. Maksudnya tidak ada pengaruh munculnya cairan keruh ataupun kekuningan (terhadap kesucian-pent.) setelah berhentinya darah. Karena Allah Ta’ala berfirman,

وَيَسْأَلُونَكَ عَنْ الْمَحِيضِ قُلْ هُوَ أَذًى

Mereka bertanya kepadamu tentang haidh. Katakanlah: “Haidh itu adalah suatu kotoran”
(QS. Al Baqoroh : 222)

Sedangkan kotoran (yang dimaksud) yaitu darah (haidh).

Demikian pula Ummu ‘Athiyah¹) radhiyallahu anha telah berkata:

كُنَّا لَا نَعُدُّ الصُّفْرَةَ وَالْكُدْرَةَ شَيْئًا

“Dulu kami (di masa sahabat Nabi) tidak menganggap munculnya cairan kekuningan (الصُّفْرَة) maupun cairan keruh (الْكُدْرَة) sama sekali.”

Demikianlah disebutkan dalam riwayat Al Bukhori.²)

Sedangkan (ada penekanan tambahan-pent) dalam riwayat Abu Dawud:

بَعْدَ الطُّهْرِ شَيْئًا

“…. setelah suci, sama sekali.”

Namun (ingat) masa suci terhitung sejak terhentinya darah (haidh).


Artikel bermanfaat lainnya: Hukum Penyembelihan Binatang yang Dilakukan oleh Wanita dan Anak Kecil


Berdasarkan hal ini, kami katakan untuk wanita (penanya) ini;

Selama anda masih mendapati haidh – yaitu darahnya – selama tujuh hari kemudian diikuti dengan munculnya cairan keruh maupun kekuningan, maka dia tetap mandi bersuci semenjak berhentinya darah haidh – yaitu berakhir ketika tujuh hari – kemudian hendaklah dia melakukan sholat ataupun puasa, serta berhubungan dengan suaminya jika dia memiliki suami, walaupun muncul cairan kekuningan ataupun cairan keruh.”


Artikel bermanfaat lainnya: Perintah al-Quran Agar Para Wanita Berdiam di Rumah dan Tidak Keluar dengan Berhias


Teks Arab:

السؤال
أنا امرأة أجتهد كثيراً في أمر الطهارة ولكني لا أرى القصة البيضاء غالباً فتكون المدة التي أحيض فيها مدة أسبوعين، وأنا لا أرى الدم إلا مدة سبعة أيام تنقص يوماً أو تزيد يوماً، ثم تخرج مادة بنية اللون أو كدرة، ثم بعد ذلك صفرة، ثم أرى الرطوبة التي تخرج من المرأة في الأيام العادية، وكما ذكرت لا أرى القصة البيضاء في غالب الأمر، أرجو من فضيلتكم الإيضاح في هذا الأمر: متى يكون الاغتسال من الحيض في مثل هذه الحالة، كفاك الله هموم الدنيا والآخرة ووالديك وجميع المسلمين؟
الجواب
دم الحيض إذا انقطع وخلفه صفرة أو كدرة فإنه لا عبرة بذلك، أي: لا عبرة بالكدرة والصفرة بعد انقطاع الدم؛ لأن الله تعالى يقول: ﴿وَيَسْأَلُونَكَ عَنْ الْمَحِيضِ قُلْ هُوَ أَذًى﴾ [البقرة:222] والأذى هو الدم، وقالت أم عطية : “كنا لا نعد الصفرة والكدرة شيئاً” هكذا رواية البخاري ولأبي داود : “بعد الطهر شيئاً” لكن يحصل الطهر إذا انقطع الدم.
وعلى هذا فنقول لهذه المرأة: ما دامت ترى الحيض -أي: الدم- سبعة أيام ثم يخلفه كدرة أو صفرة؛ فإنها تغتسل عند انقطاع دم الحيض -أي: عند تمام سبعة أيام- ثم تصلي وتصوم، ويأتيها زوجها إن كان لديها زوج ولو كان عليها صفرة أو كدرة.

Sumber:
https://binothaimeen.net/content/805

_____
Catatan kaki:

¹) Nama beliau adalah Nusaibah (ada yang menyatakan bintu Ka’ab ada yang menyatakan bintu Al Harits) Al Anshoriyyah radhiyallahu anha. Salah seorang ahli fiqh sahabat, dan shahabiyah yang dipercaya Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam untuk memandikan jenazah putri beliau, Zainab bintu Muhammad shollallahu alaihi wasallam. Beliau yang akhirnya menetap di Bashroh juga termasuk salah seorang wanita yang meriwayatkan sekian hadits dari Rasulillah shollallahu alaihi wasallam, radhiyallahu ‘anha.

²) Redaksi riwayat Al Bukhari,

كُنَّا لَا نَعُدُّ الْكُدْرَةَ وَالصُّفْرَةَ شَيْئًا

Sementara yang disebutkan Syaikh rahimahullah sesuai redaksi pada riwayat An Nasai nomor hadits 368 dan dinyatakan Shahih oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin al Albani rahimahullah.

Penerjemah:
Abu Abdirrohman Sofian