10 Jumadil awal 1444
Beranda » Latest » Artikel » Tauhid » Serial Kajian Kitabut Tauhid: Bab Ke-30: Termasuk Kesyirikan Meminta Hujan Terhadap Bintang-Bintang (Bagian Ke-3)

Serial Kajian Kitabut Tauhid: Bab Ke-30: Termasuk Kesyirikan Meminta Hujan Terhadap Bintang-Bintang (Bagian Ke-3)

Dalil Ketiga<

عَنْ زَيْدِ بْنِ خَالِدٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ خَرَجْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَامَ الْحُدَيْبِيَةِ فَأَصَابَنَا مَطَرٌ ذَاتَ لَيْلَةٍ فَصَلَّى لَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الصُّبْحَ ثُمَّ أَقْبَلَ عَلَيْنَا فَقَالَ أَتَدْرُونَ مَاذَا قَالَ رَبُّكُمْ قُلْنَا اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ فَقَالَ قَالَ اللَّهُ أَصْبَحَ مِنْ عِبَادِي مُؤْمِنٌ بِي وَكَافِرٌ بِي فَأَمَّا مَنْ قَالَ مُطِرْنَا بِرَحْمَةِ اللَّهِ وَبِرِزْقِ اللَّهِ وَبِفَضْلِ اللَّهِ فَهُوَ مُؤْمِنٌ بِي كَافِرٌ بِالْكَوْكَبِ وَأَمَّا مَنْ قَالَ مُطِرْنَا بِنَجْمِ كَذَا فَهُوَ مُؤْمِنٌ بِالْكَوْكَبِ كَافِرٌ بِي

Dari Zaid bin Kholid radhiyallahu anhu beliau berkata: Kami keluar bersama Rasulullah shollallahu alaihi wasallam pada tahun Hudaibiyyah, kemudian kami ditimpa hujan pada suatu malam. Maka Rasulullah shollallahu alaihi wasallam shalat Subuh. Kemudian (selesai shalat) beliau menghadap ke arah kami dan berkata: “Apakah kalian tahu apa yang difirmankan Tuhan kalian?” Kami berkata: Allah dan Rasul-Nya yang paling tahu. Beliau berkata: Allah berfirman (yang artinya): Pada pagi hari, ada di antara hamba-hambaKu yang beriman kepada-Ku dan ada yang kufur terhadap-Ku. Adapun yang mengatakan: Muthirnaa bi rohmatillahi wa bi rizqillah wa bi fadhlillah (Kami diberi hujan dengan rahmat dan rezeki Allah, dan dengan keutamaan dari Allah), maka ia beriman kepada-Ku dan kufur terhadap bintang. Adapun yang berkata: Kami diberi hujan dengan bintang ini, maka ia beriman kepada bintang dan kufur terhadap-Ku
(H.R al-Bukhari dan Muslim)

Penjelasan Dalil Ketiga

Beberapa penjelasan dan faidah yang bisa diambil dari hadits ini:

1. Disunnahkannya shalat berjamaah saat safar.

Hadits tersebut menceritakan saat Nabi dan para Sahabat berada di Hudaibiyyah di luar Madinah, saat mereka selesai shalat Subuh.

2. Disunnahkan bagi imam saat selesai shalat, menghadap ke arah para jamaah.

Juga disebutkan dalam hadits lain:

عَنْ سَمُرَةَ بْنِ جُنْدَبٍ قَالَ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا صَلَّى صَلَاةً أَقْبَلَ عَلَيْنَا بِوَجْهِهِ

Dari Samurah bin Jundab radhiyallahu anhu beliau berkata: Nabi shollallahu alaihi wasallam jika selesai sholat menghadapkan wajahnya ke arah kami (H.R al-Bukhari)

3. Adakalanya diperlukan pemberian nasehat selesai shalat fardlu, jika ada hal penting yang ingin disampaikan.

Seperti yang dilakukan Nabi tersebut selesai shalat fardlu, dan ada momen baru berakhirnya hujan pada malam hari.

4. Perbedaan sikap orang-orang terhadap diturunkannya hujan.

Ada yang kufur nikmat kepada Allah dengan menisbatkan sebab turunnya hujan kepada bintang-bintang. Ada juga yang beriman kepada Allah bersyukur kepadaNya dengan mengucapkan: Muthirnaa bi rohmatillahi wa bi rizqillah wa bi fadhlillah (Kami diberi hujan dengan rahmat dan rezeki Allah, dan dengan keutamaan dari Allah)

5. Ada bentuk kekufuran yang tidak mengeluarkan dari Islam, atau disebut kufur kecil.

Seperti menisbatkan sesuatu sebagai penyebab padahal ia bukanlah penyebab syar’i atau qodari. Orang yang menganggap hujan disebabkan oleh adanya bintang tertentu, telah melakukan kekufuran kecil karena ia menisbatkan sesuatu sebagai penyebab, padahal ia bukanlah penyebab syar’i ataupun qodari.

Mayoritas poin-poin faidah ini disarikan dari I’aanatul Mustafid karya Syaikh Sholih al-Fauzan.

 

Ditulis oleh:
Abu Utsman Kharisman