15 Jumadil awal 1444
Beranda » Latest » Artikel » Muamalah » Kasih Sayang Dalam Kehidupan Suami-Istri

Kasih Sayang Dalam Kehidupan Suami-Istri

Demikian menakjubkan kemahakuasaan Allah. Kita tidak akan mampu menghitungnya.

Salah satu kemahakuasaan Allah itu adalah memunculkan perasaan cinta dan kasih sayang kepada sepasang insan yang baru menikah. Sebelumnya mereka tidak banyak mengenal.

Bukan melalui jalan pacaran. Tidak jarang yang berpacaran lama justru putus di tengah jalan.
Hanya dengan ta’aruf syar’i yang mungkin berjalan dalam hitungan bulan. Bahkan ada yang hitungan hari. Sebelum terikat pernikahan, mereka benar-benar menjaga diri. Menjaga batasan jarak dalam ketentuan syariat.

Dialah Allah yang menimbulkan perasaan cinta, kasih sayang, dan ketentraman pada diri 2 pasangan suami istri itu.

وَمِن ءَايَٰتِهِۦ أَن خَلَقَ لَكُم مِّن أَنفُسِكُم أَزوَٰجٗا لِّتَسكُنُوٓاْ إِلَيهَا وَجَعَلَ بَينَكُم مَّوَدَّةٗ وَرَحمَةً إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَأٓيَٰتٖ لِّقَومٖ يَتَفَكَّرُونَ

Dan di antara tanda-tanda (Kekuasaan Allah) adalah Dia menciptakan pasangan untuk kalian dari jenis kalian sendiri agar kalian merasa tenteram kepadanya. Dan Dia menjadikan di antara kalian perasaan cinta dan kasih sayang. Sesungguhnya dalam hal itu terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir (Q.S arRuum ayat 21)

Salah satu bentuk kasih sayang Allah kepada manusia adalah dijadikannya pasangan dari jenis yang sama. Bukan jenis yang berbeda seperti Jin atau hewan. Tidak bisa dibayangkan jika pasangan untuk manusia dari jenis yang berbeda. Tak akan tercapai keterpaduan dan kesesuaian. Padahal keterpaduan dan kesesuaian akan menghasilkan harmoni yang indah dan menyatukan perasaan ingin selalu dekat di sisinya.

Yang berbeda pada pasangan, hanyalah jenis kelamin. Namun justru perbedaan ini membentuk kesatuan yang saling melengkapi. Pria memiliki fitrah ingin mengayomi dan melindungi. Sebaliknya, tabiat asal wanita adalah butuh arahan dan bimbingan, suka melayani.

Kalaupun ada perbedaan lain, hal itu tidak perlu dipermasalahkan. Selama bukan perbedaan dalam hal prinsip. Tidak masalah perbedaan suku, asal negara, hobi, latar belakang keluarga maupun strata sosialnya, selama sama-sama mencintai tauhid membenci kesyirikan. Sama-sama mencintai sunnah, membenci kebid’ahan. Sama-sama mencintai ketaatan kepada Allah, dan membenci kemaksiatan.

Pernikahan adalah momentum untuk menyempurnakan Dien seseorang. Dalam sebuah hadits, Rasulullah shollallahu alaihi wasallam bersabda:

إِذَا تَزَوَّجَ الْعَبْدُ فَقَدِ اسْتَكْمَلَ نِصْفَ الدِّينِ ، فَلْيَتَّقِ الله فِي النِّصْفِ الْبَاقِي

Jika seorang hamba menikah, maka ia telah menyempurnakan separuh agamanya. Hendaknya ia bertakwa kepada Allah dalam separuh bagian yang tersisa (H.R atThobaroniy, dihasankan Syaikh al-Albaniy)

Pasangan hidup melalui pernikahan yang syar’i, secara asal akan mendatangkan ketentraman dalam batin seseorang. Terlebih lagi jika ia adalah wanita sholihah yang membantu suami untuk taat kepada Allah.

الدُّنْيَا مَتَاعٌ وَخَيْرُ مَتَاعِ الدُّنْيَا الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ

Dunia adalah manfaat yang dinikmati, dan sebaik-baik manfaat yang dinikmati itu adalah wanita yang sholihah (H.R Muslim)

Sebaik-baik istri adalah yang menyenangkan ketika dipandang, patuh ketika diperintah (dalam hal yang ma’ruf), dan tidak menentang suami dalam urusan dirinya ataupun hartanya

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قِيلَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ النِّسَاءِ خَيْرٌ قَالَ الَّتِي تَسُرُّهُ إِذَا نَظَرَ وَتُطِيعُهُ إِذَا أَمَرَ وَلَا تُخَالِفُهُ فِي نَفْسِهَا وَمَالِهَا بِمَا يَكْرَهُ

Dari Abu Hurairah –semoga Allah meridhainya- ia berkata: Rasulullah shollallahu alaihi wasallam ditanya tentang wanita (istri) bagaimanakah yang terbaik? Beliau bersabda: yang menyenangkanmu ketika engkau memandangnya, taat ketika diperintah, dan tidak menentang untuk urusan dirinya dan hartanya dalam hal-hal yang tidak disukai (H.R anNasaai)

Sepasang insan yang tidak saling kenal sebelumnya, saat terikat dalam pernikahan, muncullah benih-benih cinta dan kasih sayang. Bahkan, ikatan cinta ini sangat kuat melebihi kedekatan personal mana pun. Itulah mawaddah yang Allah berikan sebagai anugerah.

Kalau pun tidak ada mawaddah, bagi pasangan tertentu, yang tetap merekatkan hubungan pernikahan mereka adalah rahmah, perasaan kasihan. Ada pasangan yang sudah tidak memiliki cinta, tapi enggan berpisah karena unsur kasihan ini. Siapakah yang memasukkan perasaan itu ke dalam hati? Allah, Sang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Sebagian Ulama, seperti Mujahid dan Qotadah, menjelaskan bahwa mawaddah adalah hubungan badan suami istri, sedangkan rahmah adalah adanya anak. Penafsiran ini menunjukkan contoh bagian dari cinta dan kasih sayang. Cinta semakin kuat dan langgeng dengan “bercinta”. Keberadaan anak akan mengokohkan ikatan itu. Tidak jarang seseorang berpikir ribuan kali untuk bercerai karena adanya anak dalam pernikahan mereka. Perasaan yang dominan adalah perasaan rahmah.

Mawaddah atau rahmah. Keberadaan keduanya, menguatkan pernikahan. Jika salah satu hilang, namun masih tersisa yang satu, masih diharapkan terjalinnya ikatan. Namun kalau keduanya terlepas, dikhawatirkan lepas pula ikatan pernikahan atau salah satu pihak menjadi yang terdzhalimi.

Ada seseorang bertanya kepada al-Hasan al-Bashri –seorang Tabi’i-, “kepada siapakah aku nikahkan anak perempuanku?” al-Hasan al-Bashri rahimahullah menyatakan:

زَوِّجْهَا مَنْ يَخَافُ اللَّهَ، فَإِنْ أَحَبَّهَا أَكْرَمَهَا، وَإِنْ أَبْغَضَهَا لَمْ يَظْلِمْهَا

Nikahkanlah ia kepada lelaki yang takut kepada Allah. Jika lelaki itu mencintainya, ia akan memuliakannya. Jika lelaki itu marah kepadanya, tidak akan mendzhaliminya (diriwayatkan oleh Ibnu Abid Dunya dalam anNafaqoh wal Iyaal)

Salah satu kriteria utama seorang wanita idaman sebagai istri adalah yang sangat besar perasaan cintanya (al-Waduud).

 خَيْرُ نِسَائِكُمُ الْوَدُودُ الْوَلُودُ الْمُوَاتِيَةُ الْمُوَاسِيَةُ، إِذَا اتَّقَيْنَ الله

Sebaik-baik istri kalian adalah yang sangat besar perasaan cintanya, subur (banyak menghasilkan keturunan), yang membantu suaminya, dan patuh, jika wanita itu bertakwa kepada Allah (H.R al-Baihaqiy, dishahihkan Syaikh al-Albaniy)

Dalam hadits yang lain Nabi pernah bertanya kepada para Sahabatnya, “Maukah kalian aku tunjukkan sebaik-baik istri kalian yang akan menjadi penghuni Surga”? Para Sahabat menyatakan, “Tentu, wahai Rasulullah”. Nabi shollallahu alaihi wasallam bersabda:

الْوَدُوْدُ الْوَلُوْدُ الْعَئُوْدُ الَّتِي إِذَا ظُلِمَتْ قَالَتْ: هَذِهِ يَدِي فِي يَدِكَ لَا أَذُوْقُ غَمْضًا حَتَّى تَرْضَى

Seorang wanita yang besar cinta kasihnya, subur (banyak menghasilkan keturunan), selalu kembali (pada suaminya) yang jika ia terdzhalimi (karena kurangnya nafkah, atau sebab lain) ia berkata: Ini tanganku berada di tanganmu. Aku tidak bisa memejamkan mata hingga engkau ridha (H.R adDaraquthniy, dihasankan Syaikh al-Albaniy)

 

Dikutip dari buku “Islam Rahmatan Lil Alamin (Menebarkan Kasih Sayang dalam Bimbingan alQuran dan Sunnah), Abu Utsman Kharisman