11 Jumadil awal 1444
Beranda » Latest » Artikel » Manhaj » Panduan Utama Adalah AlQuran dan Sunnah Nabi Shollallahu Alaihi Wasallam

Panduan Utama Adalah AlQuran dan Sunnah Nabi Shollallahu Alaihi Wasallam

Jika kita telah mengetahui bahwasanya Allah Ta’ala adalah yang paling penyayang dari seluruh penyayang, dan segala bentuk makhluk penyayang di dunia ini masih sangat jauh kasih sayangnya dibandingkan dengan kasih sayang Allah Ta’ala, maka kita akan menyadari bahwa bimbingan Allah Ta’ala dalam alQuran adalah bimbingan kasih sayang yang hakiki.

Demikian juga hadits Nabi. Hadits Nabi adalah wahyu dari Allah. Nabi tidak bersabda kecuali melalui wahyu.

وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى (3) إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَى (4)

Dan tidaklah dia (Muhammad shollallahu alaihi wasallam) berbicara berdasarkan hawa nafsu. Tidaklah itu melainkan wahyu yang disampaikan kepadanya
(Q.S anNajm ayat 3-4)

Hadits-hadits Nabi yang shahih adalah perwujudan dari kasih sayang Allah Ta’ala kepada makhluk-Nya yang disampaikan melalui lisan Nabiyyur Rahmah, Nabi kasih sayang. Sebagaimana alQuran sampai kepada kita melalui Nabi shollallahu alaihi wasallam, hadits-hadits beliau juga adalah berdasarkan wahyu dari Allah Azza Wa Jalla.


Baca Juga: Jangan Menyelisihi Sunnah Agar Tidak Terkena Fitnah (Bencana)


Maka jangan menentang alQuran dan hadits dengan alasan kasih sayang. Karena berarti seakan-akan kita merasa lebih penyayang dibandingkan Allah dan Rasul-Nya. Itu adalah bentuk kelancangan dan sikap kurang ajar.

Jangan menolak alQuran dan hadits yang shahih dengan alasan bertentangan dengan akal dan perasaan kita. Sesungguhnya dalil alQuran dan hadits yang shahih tidaklah bertentangan dengan akal yang sehat dan fitrah yang suci.

Syaikhul Islam Ibn Taimiyyah rahimahullah menyatakan:

مَا جَاءَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي هَذَا الْبَابِ وَغَيْرِهِ كُلُّهُ حَقٌّ يُصَدِّقُ بَعْضُهُ بَعْضًا وَهُوَ مُوَافِقٌ لِفِطْرَةِ الْخَلَائِقِ وَمَا جُعِلَ فِيهِمْ مِنْ الْعُقُولِ الصَّرِيحَةِ

(Ajaran) yang datang dari Nabi shollallahu alaihi wasallam dalam masalah ini maupun selainnya seluruhnya adalah kebenaran. Sebagian sabda beliau membenarkan sabda yang lain. Itu sesuai dengan fitrah para makhluk dan akal mereka yang jelas (akal sehat)…
(Majmu’ Fataawa Ibn Taimiyyah (6/580)).

Kalau suatu dalil yang shahih tidak mampu terjangkau oleh akal kita, itu berarti akal kita yang kurang. Mungkin juga sudah ada perubahan dari fitrah kita. Tidak lurus lagi. Dikhawatirkan ada penyakit. Sebagaimana orang sakit tidak bisa menikmati hidangan makanan dan minuman yang secara asal lezat dan menyehatkan.

Susu adalah minuman yang lezat dan bergizi. Itu untuk orang yang sehat. Namun, bagi orang yang sakit, sebagian mereka merasakan berbeda, menolaknya, bahkan ada yang memuntahkannya.

alQuran adalah penyejuk hati, pemberi petunjuk dan ketenangan bagi orang beriman. Namun, bagi orang munafik yang menyimpan kekafiran, akan semakin menambah sakit hati mereka.

وَإِذَا مَا أُنْزِلَتْ سُورَةٌ فَمِنْهُمْ مَنْ يَقُولُ أَيُّكُمْ زَادَتْهُ هَذِهِ إِيمَانًا فَأَمَّا الَّذِينَ آَمَنُوا فَزَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَهُمْ يَسْتَبْشِرُونَ (124) وَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ فَزَادَتْهُمْ رِجْسًا إِلَى رِجْسِهِمْ وَمَاتُوا وَهُمْ كَافِرُونَ (125)

Dan ketika diturunkan sebuah surah (dalam alQuran), di antara mereka ada yang berkata: Siapakah di antara kalian yang surah ini menambah keimanannya? Adapun orang-orang beriman, bertambahlah keimanannya dan mereka bergembira (dengan turunnya surah itu). Sedangkan orang-orang yang di hati mereka ada penyakit, akan bertambahlah penyakit mereka dan mereka pun mati dalam keadaan kafir
(Q.S atTaubah ayat 124-125)


Baca Juga: Sebutan Ahlussunnah Tidaklah Disematkan Melainkan Kepada Salafiyyun


Ada orang-orang yang lebih mendahulukan akal dibandingkan bimbingan Nabi shollallahu alaihi wasallam. Umar bin al-Khoththob menyebut mereka sebagai Ashaabur Ro’yi, yang merupakan musuh-musuh sunnah. Mereka berbicara sekedar berdasar akal meski bertentangan dengan bimbingan Allah dan Rasul-Nya, akibatnya mereka sesat dan menyesatkan.

Umar bin al-Khoththob radhiyallahu anhu berkata:

إِيَّاكُمْ وَأَصْحَابَ الرَّأْىِ فَإِنَّهُمْ أَعْدَاءُ السُّنَنِ أَعْيَتْهُمُ الأَحَادِيثُ أَنْ يَحْفَظُوهَا فَقَالُوا بِالرَّأْىِ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا

Hati-hati kalian dari Ashabur Ro’yi (orang-orang yang lebih mengutamakan akal dibandingkan dalil, pent), karena mereka adalah musuh-musuh sunnah. Berat bagi mereka menghafal hadits-hadits Nabi maka mereka pun berbicara berdasarkan akal, sehingga mereka sesat dan menyesatkan
(riwayat ad-Daraquthniy dalam Sunannya)

Umar bin al-Khoththob radhiyallahu anhu pernah memiliki pandangan yang berbeda dengan Nabi shollallahu alaihi wasallam terkait perjanjian Hudaibiyyah. Umar menganggap bahwa poin-poin perjanjian Hudaibiyyah itu merugikan kaum muslimin dan semestinya kita tidak menerimanya. Namun, bimbingan dari Allah dan Rasul-Nya berbeda dengan logika Umar saat itu. Hingga kemudian Umar menyadari bahwasanya pandangannya itu telah salah, yang seharusnya dilakukan adalah tunduk sepenuhnya terhadap dalil alQuran maupun arahan dari Nabi shollallahu alaihi wasallam, bukan menentang atau mempertanyakannya.

Sahabat Nabi yang lain, yaitu Sahl bin Hunaif pernah mengingatkan peristiwa itu sebagai pelajaran untuk jangan mengedepankan logika dan pikiran kita dalam menghadapi suatu masalah, namun hendaknya kedepankanlah bimbingan Allah dan Rasul-Nya.

عَنْ أَبِى وَائِلٍ قَالَ قَامَ سَهْلُ بْنُ حُنَيْفٍ يَوْمَ صِفِّينَ فَقَالَ أَيُّهَا النَّاسُ اتَّهِمُوا أَنْفُسَكُمْ لَقَدْ كُنَّا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَوْمَ الْحُدَيْبِيَةِ وَلَوْ نَرَى قِتَالاً لَقَاتَلْنَا وَذَلِكَ فِى الصُّلْحِ الَّذِى كَانَ بَيْنَ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم وَبَيْنَ الْمُشْرِكِينَ فَجَاءَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ فَأَتَى رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَلَسْنَا عَلَى حَقٍّ وَهُمْ عَلَى بَاطِلٍ قَالَ: بَلَى. قَالَ أَلَيْسَ قَتْلاَنَا فِى الْجَنَّةِ وَقَتْلاَهُمْ فِى النَّارِ قَالَ: بَلَى. قَالَ فَفِيمَ نُعْطِى الدَّنِيَّةَ فِى دِينِنَا وَنَرْجِعُ وَلَمَّا يَحْكُمِ اللَّهُ بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمْ فَقَالَ: يَا ابْنَ الْخَطَّابِ إِنِّى رَسُولُ اللَّهِ وَلَنْ يُضَيِّعَنِى اللَّهُ أَبَدًا. قَالَ فَانْطَلَقَ عُمَرُ فَلَمْ يَصْبِرْ مُتَغَيِّظًا فَأَتَى أَبَا بَكْرٍ فَقَالَ يَا أَبَا بَكْرٍ أَلَسْنَا عَلَى حَقٍّ وَهُمْ عَلَى بَاطِلٍ قَالَ بَلَى. قَالَ أَلَيْسَ قَتْلاَنَا فِى الْجَنَّةِ وَقَتْلاَهُمْ فِى النَّارِ قَالَ بَلَى. قَالَ فَعَلاَمَ نُعْطِى الدَّنِيَّةَ فِى دِينِنَا وَنَرْجِعُ وَلَمَّا يَحْكُمِ اللَّهُ بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمْ فَقَالَ يَا ابْنَ الْخَطَّابِ إِنَّهُ رَسُولُ اللَّهِ وَلَنْ يُضَيِّعَهُ اللَّهُ أَبَدًا. قَالَ فَنَزَلَ الْقُرْآنُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- بِالْفَتْحِ فَأَرْسَلَ إِلَى عُمَرَ فَأَقْرَأَهُ إِيَّاهُ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَوَفَتْحٌ هُوَ قَالَ: نَعَمْ. فَطَابَتْ نَفْسُهُ وَرَجَعَ

Dari Abu Waa-il ia berkata: Sahl bin Hunaif berdiri pada hari pertempuran Shiffin dan berkata: Wahai manusia, curigailah (akal pada) diri kalian sendiri. Kami pernah bersama Rasulullah shollallahu alaihi wasallam pada saat hari Hudaibiyyah. Kalau seandainya kami memandang bahwa memerangi (kaum musyrikin adalah maslahat), niscaya kami akan memeranginya. Hal itu terjadi dalam perjanjian damai antara Rasulullah shollallahu alaihi wasallam dengan kaum musyrikin.

Kemudian datanglah Umar bin al-Khoththob menemui Rasulullah shollallahu alaihi wasallam dan berkata: Wahai Rasulullah, bukankah kita berada di atas kebenaran dan mereka di atas kebatilan?

Nabi bersabda: Benar.

Umar berkata: Bukankah yang terbunuh di antara kita akan masuk surga sedangkan yang terbunuh di antara mereka berada di neraka?

Nabi menyatakan: Benar.

Umar berkata: Lalu mengapa kita memberikan kerendahan ini dalam agama kita, sehingga kita kembali (pulang) padahal Allah belum memutuskan antara kita dengan mereka.

Nabi bersabda: Wahai putra al-Khoththob, sesungguhnya aku adalah Rasul Allah dan Allah tidak akan menyia-nyiakan aku selamanya.

Umar pun pergi. Ia tidak bersabar dan merasa marah. Ia mendatangi Abu Bakr dan berkata: Wahai Abu Bakr, bukankah kita di atas kebenaran dan mereka di atas kebatilan?

Abu Bakr berkata: Benar.

Umar berkata: Bukankah yang terbunuh di antara kita akan berada di surga dan yang terbunuh di antara mereka akan masuk neraka?

Abu Bakr berkata: Benar.

Umar berkata: Lalu mengapa kita memberikan kerendahan ini dalam agama kita, sehingga kita kembali (pulang) padahal Allah belum memutuskan antara kita dengan mereka.

Abu Bakr berkata: Wahai putra al-Khoththob, sesungguhnya beliau adalah Rasul Allah dan Allah tidak akan menyia-nyiakan beliau selamanya.

Kemudian turunlah (ayat) alQuran surah al-Fath kepada Rasulullah shollallahu alaihi wasallam. Nabi pun mengutus seseorang kepada Umar dan membacakan ayat itu kepadanya. Kemudian Umar berkata: Wahai Rasulullah, apakah ini adalah kemenangan?

Nabi bersabda: Ya.

Umar pun tenang hatinya dan kembali (ke tempat tinggalnya)

(H.R Muslim)

Para Sahabat pernah demikian merasa berat menerima perjanjian Hudaibiyyah itu. Ada perasaan sulit menerima. Mereka ingin berperang. Tapi Nabi berharap mereka menerima perjanjian Hudaibiyyah itu dan melakukan tahallul (keluar dari ihram) mereka, membatalkan rencana umrah yang sebenarnya sudah di depan mata.


Baca Juga: Cinta Kepada Nabi yang Hakiki Adalah Taat dan Menjalankan Sunnah Beliau


Al-Hafidz Ibnu Hajar rahimahullah menyatakan:

فَكَأَنَّهُ قَالَ اتَّهِمُوا الرَّأْيَ إِذَا خَالَفَ السُّنَّةَ كَمَا وَقَعَ لَنَا حَيْثُ أَمَرَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالتَّحَلُّلِ فَأَحْبَبْنَا الْإِسْتِمْرَار إِلَى الْإِحْرَامِ وَأَرَدْنَا الْقِتَالَ لِنُكْمِلَ نُسُكَنَا وَنَقْهَرَ عَدُوَّنَا وَخَفِيَ عَنَّا حِينَئِذٍ مَا ظَهَرَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِمَّا حُمِدَتْ عُقْبَاهُ

Seakan-akan beliau menyatakan: Curigailah logika/ akal jika menyelisihi sunnah. Sebagaimana hal itu pernah terjadi pada kami (para Sahabat Nabi). Ketika Rasulullah shollallahu alaihi wasallam memerintahkan tahallul, namun kami lebih suka terus berihram dan kami hendak berperang untuk menyempurnakan manasik kami dan menguasai musuh kami. Terluput dari kami (sisi pandang kebaikan) yang nampak bagi Nabi shollallahu alaihi wasallam, yang kemudian justru akibatnya adalah terpuji
(Fathul Baari (13/288))

Tugas orang yang beriman ketika mendapatkan bimbingan Allah dan Rasul-Nya adalah menyatakan: kami mendengar dan kami taat.

إِنَّمَا كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِينَ إِذَا دُعُوا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أَنْ يَقُولُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

Sesungguhnya ucapan orang beriman ketika diajak menuju (ajaran) Allah dan Rasul-Nya sebagai pemutus hukum di antara mereka adalah hanya menyatakan: Kami mendengar dan kami taat. Mereka itu adalah orang-orang yang beruntung
(Q.S anNuur ayat 51)

Akal pikiran dan perasaan adalah salah satu anugerah Allah sebagai perangkat untuk memahami alQuran dan hadits Nabi. Bukan untuk menolak dan menentangnya. Akal dan perasaan kita seharusnya ditundukkan untuk menerima bimbingan alQuran dan hadits Nabi shollallahu alaihi wasallam.

 

Dikutip dari:
Buku “Islam Rahmatan Lil Alamin”, Abu Utsman Kharisman