15 Jumadil awal 1444
Beranda » Latest » Artikel » Ibrah » Menyesal Tidak Menggunakan Kesempatan Untuk Berguru Langsung Kepada Orang yang Berilmu

Menyesal Tidak Menggunakan Kesempatan Untuk Berguru Langsung Kepada Orang yang Berilmu

Saat seorang Ulama atau orang yang berilmu masih hidup, apalagi ada kesempatan langsung untuk mengambil ilmu darinya, jangan sia-siakan kesempatan itu. Jangan sampai kita menyesal setelah lewat waktunya. Bisa jadi, suatu kesempatan tidak pernah berulang lagi selamanya.

Abul Yaman (al-Hakam bin Nafi’), salah seorang guru al-Imam al-Bukhari, pernah mendapatkan kesempatan untuk berguru langsung kepada al-Imam Malik. Namun, karena pernah muncul semacam persangkaan buruk beliau pada al-Imam Malik, beliau meninggalkan kesempatan itu. Sempat ada perasaan dalam diri Abul Yaman untuk tidak mengambil ilmu dari al-Imam Malik. Tapi, setelah berlalu kesempatan itu, barulah Abul Yaman menyesal.

وَقَالَ مُحَمَّدُ بنُ عِيْسَى الطَّرَسُوْسِيُّ: سَمِعْتُ أَبَا اليَمَانِ يَقُوْلُ: صِرتُ إِلَى مَالِكٍ فَرَأَيْتُ ثَمَّ مِنَ الحُجَّابِ، وَالفَرْشِ شَيْئاً عَجِيْباً فَقُلْتُ: لَيْسَ ذَا مِنْ أَخْلاَقِ العُلَمَاءِ فَمَضَيتُ، وَتَرَكْتُهُ ثُمَّ نَدِمْتُ بَعْدُ

Dan Muhammad bin Isa atThorosuusiy berkata: Aku mendengar Abul Yaman berkata: Aku pergi menuju Malik. Kemudian (di kediaman Malik) aku melihat para petugas yang menerima tamu dan perabot-perabot yang menakjubkan, aku berkata: Ini bukanlah akhlak Ulama. Aku pun pergi dan meninggalkan beliau. Kemudian setelah itu aku menyesal
(riwayat Ibnu Asaakir dalam Tarikh Dimasyq, dinukil oleh adz-Dzahabiy dalam Siyar A’lamin Nubalaa’)

Kadangkala kita terburu-buru menilai seseorang. Terlanjur memvonis seseorang dengan sesuatu berdasarkan persangkaan atau asumsi, tanpa tabayyun dulu. Celakanya, persangkaan itu membuat kita meninggalkan dia, tidak mau mengambil ilmu dan faidah dari dia. Saat kesempatan sudah lewat, barulah kita menyesal.

Pernyataan Abul Yaman itu, bermanfaat bagi kita. Semoga Allah membalas beliau dengan kebaikan. Beliau berbagi pengalaman yang sangat berharga, agar kita tidak terjerumus ke dalam kesalahan yang sama.


Baca Juga: Khotbah Jumat: Mensyukuri Nikmat Tholabul Ilmi


Saudaraku, seorang ‘alim yang masih hidup, bisa merangkum sekian faidah yang mungkin sulit kita kumpulkan dari berbagai kitab dan referensi yang kita baca bertahun-tahun. Kadangkala banyak faidah yang berharga itu bisa kita petik dalam satu atau beberapa majelis dengan begitu mudahnya. Seakan-akan hidangan matang siap saji, yang sebenarnya kita sangat sulit mendapatkannya jika hanya belajar menelaah kitab sendiri.

Saat ada orang-orang berilmu, para masyayikh Ahlussunnah, berkunjung ke negara kita, difasilitasi oleh saudara anda Ahlussunnah, gunakan kesempatan itu sebaik-baiknya. Jangan bermalas-malasan, apalagi mengadakan kajian tandingan. Atau menyiapkan berbagai alasan untuk tidak menghadirinya. Sebelum anda menyesal kemudian.

Kecuali jika anda memang benar-benar memiliki udzur, namun ada semangat dan tekad untuk menghadiri atau mendukungnya. Semoga Allah Ta’ala membalas niat baik anda dengan kebaikan yang berlipat.

Teriring doa harapan agar Allah Ta’ala senantiasa memberi taufiq, pertolongan, dan ampunan kepada segenap kaum muslimin.

 

Ditulis oleh:
Abu Utsman Kharisman