15 Jumadil awal 1444
Beranda » Latest » Artikel » Fiqh » Nabi Berkurban dengan Domba Jantan

KAJIAN BULUGHUL MARAM TENTANG PENYEMBELIHAN KURBAN BAG KE-1


KITABUL ATH’IMAH
BAB AL-ADHOHIY

MATN HADITS:

عَنْ أَنَسِ بنِ مَالِكٍ رضي الله عنه أَنَّ النَّبِيَّ  صلى الله عليه وسلم كَانَ يُضَحِّي بِكَبْشَيْنِ أَمْلَحَيْنِ, أَقْرَنَيْنِ, وَيُسَمِّي, وَيُكَبِّرُ, وَيَضَعُ رِجْلَهُ عَلَى صِفَاحِهِمَا

وَفِي لَفْظٍ: ذَبَحَهُمَا بِيَدِهِ. مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

وَفِي لَفْظِ: سَمِينَيْنِ

وَلِأَبِي عَوَانَةَ فِي صَحِيحِهِ: ثَمِينَيْنِ . بِالْمُثَلَّثَةِ بَدَلَ اَلسِّين

وَفِي لَفْظٍ لِمُسْلِمٍ, وَيَقُولُ: بِسْمِ اللَّهِ. وَاَللَّهُ أَكْبَرُ 

Dari Anas bin Malik -semoga Allah meridhainya- bahwasanya Nabi shollallahu alaihi wasallam berkurban dengan 2 domba jantan dominan putih (bercampur hitam) yang bertanduk. Beliau mengucapkan bismillah dan bertakbir. Beliau meletakkan kaki beliau pada sisi samping leher kedua domba itu.

Dalam sebagian riwayat dinyatakan: Beliau menyembelih kedua (domba jantan itu) dengan tangan beliau.
(Muttafaqun alaih)

Dalam sebagian riwayat dinyatakan: 2 domba yang gemuk.

Dalam riwayat Abu ‘Awaanah pada kitab Shahihnya (dinyatakan): 2 domba yang mahal. Diriwayatkan dengan huruf tsa’ sebagai pengganti huruf sin.

Dalam lafadz riwayat Muslim (dinyatakan): “dan beliau mengucapkan: BISMILLAH WALLAAHU AKBAR (Dengan Nama Allah dan Allah adalah Yang Terbesar)

Penjelasan:

Hadits muttafaqun alaih artinya diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim dari Sahabat yang sama dengan lafadz yang sama atau hampir sama.

Ini adalah salah satu hadits yang menunjukkan disyariatkannya berkurban. Allah Ta’ala berfirman:

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَٱنۡحَرۡ

Shalatlah untuk Rabbmu dan berkurbanlah (Q.S al-Kautsar ayat 2)

Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan:

Sebagaimana Kami telah memberikan kepadamu kebaikan yang banyak di dunia dan di akhirat, di antaranya adalah sungai (al-Kautsar, pent) – yang telah terdahulu (penyebutan) sifatnya – ikhlaskanlah untuk Rabbmu shalat wajib, sunnah, dan penyembelihan (kurbanmu), beribadahlah kepada-Nya semata tidak ada sekutu bagi-Nya, dan berkurbanlah dengan Nama-Nya semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. (Tafsir al-Quranil ‘Adzhim)


Artikel penting lainnya: Memahami Takbir Hari-hari Raya


Dalam hadits pada pembahasan ini disebutkan bahwa Nabi shollallahu alaihi wasallam memilih hewan kurban yang berkualitas tinggi. Sebagian riwayat menjelaskan bahwa hewan itu adalah yang mahal (karena kualitasnya sangat baik), dan sebagian riwayat menjelaskan bahwa hewan kurban itu gemuk. Bentuk fisik hewan kurban Nabi sempurna dengan tanduk yang menunjukkan kekuatannya. Para Ulama berpendapat mustahab (dianjurkan) berkurban dengan yang bertanduk (penjelasan as-Shon’aaniy dalam Subulus Salam (4/90)).

Beliau sendiri yang menyembelih langsung binatang kurbannya. Di dalam hadits ini terdapat dalil mustahabnya (disukai) menyembelih binatang kurban sendiri jika mampu (Syarhus Sunnah karya al-Baghowiy (4/335)).

Domba tersebut dibaringkan dan sebelum disembelih ditahan dengan kaki pada sisi lehernya.

anNawawiy rahimahullah menyatakan: Beliau melakukan demikian ini agar lebih kokoh dan lebih bisa menguasai, serta agar hewan kurban itu tidak bergerak dengan kepalanya yang dikhawatirkan akan menghalangi sempurnanya penyembelihan atau menyakitinya. (al-Minhaaj Syarh Shahih Muslim bin al-Hajjaj (13/121)).

Disyariatkan ketika akan menyembelih atau saat menggerakkan pisau penyembelihan membaca: BISMILLAH WALLAHU AKBAR. Ucapan Bismillah adalah wajib menurut jumhur Ulama (Abu Hanifah, Malik, dan Ahmad). Sedangkan ucapan ALLAHU AKBAR adalah sunnah (mustahab) menurut kesepakatan para Ulama (Taudhihul Ahkaam karya Syaikh al-Bassam (7/76)).

Nabi berkurban dengan 2 domba, menurut Syaikh Ibn Utsaimin karena yang satu domba adalah untuk beliau dan keluarganya (ahli bait beliau) sedangkan domba yang satu lagi adalah untuk umat beliau. Bagi yang tidak memiliki umat (seperti kaum muslimin yang lain), hanya disyariatkan 1 domba untuk dirinya dan keluarganya (Fathu Dzil Jalaali wal Ikraam bi Syarh Bulughil Maram karya Syaikh Ibn Utsaimin (6/72)).

 

Penulis:
Abu Utsman Kharisman