Prioritas Amal: Antara Menikah, Haji Sendiri, dan Menghajikan Ibu yang Wafat

Pertanyaan:
Seorang penanya berkata: Ibu saya telah meninggal dunia tiga tahun yang lalu dan belum menunaikan ibadah haji. Saya ingin menghajikannya untuk memenuhi kewajiban hajinya, sementara saya sendiri belum menikah dan belum berhaji untuk diri saya sendiri. Apakah sah jika saya menghajikannya dalam kondisi demikian? Mohon berikan fatwa kepada kami, semoga Allah membalas Anda dengan kebaikan.
Jawaban Syaikh Ibn Utsaimin rahimahullah:
Pertama-tama, kita harus bertanya terlebih dahulu tentang kondisi sang ibu: Apakah haji tersebut memang sudah menjadi kewajiban baginya atau tidak? Sebab, tidak semua orang yang belum berhaji berarti haji tersebut telah menjadi kewajiban (fardhu) baginya.
Di antara syarat wajib haji adalah seseorang memiliki harta yang cukup untuk berangkat haji setelah melunasi kewajiban-kewajiban utang dan kebutuhan pokoknya.
Maka kami bertanya: Apakah ibumu dahulu memiliki harta yang memungkinkannya untuk berhaji? Jika ia tidak memiliki harta yang cukup untuk itu, maka ia tidak memiliki kewajiban haji. Orang yang tidak memiliki harta untuk berhaji tidak terkena kewajiban haji, sebagaimana orang fakir yang tidak memiliki harta tidak terkena kewajiban zakat.
Sebagian orang menyangka bahwa haji adalah kewajiban dalam segala kondisi. Mereka beranggapan jika seseorang meninggal dan belum berhaji, maka haji tersebut tetap menjadi utang kewajiban di pundaknya; anggapan ini keliru. Orang fakir tidak wajib haji, dan jika ia meninggal, kita tidak mengatakan bahwa ia mati dengan meninggalkan kewajiban yang ditinggalkan. Sebagaimana orang fakir jika meninggal, kita tidak mengatakan ia mati tanpa berzakat, melainkan kita katakan: “Siapa yang tidak punya harta, maka tidak ada zakat baginya.”
Jadi, kami bertanya dulu: Apakah ibumu dahulu mampu berhaji namun tidak berangkat hingga wafat? Ataukah ia memang tidak mampu karena tidak punya harta sehingga haji tidak wajib baginya? Jika kondisinya tidak mampu, maka Anda tidak perlu merasa cemas atau gelisah, karena ia meninggal dalam keadaan seolah-olah sudah berhaji selama ia memang tidak mampu melakukannya.
Berdasarkan kemungkinan pertama: Jika ia memiliki harta yang cukup namun tidak berangkat haji hingga wafat, maka ia dihajikan dengan mengambil biaya dari harta warisannya karena hal itu terhitung sebagai utang.
Namun jika hal itu tidak memungkinkan (seperti tidak adanya warisan), sebagaimana yang tampak dari pertanyaan, maka Anda tidak boleh menghajikannya sampai Anda berhaji untuk diri sendiri terlebih dahulu. Hal ini berdasarkan hadits Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma tentang seorang pria yang berkata: “Labbaik ‘an Syubrumah” (Aku penuhi panggilan-Mu untuk Syubrumah). Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya: “Siapa Syubrumah?” Ia menjawab: “Saudaraku atau kerabatku.” Nabi bertanya: “Apakah kamu sudah haji untuk dirimu sendiri?” Ia menjawab: “Belum.” Nabi bersabda: “Hajilah untuk dirimu sendiri, baru kemudian hajilah untuk Syubrumah.” Juga karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Mulailah dari dirimu sendiri.”
Maka, Anda tidak halal menghajikan ibu Anda sampai Anda menunaikan haji wajib untuk diri sendiri. Kemudian, setelah Anda berhaji untuk diri sendiri, jika Anda memiliki kebutuhan yang sangat mendesak untuk menikah, maka dahulukanlah menikah. Sebab, pernikahan terkadang termasuk dalam kategori kebutuhan darurat (sangat mendasar). Setelah itu, jika ada kemudahan bagi Anda untuk menghajikan ibu Anda, maka lakukanlah.
Sumber: Silsilah Fatawa Nur ‘ala ad-Darb, Kaset No. [265]
Transkrip dalam Bahasa Arab
السُّؤَالُ: يَقُولُ (السَّائِلُ): بِأَنَّ وَالِدَتِي تُوُفِّيَتْ قَبْلَ ثَلَاثِ سَنَوَاتٍ وَلَمْ تُؤَدِّ فَرِيضَةَ الْحَجِّ، وَأُرِيدُ أَنْ أَحُجَّ عَنْهَا فَرِيضَةَ الْحَجِّ، وَأَنَا لَمْ أَتَزَوَّجْ وَلَمْ أَحُجَّ عَنْ نَفْسِي، فَهَلْ يَصِحُّ أَنْ أَحُجَّ لَهَا؟ وَالْأَمْرُ كَذَلِكَ، أَفْتُونَا بِذَلِكَ جَزَاكُمُ اللهُ خَيْرًا.
أجاب عنه الشيخ محمد بن صالح الععثيمين رحمه الله تعالى
أَوَّلًا: لَا بُدَّ أَنْ نَسْأَلَ عَنْ هَذِهِ الْوَالِدَةِ، هَلِ الْحَجُّ فَرِيضَةٌ عَلَيْهَا أَمْ لَا؟ لِأَنَّهُ لَيْسَ كُلُّ مَنْ لَمْ يَحُجَّ يَكُونُ الْحَجُّ فَرِيضَةً عَلَيْهِ. إِذْ أَنَّ مِنْ شَرْطِ الْحَجِّ أَنْ يَتَوَفَّرَ عِنْدَ الْإِنْسَانِ مَالٌ يَسْتَطِيعُ بِهِ أَنْ يَحُجَّ بَعْدَ قَضَاءِ الْوَاجِبَاتِ وَالنَّفَقَاتِ الْأَصْلِيَّةِ
فَنَسْأَلُ: هَلْ أُمُّكَ كَانَ عِنْدَهَا مَالٌ يُمْكِنُهَا أَنْ تَحُجَّ بِهِ؟ إِذَا لَمْ يَكُنْ عِنْدَهَا مَالٌ يُمْكِنُهَا أَنْ تَحُجَّ بِهِ فَلَيْسَ عَلَيْهَا حَجٌّ. فَالَّذِي لَيْسَ عِنْدَهُ مَالٌ يَحُجُّ بِهِ لَيْسَ عَلَيْهِ حَجٌّ كَالْفَقِيرِ الَّذِي لَيْسَ عِنْدَهُ مَالٌ لَيْسَ عَلَيْهِ زَكَاةٌ
وَقَدْ ظَنَّ بَعْضُ النَّاسِ أَنَّ الْحَجَّ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ حَالٍ، وَرَأَوْا أَنَّ الْإِنْسَانَ إِذَا مَاتَ وَلَمْ يَحُجَّ فَإِنَّ الْحَجَّ بَاقٍ فِي ذِمَّتِهِ فَرِيضَةً، وَهَذَا ظَنٌّ خَطَأٌ. الْفَقِيرُ لَا حَجَّ عَلَيْهِ، وَلَوْ مَاتَ لَمْ نَقُلْ إِنَّهُ مَاتَ وَتَرَكَ فَرِيضَةً، كَمَا أَنَّ الْفَقِيرَ لَوْ مَاتَ لَا نَقُولُ إِنَّهُ مَاتَ وَلَمْ يُزَكِّ. بَلْ نَقُولُ مَنْ لَيْسَ عِنْدَهُ مَالٌ فَلَا زَكَاةَ عَلَيْهِ
فَنَحْنُ نَسْأَلُ أَوَّلًا: هَلْ أُمُّكَ كَانَتْ قَادِرَةً عَلَى الْحَجِّ وَلَمْ تَحُجَّ حَتَّى مَاتَتْ؟ أَوْ أَنَّهَا عَاجِزَةٌ لَيْسَ عِنْدَهَا مَالٌ فَالحَجُّ لَيْسَ فَرِيضَةً عَلَيْهَا، وَحِينِئِذٍ لَا تَكُونُ فِي قَلَقٍ وَلَا تَكُونُ مُنْزَعِجًا مِنْ ذَلِكَ؛ لِأَنَّهَا مَاتَتْ وَكَأَنَّهَا حَجَّتْ مَا دَامَتْ لَا تَسْتَطِيعُ الْحَجَّ
وَعَلَى الِاحْتِمَالِ الْأَوَّلِ: أَنَّ عِنْدَهَا مَالًا تَسْتَطِيعُ أَنْ تَحُجَّ بِهِ وَلَكِنَّهَا لَمْ تَحُجَّ، يُحَجُّ عَنْهَا مِنْ تَرِكَتِهَا لِأَنَّ ذَلِكَ دَيْنٌ عَلَيْهَا. وَإِذَا لَمْ يُمْكِنْ كَمَا هُوَ ظَاهِرُ السُّؤَالِ، فَإِنَّهُ لَا يَحِلُّ لَكَ أَنْ تَحُجَّ عَنْهَا حَتَّى تَحُجَّ عَنْ نَفْسِكَ. لِحَدِيثِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا: أَنَّ رَجُلًا كَانَ يَقُولُ: لَبَّيْكَ عَنْ شُبْرُمَةَ، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ: “مَنْ شُبْرُمَةَ؟” قَالَ: أَخٌ لِي أَوْ قَرِيبٌ لِي. قَالَ: “أَحَجَجْتَ عَنْ نَفْسِكَ؟” قَالَ: لَا. قَالَ: “حُجَّ عَنْ نَفْسِكَ ثُمَّ حُجَّ عَنْ شُبْرُمَةَ”. وَلِأَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: “ابْدَأْ بِنَفْسِكَ
فَلَا يَحِلُّ لَكَ أَنْ تَحُجَّ عَنْ أُمِّكَ حَتَّى تُؤَدِّيَ الْفَرِيضَةَ عَنْ نَفْسِكَ. ثُمَّ إِذَا أَدَّيْتَ الْفَرِيضَةَ عَنْ نَفْسِكَ، فَإِنْ كُنْتَ فِي حَاجَةٍ شَدِيدَةٍ إِلَى النِّكَاحِ فَقَدِّمِ النِّكَاحَ؛ لِأَنَّ النِّكَاحَ مِنَ الضَّرُورِيَّاتِ أَحْيَانًا، ثُمَّ إِنْ تَيَسَّرَ لَكَ أَنْ تَحُجَّ عَنْ أُمِّكَ بَعْدَ ذَلِكَ فَحُجَّ
المصدر: سلسلة فتاوى نور على الدرب > الشريط رقم [265]
Penerjemah: Abu Utsman Kharisman

Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.